Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
31. Ola : Blame On Me


__ADS_3

Aku mencoba menahan getaran dalam suaraku. "Mama–"


“Iya, perasaan nyokap KITA sangat hancur, anak perempuannya tidak bisa menepati janji, lagi. And while you are at it jadikan rasa kecewa itu dua kali lipat karena sekarang Bokap juga ikutan kecewa.” Bang Oli memotong kata-kataku, dan juga perasaanku dengan kata-katanya.


Aku menggigit bibirku yang gemetar.


"Dan semua untuk apa, ha? Atau, harusnya gue bilang untuk SIAPA?" Dia melanjutkan. "Untuk seorang bintang pop wannabe yang langsung pergi setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, kan?"


Ouch.


Itu sangat menyelekit, karena ... jujur saja, semua terasa menyakitkan saat ini.


"M-Maksud l-lo apa, B-Bang?" Di tengah ... kehancuran ini, entah kenapa aku masih harus melindungi harga diri kekasihku di depan kakak lelakiku. Namun, melihat ekspresi jijik Bang Oli saat mengatakan itu, aku tidak yakin aku berhasil. Baiklah, setidaknya aku sudah mencoba.


Dia terkekeh pahit. “Jangan pura-pura tolol lo, Olavia. Gue dari awal juga udah curiga. Dan apa yang barusan gue lihat, membuktikan itu."


Mau tak mau aku merasa sedikit sakit hati saat dia terus memanggilku dengan namaku. Aku merasa seperti aku bukan lagi adik perempuan paling ngeselin yang sangat dia cintai.


Bang Oli melangkah lebih dekat ke arahku dan membungkuk. Membuat wajahku dan wajahnya berada dalam jarak yang cukup dekat. “Gue ngelihat dia ke luar dari gedung, Olavia. Si Berengsek itu beruntung dia gak lewat di depan gue atau dia gak akan lolos dari bogem mentah gue!”


Aku tidak lagi dapat menyembunyikan tangis. Aku tidak bisa. Aku tidak perlu melakukannya sejak awal, akan tetapi harga diri tidak membuatku menyerah tanpa perlawanan. Seperti saat ini, ketika aku tidak membiarkan Bang Oli berkomentar jahat begitu terhadap Owen. "Owen gak ada hubungannya dengan semua ini!"


Bang Oli tertawa kecil lagi. Sekarang dengan nada tidak percaya. "Yeah, right. Owen gak ada hubungannya dengan semua ini?” Dia merentangkan kedua tangannya ke samping. "Bajingan sialan itu gak ada hubungannya dengan semua ... INI?" katanya dengan suara tinggi, memberi lebih banyak tekanan di kata terakhir.


Oh, no. No, no, no. Dia tidak melakukannya. Dia tidak berhak menyalahkan Owen. Owen tidak tahu apa-apa. "Lo kenapa sih, Bang?" Aku bertanya pada kakak laki-lakiku di antara isak tangis.


Bang Oli, entah bagaimana bisa, terlihat lebih marah. "Gue kenapa? Gue? GUE YANG KENAPA? APA YANG SALAH SAMA LO, OLAVIA?” bentaknya sembari menunjukkan jari telunjuknya ke mukaku seolah suara yang keras tidak cukup untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.


“LO GAK PERNAH BERTINDAK SEPERTI INI, OLAVIA. LO GAK PERNAH ABSEN DI ACARA MAKAN MALAM KELUARGA. LO SELALU MEGANG KATA-KATA LO. SEKARANG DIA MUNCUL DAN LO UDAH NGECEWAIN ORANG TUA, YANG NGELAHIR DAN NGURUSIN LO DARI OROK DUA KALI! APALAGI SETELAH LO JANJI SAMA DIA, DAN GUE, KALAU LO GAK BAKALAN NGELEWATIN MINGGU INI.


“LO TAHU GAK, NYOKAP UDAH BIKININ SETIAP MENU SIALAN YANG DIA TAHU ADALAH MAKANAN FAVORIT LO. F*CK, OLAVIA, LO GAK LIHAT WAJAH NYOKAP SAAT DIA AKHIRNYA SADAR, SETELAH NYIAPIN SEMUANYA DENGAN SANGAT BERSEMANGAT SEPANJANG HARI, BAHWA ANAK PEREMPUAN YANG SANGAT DIHARAPKANNYA GAK JADI DATANG SESUAI JANJI.

__ADS_1


"DAN UNTUK APA, HAH? UNTUK COWOK SIALAN MACAM BAJINGAN ITU? SEORANG COWOK! GUE GAK NYANGKA KALAU LO BISA SEEGOIS INI, OLAVIA, TAPI HARI INI JADI HARI PEMBUKTIAN YANG LAIN. LO BERUBAH. DAN BUKAN UNTUK YANG LEBIH BAIK, DEMI TUHAN, OLAVIA!”


“KALAU IYA, EMANGNYA KENAPA KALAU GUE BERUBAH, HAH? EMANGNYA KENAPA KALAU GUE BUKAN GUE YANG DULU LAGI? LO GAK BERHAK NGOMONG APA PUN SOAL PACAR GUE, ATAU GUE, ATAU HUBUNGAN KAMI KAYAK ITU, OLIVER SIALAN!"


