
Aku tidak bisa lagi. Aku tidak bisa melakukan ini lagi.
Tubuhku begitu lemah. Tidak ada yang tersisa untuk dikeluarkan dari perutku, akan tetapi tenggorokan ini tidak mendapatkan memo dan terus menyempit. Muntah namun tidak ada yang dikeluarkan begitu sangat menguras tenaga.
Dengan kaki gemetar, dengan kekuatan terakhir yang kumiliki, aku menyeret tubuhku ke luar dari kamar mandi dan meraih ponselku di meja samping tempat tidur.
Aku tidak bisa lagi melakukan ini sendirian.
Aku tidak bisa terus seperti ini jika aku ingin bayiku aman.
Aku tidak bisa terus begini jika aku ingin menyelamatkan diriku juga.
Panggilan masih tersambung.
Ayo, angkat. God, please help me, please. Please. Help. Please. Please. Please.
Telepon tersambung pada dering ketiga.
"Sweetie?" Dia bertanya, suaranya terdengar sedikit ragu. Mungkin dia mempertanyakan matanya sendiri. Dia tidak percaya bahwa aku benar-benar meneleponnya sekarang.
Ini salahku. Aku melakukan ini padanya. Aku berhenti meneleponnya beberapa bulan yang lalu.
Oh, my God.
"Mama," jawabku sekeras mungkin. Namun, dengan tenggorokan yang sakit dan dehidrasi yang merajai tubuh, aku terdengar seperti kayu yang digores dengan amplas.
Hal itu jelas membangunkan alarm yang ada si dalam sistem seorang ibu. "Sayang, apa yang terjadi? Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik aja?" Kepanikan mewarnai suara Mama.
"T-tidak, M-ma," kataku denganparau lagi.
"Ya Tuhan, Sayang. Sayangku. Mama datang. Papa! Papa!" Aku mendengar Mama memanggil Papa. "Kamu di apartemenmu?" Dia menanyaiku di tengah hiruk pikuk dari sisi koneksinya.
"Iya."
"Tunggu, oke. Papa dan Mama sudah dalam perjalanan. Tunggu kami, Sweetie, kamu dengar Mama, kan? Tunggu kami. Kamu gak boleh ngapa-ngapain dulu. Tunggu kami di sana."
Aku ingin memberi tahu Mama bahwa aku mendengar perintahnya, akan tetapi aku tidak bisa menemukan suaraku.
Kepalaku rasanya seperti sedang berenang.
"Sayang? Kamu dengar Mama?" ulangnya, terdengar lebih ketakutan.
Tenggorokanku menyempit lagi. Namun, aku tidak punya apa-apa dalam diriku untuk dikeluarkan lagi. Aku tidak punya apa-apa untuk kuserahkan pada rasa mual ini.
"Ola, Sayang? Ola? Olavia!"
Itu hal terakhir yang kudengar sebelum dunia tiba-tiba menjadi gelap gulita.
****
Hal pertama yang kudengar adalah bunyi bip dari sesuatu, di suatu tempat yang ada di dekatku. Aku mencoba membuka mata. Namun, kututup kembali ketika nyala lampu membutakanku, menusuk mataku yang masih menyesuaikan diri, membuatku sedikit merasa menyesal.
Aku menggerakkan jari-jari tangan dan kakiku, membuat katalog untuk fungsi anggota tubuhku. Aku merasa seperti telah ditabrak oleh sebuah truk. Semuanya terasa menyakitkan.
Erangan tanpa sadar ke luar dari bibirku.
__ADS_1
Aku mendengar suara gerakan dan kemudian seseorang memegang tangan saya. "Sayang, kamu sudah bangun?"
Tak salah lagi. itu suara Mama.
"Ma." Aku mencoba bersuara. "Cahaya."
Aku berharap Mama mengerti dengan apa yang kumaksud.
"Done, Sayang." Mama memberi tahuku beberapa detik kemudian.
Aku mencoba membuka mata lagi, kali ini dengan lebih lambat, dan mataku disambut oleh cahaya yanh jauh lebih redup. Tentu saja Mama mengerti. Tidaka ada ibu yang tidak mengerti kebutuhan anaknya.
Wajah Mama memenuhi arah pandanganku sesudahnya.
"Hai, Sweetie." Wanita paruh baya itu menyapaku dan tersenyum. Namun, senyumnya tidak mencapai matanya. Matanya yang sekarang penuh dengan rasa sedih.
Bibirku otomatis bergetar. "Maafin aku." Aku lantas terisak. "Maafin Ola, Ma."
Mama dengan cepat menyelimutiku dengan kehangatannya. "Hush, Sweetie, jangan menangis. Kamu akan baik-baik aja. Kita semua akan baik-baik aja." Dia membelai rambutku dengan lembut. "Sudah, Sayang. Sekarang kamu diam, ya. Shhh. Shh."
Kami tetap dalam posisi seperti itu karena aku tidak tahu berapa lama sebelum terdengar gerakan—langkah tergesa-gesa—mendekati kami. Secara otomatis, Mama melepaskan lengannya dari tubuhku tepat sebelum lengan lain menggantikan lengan Mama dan menelan tubuhku yang rapuh.
Kehangatan dan aroma yang berbeda seketika mengelilingiku.
Oh, betapa aku merindukan pelukan beruangnya.
"Baby girl, kamu sudah bangun." Pria itu tersedak, mengencangkan cengkeramannya di tubuhku.
