
Setelah membaca rentetan pesan terakhir dari Owen berulang kali, aku bergegas bangkit dari tempat tidur dan melesat ke kamar Raisa. Namun, baru sampai di ruang tengah, langkahku terhenti oleh dua sosok yang sedang berjalan dari arah depan. "Hai, La. Good morning," sapa Mas Johan seraya mengangkat tangan yang tidak memegang kantong kertas berlogo bakery langganan kami.
"Hai, Mas Jo." Aku ikut melambai. "Eng ... boleh pinjam Raisa bentar, gak?"
Yang diomongkan malah mengerutkan dahi. "Kenapa lo, ha? Meliuk-liuk kayak cacing kremi gitu."
"Sialan lo! Ayo, ikut gue bentar. Ada bisnis," ajakku dengan memintanya mendekat melalui gerakan tangan.
"Bisnis apaan, sih, Neeeng? Gue belum sarapan ini." Raisa mulai berjalan ke dapur. "Gue gak mau jauh-jauh beli cuma buat makan bubur ayam dingin, ya."
Sialan, benar-benar sialan. Bagi si Sableng, pagi-pagi begini tidak ada masalah yang lebih serius daripada bubur ayam yang sudah dingin.
"Ya udah, deh." Aku menyerah meski cemberut. "Gue tunggu lo selesai makan."
"Ikut makan sekalian aja, La. Ini ada kopi sama pastry kesukaan kamu juga, lho," terang Mas Johan.
"Beneran, Mas?" Mendung yang melingkupi hati karena si Sableng lantas tersingkap setelah mendengar kata-kata ajaib itu; pastry dan kopi. "Mas Johan emang the best! Gak kayak seseorang yang kita kenal itu, tuh!"
****
Ternyata croissant, cupcake cokelat, dan caramel macchiato tidak bisa mengalihkan pikiran dari kenyataan bahwa aku memiliki jadwal kencan untuk malam ini. Hal yang terjadi setelah ... hm, aku tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku melakukannya.
Maksudku, berkencan dengan pria yang aku inginkan, ya. Bukan dengan yang sengaja dijodoh-jodohkan denganku.
Suara dengkusan terdengar dari seberang meja. "Seriusan, deh, Lay!" ucap Raisa. "Lo kenapa, sih? Masa makanan dimainin gitu? Itu croissant, Olay, bukannya roti sobek. Jangan disobek-sobek, dong! Lo mau gantian elo yang gue sobek-sobek?"
Anjir. Si Sableng malah ngelawak.
Dia meletakkan sendok dan mendorong mangkuknya sedikit ke samping. "Udah, deh. Gue jadi ikutan gak konsen makan gara-gara lo. Cepetan! Emangnya ada bisnis apa?"
Aku melirik Mas Johan tepat ketika dia mau memasukkan sesendok bubur ayam ke dalam mulut. "Mas, gue tinggal dulu, ya. Pinjam cewek lo. Sableng-sableng gini kadang dia ada gunanya juga ternyata."
Suara batuk Mas Johan menjadi latar belakang aksiku menyeret Raisa ke dalam kamar.
__ADS_1
****
"Ya, Tuhan, Olaaaa." Kemudian si Sableng terkakah-kakah.
Aku mengerang dari balik persembunyianku di bawah selimut. Setelah berhasil membawanya ke kamar, kulemparkan ponselku pada Raisa dan segera menyelam ke bawah selimut yang masih kusut. "Stop it, Raisa. Gue udah malu setengah mampus iniii."
"Gue tahu, Neng. Gue juga malu banget soalnya. Lagian, gue bisa ngerasain panasnya muka lo yang sedang terbakar rasa malu dari atas sini.”
Pekikanku teredam oleh bantal dan kain selimut.
Terdengar suara gelak lagi sebelum bantal yang menutupi kepalaku ditarik. "Udah, udah. Sini. Ayo, duduk."
Aku menurut, bangkit dengan telapak tangan menutupi wajahku. "Raisaaa, just kill me now," rengekku. "Gue malu banget."
Dia meraih tanganku, menjauhkan dari wajah, dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Lo beneran suka sama dia, ya?” tanya Raisa lembut, tanda-tanda bergurau sekonyong-konyongnya hilang dari nada suaranya.
