
Sekarang kami berdua melompat-lompat di atas sofa, tertawa histeris mendengar beritanya yang luar biasa. Ini adalah berita yang sangat luar biasa karena keberangkatan ini sangat berarti bagi hubungan mereka.
Yeah, yeah, yeah. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa bisa si Raisa se-excited itu hanya karena pergi ke Jogja. Ya, kan? Namun, eits! Tunggu dulu. Ini Jogja bukan sembarang Jogja, my man.
Jangan ada gang bilang cakep. Aku tidak sedang berpantun.
Begini, ya, Saudaraku semua. Berangkat ke Jogja berarti bertemu dengan keluarga besar Mas Johan. Dan asal kalian tahu, ya, darah Mas Johan ini ada warna-warna birunya. So, bertemu dengan keluarga besar keturunan bangsawan berarti hubungan mereka sudah tidak main-main lagi.
Kebayang, kan, bagaimana adat-istiadat, tata krama yang mendarah daging di dalam keluarga yang tumbuh besar dengan nilai-nilai luhur itu? Sorry, nih, sebelumnya. Bukannya aku ingin mengatakan kalau kita rakyat "jelata" ini tidak punya adat, ya, akan tetapi, yaa ....
Kalian semua paham lah apa yang sedang aku bicarakan.
Well, ditambah lagi; dari dulu aku rasa hubungan mereka berdua ini juga tidak main-main. Jelas sekali terlihat betapa Mas Johan memuja bestie-ku nan ajaib itu. Namun, acara pertemuan dengan keluarga besar ini seperti level selanjutnya dari tidak main-main.
See the big picture here? Ya, sudah. Biar aku bisikkan, ya, kalau begitu.
Ini berarti Mas Johan akhirnya sadar. Sadar kalau tidak ada lagi perempuan yang bisa melengkapinya selain si Sableng.
Nah, itu.
Setelah melompat satu, dua, tiga kali lagi, kami akhirnya menjatuhkan tubuh kami di sofa karena semua gerakan dan adrenalin rush ini membuat perutku lapar.
Tahu begini, kuhabiskan serealku tadi.
"Oh, my God. Gue gak percaya kalau gue akan ketemu sama seluruh keluarganya Mas Johan. Nervous gue, Laaay. Tapi, excited juga. Gak sabar buat ketemu mereka semua. Akhirnya, akhirnya gue bisa ketemu mereka semua!” Dia menepuk-nepuk tangannya dengan cepat. “Gue harus bawain hadiah buat keponakan-keponakannya! Gue butuh baju baru! Kita harus pergi berbelanja. Sekarang!”
Dan berbelanja, ladies and gentleman, adalah apa yang kami lakukan setelah itu.
Aku membuntutinya ke mana pun dia pergi. Gaun baru, jeans, mantel, sepatu, blus, dan, sst, pakaian dalam seksi sudah dibeli dan kami masih punya beberapa toko di list untuk dikunjungi menurut Raisa si Profesional Shopper. Aku yakin dia akan membutuhkan lemari baru untuk menyimpan semua barang belanjaannya ini, akan tetapi Raisa masih merasa kalau itu belum cukup.
__ADS_1
Dasar sableng.
Dia merasa terlalu bersemangat dengan berita yang didapatkannya dan berbelanja adalah tempat dia menyalurkan semua semangatnya itu. Tidak ada yang bisa menghentikan dia.
Dari sodfa yang pihak toko tempatkan di dekat ruang ganti, aku mengamati sahabat dari masa kecilku—yang kini tengah berdiri di depan cermin tinggi dengan gaun malam berwarna biru dongker—dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ekspresinya tidak berubah; dia masih bersinar dengan rasa bahagia. Bahasa tubuhnya bahkan lebih menceritakan; per di dalam langkahnya, dia tidak berhenti tersenyum, atau berterima kasih kepada orang, atau menyapa mereka. Dia tidak bisa membendung perasaannya.
Aku sangat menyukai Raisa yang seperti ini. Dia jelas sangat bahagia dan ... so in love.
Aku juga ingin merasakan apa yang dia rasakan sekarang.
Waktu bersama Owen tadi malam tiba-tiba melintas di pikiranku.
Mungkinkah aku ...?
