
...Happy Reading...
...~•~•~<•~•>~•~•~...
Tak berapa lama mereka sampai di pasar. Karena menggunakan kuda jadi mereka lebih cepat sampai daripada menggunakan kereta kuda.
Quon menitipkan kuda mereka di penitipan kuda dan mengajak Xinxin berjalan dari depan pasar.
Menggenggam tangan adiknya itu dengan erat tapi lembut membuat sebagian orang menganggap mereka sepasang kekasih, karena tidak ada yang tahu wajah tuan muda kediaman Jenderal Fu ini. Memang dia tidak besar di kota AN, melainkan kota IN dimana kakek neneknya tinggal.
Tempat pertama yang menjadi tujuan mereka adalah toko pakaian yang paling terkenal di kekaisaran ini, karena memang kota AN ini adalah ibu kota kekaisaran tengah, dimana hampir semua penduduknya para bangsawan yang memiliki jabatan di Istana kekaisaran.
"Penuh orang!" Gumam Quon pelan yang masih terdengar oleh Xinxin.
"Kak! Apakah kakak sangat ingin membeli pakaian disini?" Tanya Xinxin .
"Oh tidak! Aku mengajakmu ke sini bukan untuk aku beli pakaian, akan tetapi aku ingin membelikannya untukmu!" Ucap Quon menghadap dan memegang kedua pundak Xinxin.
"Hah? Untukku?" Tunjuk Xinxin pada dirinya.
"Hm, ya!" Jawab Quon mengangguk.
"Kalau memang untukku tidak perlu disini, di tempat lain saja juga tidak apa, karena aku tidak suka berdesakan!" Ucap Xinxin. Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu, tapi karena dia yakin kalau toko pakaian yang paling terkenal ini, ya dia tahu kalau toko pakaian ini paling terkenal saat terakhir kali dia ke pasar ini. Toko pakaian terkenal pasti selain harganya mahal tapi juga dengan kualitas bahan yang bagus, tapi mungkin terkesan terlalu mewah bagi Xinxin, karena dia tidak peduli mewah ataupun tidak, asalkan nyaman dia tidak masalah.
"Benarkah? Tapi kakak ingin membelikan pakaian terbaik untuk kau pakai saat pergi ke pesta di istana nanti," ucap Quon, dia nampak sedih.
Tak ingin melihat kakaknya sedih, Xinxin berkata. "Tidak masalah apa pun yang ku pakai, asalkan bersama kakak aku akan tetap bagus dan tidak keberatan!" Ucapnya tulus sambil tersenyum dari balik cadar dan Quon tahu itu karena mata yang terlihat menyipit itu.
Dia tahu wajah adiknya sangat cantik dan dia tidak rela wajah cantik adiknya di lihat oleh para pria hidung belang di luar sana.
Quon tersenyum dengan perkataan adiknya, adiknya masih sama seperti dulu baik dan tidak berlebihan, berbeda dengan Fu Niu dan Fu Nuan yang boros.
"Ah kalau begitu baiklah! Jangan lupa beli cadar yang selaras juga dengan pakaianmu nanti," ucap Quon kemudian menarik Xinxin untuk mencari toko pakaian lainnya.
Mereka berjalan dengan santai sambil sesekali masuk ke toko pakaian, tapi mereka masih tak mendapatkan pakaian yang mereka inginkan. Sebenarnya hanya Quon yang terlalu ribet. Pikir Xinxin, pakaian apapun yang dia pakai nanti, itu tak masalah asalkan sopan dan nyaman dipakai. Dia juga tak ingin terlihat menonjol saat di istana nanti.
Plak
Terdengar suara tamparan menggema di tengah-tengah banyaknya orang berlalu lalang.
__ADS_1
"KAU budak sialan! Kenapa kerjamu selalu tak becus? Aku membelimu dengan mahal agar kau bekerja dengan benar, bukannya malah membuatku rugi. Lihat kau menjatuhkan pakaian mahalku. Kau aku akan memakainya saat akan pergi ke pesta di istana. Bagaimana kau akan bertanggung jawab akan hal itu. JAWAB!"
Terlihat dua orang perempuan yang terlihat berbeda usia sedang memarahi seorang gadis.
Gadis itu hanya bisa menunduk ketakutan serta terisak. Tidak ada yang mau menolong nya, semua orang hanya melihat, seperti melihat pertunjukkan drama.
Perempuan yang terlihat seumuran dengan Xinxin menarik pelan lengan pakaian yang kalau dilihat perempuan yang lebih tua itu adalah ibunya.
