
Canggung.
Ini sangat canggung.
Aku tiba di ballroom hotel Hilton dan langsung disambut oleh senyum cerah Mama dan pelukan erat dari Papa. Aku tahu aku tidak memiliki pilihan lain selain menemui mereka ketika aku datang, akan tetapi aku rasa aku tidak akan datang ke sini dan diperlakukan seperti ... ini.
Mereka menyapaku seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seakan-akan aku bukanlah seorang anak perempuan paling buruk di planet ini. Seperti aku tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti hati mereka dalam beberapa waktu yang lalu. Terutama Mama.
Itulah sebabnya, aku kira, itulah sebabnya kenapa aku tidak bisa bertindak sama seperti apa yang Papa dan Mama lakukan. Senyumku bengkok dan dipaksakan. Pelukanku tidak begitu erat. Mereka jelas ingin bersikap tenang, layaknya apa pun yang telah aku lakukan merupakan hal yang tidak perlu dipermasalahkan, akan tetapi aku ... tidak bisa.
Rasa bersalah muncul kembali ke permukaan.
****.
"Kamu kelihatan cantik sekali, Baby Girl."
"Terima kasih, Pa."
"Kamu pasti sangat sibuk, ya, Sayang?"
F*ck. "Uhm ... iya, uhm ... iya, Ma. Sibuk. Banget. Se-sekarang juga m-masih."
"Kami ... kami merindukan kamu." Mama mengungkapkan dengan lekuk bibir sedih.
Double f*ck.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berada di sini. Aku tidak bisa menghadapi semua emosi ini. Aku ... Aku hanya .... Aku hanya ... tidak bisa. Argh!
"Uhm, ya. Aku... aku ... aku j-juga." Aku membersihkan tenggorokanku. Lalu melihat ke sekeliling. Aku dengan awkward-nya mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. Aku harus keluar dari sini. "Oh, itu dia! Kurasa aku harus memberi selamat kepada mempelai wanita. Sampai jumpa lagi, Ma, Pa. Bye." Dalam sekejap, aku sudah terbang dari tempat mereka berada tanpa melihat lagi ke belakang.
Terima kasih Tuhan untuk waktu Raisa yang sempurna.
Lo benar-benar ******, Olavia. Lo benar-benar seorang anak kurang ajar yang gak tahu diuntung. Lo tega melakukan itu sama orang tua lo sendiri. Dasar. Sikap lo yang begini bikin pantas dikasih gelar cewek ****** yang spesial. Lo akan terbakar di neraka selamanya.
Ya, ya, ya, gue tahu. Tidak perlu juga mendiktekannya. Gue bisa menyadarinya sendiri, kok.
Bagus, deh. Bersiap-siaplah untuk masuk ke neraka, kalau begitu.
F*ck.
Aku baru saja memarahi diriku sendiri. Baru pertama kali nuraniku tak setuju dengan apa yang dengan sadar kulakukan.
Sial. Aku sudah benar-benar salah langkah rupanya.
Namun ....
Rasa malu datang.
Kesedihan tak lama menyusul.
Aku ....
"Olaaaaaay!"
Aku sangat terkejut saat merasakan diriku ditabrak oleh sesuatu dan tahu-tahu saja sudah diliputi oleh pelukan erat dari sahabatku, sahabat terbaik yang menjadi alasanku melarikan diri dari orang tua terbaik yang kumiliki. Jika ini bukan bukti nyata bahwa aku harus menyatukan kembali pikiran dan diriku sendiri, maka aku sudah tidak tahu lagi apa maksud dari semua ini.
Keep it together, Olavia. Lo udah ngecewain keluarga lo. Apa lo pengen ngelakuin itu juga ke sahabat lo sendiri? Be present for her in the happiest day in her life!
F*ck. F*ck. F*ck. Okay!
Lenganku otomatis terangkat dan menjalar untuk melingkari tubuhnya dengan erat. Aku menghela napas dan membiarkan diriku menyerap kehangatannya. Meskipun pelukan ini tidak bisa secara ajaib menghapus badai yang membawa kekacauan dan masalah dalam hidupku, setidaknya aku bisa merasa sedikit lebih ringan sekarang karena dia ada di sini.
"Gue kangen banget sama lo, Olaaaay!" Raisa lagi-lagi menjerit girang di telingaku.
Oh, betapa aku merindukan siksaan semacam ini.
"Gue juga kangen banget sama lo."
Dia akhirnya melepaskanku dari pelukannya yang meremukkan tulang dan mengamati penampilanku dengan tangan masih memegang bahuku. Namun, sebelum melakukan semua itu, dia mengelap sudut matanya dengan hati-hati, thank God masih ingat dengan keberadaan make up yang dipakainya.
Aku terkekeh dan ikut mengelap sudut mataku.
Raisa berkedip, berkedip, berkedip beberapa kali untuk menahan air mata yang hendak ke luar lagi. "Wow. Gaun lo cantik banget! Gue approved."
