
"Kan jari-jarinya megangin rambut gue, kaaaan. Terus, terus dia megangnya caranya enak, gitu. Enggak terlalu sakit. Malah bikin sensasinya jadi lebih gimanaaaa. Dan... dan... abis itu Owen menangkup wajah gue. Dia nyium rahang gue, telinga gue, leher gue. Aaaaah, dia benar-benar bikin gue kehilangan akal sehat karena sentuhannya. Oh, my God, Raisaaaaa." Aku cepat-cepat bangkit dari rebahku dan duduk. “Kami ciuman di tengah-tengah lantai dansa yang ramai banget! Kebayang, kan, gimana padatnya Paradiso. Aaaaaa, gue gak percaya semalam gue melakukan semua itu!" Masker wajah dari Korea yang tadinya menempel di muka jatuh ke pangkuanku seperti tisu basah bekas pakai karena gerakanku yang tiba-tiba. Aku mengambilnya dan melanjutkan posisiku di samping Raisa, tanpa pikir panjang memasang kembali masker itu di wajahku. Tidak apa-apa, aturan lima menit juga berlaku untuk masker wajah.
Aku melanjutkan cerita. "Tapi ciuman itu, ciuman itu, Neng. Hmm ... Serius, deh. Itu adalah. Ciuman. Terbaik. Yang. Pernah. Gue rasakan. Sepanjang. Kehidupan gue! Oh, my God. Oh, muy God. Oh, my God, Raisaa. Kayaknya itu cowok pas sekolah ngambil beberapa kelas soal menguasai seni berciuman, deh, I swear. Atau mungkin dia yaaah, dia punya banyak jam terbang. Udah sering latihan." Hatiku seketika diliputi mendung membayangkan bibir wanita-wanita yang ada di dalam kehidupan Owen sebelum aku. Namun, setelah dipikir-pikir, no, no, no. Kugelengkan kepala. Aku tidak akan membiarkan masa lalu melingkupi kenyataan yang terjadi hari ini.
"Tapi, gue tidak peduli. Ue adalah cewek yang dia cium tadi malam. Gue berharap banget gue juga yang bakal jadi satu-satunya cewek yang dia cium di masa depan.” Aku terengah-engah menceritakan semua yang terjadi tadi malam sampai aku kehabisan napas dan kehabisan akal memikirkan bibir Nate di bibirku.
Apalagi karena rasanya masih tinggal di sini. Aaaah.
"Wow. Go, Owen!” komentar Raisa setengah bercanda.
Bantal dekoratif bermotif bunga-bunga mendarat di lengan kiri atas Raisa sebelum dia bisa menghindarinya.
Tawanya memenuhi kamarku. “Gue serius, Olaaay. Go Owen. Go you!" Raisa mengangkat kedua tangannya lurus ke udara seperti pemandu sorak sejati. “Dan gue pikir kalau lo mau kita juga bisa memulai kampanye hashtag 02 di Twitter,” tambahnya lagi. "Bayangin aja. Tagline-nya kita bikin kayak gini, nih. Kita butuh Ola dan Owen bersama layaknya kita membutuhkan oksigen untuk hidup. Yeay!"
"Noooooo!" Lekas-lekas aku menyangkal. "Jangan pernah memposting sesuatu menggunakan tagar itu di media sosial mana pun, Sableng! Bikin malu partai aja lo." Dengan tatapan tajam—setajam yang bisa kukerahkan mengingat kami berbaring berdampingan di tempat tidurku sekarang—aku memastikan Raisa mengerti aturannya. Kadang si Sableng jalan pikirannya tidak dapat diprediksi seperti cuaca akhir-akhir ini.
Dia mengangkat tangannya tanda menyerah. "Oke oke. Tapi, lo harus mengakui kalau hashtag O2 berikut tagline-nya barusan itu cerdas banget. Kan? Kan, kan, kan, kan?"
Yeah, bolehlah. Bolehlah. Namun, aku tidak akan mengatakan itu padanya.
Aku mengernyitkan hidung sebagai gantinya.
"Sialan lo!"
Sebuah bantal terhempas di dadaku.
__ADS_1
Aku memeluk bantal itu. Baiklah. Aku akui aku tidak punya banyak pengalaman lain untuk dijadikan perbandingan dengan ciuman tadi malam, tetapi tentu saja semua ciuman tidak akan selalu terasa seperti itu, bukan? Sebagus itu. Senikmat itu. Sepanas itu. Dengan sensasi yang bisa menggetarkan bumi, mengubah dunia, bukan?
Namun, jauh di dalam lubuk hati, aku merasakan kepedihan yang runcing saat memikirkan itu. Sesuatu yang menggetarkan bumi, mengubah dunia.
Tidak, tidak. Tidak, tidak, tidak. Jangan mulai lagi.
