Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
8. Ola : Aaaaaaaa!


__ADS_3

"There's my baby girl!" Aku mendengar suara Papa menggelegar di ruang tamu saat Raisa dan aku berjalan melewati pintu depan. "Selamat ulang tahu, Sayang."


Seketika aku diselimuti pelukannya. Merasa emosional, aku mengembalikan pelukan Papa erat-erat.


Papa selalu memiliki pelukan terbaik.


Dari balik punggung Papa, aku melihat Raisa melambai padaku dan terus berjalan ke dapur.


Papa melepaskan dekapannya, mengecup kening, sambil tetap memegangi lenganku. “Papa tidak percaya kalau kamu sudah dua puluh tujuh tahun sekarang. Sepertinya baru kemarin, lho, saat Papa pertama kali memeluk kamu–”


“Bayi perempuan mungil yang dibedung kain berwarna merah muda. Kamu adalah bayi paling cantik di seluruh dunia.” Oliver melengkapi kalimat Papa. Dia menuruni tangga dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku depan celana chino khaki yang dipakai. “Come on, Pa. You always said that.”


Papa mengangkat bahu, tak peduli, lalu kembali menatapku dengan penuh cinta. "Dan Olavia akan selalu menjadi anak perempuan yang paling cantik di dunia."


Aaaw. "Thank you, Papa." Aku berjinjit untuk mencium pipinya. "Dan Papa akan selalu menjadi laki-laki terbaik di dunia."


Oli menggelengkan kepalanya pada kami. "Udah, ah. Sini lo. Giliran lelaki terbaik nomor dua sekarang," ucapnya sembari mengembangkan lengan.


“Entahlah, Bang. Lo gak ngucapin selamat ulang tahun buat gue, sih,” jawabku dengan tangan di dada. Namun, kepura-puraan itu ditentang oleh kaki yang tanpa sadar terus berjalan ke arahnya.


Ekspresi ringan di mukanya seketika menghilang. "Maafin gue," kata Bang Oli, penyesalan terasa pekat di dalam suaranya. "Gue sibuk banget di kantor. Tapi, sekarang gue di sini, kan?"


"Iya, iya." Aku paham betapa berat beban yang ditanggung Bang Oli. Dia sedang berusaha untuk membuktikan diri di dunia hukum tanpa harus dibayang-bayangi oleh nama besar Papa. Kupeluk tubuh kekarnya tak kalah erat. "And, thank you."


Dia mengetatkan dekapannya beberapa detik sebelum melepaskanku. Sebuah kecupan lagi-lagi mendarat di rambut.


Pelukan Bang Oli adalah pelukan terbaik kedua di dunia.


"Ya udah. Kalau gitu, lo mau kado apa tahun ini? Bilang aja, nanti gue bayarin."


Hm, penawaran yang menarik. "Seriusan lo, Bang? Yakin? Punya duit segitu gak, lo?" Aku menyeringai.


Wajah Bang Oli lantas berkerut was-was. "Emangnya lo mau beli apaan pakai nanya duit gue segala?"


Alisku menari-nari, naik-turun.


"Menilai dari tampang lo, kayaknya gue bakal nyesel, nih, bilang gitu barusan. Astaga, gue lupa kalau sahabat lo pro banget soal ngabisin duit!"


"Sialan!" Kutepuk lengannya lembut. "Ngapain coba, lo bawa-bawa sahabat gue?"


"Yaaa, kali aja dia udah nurunin ilmunya ke elo, kan? Mana gue tahu!" kilahnya seraya mengusap-usap bagian yang baru saja jadi korban kekerasan.


"Huuu. Makanya jangan suuzan-an jadi orang." Aku mencibir. "Gue gak mau apa-apa. Yang gue butuh semuanya ada di sini."


Seolah diberi isyarat, Mama tiba-tiba saja muncul, mengakhiri guyonan kami. "Sweetie!" serunya sambil berlari kecil.


Mama adalah salah satu dari sedikit wanita yang terlahir untuk menggunakan sepatu berhak tinggi tanpa masalah.


Seketika itu juga aku diliputi oleh awan beraroma Chanel no. 5 yang sudah beliau gunakan selama yang bisa aku ingat. Kulihat Mama berlinang air mata saat pelukan kami merenggang. "Selamat ulang tahun, Sayang. Mama tidak percaya kalau sekarang kamu sudah sebesar ini."


