
Gue sudah duduk meronggok selama satu jam terakhir di depan pintu apartemen Ola sebelum pintu lift terbuka dan dia berjalan ke luar dari sana dengan begitu anggun, sangat memesona, dan luar biasa cantik.
Iya, iya. Gue bias. So what? Gue gak minta persetujuan kalian. Gue gak peduli sama pendapat orang lain anyway.
Wanita pujaan gue. The love of my life. Satu-satunya wanita yang dengan penuh memiliki hati gue.
Bodo amat kalau banyak yang bilang gue terlalu bucin. I don't f*cking care, I said.
Sial, Olavia benar-benar pemandangan yang dapat menjadi obat untuk penderita sakit mata. Hanya dengan menggunakan celana pendek denim, t-shirt, dan sepatu sneaker putih, dia bisa mengalihkan dunia gue. Dia dengan mudah menahan perhatian gue hanya padanya selama beberapa tahun terakhir ini.
Well ... kayaknya bakalan cuma ada dia untuk selama-lamanya.
Dan, sejujurnya, ini tidak selalu tentang penampilan, tubuh, atau uang yang dimilikinya. Bukan, bukan. Meski tidak akan rugi rasanya memiliki wajah cantik, tubuh ramping, dan kekayaan yang lumayan. Olavia mempunyai ... aura yang membuat orang ingin menjadi lebih dekat padanya. Gue suka mengatakan kalau itu adalah salah satu dari kecantikan batinnya.
Yep. Wanita pujaan gue adalah permata langka di dunia yang kacau ini dan gue bahkan lebih kacau karena membiarkan dia lolos dari genggaman.
Dan untuk pertama kalinya sejak gue melihat dia, gue menyadari dia tidak sedang mengenakan power suit; pakaian yang biasa dia kenakan ke kantor. Kenapa dia tidak memakainya? Bukankah ini hari Senin? Dia tidak pergi ke kantor hari ini? Jika tidak, terus apa yang dia lakukan?
Apa? Apa? Apa?
Kemudian, keping puzzle yang lain masuk ke dalam tempatnya.
Tentu saja dia bisa libur sesuka hati. Dia, kan, yang punya kantor, Tolol.
Senyum menyilaukan yang terpasang di wajahnya ketika dia melangkah ke luar dari lift memudar begitu dia melihat siapa yang berdiri di dekat pintu apartemennya. Alisnya secara otomatis berkerut saat melihat the little old me yang sudah pasti tidak kecil ini.
Bertemu dengan gue adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bagi dia.
"Hai." Gue dengan hati-hati menyapa wanita pujaan gue, the love of my life, ketika dia akhirnya berada beberapa langkah di depan gue.
Kerutan di dahinya semakin mendalam. Jika dia tidak berhati-hati, gue sedikit khawatir kerutan itu akan meninggalkan garis permanen di sana. Just look at me. Gue tidak berhati-hati dengannya dan sekarang guelah yang menjadi penyebab garis-garis itu ada.
"Apa yang lo lakuin di sini?" Olavia bertanya sembari melotot. Api perlahan menyala di matanya yang memesona. Dia bukanlah seseorang yang suka bermusuhan atau mencari musuh, akan tetapi keadaan itu kini telah berubah. Oh! Atau mungkin rasa jengkel itu cuma diperuntukkan bagi jenis bajingan khusus seperti ... gue.
Well, that sounds about right.
Gue berdiri dengan kaki yang goyah dan iman yang lebih goyah lagi semakin lama gue mencerna setiap pergerakan wanita pujaan gue itu. Jika menurut gue ada sedikit harapan bagi kami untuk menjadi akur, setidaknya ramah, sebelum hari ini, kemungkinan itu pasti akan meledak setelah percakapan yang akan gue buka beberapa saat lagi.
Tidak ada harapan. Tidak akan ada apa-apa lagi di antara kami. Tidak ada. Nothing. Nihil.
"G-Gue cu-cuma ... gue cuma pe-pengen ketemu sama lo aja."
__ADS_1
Tidak perlu gagap juga kali. Dasar berengsek.
Tolol!
Olavia mengangkat alisnya lebih tinggi. Alis-alis yang rapi dan terawat itu hampir menyentuh garis rambutnya sekarang. Tatapan tajam dan menyalanya masih on point. Manik-manik gelap itu semakin gelap karena dipenuhi oleh rasa jijik.
Gue meremas tengkuk gue. Persetan lah. Berada di bawah pengawasan siapa pun rasanya tidak pernah menyenangkan. Terutama ketika dia yang melakukannya; satu-satunya wanita yang menahan pandangan gue, yang menjadi ratu di kerajaan Anggarasyah Emilio Addams.
Gue mati kutu di depan dia.
Jadi, jika nanti gue pulang dengan tertatih-tatih dan tak tentu arah seperti orang buta, kemungkinan besar itu terjadi karena gue benar-benar sudah tidak punya mata lagi. Karena mata gue beneran ditahan Olavia di dalam genggamannya. Dan mata yang dicongkel bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan.
F*ck, f*ck, f*ck. Tenangkan diri lo, Angga! Ini bukan waktu yang tepat untuk membiarkan imajinasi lo menjadi liar.