Aku tidak perlu ikut mengecek gaun yang kukenakan untuk mengetahui apa yang dia maksud. Yeah, saya membeli ini secara online kemarin sebagai tindakan pemberontakan. "Gue pikir gue harus beli gaun maid of honor gue sendiri," sindirku dan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.
Sahabatku menyikut tulang rusuk suaminya karena hal ini.
"Aduh, Sayang." Mas Johan mengerang, berpura-pura kesakitan.
__ADS_1
"Emang pantas, Mas. Lo, sih, gak biarin gue menjalankan tugas sebagai maid of honor dengan benar. Kami jadinya gak punya waktu buat shopping dress gue." Aku tertawa dan memeluknya. "Tapi, ya udah lah. Gue tetap selamatin kalian berdua. Long over due ini mah kalau gue bilang."
"Iya, sih," kata Mas Johan sembari melingkarkan lengan di pinggang wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu. "Itulah kenapa gue maksa dia buat elope keesokan harinya setelah dia nerima lamaran gue. Gue gak bisa nunggu lebih lama dari itu lagi."
Dengan lengan di atas tangannya, jari-jari mereka terjalin, Raisa menjulurkan lehernya untuk menoleh ke arah suaminya dan mereka saling menatap dengan penuh kasih. Semuanya; tatapan, sentuhan, senyuman yang mereka bagi mengandung satu kata dengan empat huruf yang sakral itu. L. O. V. E.
Love.
Mereka memang selalu merupakan pasangan yang mesra, akan tetapi menonton mereka sekarang? Saat ini?
Sekarang, intensitas cinta yang mereka bagi berlipat ganda, seperti ratusan kali lipat lebih dari yang sebelumnya.
Aku mendesah dalam hati.
Pikiranku langsung tertuju pada pria yang kutinggalkan di apartemennya pagi ini. Kerinduan yang kurasakan padanya, oh, my God, menguasai ... menguasai emosi yang lainnya.
I love Owen.
Aku sudah mengetahui fakta ini untuk sementara waktu.
Mungkin sudah waktunya aku memberitahu yang bersangkutan dan menjadikan hubungan kami resmi. Kami sudah berbagi tempat tidur selama beberapa minggu terakhir ini, jadi aku rasa itu sudah cukup untuk dijadikan alasan bahwa apa yang kami punya bukan sesuatu yang main-main.
Ya.
Ya, ya, ya.
Dan, mungkin, suatu hari nanti, kami bisa–
"Mas Joooo, congratulations!"
Aku seketika menegang. Tulang punggungku sekonyong-konyongnya menjadi tegak lurus setelah mendengar suara itu.
"Makasih banyak, Li." Mas Johan berterima kasih kepada Bang Oli saat mereka berjabat tangan.
Lalu aku melihat Bang Oli memeluk Raisa sekilas. "Akhirnya ada juga yang bisa jinakin elo, Sableng," selorohnya.
"Sialan lo." Raisa memutar bola mata dan memukul lengan Bang Oli.
Mereka kemudian berbagi tawa.
Namun, aku tidak ikut.
"Gue mau ke kamar mandi." Aku mengumumkannya tanpa alamat khusus dan pergi begitu saja, secepat yang kubisa dengan menggunakan sepatu berhak tinggi ini.
Sepatu sialan!
Aku bermanuver menuju kamar mandi di antara kerumunan. Beberapa meter dari pintu yang bisa menjadi anugrah bagj keselamatanku, seseorang berhasil merenggut lenganku.
"Lala, tunggu."
Oh, my God. No!
Aku berbalik dan mengibaskan tangannya. "Apa?" tanyaku ketus.
"Whoa, whoa, whoa. Santai." Abangku mengangkat kedua tangannya, telapak tangan ke atas. "Tenang. Gue cuma pengen ngobrol sama lo. Itu saja."
Yeah, right. Namun, sayangnya, aku tidak menginginkan hal yang sama. "Gak ada yang perlu diomongin lagi."
Alisnya lantas berkerut. "Ayolah, La." Bang Oli membujuk. "Jangan bersikikayak gini, dong. Gue udah bilang kalau gue menyesal, dan gue minta maaf. Maafin aku, oke?"
Dengan lengan bersilang di depan dada, aku tetap bergeming.
Dia menggeleng. "Tapi, bukannya menurut lo, lo sendiri juga punya sesuatu untuk dimaafin? Gue tadi lihat–"
F*ck no.
"Bang." Aku memotong kalimatnya. "Kalau lo mau ngomong, ngomong aja. Ini negara bebas. Gue gak akan larang lo buat ngomong. Tapi, sorry. Gue gak mau dengar apa-apa soal yang lo omongin itu. Ngerti?" Aku menyipitkan mata padanya, benar-benar mencoba untuk menyampaikan maksud tersirat yang ada si balik kata-kata itu. "Jadi, permisi. Gue harus kembali dan merayakan pernikahan sahabat gue."
