
Sialan, benar-benar sial. Cewek ini ....
Gue sedang berjuang untuk menemukan satu kata yang akan menggambarkan dirinya dengan tepat karena gue tidak ingin terdengar terlalu sentimental dan membuat sesuatu terlihat seperti hal yang lain. Karena jelas saja ini tidak berarti apa-apa.
Iya, iya. Gue tahu. Gue tahu. Udah, diam lo pada!
Gue masih mengunci bibir dia dengan bibir gue, dan gue masih merasai setiap lekukan yang bisa gue jangkau dari tubuhnya yang memang diciptakan untuk membuat laki-laki berdosa. Namun, itu tidak berarti gue berutang apa pun pada dia, kan?
Meskipun berkirim pesan, bertukar air liur, dan bersentuhan, kami hanya bermain, saling menemani. Mengisi waktu kosong satu sama lain. Tidak ada yang serius, sungguh.
Hidup ini terlalu singkat untuk dibiarkan berlalu dengan melakukan hal-hal yang membosankan, bukan?
Wits! Jangan salah. Tentu saja gue menyukai perempuan ini. Kalau tidak, ngapain, ya, kan? Gue suka kecantikannya. Come on, man, siapa yang tidak? Lihat saja bola mata cokelatnya yang besar, bersinar dengan kepolosan. Seperti dunia belum menenggelamkan cakarnya yang beracun pada kehidupan wanita ini dan menunjukkan kepadanya apa sebenarnya yang terjadi di dunia nyata.
Well, mungkin saja itu benar, mengingat keluarganya yang sempurna. Benar-benar keluarga ideal.
Dan, tidakkah kalian melihat lekukanyang kini dibalut gaun merah tua itu? Setiap jengkal kain menempel pada tubuhnya di tempat yang tepat, kembang roknya menambah elok pinggul yang sempurna.
Come on. Jangan bilang kalau kalian tidak mau mencicipi ... itu.
Dan, omong-omong, berbicara tentang pinggulnya ....
Gue serta-merta mencengkeram pinggul itu sedikit terlalu keras—gue tidak peduli karena gue tahu dia tidak akan keberatan, gue rasa dia bahkan akan menyukainya—untuk menarik cewek ini lebih dekat sehingga gue bisa menekan pinggul gue dengan lebih dekat lagi ke tubuh dia. Membiarkan dia tahu apa yang dia lakukan—apa yang disebabkan oleh gaun itu dan sepatu hak tinggi itu—pada tubuh gue yang penuh dengan hormon yang bergejolak.
Suara yang baru saja ke luar dari tenggorokannya membuat libido gue semakin menggila. Itu—sumpah, man, gue tidak akan berbohong karena boleh saja gue seorang pemuda berengsek, akan tetapi gue bukan pembohong—sangat mempengaruhi ego gue yang dari dulu sudah besar.
Sialan, man. Sialan.
Menggeser tangan gue, gue menangkup kedua lekukan itu dan mengepalnya dengan keras sehingga membuat dia melompat. Dengan kakinya melingkari pinggul gue dan lengannya melingkari bahu gue, dia bergelayut ke gue seperti monyet.
Monyet yang sangat seksi dan sangat reaktif.
Monyet yang sangat seksi dan sangat reaktif dengan bokong lembut seperti beludru.
Sial. Membayangkan itu membuat darah gue tambah panas.
What? Gue seorang pria, gue sehat. Gue memiliki hasrat yang sehat juga. Terus, kenapa? Dan, kalian, semua wanita, tahu, kalau kami pria suka berpikir dengan "kepala" kami ... sepanjang waktu.
__ADS_1
Jadi, inilah gue yang sedang"berpikir" dengan "kepala" gue.
Aku menendang pintu hingga tertutup dan mengantar kami ke sofa tanpa menghentikan aksi kami. Bibir kami terus saja bergulat dan bergulat dan bergulat sampai, sayangnya, kami harus berpisah untuk menarik napas karena tanpa sadar—siapa yang akan sadar saat tengah ada di posisi seperti gue ini—kami kehabisan oksigen.
Namun, terima kasih banyak, Tuhan, atas gerakan otot yang tidak disadari.
"Owen," lirihnya di antara menghirup dan menghembuskan udara begitu dalam, gerakan yang membuat dadanya naik turun. Gerakan naik-turun yang menarik perhatian gue ke arah sana. Gue masih ingat betapa lembutnya mereka terasa di tangan gue.
Siaaaaal. Dia cantik banget.
Iya, benar. Emang benar. Dia memang cantik.
Terlebih lagi saat dia mengangkangi gue seperti ini.
Sialaaaaan, my man.
Gue menghabiskan jarak mulut kami, berusaha menangkap—dan berhasil, tentu saja—bibir seksi itu lagi. Dia juga menyongsong gue dan seketika saja alat pengecap kami kembali ke perang intens mereka. Memutar, menyerang, berduel. Seolah ingin membuktikan siapa yang benar-benar jago dan keluar sebagai pemenang.
