Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
10. Ola : A Kiss On The First Date?


__ADS_3

Malam akhir pekan di Beniqno berarti kesulitan untuk menemukan kursi kosong pada jam-jam seperti ini. Serbuan para pengunjung untuk makan malam dan penonton pertunjukan musik live menyatu. Apalagi jika artis yang tampil sudah mempunyai nama.


Dan aku benar-benar takjub mengetahui bahwa dalam kurun waktu beberapa minggu saja, Owen sudah berhasil masuk ke dalam daftar artis yang tampil di penghujung minggu, waktu teramai bagi Beniqno.


Namun, setelah dipikir-pikir, dan setelah melihatnya membawakan sebuah lagu akustik, kurasa hal itu tidak terlalu mengherankan. Owen sudah punya hal-hal yang dirasa perlu untuk menjadi seorang bintang.


Dia tahu musiknya. Dia tahu bagaimana cara menggerakkan orang banyak sesuai dengan keinginannya menggunakan suara dan gitarnya. Sebuah senyum di sini, seringai percaya diri di sana, membuat para wanita yang menonton ber-ooh dan aah ria saat menyaksikan jari-jemarinya terus memetik senar itu.


Tidak terkecuali di sini, di sudut ini. Di mana aku berdiri memirsa Owen melakukan sihirnya sambil menyeruput cola dingin. Fokusku hanya padanya.


"Hapus tuh iler."


Suara orang terakhir di bumi yang ingin kudengar membangunkan aku dari lamunan, membuyarkan kabut pemujaan dari otakku dengan kebencian yang kumiliki padanya. "Bukan urusan Abang," jawabku, berusaha keras untuk terdengar acuh tak acuh. Aku tidak ingin dia tahu bahwa dia masih memiliki efek apa pun terhadapku.


Aku benci dia masih bisa mempengaruhiku.


Si Beruang Kutub Pemarah sekarang berdiri di sampingku, kehadirannya mengganggu personal space-ku. Dia tiba-tiba membuatku merasa lebih gelisah.


“Olavia.”


Nada tegasnya membikinku mendongak ke arahnya, hanya untuk menemukan matanya terpaku pada panggung di depan sana. "Ada masalah apa?" Aku menatap tajam sisi wajahnya.


Aku berharap tatapanku bisa menusuk-nusuk tidak hanya wajah, namun seluruh tubuh pria itu.


Untuk beberapa saat, Angga hanya berdiri diam terpaku. Namun, saat matanya akhirnya bertemu mataku, sesuatu berkilat di bola-gelap itu begitu cepat sehingga aku tidak yakin yang barusan kulihat adalah nyata. Dia kemudian menggelengkan kepalanya, menggumamkan sesuatu yang terdengar sangat bodoh dan ... berbalik.


Pergi.


Dan kerumunan segera menenggelamkan tubuh besarnya dan aku merasa lebih ... bingung dari sebelum-sebelumnya.


****


"Hai, Cantik."


Owen mencium pipiku saat dia sampai di tempat aku duduk. Di tengah-tengah pertunjukannya, di kesudahan aku bisa menyerobot sebuah meja kosong tak jauh dari tempatku berdiri. Berusaha menikmati penampilan memesona Owen sambil mencoba menghilangkan kebingungan yang dibawa oleh Angga.


Sebenarnya, dan untungnya, itu tidak terlalu sulit dilakukan karena keberadaan Owen memenuhi ruangan.


"Hai."


Ya, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

__ADS_1


Owen sedikit berkeringat, tetapi jenis berkeringat yang membuat orang terlihat lebih menarik; berkilauan. Dan setelah melihat cara dia bernyanyi dan memainkan gitarnya di panggung itu? Oh, my God. Aku tidak tahu bahwa lelaki yang berkeringat bisa terlihat seseksi ini.


Hentikan, Ola! Aku menepuk dahi di dalam kepalaku. Calm down!


"Sorry, kamu pasti lama nunggunya." Dia kalakian duduk di seberangku. Sambil menatap gelas yang sudah dari tadi kosong, Owen bertanya, "Mau aku beliin minum lagi, gak?"


"Gak, gak usah. Makasih. Kamu ambil buat kamu aja.” Aku menolak dengan cepat karena ... tidak lucu, kan, kalau aku beser di kencan pertama yang sungguh penting ini.


"Oh, oke. Aku juga tadi udah minum, kok, di belakang." Owen lalu melakukan sesuatu yang aku yakini sangat maskulin jika dilakukan oleh seorang pria; dia menyisir rambutnya dengan jari-jari. "I'm good."


Oh, my God! Aku pikir ovariumku baru saja meledak.


Ya, tentu saja. You are good.


Okay, Ola. Okay. Tarik napas dalam-dalam, embuskan. Sekali lagi. Tenangkan hati dan jiwamu yang lagi-lagi fan-girling itu. Jangan bikin malu!


“So? Gimana? Aku biasanya makan dulu di sini baru cabut. Tapi, kalau kamu mau cabut sekarang dan makan di tempat lain juga boleh. Terserah kamu."


Well. Selagi di sini .... "Kalau kamu gak keberatan, kita makan di sini aja, ya?"


Dia memberiku senyum menyilaukan itu. "Sure."


Jadilah, kami melambai dan Mbak Lina menghampiri serta menerima pesanan kami. Kami mengisi waktu menunggu dengan obrolan ringan, didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan dariku soal perkembangan penulisan lagunya. “Semua berjalan lancar, lebih dari biasanya. Sekarang, karena gak harus mikirin mau makan apa hari ini, aku punya kesempatan untuk tampil dan menyebarkan musikku. Hal itu bikin aku lebih percaya diri juga. Mungkin nanti aku bisa nunjukin ke kamu beberapa lagu baru yang sedang aku tulis.”


