Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
21. Ola : Berubah!


__ADS_3

Mengatakan apa yang terjadi tadi malam merupakan hal yang sempurna adalah pernyataan yang meremehkan. Namun, menganggapnya bencana juga terasa tidak tepat karena kita sedang membahas tentang dua elemen berbeda di sini. Yeah, kalian tahu lah, dua elemen, atau haruskah kukatakan dua "pribadi", yang menentukan itu siapa.


Siapa lagi kalau bukan Owen dan Angga.


Hm. Mari kita lihat.


Owen membuat malam tadi terasa sangat sempurna karena, hello, ciumannya. Dan kehadirannya. Dan karena dia adalah Owen. Dia membuat hatiku berdebar. Dia membangunkan kupu-kupu di perutku dan membuatku terbang tinggi. Terlepas dari kenyataan bahwa aku harus mengunci Titot di kamar dan aku merasa bersalah karenanya. Sampai sekarang pun masih. Namun, di samping itu, yang lainnya terasa ... perfect.


Sementara, Angga, waktunya sangat, sangat, sangat tidak tepat. Kehadirannya begitu menyebalkan. Kenapa dia harus tiba di tengah momen paling menakjubkan dalam hidupku? Kenapa dia harus ... eugh! Dia membuat situasi menjadi canggung untuk sementara waktu di sana.


Namun ... jika aku harus mengakui sesuatu pada diriku sendiri, Titot sudah berada di tangan yang terbaik sekarang. Angga akan merawatnya sebaik yang dilakut Bang Oli, jika tidak lebih baik. Kalian bisa mengatakan bahwa mereka membuat pengasuhan bersama terlihat sangat mudah. Titot sangat dicintai berkat mereka.


Duh. Aku merasa agak tersinggung, akan tetapi memang begitulah adanya.


Setelah mereka pergi, Owen memberi tahuku bahwa dia tidak lagi lapar sehingga dia akhirnya membawa pulang sekotak pizza atas desakanku. Tidak lama kemudian, tinggallah aku sendirian dengan hanya sekotak pizza yang menemani.


Perasaanku kacau; aku tidak bisa memutuskan emosi yang kurasakan.


Kondominium Bang Oli yang besar tiba-tiba saja terasa begitu kosong. Jadi, aku memutuskan untuk mengambil tas, ponsel, serta memakai hoodie dan segera kabur, ke luar dari sana.


Ketika sampai di apartemenku sendiri, aku juga bertemu dengan ruangan-ruangan yang kosong.


Hm. Andai saja Bang Oli tidak harus pergi ke luar negeri secara mendadak.


Tunggu sebentar!

__ADS_1


Jika aku harus menyalahkan situasi ini kepada seseorang, aku pikir dia adalah pilihan yang tepat. Yes, dia!


Kusingkap selimut dengan kasar dan duduk dengan tergesa-gesa sehingga membuat diri sendiri terkejut. ****. Kepalaku berputar karena whiplash yang kusebabkan pada diriku sendiri. Ketika dunia tidak lagi berputar, aku meraih telepon genggam yang kutaruh di atas meja samping tempat tidur dan mencabutnya dari kabel pengisi daya.


Aku tidak peduli jam berapa sekarang di sana, in fact tidak akan beda jauh karena perbedaan waktu Jakarta dan Singapura hanya dua jam, aku mengetik nomor ponsel yang telah kuhafal di luar kepala di papan nomor dan menyentuh tanda panggil.


Nada panggilan tersambung memenuhi telinga, dan panggilan itu terus saja berdering, dan berdering, di ujung sana. Dan akhirnya aku memutuskan panggilan itu hanya untuk mencoba lagi. Ketika hal yang sama terjadi pada percobaan ketiga, aku akhirnya menyerah. Memutuskan untuk menunggu dia menelepon kembali.


Sedikit kesadaran dan akal sehat kembali merayap masuk ke dalam diriku.


Mungkin aku seharusnya mempertimbangkan waktu di sana, atau situasi yang mungkin sedang dihadapi Bang Oli. Mungkin aku harus berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Mungkin aku harus berhenti dan mengendalikan kecenderungan impulsifku ini.


Oh, my God.


