
.......
.......
.......
Teringat dengan pasar, dia sangat ingin pergi ke pasar, tapi belum saatnya dia keluar zona nyamannya, karena dirinya belum begitu kuat dan masih banyak yang harus dia pelajari.
"Chici?" Karena melamunkan usahanya selama hidup di dunia baru ini, dia sampai lupa dengan Chici.
Hatinya merasa gelisah, seperti ada sesuatu yang terjadi kepada Chici.
"Aku harus mencari!" Ucap Xinxin. "Oh aku harus pake cadar deh," Xinxin pun berbalik ke kamarnya dan mencari sesuatu yang bisa dia jadikan cadar.
Dia mencari-cari di lemari pakaiannya tapi hanya pakaian polos semua bahkan semuanya hampir luntur.
Krakkk
Krakkk
Xinxin merobek salah satu pakaian nya yang ada di lemari. "Yah ini saja dulu, daripada tidak ada," Xinxin mengikatkan kain tersebut menutupi sebagian wajahnya dari hidung sampai bawah dagu.
"Sip!" Dia pun pergi mencari keberadaan Chici.
Saat melewati pintu pagar wilayah rumah nya, yang pertama kali dia lihat adalah bangunan kuno tapi mewah berjajar rapi, pohon-pohon terawat di setiap sudut jalan, bunga-bunga berwarna warni yang Xinxin tebak adalah taman.
"Oh, jadi seperti ini tempat yang saat malam itu ku lihat?" Gumam Xinxin.
Saat dia terbangun di danau satu bulan yang lalu, dia tidak terlalu memperhatikan sekitar, karena selain gelap yang ada dipikirannya saat itu hanya, ada dimana dia?
Dia terus berjalan melewati rumah-rumah besar dan sampailah dia di tempat...
"Ini...dimana?" Dia tersesat. Dia lupa mengingat jalan karena fokusnya yaitu mencari keberadaan Chici.
Tapi saat dia hendak berbalik dia mendengar suara pukulan dan jeritan tertahan dari seseorang, dan juga dia mendengar suara tertawa banyak orang.
Dia melangkah cepat hatinya semakin gelisah.
Dag
__ADS_1
Dig
Dug
Matanya melotot saat melihat siapa yang sedang di pukul dalam posisi tengkurap itu.
"Berhenti!" Teriak Xinxin.
Semua orang berbalik menatap sang pelaku peneriakan bahkan yang memukul pun berhenti.
"Siapa kau? Beraninya berteriak dihadapanku!" Dia adalah Fu Niu, tapi Xinxin tidak tahu kalau dia adalah kakak perempuan keduanya karena sedari dulu dia jarang keluar dari wilayahnya dan karena tidak ada seorang pun yang pernah mengunjungi nya setelah di abaikannya dirinya.
"Aku? Hah, aku juga tidak kenal dirimu, jadi tak perlu kau tahu siapa aku!" Ucap Xinxin dengan nada suara datar.
Dia dengan cepat menolong Chici untuk berdiri dan hampir saja dia terjatuh kalau tidak di tahan oleh Xinxin.
"Berapa lama sudah kau di pukul seperti ini?" Batin Xinxin menatap sedih Chici yang hampir setengah sadar.
"Nona?" Lirih Chici yang terdengar samar di telinga Xinxin sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri.
"Hei beraninya kau? Aku nona kedua di kediaman ini! Berani kau melawanku," ucap Niu sombong. Pakaian yang ia kenakan sekarang sungguh berkebalikan dengan pakaian yang digunakan Xinxin.
Xinxin mulai berpikir, mengingat siapa nama nona kedua atau kakak perempuan keduanya yang pernah Chici beritahu kepadanya.
"Oh nona kedua!? Kalau begitu, salam kakak keempat, adik ini akan membawa pelayanku," ucap Xinxin pura-pura sopan di akhir kalimat, padahal dalam hatinya dia sangat kesal kepada Niu. Dia ingat nama kakak perempuan keduanya adalah Fu Niu, sifatnya sombong dan angkuh. Ingin sekali dia meninju wajah menor Niu, kalau saja dia tidak mengingat rencana masa depannya hidup dengan tenang.