“Of course,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Oh, my Gooooood.


"Aku tunggu." Tentu saja aku akan rela menunggu hingga hari itu tiba.


Makanan kami datang, kami makan dan mengobrol. Bukan, bukan. Sebenarnya yang terjadi adalah; dia makan dan berbicara tentang musiknya, sementara aku terlalu sibuk memandang dan menikmati setiap ekspresi, gerakan, apa pun yang Owen kerjakan.


Seriously. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Pertemuan kedua, kencan pertama, dan dia sudah berhasil menghilangkan separuh akal sehat.


I'm in sooooo much trouble.


Ke luar dari pikiranku sendiri, aku menyadari lirikan dan tatapan kurang senang yang dikirim gadis-gadis di ruangan itu ke arahku. Well ... jika aku jadi mereka, mungkin aku juga akan cemburu pada gadis yang bersama dengan penyanyi tampan dan berbakat seperti Owen. Hal itu juga membuatku lebih aware dengan perasaan seperti sedang diperhatikan.


Dan ... benar saja. Setelah mencoba diam-diam melirik ke arah kanan, mataku menangkap sosok yang berdiri di seberang ruangan.


Si Beruang Kutub Raksasa Pemarah tengah bersandar di dinding, kedua lengan bersilang di depan dada, wajahnya kosong tanpa emosi. Dia menahan tatapanku sejenak, sebelum berbalik dan menghilang.

__ADS_1


Lagi.


Kenapa, sih, si Angga? Apa yang dia inginkan?


****


“Oke, aku udah sampai,” kataku pada Owen saat Grab yang kami share berhenti di depan gedung apartemenku. "Thank you, ya, Owen. Aku sangat menikmati malam ini.”


Aku hendak membalikkan tubuhku dan membuka pintu saat Owen mencengkeram lengan dan menahan gerakanku. Aku terkesiap. Sentuhannya sungguh mengejutkan dan lama-kelamaan membakar kulit; menimbulkan sensasi yang luar biasa. Aku mendongak dan menemukan matanya berkobar karena sesuatu. Jantungku mulai berdebar, berdebar, berdebar lebih cepat semakin lama dia menatapku.


Aku membeku. Satu-satunya tanggapanku adalah menatap balik bola-bola warna cokelat yang menghipnotis itu dalam cahaya redup di kabin penumpang taksi online. Telapak tangannya mulai naik, naik, naik hingga berakhir di tengkukku, ibu jarinya mondar-mandir membelai lembut pipiku yang sudah pasti merah. Lalu perlahan, dengan sangat lambat, dia membungkuk hingga bibirnya hanya berjarak sehelai rambut dari bibirku, dan menunggu.


Menunggu konfirmasi apakah aku juga menginginkan hal yang sama.


Oh, Tuhaaaaaan. Owen ingin menciumku! Dia akan menciumku! Apa yang akan aku lakukan?


Desiran napasnya di wajahku membikin darah mendesir. Hal itu membantuku membulatkan hati. Kupejamkan mata ini. Kutengadahkan kepalaku sehingga tidak ada lagi ruang untuk udara sampai bibir kami terkunci.


Owen mengecup bibirku dengan lembut, memberi setiap lapisan perhatian yang sama. Setiap beberapa saat, dia berhenti. Itulah caranya membuatku terbiasa dengan ritme dan rasa bibirnya ciptakan.


Hatiku melompat ketika bibir kami bertemu kembali dan aku bisa merasakan senyumannya.


Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut-ikutan tersenyum.


Kupu-kupu di dalam perutku mulai mengepakkan sayap-sayap mereka.


Sapaan dari alat pengecapnya mengirimkan getaran hingga ke ujung jari-jari kakiku. Owen tanpa diragukan lagi menyukai respons tubuhku terhadap sentuhannya. Pengetahuan ini memotivasi penelusurannya, sampai indra perasa kami saling bertaut; menggila dalam ekspedisi mengeksplorasi rasa masing-masing.


Dan, ya, Tuhan, aku tidak bisa menjelaskan betapa nikmatnya rasa Owen. Bersama setiap sentuhan, sentakan listrik menembus tulangku dan aku pun tenggelam oleh kehebohan yang disulut oleh pemuda ini.


Kami begitu sibuk melahap satu sama lain, tidak peduli terhadap apa pun di luar kecupan-kecupan itu, sampai ... si Bapak Sopir berdeham.


Momen. Paling. Canggung. Di. Dua. Puluh. Tujuh. Tahun. Kehidupanku.


Dengan enggan aku menarik diri. Namun, sepertinya Owen masih belum ingin melepaskan karena dia menarik bibirnya menelusuri pipiku, rahangku, meninggalkan jejak basah di sepanjang lintasannya dengan malas.


Aku mencoba untuk memperlambat deru napasku, menenangkan diri sebelum membuka mata yang entah kapan tertutupnya. Manik-manik cokelat yang berkilau oleh kegembiraan dan seringai puas menyambutku.


Dia tahu betul apa yang baru saja dilakukannya padaku.


Owen melepaskan cengkeraman di helaian rambutku. Iya, aku juga tidak tahu entah kapan kejadiannya. Karena, let's say, aku juga sibuk berkonsentrasi pada bagian tubuhnya yang lain. "Oke kalau gitu. Selamat malam, Cantik," katanya di atas bibirku setelah dia memberiku sebuah kecupan lagi di sana.

__ADS_1


Aku hampir tidak bisa bernapas, apalagi menguasai diri. "Selamat malam, Owen," jawabku parau.


Bersambung...


__ADS_2