Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
29. Ola : Rindu


__ADS_3

Ponselku berdering oleh panggilan masuk dari Bang Oli beberapa jam kemudian. Aku tidak sempat menyapanya sebelum dia mencecar dengan kekhawatiran yang mengikat suara, "Lala, lo kenapa? Lo baik-baik aja, kan? Di mana lo sekarang? Seriusan lo gak apa-apa?"


Sedikit bingung, aku menjawab, “Iya, Bang. Gue di rumah. Gue oke, kok. Aman terkendali. Kenapa emangnya?"


Kudengar dia mengembuskan napas di seberang sana. “Mama nelepon gue. Katanya lo gak datang ke makan malam hari Minggu.”


Oh, my God! Aku lupa!


Apa yang harus kukatakan pada Bang Oli? Sepertinya tidak mungkin untuk mengaku bahwa aku melupakan acara makan malam bersama tradisi keluarga kami karena seorang laki-laki. Meski lelaki itu adalah orang yang spesial bagiku, akan tetapi tetap saja … laki-laki.


"Ng ... gue ...." Aku tergagap. "Gue ... gue punya ... acara la-lain kemarin itu, B-Bang." Aku dengan bodoh dan tolol berbohong padanya.


Diam.


Dia tahu aku berbohong. Tentu saja Bang Oli tahu.


"Gue ... gue ... gue lupa."


Kesunyian yang lebih lama lagi.


Embusan napas lagi.


****.


Dia mungkin memiliki ide tentang apa—atau siapa—acara yang aku punya hari itu. Tidak, tidak, tidak. Dia tidak hanya sekadar punya ide, akan tetapi aku yakin Bang Oli benar-benar tahu. Apa yang akan aku lakukan? Rasa cemas mengalir melalui pembuluh darahku.


Apa yang akan dia lakukan?


Bang Oli mengembuskan napasnya sekali lagi. Mungkin dia sedang berusaha untuk menenangkan diri. "Oke." Dia berkata pada akhirnya. “Gue rencananya balik ke Jakarta hari Jumat. Lo sebaiknya berada di rumah pada hari Minggu, lo dengar gue?" Dia menggunakan nada suara yang biasa dikeluarkan seorang kakak, memerintah dan menakutkan sekali.


Itu membuatku semakin gugup. Dia jarang menggunakan suara itu padaku. Oleh karena itu, aku segera membuat janji, "Ya, Bang. Gue gak akan lipa lagi."


“Telepon Mama segera, secepat yang lo bisa." Embusan napas lagi. "Mama sedih banget lo gak datang ke rumah, tanpa ada kabar pula. Beliau takut gangguin lo makanya dia telepon gue.”


Kelemahan Bang Oli adalah wanita-wanita di dalam hidupnya, terutama anggota keluarga. Di atas segalanya, tidak diragukan lagi, wanita nomor satu baginya adalah Mama. Dia tidak pernah membuat Mama kecewa, selalu menjadi Mama's boy.


Dan aku tahu dia tidak bermaksud terdengar begitu kaku, akan tetapi aku tidak bisa menahan perasaan bersalah yang tiba-tiba merayapi pikiranku ini. Seperti yang seharusnya terjadi. "Oke." Aku melahirkan sebuah janji yang lain. "Gue akan nelepon Mama abis ini."


"Good. Sampai jumpa hari Minggu, Lala. Love you."


"Love you too, Bang."


Panggilan terputus.

__ADS_1


Shiit! Semua gelembung kebahagiaan yang sebelumnya muncul langsung pecah saat rasa bersalah terus mengalir dari pikiran ke perutku.


****


Aku tidak memberi kesempatan pada rasa bersalah ini untuk membusuk lebih lama lagi. Dalam tiga detik berikutnya, aku sudah melakukan panggilan cepat ke telepon Mama.


Secepat kilat Bu Yunita Hermawan a.k.a Mama menjawab panggilan bahkan sebelum dering pertama selesai, memberi tahuku bahwa dia memang sedang menunggu panggilan daeiku saat ini. Shiiiiit. "Hai, Sweetie," jawabnya riang.


Lebih banyak rasa bersalah merembes ke dalam diriku. "Hai, Mama. Ola sangat, sangat, sangat menyesal Ola gak bisa pulang pada hari Minggu dan Ola juga gak ngabarin Mama. Ada acara mendadak, Ma, jadi Ola lupa ngasih tahu,” semburku. Itu tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak merupakan kebohongan mutlak juga. Sesuatu—seseorang—tidak benar-benar datang mendadak; akan tetapi sejak dia muncul di chatroom-ku sore itu, dia sudah memenuhi pikiran dan membuatku melupakan hal lain selain dia.


Mama dengan cepat meyakinkan aku. "Tidak apa-apa, Sayang."


Itu adalah jawaban standar yang digunakannya ketika dia merasa sedih, akan tetapi tidak ingin pihak lain tahu bagaimana perasaan yang sebenarnya. Itu akan berhasil untuk kenalan baru Mama, tetapi tidak untukku, darah dagingnya sendiri.


Lebih banyak rasa bersalah yang meresap ke sum-sum tulang.


“Tapi kamu akan pulang hari Minggu ini, kan?"


