
...Happy Reading...
...~••~••<•>••~••~...
Pagi ini Quon datang ke rumah Xinxin begitu pagi, bahkan matahari belum muncul. Untungnya Xinxin saat itu sedang olahraga pagi.
Dan sekarang matahari sudah menampakkan dirinya dan Xinxin juga sudah membersihkan dirinya kemudian makan bersama Quon dan Chici.
Setelah semua sudah mereka lakukan kemudian sekarang mereka sedang duduk santai di bawah pohon dengan beralaskan tikar sebagai tempat duduk dan di temani beberapa cemilan.
Dan saat ini Xinxin sedang membujuk Quon agar mau mengajarinya berpedang.
"Ayolah kak! Ajarkan aku! Kakak kan sudah tahu kalau aku dapat menyerap energi alam sekarang, tapi kekuatanku masih tak seberapa jadi tolong lah kakak mau ngajarin aku berpedang, ya ya," bujuk Xinxin. Bahkan dia mengeluarkan puppy eyes nya dan saat ini pula dia tidak mengenakan cadarnya, jadi dengan sekuat tenaga Quon tak terbujuk.
Bukan tidak ingin mengajari Xinxin, tapi Quon khawatir kalau Xinxin terluka. Karena berlatih pedang itu tidak mudah, apalagi perempuan.
Perempuan kebanyakan hanya memperkuat level elemen mereka masing-masing, untuk fisik dan teknik berpedang sangat jarang mereka mempelajarinya.
"Tidak!" Sekali lagi Quon menolak.
Wajar Xinxin berubah sedih dia berbalik membelakangi Quon.
"Kau marah?" Tanya Quon cemas.
Xinxin hanya menggeleng tanpa menjawab itu membuat Quon semakin yakin kalau Xinxin marah padanya.
"Baiklah!" Tak ada pilihan lagi, Quon pun mengiyakan keinginan Xinxin ingin belajar berpedang. Dia tidak ingin melihat adiknya itu bersedih.
"Benarkah?" Tanya Xinxin meyakinkan pendengarannya. Tidak sia-sia dia berpura-pura sedih hehe.
"Hm!" Quon mengangguk meyakinkan.
Xinxin melompat kegirangan dan berulang kali mengucapkan terimakasih.
"Tapi hanya bisa mengajarimu selama satu minggu! Karena satu minggu kedepan aku akan kembali ke akademi," ucap Quon sedih.
"Tidak masalah! Kakak tenang saja aku akan berlatih dengan giat dan tunggu aku di akademi," ucap Xinxin percaya diri.
__ADS_1
Quon terkekeh melihat tingkah Xinxin. "Baiklah! Aku akan sangat menantikan hari itu,"
Mereka pun bercanda dan bersama tanpa mereka sadar mereka telah diperhatikan seseorang dari kejauhan sedari tadi.
...~•<•>•~...
Saat ini Quon dan Xinxin dalam perjalanan mencari tempat untuk berlatih pedang. Di kediaman Fu memang memiliki tempat latihan tersendiri, tapi Xinxin mengatakan dia tidak ingin diketahui bahwa dia belajar pedang.
Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan tempat yang di cari. Lumayan jauh dari jalan utama, karena tempat ini terletak di kedalam hutan perbatasan kota, tepatnya dekat gerbang ibu kota. Memang jauh karena membutuhkan satu jam perjalanan menggunakan kuda.
"Wahhh disini sangat sejuk! Aku merasakan energi alam yang lumayan disini!" Ucap Xinxin.
"Kau benar! Kakak pun merasakannya," sahut Quon.
"Ayo kita mulai!" Lanjut Quon dengan raut wajah berubah serius membuat Xinxin tanpa sadar bergidik.
Quon pun mulai mencontohkan teknik dasar berpedang. Mulai dari postur tubuh saat memegang pedang, posisi memegang pedang yang benar dan seterusnya.
Tak terasa hari menjelang sore, mereka pun berniat kembali ke kediaman tapi entah nasib sial, sekarang mereka di cegat oleh segerombolan bandit saat perjalanan pulang.
"Serahkan semua harta benda kalian!" Perintah satu orang dengan codet di pipi kanan nya. Mungkin dia adalah ketua mereka, karena kalau di lihat hanya dia yang mukanya lumayan sangar, berbadan tinggi besar serta kapak besar bertengger di bahu kirinya.
