
"Apa yang sedang terjadi di sini?" Gue tidak kuasa untuk menahan emosi yang membuncah bersama suara gue. Teriakan gue memantul di dinding-dinding kondo Oli sebab pemandangan di depan gue itu. Darah gue mendidih. Jantung gue terasa seperti akan meledak keluar dari dada sialanku ini. Gue rasanya tidak bisa bernapas. Sial! Sial, sial, sial!
Gue kepalkan tinju dengan sangat erat, gue yakin telapak tangan gue akan berdarah karena tercabik-cabik oleh kuku-kuku jika gue tidak segera berhenti.
Persetan lah!
Mereka pun seharusnya juga sudah berhenti, seperti ... lima detik yang lalu. Atau, tangan gue yang mengepal bukanlah satu-satunya yang akan mengalami pendarahan.
F*ck. Seharusnya mereka tidak melakukan itu dari awal.
Seharusnya .... Seharusnya ....
Argh!
Seharusnya bajingan sialan itu tidak sedang bertelanjang dada, tidak sedang merangkak di atas Olavia sementara dia melahap wanita pujaan gue seperti orang gila yang kelaparan. Seharusnya bibirnya tidak sedang berada di bibir Ola; tidak saling bergumul. Seharusnya tangannya tidak ....
Sial! Gue tidak ingin memikirkan apa saja yang telah dilakukan oleh tangannya, dari mana saja tangan itu, dan apa yang sedang dilakukan, akan tetapi ....
"F*CK!"
Suara gue yang menggelegar pada akhirnya, akhirnya, thank f*cking God, menghentikan mereka dan mencegah mereka saling mengerayangi lebih jauh dan lebih dalam lagi. Si Bajingan ikut mendongak ketika Olavia menoleh dan dia akhirnya bisa melihat gue berdiri di sini dengan asap ke luar dari setiap pori-pori kulit.
"Angga, apa yang lo lakuin di sini?" interogasinya dengan suara yang serak dan mata terbelalak kaget. Dia bergegas untuk duduk dan memperbaiki bajunya yang setengah terangkat.
Sialan. Seharusnya baju Olavia tidak kusut seperti sekarang ini.
Gue melihat wanita pujaan gue dan membuat daftar keadaannya; rambut yang acak-acakan, pipi merona merah, bibir yang terlihat ranum dan berkilau. Dadanya bergerak naik turun dengan begitu dalam karena napas yang terengah.
Cantik sekali.
Dia akan menjadi pemandangan yang sempurna jika guelah yang membuatnya seperti itu.
__ADS_1
Sebenarnya, bagaimana pun, dia tetaplah suatu pemandangan yang sempurna di mata gue.
Namun, tidak. Jelas saja bukan gue yang membuat dia bersinar seperti itu.
Dan, sialnya, kenyataan itu membuat hati gue hancur lagi.
Berhentilah menjadi seseorang yang menyedihkan dan payah, gue menegur diri sendiri. Jangan kayak banci, deh!
Gue memejamkan mata dan menarik napas dalam untuk mendinginkan kepala gue—atau hati?—sebelum menjawab pertanyaan Olavia. Dia, bagaimana pun, tidak pantas menerima kemarahan gue. "Oli minta tolong gue untuk ngecek Toto. Katanya dia gak jadi bisa balik hari Minggu. Kemungkinan urusannya molor sampai minggu depan. So, gue pikir gue bisa bawa Toto pulang sama gue.” Gue menjelaskan. "Kayaknya lo juga sibuk banget. Sebaiknya kami buruan cabut dari sini."
Ada rasa nyelekit di bawah diafragma gue saat gue harus menggunakan panggilan gue-elo itu kepada wanita pujaan gue ini, akan tetapi apa yang bisa gue perbuat? Itu keinginan dia. Jadi, gue hanya bisa mengikuti peraturan yang dia buat. Ditambah lagi gue paham apa niat Oli mengirim gue ke sini.
Beuh! Dia tidak tahu saja apa akibat dari niat baiknya.
Kasihan gue.
Tidak lama, gue kembali ke diri gue yang tenang, terkontrol, dan berengsek, seperti yang selalu wanita pujaan gue katakan.
