Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
39. Ola : Salah Besar


__ADS_3

Aku tidak percaya bahwa aku mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak percaya bahwa aku benar-benar mengatakannya. Dan, terlebih lagi, aku tidak percaya bahwa aku mengatakannya setelah sebuah quicky di kamar mandi!


Namun, whatever-lah. Ya, kan? Hal yang paling penting adalah bahwa aku mengatakan tiga kata sakral itu.


Aku telah memberi tahu Owen bahwa aku mencintainya.


Aaaaaaaa!


Dia mungkin belum mengatakannya balik padaku, akan tetapi dia akan melakukannya. Pasti. Aku memiliki otoritas yang baik—yang juga dikenal sebagai instingku—bahwa perasaan Owen juga sama. Dia hanya ... butuh lebih banyak waktu untuk mengakuinya pada dirinya sendiri, apalagi padaku.


Well, I can wait.


Hm. Dasar. Cowok memang selalu kesulitan dalam hal menyatakan perasaannya, bukan?


Jadi, ya, tentu saja dia akan mengatakannya kembali kepadaku. Dan aku tidak sabar untuk mendengarnya.


Eeeeek!


Oh, my God, memikirkan Owen membuatku sadar akan betapa aku merindukan pacarku itu.


Setelah pertempuran singkat di kamar mandi yang kami lakukan, Owen bersikeras agar aku kembali ke apartemenku. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa kembali ke apartemennya karena harus menyelesaikan urusan rekaman yang mendekati deadline.


Aku dengan setengah hati setuju dengannya dan merajuk sepanjang waktu yang dibutuhkan driver uber untuk mwngantarkanku kembali ke apartemenku di kawasan Kuningan.


Namun, ternyata, itu adalah berkah terselubung. Karena keesokan paginya, Renata mengirimiku email yang menyatakan bahwa klien kami ingin memulai proyek baru secepat mungkin.


Lalu ke sanalah semua weekday-ku berlabuh.


Sekarang sudah hari Jumat, dan aku baru saja ke luar dari meeting dengan klien dengan project terbaru itu pada pukul empat lewat empat puluh lima menit. Thank God The Almighty bahwa ini adalah meeting terakhir yang aku miliki untuk pekan ini.


Aku akhirnya bebas!


Dan, tahukah kalian apa hal pertama yang ingin aku lakukan?


Yeah, Owen!


Errr. Maksudku, aku ingin bertemu dengannya dan mengungkapkan rasa terima kasih atas intuisinya hari Minggu lalu. Jika bukan karena desakannya, meeting itu pasti akan menjadi pertemuan yang membuatku kocar-kacir pada Senin pagi.


Bukan kesan yang ingin aku buat di depan klien.


Tanganku gemetaran, tak sabar ingin bertemu dengan tubuhnya.


Oh, my God. Listen to me!


Segera setelah aku mengumpulkan barang-barang, aku berpamitan dengan melambaikan tangan kepada Renata. Aku memasukkan bokongku ke dalam mobil yang menunggu dan mengantarkanku ke tempat Owen. Begitu tak sabarannya, aku mencoba menelepon cowokku itu beberapa kali di dalam perjalanan, akan tetapi yang aku dapatkan hanyalah pesan suaranya. Mungkin dia masih sibuk di studio.


Hm. Aku bisa menunggu di apartemen dan menjadi kejutan untuknya nanti. Kejutan yang tak terbungkus?


Uhuk!


Dia pasti akan sangat menyukainya!

__ADS_1


Aku terkekeh sebab pikiran mesumku sendiri. Sopir uber itu melirikku dari visor. Penasaran.


"Maaf, Pak." Aku meringis melihat tatapan aneh yang dia kirimkan ke arahku.


Jadilah. Aku menghabiskan seluruh perjalanan ke Kebayoran Baru dengan merencanakan kejutan untuk Owen. Selama itu pulalah aku harus berusaha menahan ekspresi di wajahku agar Bapak Sopir tidak mengarahkan kerlingan anehnya padaku lagi.


Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Owen.


****


Aku praktis melompat-lompat ketika menaiki tangga ke lantai tiga. Ketika aku mencapai puncak tangga dan mendarat di lantai apartemen Owen, betapa terkejutnya aku menemukan pintu apartemennya itu sudah terbuka sedikit.


Dia sudah ada di rumah? Yeay, aku tidak perlu menunggunya lebih lama lagi!


Namun, senyum di wajahku seketika memudar dan berubah menjadi tatapan bingung saat aku memasuki ruangan itu.


"Owen?" Aku memanggilnya. Melangkah ke ambang pintu, aku dengan hati-hati berjalan di sekitar benda-benda yang berserakan di lantai. "Owen? Kamu ada di dalam?" Aku memanggil lagi, lebih keras kali ini.


Apartemennya ... berantakan.


Oh, my God! Apakah seseorang mencoba masuk dan mencuri sesuatu?


Panik tiba-tiba mengalir di dalam darahku, membekukan sistemku.


Oh, no, no, no, no, no. Owen. Owen. OWEN!


"Owen!" Kini aku berteriak, buru-buru lari ke satu-satunya ruangan yang memiliki pintu di apartemen itu. Aku menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tertutup dan terkunci. "Owen! Kamu di dalam?" Tok. Tok. Tok. "Owen!" Gedoran yang lain.


Aku menggedor pintu sekali lagi.


Ya, Tuhan, apa yang telah terjadi?


