Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
12. Ola : Bola Mata Angga


__ADS_3

Kebingungan dan kemarahanku muncul lagi tepat setelah aku menghabiskan dua cupcake lagi dan caramel macchiato-ku. Jangan tertawa. Sepertinya tubuhku ini tahu apa yang aku butuhkan sehingga mendesakku untuk mengisi energi sebelum menuntut apa yang diinginkan hati.


Kira-kira dua puluh menit setelah kepergian Bang Oli, aku memasukkan box cupcake ke dalam lemari es dan langsung mandi. Aku punya satu misi dan aku ingin menyelesaikannya secepat mungkin.


Sungguh tidak sabar rasanya untuk memberi tahu Angga apa yang ada di pikiran.


Aku tidak sabar ingin memberitahunya agar menyimpan pendapat tidak pentingnya untuk dirinya sendiri.


Satu jam kemudian—ya, Tuhan, aku benci mengemudi di kota ini—aku sampai di Beniqno dan lantas menerobos masuk, tidak peduli dengan tanda CLOSED di pintu. Aku tahu dia ada di sini. Pasti. Tidak ada tempat lain bagi Angga selain di sini.


Ruangan yang terang benderang dan menyambutku. Namun, tidak dengan beruang kutub yang sedang duduk di belakang bar.


Eergh!


Angga menatapku seolah dia tidak tahu apa yang kulakukan di sini. Yeah, mungkin saja tidak, tetapi itu hanya karena dia tidak tahu bahwa dia tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Dan itulah misi yang aku emban; aku di sini untuk memberi tahunya soal itu.


"Apa-apaan, sih, lo?" serangku beberapa langkah darinya. Tidak perlu basa-basi. Ramah-tamah. Omong kosong. Aku tidak pandai bermanis-manis.


"Wow." Angga tergelak tak menyangka. "Lo? Sejak kapan kamu manggil aku dengan sebutan lo?" Dia meletakkan gelas yang telah dia keringkan dengan lap putih bersih di atas meja. Kebingungan tertulis di seluruh wajahnya.


"Seriously?" Aku bertanya dengan tangan di pinggul. Kini giliranku yang tak habis pikir dengan tanggapannya.


Angga mengangkat bahu lebar itu sebagai jawaban.


Dia hanya mengangkat bahu!


Alat pengukur kadar kekesalan di dalam tubuhku seketika meledak ke langit ketujuh melihat cara dia bertindak. "Ada masalah apa, sih, lo sama gue, ha? Kita gak pernah benar-benar bertegur sapa dan tiba-tiba lo berpikir lo punya hak untuk ikut campur sama urusan gue? Lo emang sahabatnya Bang Oli, ya, tapi bukam berarti lo bisa otomatis jadi sahabat gue juga! Kita bahkan gak temanan. Jadi, kenapa lo peduli? Apa yang bikin lo berpikir gak apa-apa bagi lo untuk ngebahas perkara pribadi gue di belakang gue? Dan ke kakak gue sendiri?” Aku mencecarnya habis-habisan.

__ADS_1


Tiba-tiba keheningan mendominasi udara. Hanya ada suara engahan napasku, akan tetapi itu juga disambut tanpa tanggapan apa-apa darinya. Tidak, aku tidak akan menganggap gelengan kepalanya sebagai respons yang tepat atas ledakan yang baru saja terjadi. Aku benar-benar marah dan Angga tidak akan lolos begitu saja.


Aku melangkah lebih dekat sampai hanya counter bar yang memisahkan kami sekarang. "Lo benar-benar berengsek, Lo tahu itu?" rutukku di mukanya. “Ingat gimana lo memperlakukan gue malam itu? Dan sekarang, seperti ini? Hah! Kalau lo masih belum ngerti, izinkan gue mengejanya, ya, Mister Gak Tahu Batasan. Lo gak punya hak. Elo. Enggak. Punya hak apa pun untuk mencampuri urusan pribadi gue. So, menjauhlah dari urusan gue. Pergi jauh-jauh dari hidup gue. Tinggalin gue. Kayak yang dengan enteng banget lo lakukan sebelumnya.”


Sesuatu melintas di manik pekat itu dan menghilang sebelum aku bisa sungguh-sungguh memastikannya. Sesuatu itu terjadi begitu cepat sehingga aku tidak yakin apakah yang barusan terjadi itu nyata atau tidak. Kami saling menatap, melakukan kmpetisi saling tatap kekanak-kanakan ini lagi. Namun, kali ini aku bertekad untuk menang.


"Wadududu, hot banget, ya, ibu kota. Eh, Jakarta masih jadi ibu kota gak, sih? Apa udah mantan? Ah, bodo amat. Yang jelas hot banget di sini, hot. Ha Ow Te, hot!" racau suara yang tidak asing.


Meskipun tak lagi dilingkupi privasi, aku masih menahan pandanganku sampai Angga yang mengalihkan tatapannya duluan ke arah Mbak Lina yang aku tebak tengah berdiri di belakangku di suatu tempat.


