
Aku tidur delapan jam berturut-turut untuk pertama kalinya dalam tiga minggu. Mungkin ada hubungannya dengan kehadiran sahabatku—dia masih molor dan memonopoli tempat tidur seperti biasa—atau, hanya saja aku merasa jauh lebih ringan setelah menumpahkan semua beban yang kutanggung sendiri akhir-akhir ini padanya tadi malam.
Kasihan betul sahabatku harus mendengarkan semua itu. Mungkin itulah sebabnya kenapa dia masih tertidur pulas. Drama kehidupanku membuatnya tetap terikat di atas kasur karena kecapaian.
Atau, dia hanya berurusan dengan food coma setelah menggasak es krim, dan chips, dan burger semalam.
Kita tidak bisa begitu yakin mana yang benar dengan seseorang se-unpredictable seperti Raisa.
Aku melangkah ke dapur dan tidak begitu terkejut ketika melihat Mas Johan sudah duduk di salah satu bangku, secangkir kopi mengepul di meja sarapan di depannya, dan telepon di dalam genggamannya.
"Tidur nyenyak?" tanyanya, mengalihkan pandangan dari layar ke arahku. Aku bertemu dengan sekumpulan pemahaman di manik yang gelap.
Ini menenangkan dan menakutkan pada saat bersamaan. Orang ini. Laki-laki ini. Si Sableng sangat beruntung memilikinya for better or for worst.
"Lumayan," jawabku dengan parau, lalu berdeham. Aku belum menyikat gigi. Aku belum mencuci muka. Bahkan rambutku masih berantakan. Namun, aku tidak dapat menemukan cara di dalam diriku untuk peduli karena hal-hal itu tidak akan menjadi masalah bagi Mas Jo. Pria ini telah menjadi saksi aku dalam kondisi yang lebih buruk dari pada ini.
Lelaki tiga puluh dua tahun itu memberi isyarat agar aku duduk di kursi seberangnya sementara dia berdiri untuk mengambilkan kopi untukku. Aroma seduhan seketika saja memenuhi hidungku dan lantas membuatku mendesah. Aku tidak tahu bahwa ternyata aku sangat membutuhkan ini.
Dan aku betul-betul perlu menemukan pria yang baik seperti Mas Johan untukky.
Pikiran itu memukulku tepat di ulu hati.
Meskipun ini sudah tengah hari, masih terlalu dini rasanya untuk mendapat pukulan kenyataan hari ini. Atau, sampai kapanpun.
Awan hitam yang membawa kesedihan tahu-tahu sudah menaungi diri. Lagi.
Aku mendesah, lagi. Kali ini dengan pasrah.
"Nih. Minum dulu." Suara berat yang sekalioringan khas Mas Johan menembus kabut rasa mengasihani diri sendiriku.
Aku memberinya senyum lebar sebagai ucapan terima kasih sembari menerima cangkir itu.
Dia duduk kembali di kursinya, tepat di seberangku. "So." Dia memulai. "Bagaimana perasaan kita sekarang?"
"Hm. Kita? Yang sedih cuma gue aja kali, Mas, lo enggak."
Mas Johan tergelak. Dia mengangkat cangkir untuk meneguk cairan pekat itu. "Sekarang serius, nih, ya. Gimana perasaan lo?" tanyanya ulang setelah menyesap kopinya.
Hm. Bagaimana perasaanku? Aku tidak terlalu yakin. Kujangkau tempat krim dan gula yang ada di sebelah kiriki. "Good, I think," jawabku, memilih untuk sedikit—entahlah, mungkin netral.
Seketika keheningan ini muncul, jenis yang tidak berat namun juga tidak terlalu nyaman. Kubiarkan saja sambil menyerap kehangatan yang ada di cangkirku. Kedua telapak tanganku menempel pada keramik itu sebelum mendekatkannya ke mulut. Rasa dari apa yang mereka sebut nektar dari Tuhan menyerang indra pengecapku.
Rasa creamy, manis, dengan campuran sedikit rasa pahit yang tertinggal benar-benar membangunkan jiwa dan raga.
Aku mendesah puas kali ini. Memang pantas disebut nectar of the God.