Hentikan, Ola. Fokus pada hari ini, di sini, dan sekarang ini.
Sejujurnya, aku pikir aku bisa dikatakan beruntung karena tidak harus mencium begitu banyak kodok sebelum pada akhirnya mencium seorang pangeran yang sesungguhnya, bukan?
Ya, ya, ya, ya. Anggap saja seperti itu.
Dan, well, semua perbincangan ini membuatku sangat ingin mencium pangeranku lagi. Lagi dan lagi.
"Lo lagi mengkhayal, ya?" Suara Raisa memutus tali jalan pikiranku sebelum melayang terlalu tinggi. Duduk, dia melepas masker dan memasukkannya kembali ke bungkus plastik, siap untuk dibuang.
Kulihat sorot mata Raisa melembut. "Gue bahagia buat lo, La," katanya dengan senyum di wajah Cindonya. "Gue senang akhirnya lo mau membuka hati lo untuk seseorang. Akhirnya lo ingin mencoba dan memberi diri lo kesempatan. Dan lihat apa yang terjadi! Lo menghabiskan akhir pekan lo dengan seseorang yang bukan gue dan Mas Johan. Atau keluarga lo." Dia menunjuk dirinya sendiri dan memutar matanya seolah mengatakan 'boring'. "Bahkan lo dapat bonus ciuman, dua sesi lagi!" godanya seraya menggoyangkan alis.
"Thank youuuu." Kupeluk sahabat sekaligus teman sekamar sekaligus kakak perempuanku itu dengan erat.
“Oooh, oh, oooh, sahabat kecil gue sekarang sudah besar.” Raisa bersenandung di telingaku. “Dia juga udah punya pacar.”
"Sableng!" Aku menjerit. "Jangan bilang gitu dulu, dong, ah. Pamali!"
Dia tertawa lagi. “Santai, Neeeng. Que sera sera, oke? Apa pun yang terjadi, maka terjadilah." Raisa mengutip pepatah yang menjadi mantra hariannya. Tawa Raisa memudar ketika dia membaca garis-garis serius di wajahku. "Sorry, deh, sorry. Masih aja percaya takhayul.”
__ADS_1
Aku mengangkat bahu kananku sedikit. “Gue cuma gak ingin—”
"Iya, La. Iya. Gue paham." Dia mengangguk sekali.
Hening untuk beberapa saat.
“Oke. Yang jelas.” Raisa membuka suara lagi. “Masker ini bagus banget.” Dia memijat-mijqt wajahnya dengan pelan, merasakan kelembutan kulit yang baru diremajakan.
"He-eh." Aku setuju. “Hadiah ulang tahun kiriman dari Marii. Ep! Jangan tanya. Gue gak tahu gimana caranya itu kunyuk bisa beli masker langsung di Korea sementara dia sekarang tinggal di Afrika.”
****
Ini hari Jumat yang selooooow sekali. Tanpa proyek penyelesaian atau hal-hal yang memerlukan perhatian segera, hari-hari seperti hari ini, pada dasarnya, adalah awal dari akhir pekanku. Saking senggangnya urusannku, aku bahkan memberi Renata izin pulang setelah tengah hari agar dia bisa mendapatkan lebih banyak waktu dengan bayinya di rumah.
Jangan khawatir. Aku bisa menjaga benteng sendirian selama kurang-lebih dua jam lagi.
Hm. By the way, apakah kalian ingat bagaimana rasanya saat pada akhirnya kalian mendapatkan sesuatu yang sudah lama kalian inginkan? Jenis perasaan yang membuat kalian ingin melompat, menjerit, atau cekikikan seperti orang gila? Ya. Persis seperti itulah yang aku rasakan dan apa yang aku lakukan ketika ponselku berdenting sebab pesan dari Owen.
Sepanjang minggu aku berusaha untuk menahan diri dengan sangat, sangat, sangat keras dari mengiriminya pesan. Raisa memberi tahu bahwa, dan aku kutip, 'jika cewek tampak terlalu bersemangat, maka cowok akan lari dari mereka. Kita, sebagai cewek, harus bisa menarik-ulur perhatian. Itu yang bakal bikin pasangan tetap penasaran sama kita'.
Of course, karena dia sudah berhasil menjerat Mas Johan sejak dari zaman mereka SMA, aku mendengarkan nasihatnya. Bagiku, selain Mama dan Papa, Raisa itu adalah pakarnya relationship.
Lagian, aku tidak akan mendiskusikan hal-hal seperti ini dengan Mama. Malu, deng.
So, menyaksikan apa yang ada di layarku sekarang? Akhirnya aku bisa menikmati manis, manis, manisnya buah hasil dari kerja kerasku.
__ADS_1
Bersambung