
Aku bangun ke sisi tempat tidur Owen yang kosong dan sebuah catatan di atas bantal.
Aku tahu aku sudah terdengar terlalu terikat, akan tetapi tidak ada salahnya, kan? Bagian kiri tempat tidurku akan menjadi sisi dan bantal milik Owen mulai sekarang.
Aku ke studio. Terima kasih untuk makan malam yang sangat enak. —Owen
Terima kasih untuk makan malam yang enak? Apakah dia serius?
Tidak, tidak, tidak. Seharusnya bukan begitu. Seharusnya dia menulis, "Terima kasih untuk malam terbaik dalam hidupku!"
Aku merasakan pipiku—tidak, seluruh tubuhku—memanas, mengingat kenangan tadi malam.
Oh, my Goodness!
Owen sangat ... dia sangat ... luar biasa.
Aaah.
Sayang sekali aku tidak bisa bangun di samping saya, tetapi aku yakin kami akan memiliki lebih banyak peluang di masa depan. Saat ini, dia harus fokus pada mimpinya. Dan aku harus mendukung itu.
Ya, aku akan menjadi pacar yang suportif untuk Owen.
Oh, my God! Aku tidak percaya aku baru saja mengatakan itu! Aku melakukannya, bukan?
Pacar. Pacar. Pacar. Aku adalah kekasih Owen. Aku adalah kekasihnya Owen Miller!
Owen adalah pacarku!
Aaaaak!
Aku sangat, sangat, sangat menyukai itu.
Dengan hati yang penuh gelembung-gelembung kebahagiaan, aku melayang melewati apartemen dalam upaya mempersiapkan diri untuk bekerja. Dengan lebih dari separuh pikiranku di langit ketujuh, aku berjalan—tidak, masih mengambang—menuju ke kantor.
"Menilai dari raut wajah Anda, Bos, saya yakin seseorang mendapatkan keberuntungan tadi malam," canda seseorang dari arah belakang.
__ADS_1
Aku berbalik untuk menemukan Renata, asistenku, tengah menyandarkan tubuh kecilnya di kusen pintu, lengan menyilang di atas dada, seringai melengkung di wajahnya.
Suaranya memecahkan gelembungku. Aku tidak sadar kalau dia membuntutiku. "Emang gimana raut wajah saya?" Aku bertanya, pura-pura tak bersalah. Seorang wanita hidup untuk kesenangan, akan tetapi tidak pernah membocorkan rahasia.
“Mata yang berkilauan, senyum penuh kepuasan, dan gelagat 'aku puas berkali-kali' itu?” Dia mengangkat jari telunjuknya dan menggambar lingkaran ke arah wajahku.
Uh-oh. Tertangkap basah.
Aku membalas komentarnya dengan begitu banyak ancaman yang bisa kukumpulkan, "Rena, kamu beruntung aku mencintaimu dan terlalu membutuhkan kamu untuk memecat bokong sok tahumu itu."
Ibu dari tiga anak yang lucunya kebangetan ini berani menertawakan bosnya. "Dan Anda beruntung ini kantor Anda atau bokong Anda juga akan dipecat karena terlambat empat jam, Bu Bos."
Melirik jam di dinding, aku meringis. Oh, sial. Dia benar.
Meskipun aku adalah seorang bos, aku tetap berusaha sekuat tenaga untuk memberikan contoh yang baik bagi para karyawan. Ketepatan waktu adalah prioritas. Aku tidak pernah terlambat. Jika aku tidak sedang memiliki keadaan darurat, aku tidak pernah tidak datang ke kantor. Sampai sekarang.
Well, I guess there is a first time for everything.
Dan, begitulah. Otak mesumku langsung saja pergi ke kenangan tadi malam.
Kenapa tiba-tiba ruangan inj menjadi sangat panas?
“Woi, Bos! Saya jadi penasaran kejadian apa yang bisa membuat Anda memerah seperti itu,” timpal Rena tepat sasaran dan sekonyong-konyongnya meledakkan gelembungku lagi.
Mungkin aku hanya harus berhenti tersipu, atau melamun membayangkan soal tadi malam. Membersihkan tenggorokan, aku memilih untuk mengabaikan komentarnya. "Kita gak punya meeting yang dijadwalkan untuk hari ini, kan?" Aku meletakkan dompet dan ponselku di atas meja.
"Gak," jawabnya cepat. “Laporan dan proposal juga sudah selesai. Saya sudah cek dan cek ulang lagi sama tim. Kertas-kertas itu sudah ada di meja Anda. Di bawah dompet mahal itu, kalau Anda ingin lebih spesifik.”