"La." Mas Johan memanggil, mengembalikan pikiranku ke sini lagi. Logat yang kadang masih ada di lidahnya membuat namaku terdengar sedikit berbeda. Aku selalu suka cara dia mengatakan namaku, terdengar lucu.
__ADS_1
Aku tidak punya pilihan selain menatap matanya.
"Mungkin dalam pikiran lo terlalu dini untuk membicarakan masalah ini." Dia mengetuk dua kali ponselnya untuk membangunkan layar. "Tapi, kita semua tahu kalau jam segini berarti udah malam di suatu tempat."
Aku terkekeh.
"Lo ingat apa yang pernah Mas katakan sebelum lo berangkat ke kencan pertama lo dengan si cowok bajingan malam itu?" Alisnya yang lebat terangkat.
Aku mengangguk, akan tetapi tidak memberikan jawaban.
"Jika dia pria yang tepat buat lo, maka semuanya akan baik-baik saja," tambahnya segera. Ternyata juga tidak berniat untuk memberiku kesempatan untuk berpikir.
Keheningan datang kembali.
Alis Mas Johan masih tinggi di dahinya.
Aku ....
Pemahaman sedikit demi sedikit menetes ke dalam pikiran; dengan sangat, sangat, sangat lambat sehingga mungkin butuh seratus tahun bagiku untuk sepenuhnya memahami apa yang dia maksud.
Atau, itu hanya alasan yang ingin aku gunakan agar bisa bersembunyi di belakangnya untuk menyangkal kebenaran yang baru saja disampaikan oleh Mas Johan.
Jika dia orang yang tepat, maka semuanya akan baik-baik saja.
Dan lihat aku sekarang. Lihatlah keadaanku. Lihat bagaimana keadaanku. Lihatlah di mana aku berada. Semua telah jatuh ke dalam kotoran, meledak menjadi abu, menguap seperti asap, hancur berkeping-keping tak bisa lagi bersatu.
Jadi, apa yang coba dikatakan oleh kekacauan ini?
"La." Mas Johan memanggilku dengan cara yang lucu sekali lagi, membuat tawa ke luar dari bibirku. Sekarang dia bahkan menatapku dengan cara yang lucu. "Apaan, sih, lo?" Kini dia bertanya karena bingung.
Aku menggelengkan kepalaku dan terkikik. "Gue suka cara lo nyebut nama gue karena logat lo itu, Mas. Lucu jadinya." Sudah bertahun-tahun dan entah kenapa aku masih saja menganggap itu hal yang lucu. Aku tidak akan pernah tahu alasannya.
Lelaki keturunan keraton Jogja itu juga menggelengkan kepalanya. Senyum puas mewarnai wajahnya yang semula tidak mengerti. "Gue juga bingung, tahu. Gue udah lebih lama netap di Jakarta daripada tinggal di Jogja, tapi ini logat gak pernah minggat dari lidah gue. Bodo amatlah. Yang penting cewek-cewek suka. Apalagi sahabat lo."
"Eeew." Aku berlagak ingin muntah. "Lo sama si Sableng sama-sama suka TMI, ih!"
Dia tertawa.
Kemudian keheningan, si keheningan keparat itu, muncul lagi.
"Serius, La." Dia bersikeras beberapa saat kemudian. "Lo harus membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam pikiran lo. Lo harus menerimanya. Atau, lo gak akan pernah pulih dari rasa sakit ini."
Aku hanya diam seribu bahasa.
"Lo gak pengen gitu, kan? Memberikan lebih banyak waktu berharga lo untuk memikirkan bajingan sialan itu. Dia gak pantas mendapatkannya, La, dia jelas gak menginginkannya sekarang."
"Tapi gue sayang sama dia, Mas." Aku berargumen dengan lemah, bahkan di telingaku sendiri.
__ADS_1
"Iya. Gue tahu, gue tahu. Tapi, dari cerita yang gue dengar tadi malam," Dia mengirimkan pandangan minta maaf ke arahku, "Dan karena gue pikir gak ada kata-kata yang lebih baik, izinkan gue bilang kalau si Bajingan itu udah manfaatin elo, La. Apa itu yang lo inginkan, hm? Seorang pria yang gak tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita?"
