Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
32. Angga : In the Light of the Day


__ADS_3

"Well, well, well, lihat siapa yang digondol kucing ke sini." Gue menggoda sahabat gue itu saat dia menjatuhkan badan di seberang bar, membuat bangku tanpa sandaran itu merengek menerima beban tubuhnya. "Tumben lo mampir jam segini."


Oliver Andrew Arifin yang terkenal selalu punya sesuatu untuk dibicarakan kali ini hanya diam.


Well, something is fishy. Tidak buasanya dia kehabisan stok comeback kayak begini. Mengangkat alis, gue menambahkan. "Kenapa lo? Gue tebak pasti bad lay."


Oli hanya mendengkus dan menyisir rambutnya dengan jari.


Well, lebih parah dari bad lay ternyata. Oke lah kalau begitu.


Gue berbalik untuk mengambil satu botol dengan merek yang terletak di rak paling atas dan menuangkan segelas untuk dia. Biasanya, yang dibutuhkan si Kampret untuk menenangkan pikiran atau mencuci "rasa yang tertinggal" setelah a not so very good lay in the hay adalah segelas—atau beberapa, whiskey neat.


Dia mengerang, menyugar, dan menarik ujung rambutnya, lagi.


Tanpa sekali pun melirik gelas yang baru saja gue taruh di depannya.


Ini anak kenapa, sih?


Alis gue naik lebih tinggi lagi. Mereka hampir di garis rambut gue sekarang. Gue jadi ingat lirik lagu anak-anak yang naik, naik ke puncak jidat. Tinggi, tinggi sekali~


Ah, stop! Tidak seharusnya gue nyanyi-nyanyi gak jelas saat sohib gue lagi galau tingkat kecamatan gini. Apalagi kalau dia sudah mengabaikan minumannya. "Lo gak mau yang itu? Gue mengangguk ke arah gelas yang masih tak tersentuh. "Mau gue ganti pakai apa? Cola dingin? Kopi tubruk atau teh tarik sekalian?"


Usaha melawak gue juga sia-sia. Sialan, deh. Ini anak kesambet apaan, sih?


Ya, sudahlah. Kalau begitu gue menyerah. Nanti juga bakal ngomong sendiri.


Gue melanjutkan sesi beres-beres gue di belakang bar. Mengelap gelas-gelas yang selesai dicuci. Memag sudah pukul setengah satu lewat tengah malam. Tidak ada lagi pengunjung yang akan datang. Kami hanya menunggu pengunjung yang masih nongkrong untuk mengakhiri kunjungan mereka.


"I f*cked up."


Well, dari sekian banyak kalimat pembuka yang bisa si Kampret ini katakan, I f*cked up bukanlah salah satu yang ada di dalam daftar di kepala gue.


Oliver mendengkus lagi.


Oke, ini sepertinya sangat buruk. Ada masalah apa, sih, sampai bikin dia berubah jadi banteng gini? Dari tadi kerjaannya mendengkus mulu.


Membungkuk, gue meletakkan lengan bawah gue di atas meja, jari-jari saling terkait satu sama lain. Gue memandang si Kampret—benar-benar memandang, mengamati—untuk pertama kalinya sejak dia tiba. T-shirt biru, jaket kulit hitam, jeans berwarna denim yang dikenakannya terpasang sempurna seperti biasa.


Tidak ada jas, karena hari ini adalah hari Minggu. Dan hari Minggu berarti makan malam keluarga di rumah keluarga Arifin.


Wait .... ****!


Jantung gue seketika berlari sedikit lebih cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tidak, tidak mungkin. Mungkin suasana hati si Kampret yang buruk tidak ada hubungannya dengan salah satu anggota keluarga.


Gue sangat berharap kepada langit bahwa bukan itulah yang terjadi.


Gue terus menatap Oli. Di luar pakaiannya—cowok itu hidup untuk kesempurnaan, ngomong-ngomong—jelas ada sesuatu yang salah dilihat dari ekspresinya. Dia terus menarik-narik rambut. Dia terus mengembuskan napas keras-keras seperti banteng. Dia terlalu gelisah. Dia terlihat sangat ... tertekan.


Apa yang telah terjadi?


Mau tidak mau, kecemasan semakin menjadi-jadi. Please, God, jangan biarkan kegelisahan si Kampret ini soal Olavia. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada wanita gue. Please, God, please.


Sialan si Kampret. Sekarang gue jadi ikut-ikutan gelisah.

