
Selama berhari-hari aku menyibukkan diri; dengan pekerjaan—dua hari jauh dari kantor sudah lebih dari cukup untukku dan Renata masih mempermasalahkannya sampai sekarang—dan terlena oleh tubuh dan perasaanku untuk Owen. Meskipun—atau haruskah kukatakan karena—peringatan yang diberikannya waktu pertama kali aku mengunjunginya ke studio waktu itu, aku tetap saja mencarinya kapanpun aku mau.
I know, right? Peringatan, atau peraturan, dibuat untuk dilanggar. Entah sejak kapan aku menjadi seperti ini. Namun, tak kupungkiri. Jiwa memberontakku sedang ... terjaga. You know.
Pada hari kedua menunggu di studio, Owen dengan enggan menyerahkan kunci apartemennya padaku. Dia mengatakan menunggu di apartemennya lebih baik, lebih mudah baginya karena keberadaanku tidak akan terlalu mengganggu. Aku bilang aku menyukainya opsi yang ini.
Heloo? Bagaimana bisa aku tidak menyukainya? Aku sudah mendapat alamat dan kunci ke tempat tinggal pacarku bahkan pada tahap awal hubungan kami! Itu seperti pernyataan rahasia atau semacamnya, bukan? Kalau dia tidak ingin aku ada di hidupnya, tidak mungkin dia memberikan kunci itu dengan mudah. Gestur ini menunjukkan betapa dia mencintaiku.
Tidakkah kalian berpikiran seperti itu?
Sebagai ungkapan rasa terima kasih, aku memastikan perasaan negatif yang ada di dalam tubuh Owen ke luar dari sistemnya dengan another encounter in the bathroom. Kalian pasti tahu apa maksudku, kan? Uhuk!
Jadi, hari-hariku selama empat minggu terakhir seperti seperti berikut; ke kantor untuk bekerja, lalu ke apartemen Owen untuk bergelut dengannya, dan ke apartemenku hanya untuk berganti pakaian, lalu kembali bekerja dan ke apartemen Owen lagi. Begitu setiap hari.
Kehebohan bolak-balik dari dan ke tempat-tempat itu membuat aku sibuk sehingga tidak sempat berpikir, apalagi memproses hal-hal yang terjadi sebelumnya.
Seperti yang aku harapkan.
Hm. Oke, oke, oke. Aku sebenarnya tidak ingin memberi diri ini kesempatan untuk berpikir, karena aku tidak ingin memikirkan hal itu. Yang aku inginkan hanyalah agar aku ... lupa dengan apa-apa yang telah terjadi.
Saya masih ingin menghindarinya, jujur saja.
Saat tubuh besar Angga dan suasana yang tegang nan kaku akhirnya ke luar dari pintu, aku menggali simpanan rahasia Raisa di lemari minuman di dapur.
Aku bukanlah seseorang yang menyukai minuman, akan tetapi saat-saat putus asa seperti ini membutuhkan tindakan putus asa jua. Malam itu, aku menjalin hubungan yang terlalu dekat dengan sebotol wine favorit si Sableng. Selama berada di bawah pengaruh minuman fermentasi itu, untuk sementara aku menemukan pelipur dari laraku, ketenangan yang dicari-cari oleh pikiran ini di dasar botol.
Namun, apa yang terjadi di keesokan paginya adalah cerita yang sama sekali berbeda.
Aku bangun dengan keadaan setengah—tidak, tidak, tidak, lebih dari setengah—mampus dan harus menikmati akibat dari ketololanku semalam. Kemudian aku menghabiskan setengah hari merawat bokongku yang hangover agar bisa kembali bergabung ke kemanusiaan. Dan, tanpa mempedulikan bentuk dan keadaan, aku berangkat ke Warner, bertekad penuh untuk menunggu pacarku.
Sisa liquid courage yang masih ada di dalam sistemku membuatku cukup nyaman untuk mengabaikan pandangan tidak senang dari Owen dan kerlingan tajam yang dikirim oleh si resepsionis pirang itu ke arahku.
Lagipula apa masalahnya?
__ADS_1
Owen ... dia tidak bertanya. Dia membiarkan aku melakukan hal-hal yang kusuka. Dan ketika dia kembali padaku yang sedang bergolek tanpa sehelai benang pun di tempat tidurnya, dia hanya membangunkanku dan melakukan apa-apa yang disenanginya juga. Berkali-kali. Dia tidak hanya membuat aku tidak bisa berkata-kata, akan tetapi juga membuat tubuhku terasa tak bertulang, pikiranku jadi tak memiliki beban.
Yang ada hanya ... kepuasan.
Katakan apa saja yang ingin kalian katakan, akan tetapi aku menikmati saat-saat yang kuhabiskan bersama Owen. Tidak ada pertanyaan yang diajukan, tidak ada tekanan. Setidaknya, tidak ada tuntutan semacam itu di saat-saat seperti ini. Hanya dia, tempat tidur, dan aku.
Sesederhana itu.
Dan setelah semua omong kosong yang kulalui? Aku sangat suka dengan sederhana. Suka sekali.