Percayalah sama gue ketika gue mengatakan—dan karena gue tahu gue memiliki hak suara dalam situasi ini—meskipun dia berada di atas gue sekarang, pemenangnya, ya, tetap saja gue.
Whatever.
Dia menyelipkan jari-jarinya ke rambut gue, bergantian antara menyikat, menariknya, dan memijat kulit kepala gue. Sentuhan dia tak kalah nikmat dibandingkan dengan kecantikan luarnya.
Tangan gue yang mengembara melakukan petualangannya sendiri. Mereka menjelajahi setiap inci tubuhnya, kulit yang terbuka, dan bagian-bagian di atas gaun itu. Kain yang mulai membuat gue kesal itu tidak begitu ofensif lagi ketika gue melihat titik-titik bulu-bulu halus yang tegak di lengannya sebab sentuhan dan bisikan gue di lembah antara dua gunung kepunyaan dia.
Aku tertawa puas mengetahui hal ini.
See? Gue tahu apa yang gue lakukan. Gue bajingan yang sombong karena suatu alasan.
"Owen," desahnya saat gue sibuk menikmati lehernya. Segala sesuatu tentang diri cewek ini begitu lembut, begitu halus, begitu terawat. Sisi positif dari memiliki orang tua yang kaya raya, tidak diragukan lagi. Anak-anak beruntung seperti dia tidak perlu memikirkan berapa banyak uang yang akan dikeluarkan untuk persediaan produk kecantikan terbaik yang tak ada habisnya.
Well, gye tidak bisa mengeluh soal itu. Gue juga ingin punya banyak uang seperti orang-orang ini.
Kulitnya sangat wangi. Pasti setiap sudutnya juga harum begini. ****. Mulut gue semakin berair memikirkan hal ini. Dari awal pun tidak berhenti berair.
"Owen, please." Dia memohon. "Aku mau—oh, my God!" Dia mengerang saat aku menjilat kulit sensitif di bawah telinganya.
__ADS_1
"Aku bukan Tuhan, tapi Owen." Gue mengoreksi. Namun, siapa yang peduli? Gue akan senang sekali jika dia ingin memuji gue seperti Tuhan. Senang pqkai banget malah.
"Please, Owen, please," katanya dengan napas tertahan, hampir terisak.
Wow. Cewek ini benar-benar bikin ego gue tumbuh dengan subur.
Gye tahu apa yang dia minta. Gue juga sangat menginginkan hal itu, sangat malah. Namun, lebih dari itu, gue ingin dia mengatakannya. Mengatakan dengan persis apa yang dia inginkan. Tidak ada salahnya sering-sering memberi makanan lain untuk ego. "Apa, Cantik?" tanyaku di rahangnya.
"Kumohon, Owen," pintanya lagi.
Hm. Hm. Putri ini masih merasa malu rupanya. Sepertinya dia masih membutuhkan lebih banyak dorongan. oke, deh. Gue mengerti.
Gue menggerakkan pinggul gue, anggota tubuh gue yang keras seperti baja menghantam dia dengan kekuatan yang pas tepat di bagian tengahnya yang panas. Dia mengerang dalam kenikmatan. Suaranya memantul dari dinding apartemennya yang besar. Memberi makan ego gue yang sudah mengambang seperti balon udara.
Sekarang gue menyeringai ke lehernya. "Please apa, Cantik?"
Gue melakukan gerakan itu lagi.
Tanpa gue ketahui, hal itu membangkitkan sesuatu di dalam diri dia, menghapus rasa malu yang ada sebelumnya. Dia mulai menggerak-gerakkan pinggul penuh dosa itu ke depan dan ke belakang. Kontak itu, meski masih terlalu banyak pakaian yang ada di antara kami, mengirimkan siksaan nikmat ke seluruh tubuh gue.
Sial, sial, sial. Rasanya sungguh sangat enak. Sudah terlalu lama gue menunggu. Gue tidak bisa menahannya lagi, akan tetapi gue tidak ingin mengalah terlebih dulu.
Dia yang harus mengatakannya.
Ayolah, ayolah. Katakan saja, gue memerintah dia di kepala. Gue menggertakkan gigi, menahan diri. Katakan. Katakan. Katakan.
Dia kalakian memegang kepala gue, menurunkan pandangannya untuk bertemu dengan penglihatan gue. Mata berkerudung hasrat, pipi berwarna merah muda karena keinginan, bibir berkilat dan basah karena serangan-serangan dari gue. "Please, Owen, aku menginginkan kamu," bisiknya, masih terengah-engah. Lalu dia mengucapkan dua kata yang ingin gue dengar sejak pertama kali gue menatapnya di seberang panggung di Beniqno. "F*ck me."
Nah, itu dia. Tuan Putri pemalu akhirnya mengeluarkan perintah. Dan, sebagai seorang prajurit yang baik, gue harus memenuhi permintaannya, melakukan apa yang dia perintahkan, bukan?
Dengan itu, gur menyelam ke dalam diri dia.
Sialan.
Akhirnya penantian gue berakhir.
Bersambung...
__ADS_1