Dan, please, jangan pernah membayangkan adegan itu lagi. Orang waras mana yang pernah membayangkan bola mereka dikeluarkan dari tubuh mereka?
Berhentilah berpikir berlebihan, Angga Tolol!
Oke, oke. Gue mencoba memusatkan diri dengan menarik napas dalam-dalam. Pada akhirnya mencoba memfokuskan pikiran dan perhatian kembali pada bidadari yang jelas sedang kesal di depan gue.
Dia mungkin berdiri beberapa inci lebih pendek dari seratus delapan puluh lima sentimeter yang gue punya, akan tetapi saat ini Olavia terasa jauh lebih tinggi. Matanya yang membara namun dingin berhasil membuat gue menyusut di tubuh gue sendiri. Dengan lengan disilangkan dan ekspresinya yang keras, Olavia tampak begitu ... berjarak. Begitu jauh dan begitu asing. Bukan seperti wanita pujaan gue yang dulu.
Untuk sementara, kami melakukan kontes saling menatap, hal yang kami suka lakukan setelah malam yang menentukan satu dekade yang lalu itu.Gue—entah apa yang datang ke gue—masih mencoba menatap mata cokelatnya yang begitu cantik, dan mencari ... sesuatu. Sesuatu yang bagus. Sesuatu yang berarti positif. Sekedip kerinduan, mungkin. Atau, sekejap kehangatan.
Namun, gue kembali dengan tangan kosong.
Karena tidak ada yang bisa gue lihat selain dari ... kebencian.
Tidak ada harapan lagi. Tidak ada apa-apa. Gue .... Gue ....
Gue tidak tahu harus berkata apa tentang itu, akan tetapi ... f*ck!
Sialan memang.
Menyerah, gue mengangkat tangan dengan telapak tangan menghadap ke atas, lalu mendesah. "Gue harus ngasih tahu lo sesuatu. Gue pikir akan lebih baik kalau kita omongin di dalam. Mwntghindari kuping-kuping lain yang enggak diinginkan. Lagian, gue yakin lo masih gak suka kalau orang lain ikut campur sama urusan pribadi lo." Gue mengirim kode ke arah pintu dengan sedikit anggukan.
Butuh beberapa saat sebelum Olavia mengalah dan membuka pintu dengan kartunya. Dia masuk, meninggalkan gue untuk menutup pintu itu di belakang kami.
Kami berada di foyer apartemen mewah miliknya dan Raisa, punggung gue hanya beberapa langkah dari pintu.
Dia berbalik untuk kemudian melanjutkan pose yang sama dengan yang dia lakukan di luar tadi. "Ayo, sekarang ngomong!" perintahnya dingin.
__ADS_1
Wow. Dia memerintah gue seperti gue tidak lebih baik dari seekor anjing.
Mungkin gye pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, mungkin juga tidak, akan tetapi, hei, siapa yang peduli, bukan?
Ghe tergelak tertahan, sekali, dengan sedikit pahit karena rasa tidak hormat yang terang-terangan dia tunjukkan ke gue. Itu contoh sikap yang tidak benar, seseorang seharusnya tidak memperlakukan seseorang yang lain dengan cuek seperti itu. Tidak peduli seberapa buruk mereka bertindak terhadap kalian, akan tapi ghe memilih untuk membiarkannya. Bisa dipahami, bukan?
Namun, gue tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda wanita di depan gue. "What? To the point aja, nih? Gak nawarin gue minum dulu?" Upaya gue untuk melawak jelas saja gagal.
Lagian, jujur. Gue tidak tahu kenapa gue mencoba melakukannya.
Yang ada hanya sunyi.
"Ngomong." Olavia mengulangi perintahnya. Tubuhnya, entah bagaimana, bisa menjadi lebih tegang dari sebelumnya.
Oke, oke. Gue mengerti. Gue benar-benar paham kalau dia tidak ingin gue ada di sini.
Dan lo tahu itu adalah salah siapa, Berengsek?
Yeah, yeah, yeah, gue tidak butuh pengingat apa pun.
Keheningan terus berlanjut.
"Dengar, Angga," katanya setelah menarik napas dalam. Suara embusan napasnya yang keras memecah kesunyian yang tidak nyaman sebentar ini. Gadis itu jelas menginginkan alasan apa pun yang membawa gye ke sini untuk segera selesai. "Lo punya dua pilihan; ngomong sekarang juga atau ke luar dari apartemen gue. Pilih."
Persetan dengan harga diri gue.
Persetan dengan pilihan-pilihan itu. Gue tidak ingin memilih salah satu di antara keduanya.
Olavia berdeham, secara kiasan memberitahu gue bahwa waktu yang diberikan untuk gue dan kesabarannya hampir habis.
F*ck. Tidak ada pilihan lain, tidak ada, ketika gue sudah berdiri di sini dan membuatnya marah hanya dengan kehadiran gue. Jadi, gue langsung saja ke kasusnya.
"Olavia, maafin gue. I f*ucked up."
Seolah-olah mungkin, matanya yang dingin membara menjadi lebih menyala sebab kobaran tambahan yang baru saja ada.
Dan, jangan berpikiran gue punya pilihan lain karena gue sudah pasti tidak punya, gue ikut-ikutan terbakar bersama manik-manik itu.
"Apa maksud lo, Angga?"
Bersambung...
__ADS_1