Aku mencoba melewati tubuhnya di lorong yang tidak terlalu lapang, akan tetapi itu berakhir sia-sia. Kakak laki-lakiku yang berengsek ini berhasil memblokirnya hanya dengan menggunakan tubuhnya yang besar.
Amarah yang ada di dalam diri, dengan pasti, semakin meningkat. "Minggir." Aku mendesis.
"Gak." Dia dengan mudah menolak permintaanku. "Gue gak akan beranjak dari sini sampai lo mau dengar apa yang gue mau sampaikan."
Apa yang tersisa untuk didengar? "Gak ada yang mau diomongin lagi, Oliver." Aku menyebut namanya. "Gue udah dengar apa yang lo sampaikan dengan jelas beberapa hari yang lalu. Sekarang, menyingkirlah sebelum gye berteriak. Ghe benci membuat keributan dan merusak pesta Raisa, tapi jangan lo pikir gue gak akan berani melakukannya."
Untuk beberapa saat koridor itu hanya diisi dengan kesunyian yang tidak nyaman, dan napasku semakin berat seiring dengan berlalunya waktu.
Akhirnya, akhirnya, akhirnya, Adrian mengembuskan napas dengan kasar. Dia mengacak-acak rambutnya dengan jari dan menggelengkan kepalanya karena kalah. Kemudian, tanpa sepatah kata pun, dia bergerak, memberiku jalan keluar yang dengan tegas aku minta.
__ADS_1
Aku berjalan melewatinya, mata tidak pernah menyimpang dari jalan yang mengarah ke pintu emergency exit hotel itu. Aku tidak membiarkan diriku mencuri pandang ke belakang untuk melihat Bang Oli, karena aku tidak bisa. Aku hanya ... tidak bisa melihat ekspresinya yang aku tahu akan menambah hal-hal yang menghantuiku.
Aku tidak bisa menoleh dan menemukan lebih banyak kesedihan, lebih banyak kekecewaan, lebih banyak rasa putus asa di wajahnya sebab perangaiku.
Aku saja hampir tidak bisa menangani hal-hal yang terjadi di dalam diri ini.
Aku tidak bisa menambah bebanku lagi.
Aku hanya ... tidak bisa.
****
Aku mengirimkan chat pada Raisa.
Olavia : Sorry bestie
Olavia : gue harus cabut
Olavia : tiba-tiba aja gue dapet
****
Baru tengah malam ketika balasan dari chat-ku tadi masuk ke ponsel.
Raisa : pantesaaaan
Raisa : pas gue cariin lonya udah gak ada
Raisa : gue nanya Oli katanya lo udah balik
Raisa : oke deh
Raisa : get better soon ya neng
Raisa : talk 2 u later
F*ck.
Kebohongan lain. Hal lain untuk ditambahkan ke daftar "Hal-Hal Yang Akan Menjadi Alasan Bagi Olavia Untuk Masuk dan Mendekam di Neraka Selamanya".
Lebih banyak rasa bersalah.
Lebih banyak rasa malu.
Akhirnya, lebih banyak ... kemarahan.
Berengsek!
****
Syukurlah Owen masih berada di studio.
Syukurlah mereka sedang istirahat saat aku sampai di sana. Dua laki-laki teknisi yang tidak kutangkap namanya itu bersiul ketika mereka melihat aku datang dengan masih mengenakan dress yang kupakai ke pesta tadi.
Persetan dengan mereka. Aku datang ke sini untuk menjalankan sebuah misi.
"Owen, aku mau ngomong sama kamu sebentar, boleh?"
Pria A dan Pria B itu lagi-lagi terkekeh, jelas mengerti apa yang ada di balik kata-kataku.
Kekasihku lantas menyeringai. Kolam cokelat panasnya yang menghipnotis berbinar bersama tawanya, membuat kedua manik-manik itu menjadi lebih cerah.
Aku langsung berbalik saat pacarku berdiri daei tempat duduk di dalam bilik rekaman dan berjalan ke luar ruangan.
Panggilan-panggilan yanh mengandung ejekan dan innuendo yang nyaring mengiringi langkah kami melalui pintu yang terbuka.
Aku bertaruh pipiku kini merah padam, akan tetapi aku tidak peduli. Tidak untuk saat ini, tidak. Aku tidak membiarkan diri ini untuk berpikir tentang mereka yang beresiko membuatku menjadi overthinking dan mundur.
Tidak. Karena aku membutuhkan Owen. Sangat, sangat membutuhkannya. Karena sebagian besar dari diriku benar-benar membutuhkannya.
Distraksi.
Owen.
Apa pun yang bisa kudapatkan untuk menghilangkan rasa-rasa ini.
Owen, tanpa keraguan sedikit pun, memberikan apa yang kubutuhkan, persis seperti yang kuinginkan.
Dengan dada yang naik-turun karena engahan napas kami, masih melayang dalam ekstasi, tiga kata kecil itu sekonyong-konyongnya terbang bebas dari bibirku. "I love you."
__ADS_1
Bersambung...