Aku bisa mendengar harapan dalam suaranya dengan keras dan jelas. “Iya, Mama.” Aku menegaskan. "Ola akan ada di rumah hari Minggu depan. Ola bakal jadi satu-satunya anak mama yang datang dengan bunga dan sebotol baru Chanel no. 5 baru di tangannya.” Aku rela melakukan semuanya untuk meringankan rasa bersalah.


Mama tertawa nyaring. "Kamu gak perlu melakukan itu, Sayang."


“Emang gak perlu, Ma, tapi, kan, Ola pengen. Ola beneran menyesal soal akhir pekan lalu, Ma.”


Aku merasa dadaku yang semula sempit kini sedikit lapang.


“Kamu mau request menu apa buat minggu depan? Main course-nya, appetizer, dessert? Apa aja. Nanti Mama sediain, deh." Mama menawarkan berbagai pilihan.


Terlepas dari luka yang aku sebabkan untuknya, beliau masih memprioritaskan keinginan anaknya yang jahat ini. Sialan. Aku berharap ketika waktunya tiba, aku bisa menjadi seorang ibu seperti Mama suatu hari nanti.


Tik, tik, tik. Yang kalian dengar itu bukanlah bunyi hujan di atas genting, akan tetapi rasa bersalah yang menetes ke dalam diri ini. “Gak, Ma. Apa pun yang Mama bikin pasti rasanya luar biasa enak."


"Oke. Baiklah kalau begitu."


"Oke."


“Jadi .…” Mama berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Ada lagi yang ingin kamu bicarakan ke Mama, gak?”


Uh oh.


Mama tidak mengusirku dari obrolan kami; dia mengintip, karena radarnya—naluri hipersensitif, suatu kekuatan super lain yang hanya dimiliki oleh para ibu—berbunyi, menandakan sesuatu sedang terjadi dengan anak-anak mereka. m Untungnya, atau sayangnya—tergantung situasi—yang disebut radar ini tidak pernah salah.


Sesuatu memang terjadi dalam hidupku saat ini, akan tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membagikannya dengan Mama, setidaknya belum. Owen dan aku ... kami masih sangat baru. Aku ingin kami menjadi lebih familier dengan satu sama lain terlebih dahulu sebelum membawa keluargaku kepadanya atau sebaliknya.

__ADS_1


Berdasarkan pemikiran ini, aku harus berbohong demi hasil terbaik. “Gak, ah, Ma. Semuanya baik-baik aja, kok. Seperti biasa." Aku sengaja menambahkan satu atau dua kekehan di ujung kalimatku untuk mengelakkan kecurigaan Mama. Aku bahkan sampai mengangguk beberapa kali, meskipun Mama tidak bisa melihatku.


"Hm, oke lah kalau begitu," katanya lagi, jelas tidak yakin dengan usaha penghindaranku yang lemah. Namun, Mama tidak membawanya lebih jauh. “Sampai jumpa di rumah, Sweetie. Love you."


“Love you, Ma.”


Panggilan berakhir. Namun, perasaan berat dalam diriku, tidak. Tidak sama sekali.


Rasa bersalah yang disebabkan oleh makan malam keluarga yang terlupakan diganti dengan rasa bersalah karena usahaku yang gagal untuk berbohong. Aku adalah salah satu dari sekian manusiitidak beruntung yang tidak bisa berbohong. Pada orang lain saja aku tidak akan berhasil berbohong, apalagi kepada orang tuaku sendiri; wanita yang melahirkan aku.


Why, oh, why aku tadi sempat-sempatnya mengira bahwa aku akan bisa berbohong kepada Mama yang memiliki indra lebih banyak dan berharap untuk lolos tanpa cedera? Why, oh, why Tuhan memberi para ibu begitu banyak kekuatan super?


****


Owen tidak menelepon atau mengirim pesan beberapa hari terakhir ini. Sekarang sudah pukul dua siang pada hari Minggu dan masih belum ada kabar apa-apa. Kebahagiaan yang dia tinggalkan untukku Minggu lalu tersapu oleh rasa bersalah yang kurasakan pada Mama. Aku berharap dia akan muncul dan menghiburku nanti.


Dia tidak muncul.


Namun, tidak apa-apa. Aku harus mengerti. Dia memiliki banyak hal yang harus dikerjakannya sekarang. Dia akan berada di studio, bahkan mungkin stay di sana, memberikan segala yang dia punya untuk demo yang akan menjadi awal dari karir profesionalnya sebagai seorang musisi. Itu mimpinya.


Dan, sebagai pacar yang baik, sudah menjadi tugasku untuk mendukungnya.


Pacar yang baik juga tidak clingy.


Aku berkata pada diriku sendiri berkali-kali. Merekalah yang membuatku kuat sampai sekarang.


Pacar yang baik itu suportif. Mereka tidak clingy.


Mantra terbaru yang kubuat. Raisa akan sangat bangga dengan kemajuanku jika seandainya dia tahu. Namun, sayangnya, dia tidak tahu, setidaknya belum.


Oh, my God, aku sangat merindukannya. Aku merindukan drama yang dia bawa bersama kehadirannyanya. Aku merindukan teman terbaikku.


Dan aku sangat merindukan pacarku.


Oh, my God, aku benar-benar menyedihkan.


Yeah, menyedihkan dan sedang jatuh cinta.


So, what?


Ponselku berbunyi bip di tanganku.


Oh, my God!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2