Tidak ada yang bisa menurunkan mood, turun, dan terus turun lebih baik daripada pencerahan soal sikap dan sifat jelekmu sendiri. Aku tahu aku sering bertindak impulsif, akan tetapi ini adalah pertama kalinya bagaimana efek tindakanku memengaruhi orang-orang di sekitar terlintas di benak. Ini adalah—dengan malu kuakui—pertama kali di mana pikiran 'mungkin sudah waktunya bagiku untuk berubah' muncul di benak. Atau, paling tidak, menurunkan intensitasnya satu atau dua langkah dalam waktu dekat.


Oh, my God, aku harusnya menelepon Bang Oli untuk meminta maaf, bukan untuk membencinya. Dia begitu sabar menghadapi perilaku nakal dan manjaku. Aku harusnya belajar bagaimana cara bersabar padanya.


Yeah, aku benar-benar harus.


Betapa hari Sabtu yang seharusnya cerah menjadi suram dalam seketika.


Mengangkut pantatku ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci muka adalah sebuah kerja keras. Menyeret kakiku ke dapur juga tak kalah beratnya. Pun begitu dengan mengangkat sendok yang berisi susu dan sereal.


Dengan rasa bersalah membebani setiap sudutku, semua yang dilakukan adalah kerja keras.

__ADS_1


Aku berakhir di sofa, menyalakan TV, dan menontonnya tanpa berpikir. Sekotak Coco Crunch, sekotak susu, dan semangkuk sarapan basah berserakan di bar dapur. Oh, my God ...


aku benar-benar kacau.


Melodi yang familiar tiba-tiba memenuhi ruangan. Mengenali nada deringku—milik siapa lagi?—aku terengah-engah kembali ke kamar. Wajah Bang Oli ada di layar.


Perutku lantas mulas.


“La, kenapa? Lo baik-baik aja, kan? Kondo gue aman? Maaf gue barusan ngecek ponsel. Lagi ribet banget soalnya sekarang." Suaranya yang khawatir terdengar. Ratusan kilometer jauhnya dan hal pertama yang dia lakukan ketika melihat panggilan tidak terjawab dari nomorku adalah mengkhawatirkan adiknya.


Lebih banyak rasa bersalah turun dari langit dan menyelimutiku.


"Gue baik-baik aja, kok, Bang. Semuanya baik-baik aja."


"Oh, thank God. Lo bikin gue takut aja. Pas lihat beberapa panggilan tak terjawab berturut-turut dari lo itu sama dengan peringatan bencana alam kategori paling bahaya, lo tahu gak?” candanya dan tertawa. "Terus, kalau begitu, ada apa lo nelepon gue?"


Aku menghitung sampai sepuluh di dalam kepala sebelum berbicara, memilih untuk melepaskan diri dari rasa bersalah yang mencekik ini. “Ngg… gye cuma pengen minta maaf.” Aku menelan ludah dan melanjutkan, “Gue sadar gue udah bertingkah seperti anak manja dan bikin jadwal lo yang pasti udah padat banget jadi lebih padat. Gue minta maaf, Bang." Sambil mendesah, aku mengakhiri pidatoku dengan, “I love you, Bang. Lo adalah saudara laki-laki terbaik bagi seorang gadis di seluruh dunia.”


Siapa sangka beberapa detik kemudian diisi oleh keheningan dari Bang Oli yang suka berbicara.


"Wow, La, gue ...." Aku mendengar dia berdeham. "Gue gak tahu apa yang udah terjadi, tapi asal lo tahu, gue senang banget dengar ini dari lo. Serius." Dia kemudian juga mendesah. “I love you too. Tapi, satu hal. Lo harus tahu kalau gue gak pernah nganggap lo sebagai beban. Lo itu adik gue. Saudara gue satu-satunya. Lo pasti tahu kalau di dalam buku panduan Cara Menjadi Adik Perempuan Yang Benar itu tertulis salah satu tugas lo adalah mengganggu gue.”


Senyum muncul di bibirku. Sebagian besar batu rasa bersalah yang tadi bertengger di pundakku akhirnya terangkat. Aku merasa jauh lebih ringan sekarang. "Thank you, Bang. Mulai sekarang, gue akan berusaha untuk menjadi adik yang lebih baik lagi buat lo." Aku berjanji padanya, dan pada diriku sendiri.


"Good, it's really good." Bang Oli menyetujui. "Ingat. Lo ngelakuin semua itu bukan hanya buat gue, tapi yang terpenting, buat lo juga. Beneran senang gue dengar lo ngomong gini, La. Serius. Kalau lo udah mulai mikir gini, berarti lo udah tumbuh dewasa. Pemikiran lo udah gak self-centered lagi. Good. So ….”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2