Rombongan bandit itu terdiri dari 6 orang. Dua kurus tinggi dengan rambut keriting, tiga orang berbadan gemuk pendek dengan salah satu nya berkepala botal dan dua lainnya berambut gondrong, terakhirnya bos mereka berbadan tinggi besar dengan codet berupa goresan dari atas mata sampai pipi di sebelah kanan.
"Kalian ingin mati?!" Ucap Quon dengan penuh penekanan. Dia saat ini sedang mengontrol emosinya. Biasanya dia tidak seperti ini, biasanya kalau menyangkut seperti sekarang dia akan menghadapinya dengan tenang, tapi karena berhubung ini menyangkut adik kesayangannya dia tak mampu tenang.
Para bandit tertawa mendengar penuturan Quon. Mereka meremehkan Quon yang terlihat masih terlalu muda untuk melawan mereka berenam.
"Uuu, takut," ejek bandit berkepala botak menggunakan gaya ketakutan para perempuan biasanya.
Hahahahahaha
Tawa menggema kawanan menggema di padang hutan itu. Ya sekarang Quon dan Xinxin sedang melewati kawasan hutan dan bertemulah mereka dengan kawanan bandit ini.
Mungkin ini bukan terjadi kepada mereka saja tapi kemungkinan besar kepada orang-orang yang lewat lainnya.
Wajah Xinxin semakin datar dibuatnya. Dia paling tidak suka orang seperti mereka ini, yang tidak mau bekerja dan mendapatkan penghasilan secara instan.
__ADS_1
Dia tahu rasa sulitnya mendapat uang di kehidupan dulu maupun sekarang. Disini pun dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
"Apakah kakak bisa mengalahkan mereka semua?" Tanya Xinxin tanpa melihat Quon, fokusnya kearah para bandit. Kebetulan juga dia ingin Mencius kekuatannya pada orang.
"Kau meremehkan kakak?" Tanya Quon kesal.
"Hah? Tidak! Aku hanya bertanya!" Ucap Xinxin Tiba-tiba ngegas. Ada apa dengan kakaknya ini, dia bertanya baik-baik kok kenapa dia kesal?
"Ya ya, tentu saja aku bisa megalahkan mereka!" Ucap Quon yakin. Tapi di dalam hati dia juga ragu. Pasalnya yang di sebut ketua itu memiliki tingkatan Kuning entah apa elemennya yang pasti Quon merasakan energi lumayan kuat dari ketua bandit itu.
"Hei kalian! Malah bicara berdua. Cepat turun! Tinggalkan kuda, harta serta perempuan itu, maka kau bisa pergi!" Ucap bandit botak sok sangar. Padahal mah mukanya kek nahan berak.
"Berisik!" Xinxin jadi kesal kan.
Bos bandit merasa geram, dengan cepat dia maju ingin menarik turun Xinxin dari atas kuda, tapi dengan cepat Quon menepisnya dan menendangnya, alhasil bos bandit itu terjungkal kebelakang.
Quon turun dari kudanya dan mencegah Xinxin yang juga akan turun.
"Kau disini saja! Biar kakak yang menghadapi mereka," ucap Quon.
Xinxin mengangguk saja. Dia ingin lihat seberapa kuat kemampuan Quon, dan jika dia terdesak baru dia turun tangan untuk membantu.
Pertarungan pun tak terelakan. Quon. dengan gesit Quon menghindari setiap serangan para bandit, tapi ini hanya anak buahnya saja, sedangkan sang ketua hanya memperhatikan pertarungan itu.
Ketua bandit melihat Quon yang masih melawan anak buahnya, dia pun berniat menawan Xinxin yang masih duduk di atas kuda.
Xinxin yang sadar membiarkannya saja, karena dia merasakan sosok misterius dengan aura yang begitu kuat memperhatikan mereka, bahkan aura ini lebih kuat daripada aura yang dikeluarkan oleh Kaisar Zhuting selaku manusia terkuat di alam manusia.
Dia takut kalau-kalau itu musuh, itu akan mempersulit dirinya dan kakaknya, bahkan matipun kemungkinan bisa terjadi, jadi dia harus melihat situasi sebelum menjalankan rencananya. Meskipun dia tidak merasa seseorang itu berniat jahat kepadanya tapi dia tidak dapat memastilan itu karena auranya sangat misterius.
"Hei cantik mau ikut dengan kakak?" Tanya ketua bandit dengan nada yang menjijikan.
Xinxin hanya menatap ketua bandit itu tanpa berniat menjawab.
¤
¤
__ADS_1
¤
I hope you like it...