
Gue terbangun dan seketika saja seseorang mulai memainkan gendang di telinga gue. Kepala gue tidak cuma nyut-nyutan, akan tetapi seperti memiliki dentuman yang ritmenya seiring dengan debaran jantung ini. Wajah gue sakit minta ampun, kaku. Tubuh gue rasanya seperti baru ditabrak oleh truk tronton.
What in the actual hell?
Gue mencoba membuka mata, akan tetapi ternyata itu merupakan pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan. Dari mata yang sedikit terbuka, gue melihat ke sekeliling. Di saat itulah gue sadar bahwa gue sedang tertelungkup di atas lantai keras kondonya Oliver.
What in the actual hell?
Dengan susah payah gue membalikkan badan. Sialan. Gerakan sedikit saja membuat gue kehabisan napas. Meski harus terengah-engah dan seperti mau mati, mata gue akhirnya bisa menangkap penampakan chandelier mewah yang dipasang di tengah langit-langit.
Sialan. What in the actual hell had happened to me?
Kemudian, sedikit demi sedikit, potongan-potongan tadi malam kembali pada gue.
Oh, ****. Oh, no. No, no, no. F*ck. F*ck.
F*CK!
Tak ingin membuat perut gue yang sudah mual lebih mual lagi, gue mencoba untuk bangkit dengan perlahan. Walaupun telah berusaha untuk bergerak sepelan mungkin, nyatanya gue tetap berakhir dengan rasa yang lebih besar dan kuat. ****. Gue seharusnya tidak minum sebanyak itu. Atau tidak minum sama sekali.
Alkohol sialan membuat segalanya lebih buruk. Gue bersumpah untuk tidak akan pernah menyentuh minuman lagi.
"Yeah, right." Batin gue memutar bola matanya pada omong kosong total yang baru saja gue semburkan.
Dengan lebih lamban lagi, gue berjalan ke kamar mandi tamu. Syukurlah Oliver tidak melakukan renovasi semalam suntuk sehingga tidak ada letak apa pun yang berubah. Atau, gue tidak akan menemukan Tylenol di tempat biasa; di laci di atas wastafel.
Gue mengambil tiga butir dan mendorongnya melewati tenggorokan gue dengan segelas air dari keran. Cermin di depan menunjukkan bayangan gue yang babak belur. Persetan lah. Kacau. I absolutely look like ****.
Rahang kanan memar, bibir pecah-pecah, dan daerah di sekitar mata gue lebam, sudah menghitam.
Well, melihat pilihan lainnya, kondisi gue lumayan. Tidak terlalu buruk.
Untung si Kampret tidak dalam kondisi atau pikiran yang benar untuk menggunakan kekuatan penuh. Untung, karena dia sama mabuknya—jika tidak lebih—seperti gue ketika dia menghujani wajah gue dengan hook kanannya yang kejam. Jika tidak ... f*ck, Man, jika tidak, kalain akan melihat gue yang dulu terbaring di ranjang rumah sakit, dibalut perban dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Atau, dalam skenario terburuk, gue sudah berada enam kaki di bawah tanah, tidak akan pernah terlihat matahari lagi.
Namun, sejujurnya, gue lebih memilih opsi lain dibandingkan dengan kemungkinan kehilangan sahabat gue itu. Yeah, apa pun kecuali kehilangan Oliver.
Gue mengerang. Persetan. Sembari jari menyisir rambut, gue mengutuk diri gue sendiri. Kenapa gue harus punya mulut yang longgar dan jadi tolol bin bodoh pas lagi mabuk berat?
Entahlah. Gue tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang terjadi biarlah terjadi. Gue hanya harus bersikap dewasa dan menghadapi konsekuensinya. Dan berharap ke langit ketujuh bahwa, pada akhirnya, Oliver tetap mau sahabatan sama gue.
Gue tidak akan terlalu tidak tahu diri dan memohon untuk mendapatkan Olavia kembali. Tidak. Tidak. Namun, kalau Tuhan mau memberikan dia buat gue, gue bakal terima dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Bleh.
Keluar dari kamar, gue menemukan—mantan?—sahabat gue berdiri di belakang meja dapur dengan secangkir kopi panas di tangan. Menilai dari tatapan muram yang Oliver pasang saat ini, siapa pun bisa menebak dia ingat apa yang secara tidak sengaja dikatakan oleh bokong ember pemabuk gue tadi malam.
"Oli, Man, gue–"
"Tutup bacot lo!" Dia menikung kalimat gue dengan cepat.
Bahu gue serta-merta turun karena pasrah setelah mendengar nada suaranya. Iya, iya. Gue tahu, gue tahu persoalan ini akan membunuh persahabatan kami jika rahasia yang sudah lama sekali gue dan Olavia coba pertahankan begitu erat pada akhirnya terungkap. Dan sekarang ... ketida dia sudah tahu, f*ck, gue tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi.
Gue benar-benar berharap tidak akan terjadi apa-apa pada kami, akan tetapi sepertinya itu sangat tidak mungkin. F*ck, f*ck, f*ck. Gue menghargai persahabatan kami lebih dari apa pun di dunia ini. Gue benar-benar berharap kami akan baik-baik saja.
Berengsek!