__ADS_1


"Maksud lo? Apa yang terjadi?" Gue bertanya, tangan gue mengepal lalu terbuka, terkepal lalu terbuka, begitu saja sambil menunggu Oliver membuka suara.


Dia tidak menjawab.


Segenap tenaga gue mencoba memberinya lebih banyak waktu. Gue mengalihkan otak ini dari overthinking dengan mengedarkan pandangan ke ruangan yang hampir kosong. Sebagian besar pelanggan sudah pergi dan pulang untuk mempersiapkan diri menghadapi hari baru di pagi hari. Namun, di inilah gue. Menunggu sahabat gue untuk membuka mulutnya.


Dia masih tidak menjawab.


Sialan!


"Bro, come on. Cerita sama gue. Lo bikin gue gugup aja." Gue akhirnya berdiri, menyembunyikan tangan gue yang gelisah di saku depan jeans yang gue pakai. "Apa yang terjadi, Man?"


Gue benci memaksa dia untuk berbicara ketika sudah jelas dia belum siap. Namun, gue lebih benci overthinking. Gue benci ketidakpastian, ketidaktahuan, menerka-nerka. Dan, jika ini ada hubungannya dengan Olavia, dia tentu paham kalau gue harus segera mengetahuinya.


Dia mendengkus sekali lagi sebelum mengucapkan dua kata yang sangat tidak ingin gue dengar. "Ini soal Ola."


F*ck.


****


Gue mengarahkan Audi RS6 hitam milik si Kampret ke kondonya. Setelah mendengar kata-kata itu, gue memberi isyarat kepada manajer Beniqno, Dimas, yang selalu standby untuk mengambil alih. Gue mengangkat pantat Oli dari bangku, mengambil kunci fob dari sakunya, dan semua hal lain kecuali berlari ke tempat parkir.


Selagi gue mondar-mandir merutuki dia, si Kampret Gak Berguna ini tahu-tahu sudah menenggak setengah botol whiskey yang gue turunkan buat dia tadi. Benar-benar kampret. Dikasih segelas malah ngabisin sebotol-botolnya.


Sesampai kami di apartemen Oliver di kawasan District 8, gue langsung ke wet bar dan menuangkan vodka on the rocks untuk kami masing-masing. Dia membuntuti gue tanpa perlawanan. "Jelasin sama gue sekarang!" perintah gue sambil meletakkan gelas di depannya.


Si Kampret yang toleransinya terhadap minuman keras sudah teruji itu kali ini meneguk semua isi gelas itu sekaligus.


Dan kemudian, dia berbicara.


F*ck.


****


Yeah. Gue yakin mungkin itu sebabnya gue merasa sedih banget sekarang.


Yeah, sudah tidak mungkin lagi. Pasti itu penyebabnya.


Atau, mungkinkah ada hal lain?


Selama ini, sangat mudah bagi gue untuk mengawasi Olavia dari jauh, mengagumi sosoknya meski dipisahkan oleh jarak, mencintainya dalam kegelapan, karena dia tidak pernah memiliki hubungan yang serius dengan lelaki mana pun. Sungguh jarang sekali ada cowok yang bisa melewati kencan kedua dengannya.


Namun, sekarang, ketika bajingan cengeng itu ada di sini, gue mulai merasakan emosi cemen semacam ini dalam diri gue. Gue merasa sakit hati. Gue merasa marah. Gue merasa sedih. Gue merasa cemburu. Dan yang paling penting, gue sungguh merasa ... menyesal.


"Apa yang gue sesali, sih, sebenarnya?" Gue pikir gue mendengar sebuah suara bertanya.


Gue tertawa mendengar suara itu. Mengapa suaranya terdengar sangat mirip dengan suara si Kampret sahabat gue ini?


"Jawab aja, berengsek," kata suara itu.


Whatever.


Gue hampir mengatakan semua yang ada di dalam otak gue, akan tetapi berubah pikiran pada detik terakhir. Gue tidak menyesal mencintai dia. Aku suka mencintai Olavia. Dia adalah seseorang daei sedikit yang layak mendapatkan semua cinta di seluruh dunia. Gue malah ingin sekali memberinya alam semesta jika dia mengizinkan gue.

__ADS_1


Jika dia memberi gue kesempatan lagi.


Kemudian, gue mendengar sebuah tawa kecil dan pertanyaan lain. "Apa yang bikin lo berpikir kalau lo sangat mencintai dia?"