Dari cara dia bertanya, aku tahu bahwa Raisa paham dengan apa yang aku rasakan. Sudah kubilang, aku tidak biasa berkencan. Aku tidak mudah tertarik pada setiap pria yang kutemui. Tidak setiap hari aku memberikan waktu dan tenaga kepada seorang pria yang hampir tidak kukenal.
Untuk menjawab pertanyaan retorisnya, aku mengangkat bahu. “Gue pengen tahu lebih banyak tentang dia, yes. Owen kayaknya baik.”
"Sembarangan lo kalau ngebacot. Lumayan dari mananya? Ganteng gitu. Enak aja lo."
"Ciyeee. Udah overprotektif aja, sih, Neng Olay."
Aku memutar bola mata.
Dia mencibir.
“Tapi, serius, La. Kalau menurut lo si Owen ini menarik, gue bilang, sih, lo harus ngikutin kata hati lo. Kasih dia dan diri lo kesempatan. Menunggu pria yang tepat itu baik, benar, tetapi lo gak akan tahu dia tepat buat lo sampai lo kenal dia, kan?" Raisa lalu menepuk udara dengan telapak tangan kanannya. “Bleh bleh bleh. Pagi-pagi gue udah harus mengeluarkan kata-kata bijak gue.”
Aku memutar mataku ke arahnya lagi. Dasar sableng.
"Udahan, belum? Apa ada lagi yang mau lo bahas?"
__ADS_1
Hampir saja lupa. "Oh, iya! Dan ini masalah terbesarnya, Raisa."
"Apa?"
"Gue gak punya baju buat nge-date nanti malam!"
"Maksud lo apa, Olaaay? Lo nge-date-nya nanti malam? Terus kenapa baru kasih tahu gue sekarang? Seriusan, deh, lo! Seharusnya lo kasih tahu gue dari kemarin-kemarin biar kita bisa punya waktu buat nyari baju yang pas. Kalau mepet kayak gini, kan, susah. Aaargh! Yok lah, siap-siap. Kita harus mulai hunting dari sekarang!"
Buset! Kenapa si Sableng jadi seperti orang kerasukan begini?
"Ola! Ngapain bengong lo? Buruan!" desak Raisa yang tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu.
Aku menatap bingung baju tidur yang masih melekat di badan. "Engg ... by the way, gue gak ada kesempatan buat mandi dan ganti baju dulu, nih?"
"Astaga, Olaaaaa. Cepetan!"
Suara pintu yang dibanting menjadi tanda akhir dari percakapan kami.
****
Aku berdiri di depan cermin yang terletak di antara lemari penuh pakaian. Dengan halter top hitam, skinny jeans high-waisted berwarna abu-abu gelap, dan sepatu boots suede hitam berhak tinggi, sedang wajah dirias dengan tampilan natural–karena aku tidak ingin memberikan kesan yang salah di kencan pertama kami, aku merasa sangat ... bersemangat.
Entah karena ini adalah kencan pertama yang terjadi sejak lama atau karena selama berdandan, hatiku mengulang-ulang kalimat "aku menyukai Owen" dan itu menjadi seperti sebuah mantra yang memberikan energi positif.
Aku rasa hal itu merupakan campuran dari keduanya.
Aku mengambil jaket fringe suede dengan warna kobalt sebelum ke luar kamar dan menemukan dua sejoli meringkuk di sofa tengah menonton film animasi, kesukaannya Mas Johan. "Widiiiiih. Kayaknya ada yang ready to kill, nih," goda Mas-Mas berusia tiga puluh dua tahun itu.
Aku menaik-turunkan alis seraya tersenyum dari telinga ke telinga.
"Untung lo punya sahabat kayak gue, jadi isi lemari pakaian lo di atas rata-rata," kata Raisa yang masih kesal karena aku tidak jadi membeli satu pun barang yang direkomendasikan fashionista itu. Bagaimana tidak? Masa dia menyarankanku untuk memakai dress satin padahal aku dan Owen hanya berjanji untuk bertemu di Beniqno? "Rambut lo kelihatan bagus, by the way. Gue suka gelombangnya." Dia menambahkan.
Aku tergelak melihat Raisa yang berusaha keras untuk terlihat gusar. "Thanks, guys," kataku sembari berjalan mendekat. Kukecup pipi sahabatku itu. "Gue jalan dulu, ya. Grab-nya udah nunggu di bawah. Bye, kiddos. Hati-hati di rumah. Jangan kerjain hal-hal yang gak gue kerjain, yaa!"
__ADS_1
Bersambung...