Papa melangkah mendekati Mama dan lantas melingkarkan tangan di pinggul rampingnya. “Kami sangat bangga padamu, Sayang.”


Lagi-lagi Mama menyeka sudut-sudut mata dengan punggung tangan.


Melihat Papa dan Mama; dari cara mereka berpelukan, bagaimana mereka saling mencintai, cara mereka mencintai dan mengasuh kami, aku sadar aku sangat beruntung. Dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sehat, serta keberlimpahan materi yang kami nikmati setiap hari.


"Group hug!"


Tawa orang tuaku dan erangan palsu dari Bang Oli memantul di dinding-dinding ruangan.

__ADS_1


****


+6281221455412 : Pagi cantik


Aku terkejut melihat pesan dari nomor baru tersebut.


Siapa yang mengirimiku pesan seperti itu? Dia dapat nomorku dari mana?


Deg. Aku teringat sesuatu. Jangan-jangan .... Ah, masa? Benarkah?


Kukumpulkan remah-remah keberanian sebelum membalas pesan itu


Olavia : Owen?


+6281221455412 : (emoji mengedipkan sebelah mata)


+6281221455412 : Kamu sibuk gak hari ini


Oh, my God! Oh, my God! Oh, my God! Owen beneran menghubungiku?


OH! MY! GOD!


Lekas-lekas kusimpan nomornya lalu mengetik balasan.


Olavia : Kayaknya enggak, deh. Belum ada rencana juga.


Setelah pesan itu terkirim, aku baru menyadari betapa payahnya kenyataan hidupku. Aku lantas mengirimkan sebuah pesan lagi.


Olavia : Tapi gak tahu juga sih. Kadang ada aja yang ngajakin ke luar.


Dan sekarang aku terkesan "ngarep" untuk diajakin jalan. Duh! Please, deh, Ola. Jangan kagok gitu, lah, yaaa.


Owen : well kebetulan aku mau ngajakin kamu ketemuan nih


What?


Olavia : serius kamu?


Owen : iya dong


Olavia : yes!


Olavia : ****


****, Ola. Kenapa mencet enter? Kenapa juga harus nulis apa yang ada falam pikiran kamu? Ah, si Ola, ih!


Owen : maksudnya


Olavia : sorry, sorry. Kepencet


Olavia : maksud aku, boleh. Aku mau


Olavia : jalan sama kamu


Olavia : hari ini


Olavia : eh, emangnya kamu mau ngajakin aku kapan?


Dammit, Ola. Kelihatan banget groginya. Ketahuan, deh, kalau kamu jarang banget menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


Owen : (emoji tertawa terbahak-bahak)


Owen : lucu


Owen : gak usah nervous


Owen : aku nanti malam manggung di Beniqno


Owen : kalau kamu mau kamu bisa datang lihat aku


Owen : abis itu baru kita ngobrol


Oh, my God, dia serius? Dia mau aku menonton aksi dia manggung di Beniqno? Aaaaaaaaaaa.


Sebelum aku mengetik pesan balasan, aku menyuruh hatiku yang melompat-lompat untuk tenang. Aku tidak ingin menjadi lebih aneh lagi di mata Owen.


Olavia : kamu serius kan?


Owen : iya lah


Owen : kenapa


Owen : kamu gak mau


Olavia : eh, eh bukan gitu


Olavia : aku mau banget


Olavia : aku cuma ngecek aja, biar gak salah paham


Owen : kamu tinggal baca ulang lagi aja pesannya


Owen : kalau kamu masih ragu


Ya elah, Olaaaaaa!


Owen : jadi gimana


Owen : kamu mau kan


Olavia : YESS


Owen : oke


Owen : it's a date


Owen : ketemuan langsung di sana ya


Owen : see you


It's a date? It's a date? A DATE?


Oh, my God! Oh, my God! OH! MY! GOD! I have a date! I HAVE A DATE!


Aaaaaaaaaaaa!


Aku ada kencan malam ini, tapi ....


AKU GAK PUNYA BAJU YANG PAS!

__ADS_1


Aaaaaaaaaaaa!


Bersambung...


__ADS_2