Mengingat ciumannya, sentuhannya, kehadirannya, membangunkan sensasi memabukkan yang kurasakan saat kami bersama. Berdebar-debar di hatiku. Kupu-kupu di dalam perutku. Bunga api di udara. Aku merasakan perasaanku memekar, melebarkan dada, dan memberi ruang bagi hati yang lain untuk masuk.
Mungkin aku sudah jatuh cinta?
Ini adalah sebuah kepastian.
Aku yakin aku telah jatuh cinta padanya. Aku yakin aku telah jatuh cinta pada Owen.
Aku mencintai Owen.
Oh, my God. I love him.
Dan aku sangat, sangat, sangat menyukai hal itu.
****
__ADS_1
"Gue rasa, nih, ya, Mas Johan bakal ngelamar gue, La," sembur Raisa ketika kami duduk berdampingan di lantai kamar tidurnya. Kami sedang berusaha untuk benar-benar memindahkan barang-barang baru itu ke dalam koper. Persetan dengan label yang masih menyangkut dan anjuran untuk mencuci pakaian baru sebelum dipakai.
"Wait, what?" Aku terkesiap lalu memutar bola mataku. Come on, siapa yang tidak tahu itu? "Ya, pasti lah, Sableng. Masa enggak? Mas Johan beneran gila kalau dia gak mau jadi laki lo. Atau, abis balik dari Jogja dia ternyata gak lamar lo juga, gue bantu neror, deh! Gimana?"kataku pada sahabatku ...
... yang memancing lebih banyak penekanan ketika dia bertanya, "Really?"
“Really, Raisaaaa.” Aku menekankan, sembari melipat kemeja Balenciaga yang berhasil membuatnya kehilangan sebuah lengan. “Lo cantik. Lo fun, lo berbakat. You're good at what you are doing. Dan yang terpenting adalah lo sahabat terbaik yang bisa didapatkan oleh seseorang. Mas Johan bakal jadi cowok yang beruntung banget bisa memiliki lo selama sisa hidupnya dia.”
Sayangnya bagiku, kalimat itu membawa ingatan ke suatu percakapan pada saat dulu tentang seorang pria yang—aku bersumpah—tidak akan kupikirkan dengan cara tertentu lagi.
No, no, no. Mbak Lina salah. Tidak mungkin aku ingin bersama si Beruang Kutub Raksasa Bertubuh Keras, Pemarah dan Suka Seenaknya itu.
Tidak mungkin.
Tidak akan.
Tidak.
No, no, no!
Raisa mendesah bahagia. Embusan napasnya membawaku kembali ke masa sekarang lagi. "Thank youuuu." Dia memberiku pelukan paling erat yang ada di dunia pelukan. Gue senang banget, Laay. Trip ini bikin gue merasa seperti ... apa, ya. Kayak ... gue merasa kita melangkah ke fase baru dalam hubungan kita, gitu, lho. Rasanya lebih serius, lebih … permanen, lebih aman, lebih stabil,” papar sahabatku dengan pandangan yang menerawang. Dia sibuk membayangkan masa depannya dengan Mas Johan, sudah tidak diragukan lagi.
"Yes, yes. I know. Karena emang begitu kenyataannya." Aku menyetujui. "Dan gak ada yang bjsa membuat hubungan lebih permanen dari ketemu keluarga besar ningrat."
Saat dia tidak menanggappi perkataanku, aku mengarahkan sehelai ****** ***** tanpa crotch ke wajahnya dan, yes! Tepat mengenai sasaran. Hal itu sukses mengejutkannya. Dia melihat ke bawah dan cekikikan melihat sekumpulan tali-tali yang kini tergeletak di kakinya.
Aku menggelengkan kepalaku, tersenyum pada ketidaknormalan yang disebabkan oleh perjalanan ini terhadap si Sableng. Raisa Sableng yang biasa akan melemparkannya kembali kepadaku, memberikan beberapa komentar menggigit soal kehidupan cintaku yang baru akan mulai hidup. Namun, tidak setiap hari, kan, pacar yang akan segera berubah status menjadi tunangan meminta kalian untuk bertemu dengan seluruh keluarga besarnya?
So, aku rasa dia boleh saja jadi sedikit tidak normal.
__ADS_1
Bersambung...