
"Gue udahan. Nafau makan gue udah hilang." Aku terjaga dari ketercengangan yang kurasa sebentar ini setelah mendengar perkataan Angga. Lantas saja kuletakkan milkshake kembali ke atas meja. Lalu aku membersihkan tanganku dengan serbet. Membuang kertas kotor itu ke dalam piring. Terakhir, aku menempelkan senyum palsu di wajahku dan mengarahkannya ke Raisa.
Dia tahu. Dia tahu apa yang sejujurnya kuminta darinya saat ini.
Keluarkan aku dari sini sekarang juga.
Dia melekatkan senyum palsu yang sama dengan cepat di wajahnya. Namun, senyum itu sedikit miring, membuatnya tampak seperti sedang berjuang melawan sembelit.
Senyumku berubah menjadi sesuatu yang sedikit lebih nyata. Cuma dia yang bisa. Cuma dia yang bisa memancing tawa sebenarnya dari aku yang ingin berpura-pura.
Aku menggelengkan kepala di dalam kepalaku.
Namun, tetap saja. Aku masih harus ke luar dari neraka ini semenjak lima detik yang lalu.
"Angga, lo bisa tolong kita buat bungkusin ini, gak? Sorry, tapi tiba-tiba gue pengen makan di rumah sambil selonjoran dan ngetawain acara reality show jelek yang lagi tayang di televisi. You know, girl's day out gak lengkap kalau gak begitu. Ya, kan?"
What the heck? Apa yang sedang dia bicarakan? Cuma dia. Memang, cuma dia.
"Oke." Suara Angga menggambarkan kebingungannya dengan sempurna.
Aku masih belum berani menatapnya. Tidak, coret itu. Aku masih tidak INGIN melihatnya; waras atau pun tidak. Ketika dia pergi—dan aku tahu ini terutama karena aku tidak lagi merasakan kehadiran yang membayangi dan menyesakkan di sebelah kananku—saat itulah aku memberanikan diri untuk sedikit bersantai.
Sedikit.
Atau, membiarkan rasa sakitnya mereda.
Angga kembali dengan membawa kotak-kotak itu beberapa menit kemudian. Kami—lebih seperti cuma Raisa, tentu saja—mengucapkan terima kasih, meninggalkan dua lembar uang seratus ribuan di atas meja, dan kabur dari sana seperti sedang terjadi kebakaran.
****
"Lo okay, Lay?" tanya Raisa. Dia meraih tanganku dan meremasnya dengan lembut.
"Yeah," bisikku sambil melihat gedung-gedung yang lewat dari jendela mobil.
Dia meremas sekali lagi. "Oke."
Kami tidak berbicara setelah kami masuk ke apartemenku. Atau saat dia mengeluarkan kotak-kotak yang kami bawa dari Beniqno dan menyiapkannya di atas meja kopi di depan televisi. Kami makan di sofa. Kami benar-benar menonton acara TV yang jelek itu.
Tanpa berbicara.
"Hei." Raisa memanggil saat aku menyerah berusaha terlihat seperti sedang makan. Nyatanya aku tidak bisa makan. Aku memilih sepotong kentang goreng hanya untuk memainkannya di atas piring. Mencocol sambal dan memutar-mutarnya. Lagi. Dan lagi.
__ADS_1
Dan begitulah. Cepat atau lambat, dia akan mencoba membuat aku berbicara. Dia sedang melakukannya sekarang.
Aku kira kamj akan melakukan percakapan ini.
"Hm?" Aku menatapnya.
"Gimana perasaan lo?"
Aku membuka mulut untuk menjawab ketika dia menghentikanku.
"Dan jangan kasih gue jawaban omong kosong lo itu. Ini gue, Lay. Gue sahabat lo. Lo bisa jujur sama gue, lo tahu itu. Lo juga tahu kalau gue gak akan nge-judge lo untuk apa pun yang akan lo katakan."
Ya, aku tahu itu. Aku hanya ....
"It is okay, you know." Dia mengangkat bahu. "Sakitnya. Rasa sakit yang lo rasain itu. Itu normal kok."
"Yeah?" Suaraku pecah.
Dia seketika meraih tanganku. "Yes, La. It's okay to feel hurt. You're allowed to feel that."
Aku mencoba membiarkannya meresap ke dalam kepala dan hatiku. Selama beberapa detik, keheningan mendominasi. "Gue ... gue ...." Aku memulai dan mendesah, "Gue pengen bilang kalau gue baik-baik aja, tapi lo tahu itu bullshit. Tapi, gue juga gak terlalu sakit. Entahlah. Rasanya ... lepas, lega. Lo ngerti, gak? Gue sadar kalau gue pernah bilang gue sayang banget sama Owen. Lalu, ada satu sesi percakapan dari hati ke hati dengan suami sahabat gue suatu pagi dan itu membuka mata gue. Dan sekarang gue ...."
Aku terkekeh. Mas Johan tidak hanya mengejutkanku, akan tetapi juga membantuku dengan cara yang menurutku tidak pernah aku butuhkan. Ya, aku kira, secara keseluruhan, Mas Johan sungguh mengejutkan.
