Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
50. Ola : NO!


__ADS_3

Dan entah bagaimana bisa Owen tiba-tiba saja ada di mana-mana.


Jagat maya Indonesia seketika dihebohkan oleh berita dari artis pendatang baru yang diyakini pasti akan membuat wanita-wanita kehilangan akal sehat dengan suara dan pesonanya. Mereka membicarakan soal penampilannya. Mata cokelat terangnya yang menghipnotis, tubuhnya yang ramping dan seksi. Mereka berbicara tentang aura memabukkan yang dia keluarkan.


Mereka berbicara tentang single pertamanya yang berhasil menempatkan Owen di tangga lagu, membuatnya menarik perhatian orang dalam semalam. Bintang lain mulai memperhatikannya juga. Mereka berbicara tentang "tur mini" yang dia lakukan. Mereka berbicara tentang album pertamanya yang akan segera keluar. Mereka berbicara tentang tur keliling Indonesia yang sangat besar setelah itu.


Mereka membicarakan segalanya tentang Owen Miller. Dan mereka juga berbicara tentang semua petualangannya dengan wanita-wanita. Sepertinya bintang yang sedang naik daun itu sudah melebarkan sayapnya di bagian wanita-wanita seksi dan terkenal.


Lalu, aku melihatnya. Foto Owen sedang berciuman dengan seorang wanita di depan sebuah gedung, tepatnya sebuah hotel.


Rasa pahit empedu seketika naik ke tenggorokanku. Aku rasa aku akan muntah.


Aku berlari ke kamar mandi di ruanganku dan menunduk di toilet dalam waktu singkat. Hampir saja meleset. Thank God hal itu tidak terjadi.


Terdengar bunyi air saar aku mem-flush toilet. Aku menyeka mulut dengan tangan lalu ingat bahwa saya baru saja menyentuh bagian yang paling kotor di dalam ruangan ini. Kesadaran akan hal tiu membuat aku muntah lagi.


Semua yang ada di dalam perutku kini telah dikosongkan.


Aku tertumpu pada lutut dan tumitku, tubuhku kini terasa lelah dan berat. Kepalaku berputar.


****.


Saat ini aku tengah hamil dengan usia kandungan hampir empat bulan, akan tetapi sekali melihat berita di situs gosip online tentang Owen dengan seorang wanita dan tak ada yang bisa menahan perutku dari tindakan penolakannya terhadap apa yang sudah kumakan tadi. Lenyap sudah rekor tanpa muntahku, hanyut ke dalam toilet.


Literally.


"Oh, my God. Apa yang terjadi, Bos?"


Aku melirik ke arah Renata yang kini sedang menyisir rambut di dahiku. Aku yakin rambutku sudah basah oleh keringat. Eh, ngomong-ngomong, kapan dia masuk ke sini?


"Gak apa-apa. Saya baik-baik aja. Salah makan mungkin," kataku dengan suara serak dan melambaikan kekhawatirannya.


"Anda yakin?" Dia masih memakai dahi yang berkerut.


"Iya, iya. Gak apa-apa kok. Serius." Aku menerima tangannya dan dia segera menarikku untuk berdiri. Kakiku goyah.

__ADS_1


****. ****.


Aku menutupi kegugupanku dengan tertawa.


Dia tidak.


"Mungkin kayaknya saya harus istirahat dulu." Aku mengumumkan, dan kenapa aku baru saja membuat pengumuman, aku tidak tahu. Ini kantorku, aku yang membuat peraturan. Aku bisa bebas melakukan apa saja yang kumau.


Dia masih menatapku, mengamati keadaanku dengan sungguh-sungguh. Dia juga mungkin sedang mencatat hal-hal aneh dalam diriku saat dia melakukan itu. "Iya, benar. Mungkin Anda harus istirahat, Bos." Akhirnya dia membeo, menggunakan pernyataanku sebelumnya.


Renata membantuku berjalan kembali ke kursi dan kemudian mulai mengumpulkan barang-barangku. Dia memesan sebuah Grab untukku juga. Dan dia melakukan semua ini sambil menatapku, penasaran.


Aku tahu dia sedang menyusun sebuah teori di dalam kepalanya sekarang. Dan saya tidak tahu, mungkin salah satu dari mereka benar menilai dari pandangan yang terus dia kirimkan ke arahku.