Gue mengembuskan napas dengan tidak sabar. "Gue belum selesai, Tolol." Ghe memberi tahu suara itu. "Kalau lo pengen tahu apa yang bikin gue menyesal, lo harus mendengar ceritanya dari awal. Percaya, deh, sama gue. Nanti pada akhirnya, semua pertanyaan yang lo punya akan terjawab juga. Pay attention."


Gue cinta sama adik daei sahabat gue sejak dulu, sejak gue berusia enam belas-tujuh belas tahun. Awalnya gue menganggap dia sebagai adik saja, akan tetapi semua berubah semenjak dia tumbuh. Olavia mulai bisa dandan, tubuh pre-teen-nya mulai bertransformasi, dia mulai sering berkomunikasi sama gue, dan ... boom! Gue jatuh.


Dan, dia juga mengembalikan perasaan itu ke gue.


Kami bertemu diam-diam, di balik punggung sahabat gue. Kami tidak pernah pacaran resmi, akan tetapi itu cuma masalah status. Kami tidak mempermasalahkannya waktu itu.


Sampai sekali waktu, kami berhubungan untuk pertama kalinya di malam perayaan kelulusan gue. Ketika itu gue delapan belas tahun dan dia enam belas. Pada saat itu, pada saat itu terjadi, oh, Man, gue tidak bisa berkata-kata. Rasanya benar-benar ajaib, magical seperti yang orang-orang katakan. Bersama Olavia untuk pertama kalinya dan menjadi yang pertama baginya, Man ....


Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi gue, mengalahkan kebahagiaan lulus itu sendiri. Gue bahagia, Olavia juga bahagia, kami bahagia.


Namun, ketika tengah malam datang, setelah kami melakukannya berkali-kali, tiba-tiba saja gue merasakan sesuatu semacam ... kecemasan. Pikiran yang aneh merajalela di otak gue ini. Perasaan yang dia nyalakan, kebahagiaan yang dia ciptakan, membuat gue takut setengah mati.


Bagaimana jika nanti sahabat gue tidak menyukai kami bersama? Apa yang akan orang pikirkan tentang kami? Bisakah gue menghadapi tantangan yang ada di depan? Bisakah gye meng-handle-nya? Dan, yang terbesar dari semuanya adalah, bisakah gye menangani perasaan ini?


For God's sake, Angga, Olavia baru enam belas tahun!


Jadi, seperti pengecut, gue ... lari. Gue pergi tanpa mengetahui hati gue sudah berada di dalam genggaman gadis yang sedang tertidur pulas di atas kasurnya itu.


Dan sekarang pun, gue tahu gue masih lari.


Itulah yang gye sesali. Gue menyesal meninggalkan dia malam itu. Gue menyesal telah meng-ghosting dia setelah malam itu. Gue cinta–


"YOU F*CKER!"


Sesuatu mengenai rahang gue. Sesuatu itu memukul pipi gue untuk kedua kalinya. Kemudian gue merasa seperti sedang berdiri—wait, what? Kenapa gue bisa berdiri sendiri? Perasaan gue tidak berdiri. Gye sedang tidak ingin berdiri, akan tetapi ada sesuatu yang menahan gue agar tubuh gue tegak, sebelum ... sesuatu kembali menghantam wajah gue. Lagi. Dan lagi.


Gue mencoba untuk membuka kelopak mata gue yang beratnya setengah mampus. Oliver? Kenapa dia memegang kerah baju gue? Kenapa dia terlihat begitu ... garang? Gila? Murka?


"YOU F*CKING BASTARD!"


Sesuatu menlunyah rahangku lagi. Cukup sulit untuk memfungsikan otak gue demi memecahkan misteri soal apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri gue ini.


But ....


Tinju itu sekali lagi mendarat, kali ini di pipi gue. Guncangan yang disebabkan membuat kabut mabuk yang tadi melingkupi otak, terkuak. Semuanya sekarang menjadi lebih jelas.


Gue akhirnya tahu apa yang sedang gue hadapi.


Oliver. Dan pukulan-pukulannya.


Oh, ****. ****, ****, ****, ****! Gue pikir gue mengatakan semua rahasia itu di dalam kepala. Namun, nyatanya ... jelas tidak.


Oh, ****.


Kepalan tangan Oliver lagi-lagi mendarat di pelipis gue. F*ck. That's hurt.


Dan kemudian semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2