Bang Oli malah tertawa terbahak-bahak. “Ah, sial. Pacar lo?” Meski di tengah gelak, nadanya begitu merendahkan. Rasanya seperti dia sedang mengejek Owen, dan aku, dan hubungan kami melalui tawanya itu. “Kalau gitu, kenapa lo gak ngajak pacar lo itu untuk makan malam lain kali, hm? Untuk, lo tahu, memastikan lo menghadiri tradisi keluarga lo, di rumah orang tua lo sendiri." Dia mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.


Serius demi apa. Kata-katatak hirau yang dilemparkan Bang Oli setelah puas membentakku seperti memberi garam di atas luka. Ngilunya sampai ke tulang.


"GUE BENCI SAMA LO!" Aku berteriak dan menerjangnya. "GUE BENCI ELO!" Kupukul dadanya dengan tinjuku. Kutampar tubuhnya dengan telapak tanganku. Aku mencoba mendorong tubuhnya yang besar dengan sekuat tenaga. Lagi dan lagi dan lagi, akan tetapi dia tidak bergeming. "PERGI! KELUAR DARI APARTEMEN GUE!” Aku terus menyerangnya. "KELUAR. DARI. APARTEMEN. GUE. SEKARANG. JUGA!" Aku mememik di sela tangis.


Aku sudah tidak peduli jika tetangga memanggil petugas keamanan dan melaporkan kami. Aku benar-benar tidak peduli tentang apa pun selain perasaan sakit hati yang disebabkan oleh kakak laki-lakiku sendiri.


Oh, my God.


Kami tidak pernah bertengkar karena hal serius apalagi dengan skala sebesar ini. Kami tidak pernah berkomunikasi dengan cara yang sejelek ini. Saling melempar caci maki hanya untuk menyakiti satu sama lain.


Of course, there's always a first time for everything.


Aku benci harus berkelahi dengannya.


Bang Oli selalu menghormati pilihanku, dan memaafkan semua kesalahan yang pernah kubuat. Namun, kali ini berbeda. Aku telah menyakiti wanita terpenting di dalam hidupnya. Dan, dia tidak memiliki toleransi untuk itu.


Aku benci mengecewakan Mama.


Aku membenci diriku sendiri.


Oh, my God.


Tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah, api emosi yang membara seketika meninggalkanku. Tubuhku yang lemah sekonyong-konyongnya kalah oleh tarikan gravitasi, mulai meluncur ke bawah hingga akhirnya aku hanyalah sekumpulan tulang dan daging berbalut kulit yang teronggok di atas lantai.


Anehnya—atau setelah dipikir-pikir, tidak terlalu mengejutkan—lengan Bang Oli ada di sana untuk menyambut dan memelukku. "Lala, hei," panggilnya pelan sembari mengguncang bahuku sedikit. "Hei, La, hei," ulangnya.

__ADS_1


Kami sekarang duduk di lantai, dengan aku di antara kedua kakinya, lengannya mengurungku, tangannya membelai rambutku dengan lembut. “Maafin gue. Gue nyesal banget, La, banget. Lala, please,” pinta Bang Oli sambil terus memelukku, semakin lama semakin erat.


Air mata masih mengalir di wajahku, mewarnainya dengan rasa malu, bersalah, marah, kecewa, dan benci yang sebagian besar kurasakan untuk diriku sendiri. Aku benar dengan memberi tahu Bang Oli bahwa Owen tidak ada hubungannya dengan kesalahanku. Hal itu juga berlaku untuknya. Bang Oli tidak bersalah dalam situasi ini.


Aku yang salah.


"Maafin gue karena udah bilang hal-hal yang mengerikan itu sama lo, La." Permohonan Bang Oli ditangkap oleh telinga. Namun, mereka tidak benar-benar terproses. Pikiranku terlalu sibuk memroses hal lain.


Kekecewaan Mama. Kehancuran hatinya.


Kekecewaan Papa. Kesedihannya atas kehancuran hati pemilik hatinya.


Kekecewaan Bang Oli. Kemarahannya atas kehancuran hati wanita paling berharga untuknya.


Kekecewaanku pada diri sendiri.


“Keluar, Bang,” tuntutku dengan suara serak. Tenggorokanku sakit karena semua isak tangis dan teriakan yang kulakukan.


Dia terkejut, benar-benar terkejut. "Gak" tolaknya seketika. "Gue gak bakal ninggalin lo dalam kondisi kayak ini." Abangku yang kini terasa seperti kakakku yang dulu semakin mengeratkan pelukannya. “Gak, Lala. Gue pengen ada di sini sama lo. Gue nyesal banget udah nyakitin lo kayak gitu. Gue gak serius sama kata-kata gue, La. Oh, God, gue gak percaya kalau gue udah bilang hal-hal keji itu sama lo. Please, La, please. Gue sayang elo. Gue cuma marah dan kalap karena ngelihat Nyokap terluka banget. Gue juga sayang banget sama dia. Ghe sayang banget sama kalian berdua. Gue minta maaf, La. Gue minta maaf. Please, maafin gue."


Bang Oli tidak mengatakan apa pun yang belum aku ketahui.


"Pergi, Bang." Aku mengulangi perintahku dengan lebih mantap.


"Lala, gue …."


"Please, Bang. Kalau lo benar-benar sayang sama gue seperti yang lo bilang, please. Keluar dari apartemen gue sekarang juga." Dengan itu aku berdiri di kaki yang gemetar dan berjalan ke kamar. Aku mengunci pintu.


Aku hanya ingin sendiri saat ini.


Atau berdua dengan rasa bersalahku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2