"Rasa aneh itu akan memudar seiring waktu berjalan. Percaya, deh, sama gue," tambahnya.
"Gue harap juga gitu."
"Aaaand," sahutnya lagi. Raisa mengarahkan tatapan penuh pengertiannya ke arahku.
Aku menghela napas, tepatnya melakukannya dengan seluruh tubuhku yang melorot di sofa itu setelahnya. "Entahlah, Sa. Gue gak tahu apa-apa soal yang satu itu."
"Maksud lo gimana? Bagian mana yang lo gak ngerti?" Dia mencoba menekan. Mengekstraksi jawaban daei dalam pikiran ini. "Mereka itu keluarga lo, Lay. Uda berapa lama lo gak komunikasi sama mereka? Dua bulanan? Udah berapa kali lo ngelewatin acara makan malam keluarga di hari Minggu? Sorry, tapi gue harus setuju sama Oliver. Ini bukan lo. Lo gak lernah sekejam ini sama Om Arif dan Tante Yuni. Bukan lo banget."
Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.
Ini adalah yang pertama dan terlama yang pernah kulalui tanpa kontak apa pun dengan Papa dan Mama serta Bang Oli. Mereka—dan Raisa—adalah satu-satunya yang konstan dalam hidupku. Musim, dan laki-laki, datang dan pergi, akan tetapi mereka tidak. Kenapa aku membiarkan orang asing merusak tu, mengubahku?
Oh, my God. Aku benar-benar seorang idiot.
"Gue ... gue bakal ngomong ke mereka. Sesegera mungkin." Aku meyakinkan, lebih pada diriku sendiri daripada ke Raisa. "Oh, God, Raisa, rasa bersalahnya. Rasa malunya. ****. Gue malu banget, Raisa. Gue merasa bersalah banget. Dammit."
__ADS_1
"Hei, hei, hei. Gak apa-apa. It's okay." Raisa mencoba menenangkan dan menghibur dengan memindahkanku ke dalam pelukannya yang nyaman. Aromanya yang familier memenuhi hidungku. "Kan gue udah bilang, mereka itu keluarga elo. Mereka pasti akan ngerti. Mereka sayang banget sama elo."
"Gue udah nyakitin mereka," balasku di dadanya.
"Mereka bakal maafin elo," jawabnya.
"Lo yakin?"
"Seratus persen. Selama lo punya keinginan untuk minta maaf sama mereka."
Aku harus meminta pengampunan dari mereka. Aku tidak bisa membiarkan rasa bersalah ini, rasa malu ini, atau aku yakin itu akan berubah menjadi sesuatu yang lain, yang sama sekali tidak bisa kukendalikan.
Semakin lama kita memberi waktu pada emosi buruk untuk membusuk, semakin besar kemungkinan mereka akan mengubahnya menjadi monster yang akan memangsa diri kita sendiri.
Yeah, aku setuju. "Gue bakal minta maaf sama mereka."
"Bagus." Dia menepuk pundakku dua kali. "Lanjut ke soal berikutnya."
Keningku berkerut. Aku segera bangkit dan duduk dengan tegak. "Apaan lagi emangnya?"
Dia menatapku seperti itu lagi. Tajam, pwnuh pengertian sekaligus menguji.
"Apaan, sih?" Aku benar-benar tidak mengerti.
"So, apa kita bakal terus mengabaikan the elephant in the room?" katanya sambil menggerakkan jari-jarinya untuk mengutip "the elephant in the room" di udara. "Atau haruskah gue menjelaskannya dengan cowok yang kehadirannya begitu besar dia mungkin bisa dibilang kayak gajah itu sendiri? Ah, gue lupa. Lo kan suka manggil dia beruang kutub. Ya, ya, kayaknya beruang kutub lebih cocok."
Aku terkekeh membayangkan apa, atau siapa, yang Raisa maksud. Sial, dia membuatku tertawa saat dia berbicara tentang si beruang kutub bajingan pemarah itu. Dia tidak pantas mendapatkan tawaku, bukan?
"Come on, Neng. Jangan kayak gitu lah. Jika kita–" Dia berhenti, dan mundur pada kata-katanya barusan. "Jika ELO akan melakukan gerakan 'membersihkan segala kekacauan' ini, lo harus memastikan bahwa SEMUA kekacauan udah ditangani dengan baik. Don't you think so? Hm?"
Persetan lah. Dia benar. Aku tahu Raisa benar. Namun, bukan berarti aku harus dengan sukarela mengikuti sarannya.
Dia tentu saja melihat, bahkan mengendus keragu-raguanku. "Ya, udah. Gue cuma ngingetin aja. Dan kasih saran. Coba nanti lo pikirin ini setelah lo beresin masalah sama bokap, nyokap, dan Oliver. Oke?"
Sekali lagi Raisa benar. Aku tahu dia benar. Namun, bagaimana aku bisa mengurai kekusutan urusan yang aku punya bersama Angga ini?
Dan kenapa?
Apa untungnya bagiku?
Bersambung...
__ADS_1