Pertanyaan mudah. "Ya, enggak lah, Mas. Gila aja." Aku cepat-cepat membantah.
"Oke. Lalu apa yang lo inginkan?" Dia menantang secepat bantahanku.
"Gue pengen laki-laki yang menghargai gue, melindungi gue, ngerawat gue. Mencintai gue. Gue …." Aku mendesah. "Gue pengen apa yang bokap nyokap gue punya, Mas. Gue pengen apa yang lo sama Raisa punya."
Mas Johan menjangkau tanganku. Lalu ditepuknya dengan lembut. "Dan lo akan mendapatkannya. Suatu hari nanti." Suami sahabatku itu meyakinkan. "Tapi, lo juga harus ingat. Cinta yang besar memang ada, tapi bukan berarti tanpa pengorbanan juga, La. Pasti ada air mata, rasa sakit, patah hati yang harus lo atasi dulu sebelum lo mendapatkan hadiahnya."
Aku meringis dan menunjuk hidungku. "Gue rasa gue bakal ngedapetin cinta kayak gitu, dong. Iya, kan, Mas? Soalnya gue sedang mengalami bagian patah hatinya, nih."
"Iyalah. Pasti. Gue yakin lo bakal punya cinta lo sendiri suatu saat nanti. Tapi, bukan itu intinya, La. Lo paham maksud gue, kan?" Matanya berbinar saat aku memikirkan kembali hal-hal yang baru saja dia katakan.
Kemudian, aku sadar akan maksudnya.
"Lo udah ngerti,kan, sekarang?" Dia memberiku senyum kemenangannya. Lalu dia bangun, berjalan mengitari breakfast bar itu, dan memelukku. "Lo akan baik-baik aja, La. Dan gue serta Raisa sangat berharap lo juga segera menemukan pria yang tepat. Sabar aja. Dia pasti akan datang."
Aku mengembalikan pelukannya. "Makasih banyak, Mas. Gue gak nyangka gue benar-benar membutuhkan ini." Sesaat setelah dia memelukku, aku baru menyadari hal itu.
"Sama-sama." Dia melelaskan pagutan kami dan megang bahuku. "Dan jangan terlalu keras sama diri lo sendiri. Semua orang membuat kesalahan. Itu sifat alami kita sebagai manusia. Apa yang kita lakukan setelah itu yang membuat menjadikan kita berbeda."
Ooookaayyy.
"Maafin diri lo. Lo dengar gue?"
Aku ....
Dia mencium keningku. "Tiulah manusia, La, hidupnya selalu diselimuti masalah. Kalau mau diselimuti biji wijen, mending lo jadi onde-onde aja."
Kakahan melompat daei mulutku. "Sialan lo, Mas." Aku merutuk setengah bercanda.
"Nah, nah, nah. Sekarang permisi. Gue harus bangunin istri gue sebelum dia lupa kalau dia udah punya suami." Mas Johan mengedipkan mata dan lantas berjalan ke arah kamarku.
Aku mendengar pintu tertutup dan tidak lama kemudian jeritan Raisa—jeritan gembira, apa lagi?—menembus dinding dan mencapai telinga. "Mas Johan! Sableng! Jangan lakuin apa pun di atas kasur gue!" Aku berteriak, setengah bercanda, akan tetapi lebih banyak seriusnya.
Kumohon Tuhan, aku harap mereka mengindahkan peringatanku itu.
Tawa sahabatku adalah satu-satunya jawaban.
Aku menggelengkan kepalaku karena kesembronoan mereka.
Menyeruput kopi dinginku, aku merenungkan apa yang dikatakan Mas Johan. Apa yng diperbuatnya tanpa kusadari. Aku baru saja mengakui bahwa aku tidak menginginkan apa yang diberikan Owen kepadaku. Dan karena tidak ada kata-kata yang lebih baik, seperti kata Mas Jo, dia tidak memberiku apa pun kecuali kesenangan lahiriah itu.
Aku menginginkan sesuatu, seseorang, yang memperlakukanku dengan sikap yang sama sekali berbeda darinya.
Aku ingin cinta. Dan apa yang Owen berikan padaku bukanlah cinta.
__ADS_1
Aku ....
Bersambung...