Namun, tidak. Aku tidak berhutang apa pun padanya. Aku tidak perlu memberinya penjelasan apa pun. Ini bukan urusannya.


****


Aku sudah berada di rumah dan aku merasa sedikit pusing. Aku dengan hati-hati duduk di sofa, bersandar, dan menyandarkan kepalaku di sandaran kepala. Tanganku langsung bergerak ke perutku yang masih rata. Belum ada benjolan.


"Apa yang terjadi, Sayang? Apa yang membuat kamu begitu kesal?" Aku membelaikan tangan dengan gerakan melingkar dengan lambat di atas kulitku. "Ah, ah, ah, kamu kesal karena Mama kesal, ya?" Aku terkekeh.


Kucium ujung jari dan kutempelkan di atas perutku.


Ini adalah aksi kita melawan dunia. Ibu dan Bayi. Kami akan baik-baik saja tanpa seorang ayah.


Ayah.


Oh, my God!


Mungkin saja aku salah. Mungkin dia tidak marah karena aku. Mungkin dia baru saja bereaksi terhadap foto di ada layar.


Mungkin dia tahu siapa yang sedang dilihatnya.


Apakah janin sudah memiliki insting juga?

__ADS_1


Fu–dge!


Aku merasa diriku ingin muntah lagi. Oh, tidak, tidak, tidak Aku mencoba ke kamar mandi tepat waktu, akan tetapi keberuntungan tidak berpihak padaku kali ini.


Aku melewatkan toilet bowl-nya.


****.


****


Rasa mual itu datang dan pergi seenaknya.


Aku memberi tahu Renata bahwa aku mengalami keracunan makanan dan dokter memerintahkanku untuk mengambil cuti beberapa hari. Dia dengan rajin meneruskan email kantor ke akun pribadiku dan aku telah bekerja dari rumah selama beberapa hari terakhir.


Aku tidak bisa makan makanan yang besar. Aku sudah mencobanya di malam pertama, dan makanan itu hanya bertahan beberapa detik lalu ke luar kembali. Crackera dan air adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkanku. Dan vitamin-vitamin itu.


Aku ingat Dokter Sheila pernah mengatakan bahwa morning sickness itu bisa datang pada semua tahap selama kehamilan. Dia membenarkannya ketika aku meneleponnya kemarin. Dia mengingatkanku untuk tetap terhidrasi dan mengkonsumsi makanan kecil agar aku tetap memiliki tenaga.


Percayalah, aku sudah memakannya. Namun, rasa mualnya lebih besar. Dan lebih sering.


Aku tidak bisa menyimpan apa yang aku makan di dalam perut untuk waktu yang lama. Hampir sesaat setelah masuk ke dalam mulut, mereka sudah ingin keluar lagi.


Aku berbaring di tempat tidur, sangat lelah karena bolak-balik ke kamar mandi. Aku melawan keinginan untuk berbaring di lantai kamar mandi karena begitu lelahnya, akan tetapi pemikiran tentang apa yang dapat dilakukan oleh kuman-kuman itu pada bayiku memberikan aku kekuatan yang cukup untuk sampai ke tempat tidur.


Saat aku berbaring di sana dengan hanya kesunyian yang mengelilingiku, kesepian melanda dan menghantam dada. Aku merindukan keluargaku. Aku merindukan Bang Oli. Aku merindukan Papa. Aku sangat merindukan Mama.


Aku rindu dirawat oleh seseorang.


Karena tidak ada seorang pun yang melakukan itu untukku sekarang.


Oh, my God. Ini sulit.


"Maafkan Mama, Baby," bisikku dengan bibir gemetar sembari menyentuh perutku. "Mama sangat lelah." Aku mengakui dengan menyesal, akan tetapi dengan cepat menambahkan. "Tapi, gak apa-apa. Kamu gak perlu khawatir. Kita akan baik-baik saja. Mama hanya perlu tidur sebentar. Oke?" Aku menepuknya dengan lembut. "Kamu yang aman di dalam perut Mama, ya? Kita akan baik-baik aja. Kita akan baik-baik aja."


Aku ulangi mantra itu di dalam kepala sampai rasa kantuk menarikku masuk dan aku ....

__ADS_1


No, no, no, no, NO!


Bersambung...


__ADS_2