Namun, selalu ada akhir dalam segala hal. Hari-hari penuh kepuasan ini harus diusik oleh panggilan telepon dari sahabatku, yang meski sangat aku rindukan dan cintai, juga kadang bisa sangat menyebalkan.
Raisa memberi tahu aku—atau lebih seperti dia menceritakannya panjang lebar selama tiga puluh menit sementara aku mencoba mengikuti perkataannya yang campur aduk—bahwa dia telah melaksanakan pernikahan dengan Mas Johan di Las Vegas. Aku tidak akan memusingkan diri dengan memikirkan bagaimana bisa trip yang sebelumnya ke Jogja malah jadi ke Las Vegas. Tidak, tidak. Aku tidak akan memikirkan itu sekarang.
Yang jelas, si pasangan pengantin baru saat ini sedang dalam perjalanan pulang dari perjalanan peenikahan spontan mereka menuju ke Bora-Bora, destinasi bulan madu.
Aku tidak ingin membayangkan reaksi kedua keluarga mengetahui hal ini. Tidak, tidak. Aku audah bilang tidak ingin berpikir soal apa pun sekarang.
Aku senang dan takut pada saat yang bersamaan. Kalau begitu, artinya ....
"Hei," panggilku dengan ragu-ragu mencoba menarik perhatian Owen. Suaraku masih sedikit serak karena aktivitas kami sebelumnya. Saat Owen tidak menyahut, aku kemudian menggoda dada kanannya dengan ujung kukuku, membuat ototnya berkedut.
Aku cekikikan.
Kekasihku itu akhirnya membuka mata dan menoleh. Alisnya naik seolah ingin mengatakan "apa?".
Aku beralih, memiringkan badan di sisi kanan dan menopang kepala dengan kepalan tangan, kain selimut linen abu-abu menutupi tubuh polosku dari dada ke bawah. Aku menggigit bibir bawahku sambil merenung. "Ng .... Jadi ...." Aku memulai. "Aku pengen nanya sesuatu sama kamu."
Owen hanya diam dan menungguku melanjutkan.
"Sahabat aku, Raisa, dia menikah kemarin. Mereka elope, sih, sebenarnya. Dia ... mereka sekarang mau bulan madu dulu, tapi nanti pas pulang mereka udah ngatur sebuah pesta. Perayaan sama teman-teman di sini aja, soalnya setelah itu kemungkinan besar keluarga Mas Johan bakal ngadain pesta adat di Jogja."
Alis Owen masih tinggi di dahinya. Aku bertanya-tanya berapa lama mereka bisa tetap seperti itu. "Terus?"
__ADS_1
"Aku ... uhm ... Raisa bilang party-nya bakal diadain hari Mingggu. Ng ... apa kamu ... apa kamu mau ... ikut? Ke sana ... ng, sama ... sama ... aku?"
Akhirnya, alis itu turun, berubah menjadi kerutan di tengah-tengah dahi. Keheningan mengisi apartemen bergaya studio itu selama beberapa ketukan saat dia menatapku dengan ... lucu. Sambil menggelengkan kepalanya, Owen pada akhirnya menjawab. "Aku harus ke studio. Kamu tahu kalau aku lagi aibuk banget sekarang dan gak bisa main-main. Aku harus buktikan sama orang-orang label kalau aku memang pantas menjadi artis mereka."
Jujur, aku ingin sekali Owen ada di sana, menjadi plus one-ku, akan tetapi aku mengerti tekanan yang dihadapinya. Aku tidak ingin menempatkan Owen dalam posisi yang tidak nyaman itu.
Aku tidak ingin dia ada di sana, dan harus bertemu keluargaku, terlebih lagi ketika aku sendiri sedang berada di posisi yang tidak nyaman bersama mereka.
Ya, ya, ya, tentu saja mereka akan ada di sana. Dan Angga juga sudah pasti akan datang.
****.
Aku tidak ingin memikirkan tentang kekacauan ini sekarang. Atau, kalau bisa, sampai kapanpun. Aku ....
Jariku bergerak sedikit lebih jauh ke bawah tubuh Owen yang juga tak ditutup benang. Turun, turun, turun, dan terus turun. Aku melihat bulu di lengannya berdiri disebabkan oleh sentuhanku. Mereka seperti pemandu sorak kecil yang mendorong aku untuk terus melakukan apa yang sedang kulakukan.
Owen menggigil pwnuh kenikmatan.
Dan kemudian ada suara geraman seksi yang ke luar dari dalam dadanya, yang kini membuat aku menggigil.
Dia menyeringai pada isyarat tidak begitu halus yang kuberikan.
"Hm, aku rasa aku bisa memastikan kamu untuk sampai, kira-kira beberapa menit dari sekarang."
Dalam sekejap, tubuhnya melayang di atas tubuhku. "Benarkah?" Aku bertanya hal yang tidak perlu. "Aku juga yakin kamu bisa bikin aku sampai, samapi ke ... sana."
Lalu, dia menyelam ke bibirku.
Kami segera terlibat dalam perang siapa yang bisa membuat siapa sampai lebih dahulu.
Owen tentu saja yang keluar sebagai pemenang.
Bersambung...
__ADS_1