Dia nampak bicara menyuruh ibunya menyudahi acara memarahi budak gadis itu.
"Tidak ada gunanya kalau ibu memarahinya! Pakaian itu tidak akan kembali bersih. Lebih baik kita membeli pakaian baru dan yang kotor itu kita suruh dia mencucinya dan kalau dia tidak bisa mengembalikan itu seperti semula maka terserah ibu mau menghukumnya bagaimana," ucap si anak sedikit keras, membuat hampir semua orang mendengar nya termasuk Quon dan Xinxin.
Xinxin mendongak melihat reaksi Quon. tapi yang dia dapat hanya wajah datar sambil menatap keributan itu.
Orang lain yang langsung memakan bulat-bulat perkataan perempuan itu pasti menganggap kalau dia baik, karena menghindarkan si gadis budak dari kemarahan ibunya, tapi bagi yang memahami semua kata-kata perempuan itu, dia tidaklah baik, karena kalau si gadis budak tidak dapat menjalankan perintah entah hukuman apa yang menantinya, bahkan kemungkinan lebih kejam dari hukuman fisik dan bentakan seperti sekarang.
"Bermuka dua!" Batin Xinxin geram.
"Kakak aku lelah! Tidak bisakah kita beristirahat dulu?" Ucap Xinxin memelas.
Dia memiliki rencana di kepalanya. Meski dia malas ikut campur urusan orang lain, tapi kalau dia bisa membantu tetapi dia menutup mata, maka dia akan terus kepikiran.
Senyuman mengembang di bibir Xinxin, tapi jika dilihat lebih teliti matanya berkilat kelicikan.
"Baik!"
Xinxin sangat senang, karena dia akan sedikit bermain sekarang, sudah lama juga dia tidak bermain.
Setelah memasuki ruang khusus yang di pesan Quon, Quon pun keluar untuk memesan makanan untuk mereka.
"Mari kita pergi sebentar," ucap Xinxin dengan senyum seringaian liciknya.
Melompat dari jendela dan mendarat dengan mulus di permukaan tanah. "Akhirnya aku bisa bebas dari kak Quon," gumam Xinxin menatap jendela dimana dia keluar.
Matanya tiba-tiba membulat, ternyata di jendela itu sudah ada kakaknya.
"Xinxin kau mau pergi kemana?" Quon sempat terkejut tadi, sebelum dia menatap tajam Xinxin.
Xinxin bergidik dengan tatapan tajam kakaknya itu. "Mengerikan!" Batinnya.
__ADS_1
"Aku pergi sebentar. Jangan cari aku, nanti aku akan menemui kakak jika urusan ku telah selesai," ucap Xinxin sedikit berteriak membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Ugh...
"Memalukan," gumamnya menatap sekeliling.
"Dah kak, aku pergi dulu!" Ucap Xinxin kemudian berlari cepat.
Bisa saja Quon menangkapnya dengan mudah, tapi dia memahami adiknya itu kesal padanya karena dia selalu menolak membeli pakaian yang di pilihan oleh Xinxin sendiri.
"Han!" Panggil Quon.
Hanya sekejap mata seseorang tiba-tiba muncul di samping Quon.
"Jaga dia!" Perintah Quon.
"Siap laksanakan!" Ucap Han kemudian pergi menghilang dengan cepat.
Han merupakan pengawal bayangan Quon sekaligus sahabatnya. Dia bertemu dengan Han saat di perjalanan menuju rumah kakek dan neneknya pada saat kecil.
Quon menolong Han yang saat itu pingsan.
Saat itu rombongannya sedang beristirahat dan Quon yang bosan, berjalan-jalan dan menemukan seseorang pingsan sedang bersandar di batang pohon dengan luka parah.
Karena kasihan, Quon membawanya bersamanya, tapi sebelum pergi dia telah meminta tabib yang memang di tugasnya ikut di rombongannya untuk mengobatinya.
Saat anak laki-laki yang kemungkinan seumuran dengan Quon itu telah sembuh, Quon membebaskannya untuk memilih. Ingin tetap tinggal di sisinya atau pergi.
"Aku sebatang kara di dunia ini, jadi aku ingin mengikutimu sebagai tuanku," itulah perkataan Han saat itu.
Nama Han merupakan nama pemberian Quon juga. Karena ternyata Han adalah seorang budak yang melarikan diri dan budak tidak memiliki nama.
Dari saat itulah Han menjadi pengawal Quon, baik sebagai pengawal bayangan sekaligus sahabat satu-satunya Quon.
¤
¤
¤
__ADS_1
I hope you like it...