Yang tidak bisa kutahan adalah senyum penuh kemenangan yang menarik sudut bibirku. Yes, aku menang! Terima kasih banyak, Mbak Lina.


Si janda beranak dua kemudian bertengger di bangku kedua dariku dan menatap kami bergantian. "Kalian udah jadian, ya?" Dia bertanya seraya menggoyang-goyangkan alisnya. “Apakah kalian berdua akhirnya menyadari bahwa kalian memang diciptakan untuk satu sama lain? Karena, kalau yang barusan Mbak lihat bukan berantemnya orang pacaran, Mbak gak ngerti lagi, deh.”


Dia mendesah panjang, pikirannya terbang ke angkasa. “Kalian tahu gak, Mbak selalu berpikir bahwa kalian berdua akan berakhir bareng. Kalian berdua itu klop banget! Cowoknya tukang cemberut dan ceweknya keturunan bidadari. Pas! Mbak gak bisa menemukan pasangan yang lebih cocok dari kalian berdua. Raffi sama Nagita aja kalah, mah.”


Angga menyalip niatku. "Mbak bisa diam gak?”


Itu adalah kata-kata pertama yang dia katakan setelah kata-kata kasar yang kukeluarkan, dan itu bukanlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Hell, kalimat itu bahkan bukan untukku. L


Dasar Angga sialan! Aku tidak mengira bahwa aku bisa lebih marah dari ini, tetapi kenyataannya adalah, aku bisa.


Aku murka.


"Eh, maaf, Bos,” sahut Mbak Lina, masih saja cengengesan. Aku menduga bahwa dia salah mengartikan percikan amarah yang melayang di sekitar kami sebagai percikan api jenis lain karena dia tidak berhenti berkomentar. "Tapi, serius, Ola Cantik, kamu tuh gak perlu khawatir soal dia ini." Dia melayangkan ibu jarinya ke arah Angga. "Angga, mah, luarnya aja yang beruang kutub. Padahal aslinya, dia bisa kayak boneka beruang. Percaya, deh, sama Mbak." Mbak Lina kalakian mencondongkan tubuhnya ke depan dan menepuk tanganku beberapa kali dengan lembut. "Kamu bakal beruntung banget jadi pasanngannya."


No. No. No, no, no, no. Pikiran ini tidak boleh mengarah ke sana. No. Stop, Ola! Jangan ingat-ingat itu lagi!

__ADS_1


Mbak Lina sudah menyimpang dari jalur terlalu jauh. Aku harus menghentikannya. Namun, surga melarang jika aku harus melakukan apa pun. Sekali lagi, Angga menyalip niatku. "Tutup mulut lo, Mbak!"


Aku tidak bisa mempercayai telingaku.


Aku mencengkeram ujung konter cukup keras dengan alasan pegangan itu bisa menahanku agar tidak meledak. SI Beruang Kutub Raksasa sialan ini tidak boleh berbicara apa pun dan kapanpun seenaknya!


Lagian, itu bukan cara untuk berbicara dengan wanita yang lebih tua, dammit!


Aku mengalihkan pandanganku ke Mbak Lina yang kini menatap Angga dengan heran untuk menyampaikan permintaan maafku atas kekasaran bajingan itu. Di kesudahan, aku kembali menantang bola-bola hitam miliknya. Entah kenapa sekarang bisa menjadi lebih gelap. "Elo yang diam, dasar cowok berengsek gak sopan!" Aku menggeram dengan gigi terkatup. “Dan, Mbak Lina, sorry. Gak ada yang bakal jadian di sini. Gak ada pasangan yang klop. Gak akan pernah ada."


Sesuatu yang lain terbersit lagi di balik mata itu, lebih dalam dari sebelumnya dan entah bagaimana membuatnya semakin menggelap. Aku berkedip bingung dengan apa yang baru saja aku saksikan. Sesuatu itu telah hilang, tetapi efek samping masih terlihat ada di sana. Bola mata hitam pekat Angga yang biasanya cemerlang, kini gelap dan suram.


Dia seperti sedang merasa sedih.


Aku menggelengkan kepala di dalam kepalaku, memfokuskan diri kembali pada tugas yang ada di depan. "Jauhin gue, Ngga," perintahku. Lalu aku mengirimi Mbak Lina sebuah senyuman kecil. “Sampai jumpa lagi, Mbak.”


Dengan itu, aku meninggalkan ruangan yang terang benderang dan kedua orang itu di belakang. Aku tidak tahu mengapa, tetapi dengan setiap langkah yang kuambil, aku merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam perutku.


Rasanya menjadi semakin buruk ketika aku sampai di mobil.


Apa yang terjadi padaku?


Kupikirkan kembali tentang apa yang terjadi, apa yang kukatakan. Kuulik lagi soal apa yang dilakukan dan dikatakan Angga. Dan kemudian pikiranku beralih ke matanya yang gelap dan suram.


Kenapa matanya terlihat begitu sedih?


Aku menggelengkan kepala. Stop mikirin Angga!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2