Kesampingkan kepintarannya—yang aku cintai, jika aku ingin jujur, akan tetapi saat ini aku tidak benar-benar ingin, tidak di depannya—inilah sebabnya aku tidak akan pernah memecat Rena; dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Aku berutang banyak padanya untuk kinerjanya yang sempurna.
Menggapai file-file tersebut, aku melirik dan mengembuskan napas. “What, Renata?” Aku bertanya padanya yang masih penasaran dan menunggu.
Wanita berusia tiga puluh tahun itu memasuki ruanganku dan duduk di kursi di seberang meja dalam sekejap. Mengetukkan jarinya, dia membombardir, “Apa yang terjadi? Anda semalam got lucky, bukan? Dengan siapa? Siapa dia? One night stand? Di mana Anda bertemu dengannya? Apakah dia imut? Tampan? Kasar? Apakah Anda mabuk? Apakah dia yang mabuk? Apakah Anda ingat sesuatu? Tentu saja Anda ingat apa yang terjadi, Anda tidak bisa berhenti tersenyum. Dan tersipu. Katakan pada saya, Bos. Katakan pada saya."
"Whoa, whoa!" seruku. “Santai, santaiii. Sejak kapan Anda jadi seorang reporter gosip? Ada apa dengan dua puluh pertanyaan itu?”
__ADS_1
Tawa kecil keluar dari bibirku saat aku melihat cemberutnya. Hanya dia. Hanya dia satu-satunya wanita seusia itu yang masih cemberut seperti anak remaja dan berhasil tampil manis, bukan malah menjijikkan. “Saya,” Dia mengucapkan kata itu, “adalah seorang istri dan ibu dari tiga monster terlucu—jangan salah paham, saya bahagia dengan hidup saya dan saya sangat mencintai keluarga saya—yang ingin bernostalgia. Ayolah, Bos. Sudah lama sekali rasanya sejak saya seusia Anda.” Dia mendesah sembari melamun. "Ah, untuk menjadi muda, bebas, dan sering jatuh cinta."
Ah, bullshit. Usia kami saja hanya terpaut enam tahun. Namun, kalau dilihat dari milestone yang sudah dicapainya, aku memang tertinggal jauh.
Selama beberapa detik, dia tersesat dalam perjalanannya menyusuri jalan kenangan. Kegembiraan di wajahnya berubah menjadi lebih tenang sambil mengenang hari-harinya yang gemilang. Aku bertanya-tanya, ketika nanti aku seusia Renata, atau berada di posisinya dengan keluarga dan anak-anakku sendiri, apakah aku akan melihat kembali ke hari ini dan memiliki "tampilan" seperti itu pula di wajahku? Aku harap aku juga akan terlihat seperti itu.
Tanpa penyesalan. Yang ada hanya ... kerinduan.
Ah, untuk bisa menjadi muda, dan bebas, dan sering jatuh cinta, seperti yang dikatakan Rena tadi.
Pikiranku terus kembali pada kenangan tadi malam. Aku tidak berpikir aku bisa menghapusnya jikalau aku mau. Dan, jangan slaah. Bukannya aku menginginkan hal itu terjadi, ya. Tidak. Tidak akan pernah.
"So?" Renata memecahkan gelembungku untuk ketiga kalinya.
Berani-beraninya dia, huh!
Sambil menggelengkan kepala, aku duduk di kursiku. Dia masih menatapku dengan api penasaran di matanya yang gelap.
"Dia ... hebat." Akhirnya aku mengalah.
Aaah.
Dia hebat tadi malam. Sebelum-sebelumnya pun dia juga sudah sangat hebat.
Kami hebat bersama-sama.
"Tidak terlalu sulit untuk mengakuinya, bukan?" Dia tersenyum penuh kemenangan. "Mengesampingkan soal keterlambatan–" Dia kemudian berdiri.
Aku melotot padanya. Dia dengan berani menertawakanku.
“Bercanda, Bos, ya, ampun,” lanjutnya “Saya suka tampilan ini. Anda terlihat sangat bahagia. Siapa pun dia dan apa pun yang dia lakukan, saya mengandalkan dia untuk membuat Anda bahagia selamanya.” Rena lalu mengedipkan mata dan berbalik untuk berjalan keluar.
etika tubuhnya sudah melewati pintu, dia berteriak, "Tapi, bukan berarti Anda bisa terlalu sering terlambat, oke, Bos?"
Aku menggelengkan kepala mendengar tawanya. Dia sangat, sangat, sangat beruntung aku membutuhkannya di sini.
__ADS_1
Bersambung...