Aku menghela napas dalam-dalam. Come on, come on, come on.


Lalu, tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu dari balik pintu. Kuhentikan semua yang kulakukan, termasuk berdoa dan memasang telinga.


Seseorang sedang menyiram toilet.


Fiuh. Berengsek!


Aku mengembuskan napas dengan penuh kelegaan. Dada yang tadi terasa penuh karena kecemasan seketika mengendur dan lapang lagi.


Astaganag. Pria inj benar-benar berhasil membuatku takut tanpa alasan!


Tawa ke luar dari lubuk hatiku. ****. Aku bertingkah seperti orang gila.


Itu, Tuan dan Nyonya. Itulah yang tampaknya bisa dilakukan oleh perasaan cinta terhadap jalan kerja akal sehatmu. Cinta ... membuat akalmu tidak berjalan dengan semestinya.


Aku bertengger di sisi tempat tidur. Dorongan adrenalin yang meninggalkanku sekaligus membuatku sangat lelah padahal aku masih punya banyak rencana untuk dilakukan pada pacarku itu.


Oke, pikiran ini membuatku sedikit lebih bersemangat.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah Owen dengan headphone terpasang di telinganya.


Tentu saja cowok ini tidak bisa mendengarku berteriak seperti sedang kesetanan.


Dia kaget saat menyadari bahwa aku sudah ada di kamarnya. "Oh, hai," sapanya, sedikit ... gugup? Dia menanggalkan headphone yang tadi dipakai. Kini mereka tengah melingkari lehernya.


Oke, aku rasa aku tidak bisa cemburu pada sesuatu, barang lenih tepatnya, akan tetapi sekarang aku berharap akulah yang sedang menempel di lehernya. Bukan headphone itu.


Tenang, Neng. Ingat rencana lo. Bentar lagi. Sabar, ya?


Aku berdeham untuk menyembunyikan tawaku. "Hei, Kamu," sapaku balik saat aku berdiri dan berjalan ke arahnya. "Aku kangen."


Owen mencium bibirku sekilas.


Sebuah kecupan saja. Hm. Untuk sekarang okelah.


Aku melangkah mundur dan melihat ke sekeliling. "Apa yang terjadi?"


Sambil menggaruk rambut di belakang kepalanya, dia menjawab, "Aku ... eh, aku ... aku, aku ... a-aku ma-mau pindah."


Heh, what? Dia mau pindah? Dia pindah, katanya? Kalau Owen pindah, itu artinya ....


Oh, my God!


"Kamu udah tanda tanganin kontraknya!" Aku berseru. Tidak perlu bertanya lagi karena aku sudah tahu. Oleh karena itu dia akhirnya bisa pindah dari apartemen studionya yang suram ini.


Ups!


"Uh, ya. Ya, aku ... aku udah tanda tangan."


"Oh, my God, Owen! Selamat, ya!" Lenganku seketika saja sudah melingkari tubuhnya dalam pelukan erat. "Aku sangat bangg sama kamu!"


“Ya, eh… m-makasih. Aku, eh….”


Hm. Okaaaayy, ada apa dengan uh dan jeda yang tidak dibutuhkan dan keragu-raguan yang terang-terangan ada itu?


Alisku berkerut saat aku mengecek Owen. Kenapa dia bertingkah begitu ... aneh?


"Hei, what is it going on?" tanyaku, meletakkan wajahnya di antara kedua tanganku, menangkup wajahnya dengan lembut. "Ini mimpi kamu, Sayang. Dan sekarang apa yang kamu impikan udah jadi kenyataan. Kamu harus bangga. Kamu harus bahagia. Aku tahu aku bahagia dan bangga banget sama kamu."


Kegugupan tampaknya surut sedikit demi sedikit dari wajah tampan Owen. "Benarkah?" Dia lalu menyunggingkan senyum kemenangannya.


"Ya iya lah." Aku meyakinkan sembari mengangguk dan membalas senyumannya. Tentu saja. Bagaimana bisa aku tidak bangga menjadi kekasih seseorang yang hebat dan berbakat seperti Owen Miller?


Owen menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahak. "Sial!" katanya saat dadanya naik-turun oleh gelak yang menguasai tubuh. "Aku pikir kamu bakal mencak-mencak dan bertingkah seperti cewek psycho kayak di film-film itu."


Well ... apa maksud Owen? Alisku terangkat. Tadi aku memang bertingkah gila, akan tetapi kamu tidak tahu itu. Namun, aku tidak berpikir bahwa Owen dan aku sedang membicarakan hal yang sama. "Ng ... maksud kamu apa, sih, Yang?"


Berbalik, mataku terfokus pada Owen yang melewatiku menuju tempat tidur. "Enggak." Dia terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Dia kemudian mulai mengumpulkan dan melipat pakaian yang berserakan di atas tempat tidur yang seperti kapal pecah itu. "Aku pikir ... setelah apa yang kamu bilang sama aku hari Minggu lalu ... hm. ****! Itu ... itu jadi beban banget buat aku dan salah besar, jadi ... jadi .... Aduh. Gimana, ya? Aku bingung gimana jelasinnya. Ah, udahlah. Yang jelas itu salah, gak benar. Salah banget, deh, pokoknya." Dia balas menatapku dan mengangkat bahu, sebelum memfokuskan kembali dirinya pada kaus itu lagi.


Tunggu. Apa maksud Owen? A-apa yang sedang dia bicarakan?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2