Tubuhku menjerit karena masih sakit, akan tetapi aku tidak melepaskannya. Aku tidak ingin Papa melepaskan pelukannya.
"Papa." Dan aku lantas menangis di bajunya.
Oh, my God.
"Sayang." Aku mendengar Mama berkata. "Bagusnya kita kasih tahu dokter dulu, oke?"
Papa tidak melepaskanku, tidak dengan begitu saja. Dia bertahan satu atau dua detik lagi sebelum akhirnya melepaskan lengannya. Sebuah ciuman mendarat di pelipisku. "Oke, oke." Papa kalakian setuju.
Aku melihat kepala keluarga keluarga Arifin itu diam-diam menyeka wajahnya.
Ini pertama kalinya aku melihat Papa menangis.
Oh, my God.
Aku adalah seorang anak yang pantas dikutuk. Akulah anak yang paling buruk di dunia.
****
Dokter datang tidak lama setelah itu. Seorang perawat yang tampak gemuk dan baik hati mengikutinya. Dia menganggukkan kepalanya ke Mama dan Papa yang berdiri di samping tempat tidurku.
"Hai, Olavia. Senang melihatmu sudah bangun," katanya dengan senyum ramah. "Saya Dokter Akbar dan ini Perawat Indah." Dokter Akbar lalu memberi isyarat kepada perawat itu. Dia ikut tersenyum juga.
Aku membalas senyuman mereka sebisaku.
"Jadi, prognosisnya tidak terlalu buruk. Anda hanya mengalami dehidrasi, dan sedikit kasus kekurangan gizi. Kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan darah Anda dan saya menganggap semua ini terjadi sebagai efek dari kehamilan Anda. Bukan begitu?"
__ADS_1
Aku mendengar seseorang terkesiap.
Namun, Dokter Akbar sepertinya tidak. Dia terus saja berbicara. "Saya sudah mengeceknya dengan Dokter Sheila dan dia membenarkan hal ini."
Aku melirik orang tuaku dan jelas mereka mencoba yang terbaik untuk menahan ekspresi mereka.
Dokter terus memberikan laporannya.
Tidak ada seorang pun di samping perawat yang mendengarkan. Tidak setelah kata itu ke luar.
Kehamilan.
Ini bukan seperti yang aku bayangkan. Ini bukan cara yang aku pilih untuk memberi tahu orang tuaku soal bayi ini. Namun, sejujurnya, aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi. Tidak sama sekali.
Suara Dokter Akbar menyaring di pikiranku lagi. "Perawat Indah akan mengecek Anda sekarang. Silakan hubungi saya bila ada pertanyaan atau hal yang dirasa perlu." Dia tersenyum dan berbalik menuju ke pintu.
Perawat Indah kini sedang memeriksaku. Dia tersenyum padaku sepanjang waktu. Lalu, dia selesai dan ke luar dari ruangan, meninggalkan kami bertiga di sana.
Aku menunduk, malu. Namun, aku bisa merasakan mata mereka menatapku.
Mama kemudian duduk di sisi tempat tidur. Dia segera meraih tanganku. "Sayang," panggilnya lembut. Tidak ada nada kemarahan atau emosi buruk dalam suaranya. "Apa kamu pengen bilang sesuatu samaPapa dan Mama?"
Aku tidak memiliki keberanian untuk menjawab dengan kata-kata. Jadi aku hanya menganggukkan kepala.
Mama meremas tangan yang dia pegang. "Gak apa-apa, Sayang. Kamu tahu, kan, kalau kamu bisa memberi tahu kami apa saja."
Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan mereka setelah apa yang telah aku lakukan pada orang tuaku sendiri.
Air mata mengalir dan jatuh di atas seprai.
Bulir-bulir yang lain segera menyusul.
Dan satu lagi.
lagi.
Dan lagi.
Tak berapa lama, tubuhku gemetar menahan isak tangis.
"Gak apa-apa, Baby Girl." Papa meyakinkanku saat dia sekali lagi menyelimuti tubuhku dengan tubuhnya. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kami akan selalu ada buat kamu. Selalu."
Selalu.
Aku menarik napas dalam-dalam dan meninggalkan pelukan nyaman Papa. Dia lalu meniru Mama dan duduk di sisi lain tempat tidur.
Sekarang kedua orang tuaku itu duduk di setiap sisi tempat tidur rumah sakit ini, mengapitku dengan kasih sayang dan pengertian mereka.
Mendongak, aku menatap ke dalam mata keduanya; mata cokelat Mama, warna yang sama dengan milikku, dan manik cokelat gelap Papa. Tatapan mereka penuh kasih sayang dan cinta.
Aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa menyadarinya dengan lebih cepat. Aku tidak mengerti bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa Owen tidak mencintaiku. Dia tidak pernah melakukannya. Aku tidak mengerti mengapa aku busa begitu buta.
Dia tidak pernah menatapku seperti orang tuaku memandangku sekarang. Jenis cinta yang berbeda, akan tetapi tetap saja cinta.
Aku menyerap perasaan yang akhirnya memberikan aku kekuatan yang kubutuhkan untuk mengucapkan kata-kata itu. "Aku hamil."
__ADS_1
Apa yang tidak aku antisipasi adalah suara marah menggelegar yag terdengar dari pintu. "What the f*ck did you just say?"
Bersambung...