"Hoho, ternyata anak tak berguna ini berani menampakkan wajahnya sekarang ya! Ku kira kau sudah mati!" Ucap Niu menghina Xinxin.
"Oh maafkan adik ini yang tidak mati.....karena mungkin kau yang akan mati berdiri karena terkejut hehe," ucap Xinxin diakhiri kalimat berbisik, hanya dia yang mendengarnya sambil menyeringai dari balik cadarnya.
"Yahh tak masalah, yang penting kau tak membawa aib kepada keluaga Fu. Oh ya kenapa pakai cadar? Wajahmu buruk rupa ya? Hahahaha," semuanya tertawa mengikuti Niu.
Saat ini Niu sedang bersama dengan dua temannya, Li Jiao dan Wu Yan serta pelayan masing-masing.
"Ya kakak, wajahku rusak karena penyakit kulit, jadi aku menggunakan cadar," ucap Xinxin pura-pura sedih.
"Iuhhh, pergi cepat deh, nanti kami ketularan," ucap Wu Yan mengusir Xinxin.
Xinxin pun segera pergi tapi... "Eh mau dibawa kemana pelayan itu? Kami belum selesai dengan dia!" Ucap Li Jiao menahan kepergian Xinxin.
__ADS_1
Xinxin menggertakan giginya geram dengan kesombongan ketiga gadis ini, jika dia mau sudah dari tadi dia menggunakan kekuatannya untuk memberi mereka pelajaran, tapi tidak seru jika mereka tahu saat ini.
Yah karena tingkatan elemennya masih di bawah mereka, tapi tak dipungkiri dengan teknik yang dia pelajari dan ilmu bela diri yang dia punya akan mampu mengalahkan mereka, meskipun dia jauh dibawah mereka, dan juga dia tidak ingin membuat keributan, selain itu kondisi Chici sangat mengkhawatirkan, dia harus segera di obati.
"Ah, bisakah kakak-kakak sekalian memaafkannya kali ini. Aku sebagai nonanya meminta maaf pada kalian semua," ucap Xinxin menunduk memohon maaf meski harga dirinya tergores, tapi demi masa depan yang cerah dia rela untuk saat ini, tapi tidak untuk lain kali.
"Kalau begitu berlututlah!" Ucap Fu Niu.
Xinxin langsung mendongak dan melotot tapi segera di rubah sorot matanya menjadi sendu.
Tak sengaja dia melihat siluet seseorang berbadan tinggi.
"Ta..tapi......Baiklah!" Ucap Xinxin akan berlutut, tapi dia meletakkan Chici di atas rumput terlebih dahulu kemudian dia akan berlutut tapi terhenti saat mendengar sebuah suara.
"Ada apa ini?" Suara tajam yang tenang mengalun di udara membuat siapa pun yang mendengarnya merinding, tak terkecuali Xinxin.
"Ah kakak pertama. Kapan pulangnya?" Tanya manja Niu kepada Fu Chyou.
'Kakak pertama? Berarti....Fu Chyou! Ya itu namanya,' batin Xinxin mengingat-ingat.
"Hm, baru saja. Ada apa ini?" Tanya Chyou lagi.
"Tidak ada apa-apa kak. Pelayan ini hanya mendapat apa yang pantas dia terima, karena merusak acara ku dengan kedua temanku," ucap Niu.
Chyou menatap Xinxin yang juga menatapnya balik. Dari tatapannya dia bertanya siapa kah Xinxin.
"Salam kakak pertama, saya Xinxin hanya ingin menjemput pelayan saya, tapi ternyata pelayan saya di hukum, karena sudah di hukum jadi saya ingin membawanya kembali ke rumah saya," ucap Xinxin dengan sok polosnya, asli nya mah dia hampir muntah mengatakan itu dengan nada sok imut manja.
Tak ada jawaban, dirinya masih di tatap oleh semua orang dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Kalau begitu saya permisi," sekarang tidak ada yang mencegah, karena di sana ada Chyou.
Fu Chyou sendiri diam, entah apa yang ada di pikirannya karena dia memandang rumit kepada Xinxin.
¤
¤
¤
__ADS_1
I hope you like it...