"Oh? Oke." Dia tiba-tiba saja berdiri, walaupun masih agak linglung. Olavia bahkan tidak mendengar nada sarkastis dari gue. "Titot ada di kamar gue."
Lagipula, siapa yang auruh memilih nama Tote?
Namun, sesuatu kembali membuat gue gusar. "Kenapa Toto ada di kamar lo?" Gue balik menginterogasinya sambil mengikuti di belakang Olivia yang sedang menaiki tangga.
Dia memutar kepalanya sedikit dan mengangkat bahu. "Lo paham lah, dia gak terlalu ramah sama orang asing."
Bullshit. Gue dan dia sama-sama tahu kalau kata-kata yang ke luar dari mulutnya barusan adalah bohong.
"Mungkin Toto punya alasan yang bagus." Gue bergumam tidak jelas.
"Lo ngomong apa barusan?"
__ADS_1
"Gak, gak ada apa-apa," jawab gue dan menutup mulut.
Dia membuka pintu kamar yang dikhususkan Oli buat Olivia. Toto melompat dari tempat tidur begitu dia mendengar suara klik kunci yang terbuka. "Hai, Boy." Gue berlutut dan menyapa Toto dengan memberikan sedikit gosokan di leher. Dia menggonggong excited. “Sleepover di rumah gue, yuk, ah.”
Toto kembali menggonggong dengan gembira.
"Kalau begitu, ayo ambil barang-barangmu."
Gue meninggalkan kamar Olavia untuk mencari tali si Toto sementara Toto si penurut membayangi langkah gue. Oliver biasanya meletakkan tali itu di gantungan yang ada di foyer.
"Kalian mau pergi ke mana?" tuntut Olavia yang terbirit-birit menyusul langkah besar gue menyusuri lorong. Mendengar api dalam suaranya, gue rasa dia sudah sadar dari mabuk karena pertemuannya dengan bajingan itu.
Bajingan cengeng itu. Berengsek, jangan mikir ke sana, Idiot.
Gue mengabaikan pertanyaan wanita pujaan gue. Gue memilih untuk mengabaikan dia dan bersikap seolah-olah gue tidak punya perasaan karena, jika tidak, jika gue melakukan hal yang sebaliknya, gue akan hancur berkeping-keping di depan dia.
Dan itu tidak pernah menjadi pilihan di sini.
Secinta-cintanya gue sama orang, gue tidak akan pernah merendahkan harga diri gue di depan orang yang tidak menghargai gue.
Tiba-tiba gue merasakan cengkeraman. Olavia ternyata memegang lengan bawah gue untuk menyetop langkah gue. Sentuhan lembutnya menghanguskan kulit. Untuk sementara waktu, gue terpaku pada perbedaan tangan kami; betapa kecil dan rapuhnya telapak tangan Olavia terlihat di atas lengan gue yang maskulin. Sadar, gue menarik tangan gue dengan cepat. "Apa?" Gue mengembalikan nada menuntutnya.
"Lo mau ke mana? Kenapa lo bawa Titot? Dia, kan, lagi sama gue. Oliver nitipin dia ke gue duluan daripada lo!" Dia membombardir gue dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah gue jawab, jika dia dari tadi mendengarkan gue sedikit saja. Namun, sayangnya, dia tidak peduli.
****. Gue tidak boleh marah lagi. Udah gue bilang, kan, gue mau bawa dia ke rumah gue." Gue tidak memberi dia penjelasan lain lagi.
"Kapan lo bilang gitu? Ha? Kapan?”
Olavia berjuang untuk mengikuti gue. Langkah kecilnya tidak sebanding dengan langkah gue yang sengaja gue buat semakin lebar karena gue bisa merasakan kekesalan gue mulai muncul lagi. Meskipun begitu, sekesal-kesalnya gue, gue tetap cinta sama dia. Tentu saja gue tidak ingin dia jatuh. Jadi gue memelankan langkah saat menapaki anak-anak tangga.
Yeah, ladies and gentlemen. Gue mencintai cewek yang tidak mencintai gue.
__ADS_1
Persetan dengan cinta sialan ini.
Bersambung...