"Maafin gue, Bro," kata gue, mengetes ombak sebelum mulai mengemis maaf dari Oliver. Saat dia tidak mengatakan apa-apa, gye melanjutkan, "Gue gak bermaksud menyakiti Olavia, Bro, gue .... Serius. Demi Tuhan. Gue gak pernah berniat untuk menyakiti dia dengan sengaja. Gue cuma ... gue rasa gue cuma takut. Gue sayang sama Olavia, Li. Gue cinta sama dia. Gue sangat mencintai dia–"
"Lo yakin yang lo rasain itu cinta, ha?" Sekali lagi dia menyalip gue dengan sikapnya yang ... tidak masuk akal. Oliver mengangkat pandangan dari kopinya untuk menatap mata gue. Mata cokelat gelap itu—warna yang sama dengan manik milik Olavia—menhsuk dengan sangat tajam hingga menembus bagian dalam gue.
"Apa lo pernah mikir kayak gini ini? Mungkin yang lo bilang cinta itu sebenarnya cuma rasa menyesal yang ada di dalam otak busuk lo abis mengelabui anak bau kencur."
What the f*ck? Memang, sih, Olavia waktu itu masih enam belas tahun, tetapi dia tidak bisa juga dibilang bau kencur. Sialan!
"Lagian, she's the one that got away." Kemudian, cowok yang nilai persahabatannya sangat gue junjung tinggi itu punya keberanian untuk mengangkat bahu tak acuh, berlagak seperti dia sedang berbicara tentang gadis lain; bukan adiknya sendiri.
Gue menatap Oliver seperti dia sudah kehilangan akal sehatnya.
Dan apa-apaan, sih? Kenapa gue bahkan mempertimbangkan perkataannya yang tidak masuk akal itu sekarang?
F*ck.
****
Gue naik Uber kembali ke Beniqno untuk mengambil mobil gue yang semalam meginap di parkiran. Mas Dimas sudah masuk saat gue sampai di sana. Gue langsung minta tolong kepadanya untuk menangani pengunjung malam ini sendirian. Of course dia siap.
Harus, dong. Kan, dia karyawan lo, Tolol.
Berengsek, gue mulai berdebat dengan diri sendiri sekarang.
Oliver tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah dia menanamkan pemikiran itu di benak gue. Dia bahkan tidak mengacuhkan gue ketika gue ke luar dari penthouse-nya.
Sialan. Kali ini gue yang bikin kacau.
Oh, look how the wheels has turned.
__ADS_1
Tidak ada gunanya bagi gue untuk tinggal sendirian dengan otak yang kacau di rumah yang terlalu besar ini. Entah apa yang adaa di dalam kepala gue hingga gue kepikiran buat menyetir dari Setiabudi ke Sentul City. Padahal gue bisa pulang ke townhouse gue di Simatupang yang jaraknya setengah dari ini.
Gue melihat ke sekeliling. Gue membeli rumah ini dengan Olavia di dalam pikiran ghe. Dia pernah mengatakan bahwa dia ingin sekali memiliki rumah dekat dengan rumah orang tuanya, bergaya minimalis modern, bercat dominan putih dengan kolam renang dan halaman yang luas. Dan kalian bisa tebak. Gue membuatnya persis sama dengan yang diimpikan wanita pujaan gue.
Segala sesuatu di sekitar gue, di rumah ini, memiliki hubungan dengan wanita itu.
Sial, kenapa gue berubah menjadi cemen gini?
Ini gara-gara si Owen Bangsat itu.
Persetan dengan dia dan gitarnya. Persetan dengan dia dan lagu-lagunya. Persetan dia dengan ....
Semuanya.
F*ck. Him.
Kenapa, sih, gue gak bisa jadi musisi kayak bokap gue aja? Kenapa gue gak mewarisi bakatnya dalam darah gue?
Kalau saja gue punya ....
Namun, semua itu tidak masalah, tidak masalah. Olavia tidak melihat seseorang berdasarkan apa yang mereka lakukan atau banyaknya uang mereka. Dia menyukai dan tidak menyukai siapa saja yang dia inginkan. Pekerjaan, status sosial, barang materi tidak pernah menjadi masalah.
Gue punya kesempatan dengan gadis paling sempurna di dunia, dan bokong pengecut gue malah mengacaukannya. Kenapa gue bisa berpikiran kalau melarikan diri dari dia itu benar? Seharusnya gue tinggal bersama dia malam itu. Seharusnya gye berbicara dengan wanita gue. Gue seharusnya tahu bahwa itu adalah satu-satunya kesempatan yang bakal gue dapatkan.
Jika gue bisa punya satu keinginan seumur hidup, gue berharap gue dapat memiliki kesempatan kedua bersama Olavia. Dan gue akan memastikan kalau gue bakal melakukan apa saja untuk membuatnya tetap di samping gue. Sepanjang hidup kami berdua.
Shoulda, woulda, coulda.
Menyedihkan. Gue sangat mencintai Olavia.
Persetan lah.
Cinta, cinta, cinta.
Kata-kata Oliver kini yang terngiang di telinga, berputar-putar saat gue memikirkan adiknya.
Yang gue rasakan ini benaran cinta, kan? Atau, apakah gue menjadi gila seperti ini karena dia hanyalah the one that got away seperti yang dikatakan si Kampret?
Apakah perasaan ini nyata? Atau, apakah ini hanya rasa menyesal gue yang berkamuflase?
"F*ck. F*ck. F*ck!" Rutukan gue bergema di sekitar ruangan sebelum kembali lagi ke telinga gue.
Alkohol benar-benar sangat menggoda di saat seperti ini, akan tetapi gue tidak bisa menyerah pada godaan setan itu betapa pun sulitnya. Ada begitu banyak hal yang harus gue urus. Dan itu akan dimulai dengan membasuh semua bau minuman keras yang tidak enak ini dari kulit gue.
__ADS_1
Tai. Bau banget gue!
Bersambung...