
Aku menghabiskan malam dengan membolak-balik badan di atas tempat tidur. Semua emosi negatif membuat mataku terbuka lebar-lebar. Sedih, marah, sakit hati, dan rasa bersalah. Begitu banyak rasa bersalah. Kemudian, dengan rasa bersalah yang berlebihan, datanglah rasa malu. Aku malu dengan apa yang telah aku lakukan pada ibuku sendiri. Aku malu dengan apa yang telah aku katakan pada Bang Oli.
Meski pada akhirnya kantuk dan rasa lelah mengambil alih seluruh kesadaran, hal itu terjadi hanya sepicing-dua picing. So, bukan suatu hal yang rumit untuk diprediksi bahwa suasana hatiku sudah rusak tak terpelokkan lagi di pagi hari.
Sial, aku tidak ingin datang ke kantor dengan kacau seperti ini.
Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan apa pun hari ini. Aku hanya ingin ....
Aku mengirim pesan pada Rena untuk memberi tahu dia bahwa aku tidak akan datang ke kantor. Lalu aku memintanya untuk meneruskan email penting apa pun ke akun email pribadiku.
Aku juga mengirim pesan kepada seseorang lagi, akan tetapi dia tidak membalas. Mungkin dia sudah sibuk di studio.
Baiklah kalau begitu. Surprise visit it is.
Jadi, dalam perburuan untuk menemukan distraksi, dalam pencarian cara yang baik untuk melupakan, aku menuju ke satu-satunya tempat yang kuinginkan. Setelah merias wajah dengan jumlah yang masuk akal untuk menyembunyikan rasa malu dan jejaknya—yang dikenal sebagai kantung berwarna gelap di bawah mataku, aku keluar dari apartemen setelah pukul dua belas tengah hari.
Warner Music terletak di daerah Cipete. Gedung di mana studio itu berada memang serupa nama yang dipegangnya; tinggi, besar, dan berkilau. Persis seperti citra mereka selama ini di industri musik Indonesia. Pihak Warner sudah mewakili begitu banyak artis besar, Owen sangat beruntung mereka menemukannya.
Seorang wanita dengan rambut dicat pirang, tinggi, dan kurus menyapaku dari belakang meja resepsionis. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" Dia bertanya dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin.
Aku memberinya senyum yang sama palsunya dengan keramahannya itu. "Hai. Aku ke sini untuk bertemu Owen. Maksudku, artis pendatang baru yang sedang rekaman di sini. Owen Miller. Aku yakin dia ada di salah satu studio hari ini."
Mata dengan bulu panjang dan lentik itu seketika saja memindai tubuhku, mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin, di dalam kepalanya, dia tengah mempertimbangkan apakah aku adalah salah satu penggemar berat dan gila artis masa depan mereka.
Aku mengikuti pandangannya. Tidak ada yang salah dengan kaos oblong, skinny jeans hitam, dan sepatu tenis putih yang kukenakan, bukan?
"Saya akan periksa dengan Tuan Miller dulu. Boleh saya tahu nama Anda, Nona?"
"Olavia," jawabku singkat.
Dia mengirim senyum palsu lagi ke arahku. "Baiklah. Kalau begitu, permisi sebentar." Dia kemudian mengetik sesuatu di komputernya dan mengangkat telepon.
Mataku berkeliaran di sekitar lobi yang indah. Mengagumi setiap sudutnya. Memperhatikan hal-hal yang hanya dilakukan oleh seorang desainer interior. Ooookay, siapa pun yang mendekorasi gedung ini, mereka melakukannya dengan sangat baik.
__ADS_1
"Maaf, Nona." Suara si Pirang, atau Christine—seperti yang tertulis di nametag di dadanya, mengembalikan perhatianku padanya. "Tuan Miller akan segera datang. Anda bisa menunggu di salah satu kursi." Dia kalakian melambai ke satu set kursi sofa di tengah ruangan.
"Oke. Terima kasih." Aku berterima kasih padanya hanya untuk bersikap sopan.
Dasar tukang nge-judge.
Saat aku membalikkan tubuhku, aku melihat Owen berjalan dari bagian dalam gedung. Suasana hati yang semula masam sekonyong-konyongnya terangkat ketika saya melihat alasanku untuk datang ke sini, mendekat. "Hei, Kamu," kataku sebelum menempelkan sebuah kecupan sambil lalu di bibirnya saat Owen sudah berdiri di depanku.
"Hai." Dia menyapa balik, matanya menatapku dengan hati-hati. Di dalam manik-manik itu berenang begitu banyak pertanyaan. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku mengangkat bahu. "Aku cuma pengen ketemu kamu."
Owen melihat sekeliling sebelum mengangguk. "Oke." Dia menerima alasan itu. "Ayo, makan siang, yuk. Udah waktunya. Lagian aku barusan dikasih istirahat. Gimana?"
Tersenyum dari telinga ke telinga, aku meraih lengannya. "Yuk, ah. Capcus." Lalu, aku—dengan tidak terlalu halus—mengedipkan mata pada si pirang di belakang meja yang tengah menembakkan belati dengan matanya ke arah kami.
Rasakan itu, B*tch.
****
Oh? Okay. Ketika dia berkata seperti itu ....
Wait. Tunggu, tunggu, tunggu. Apakah dia baru saja mengatakan bahwa aku terlalu mengganggu konsentrasinya?
Aww .... Owen so sweet banget, siiih.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Aku cuma ... kangen sama kamu." Dan ....
No, no, no. Aku tidak ingin membahasnya, atau bahkan hanya memikirkan soal itu.
Terlepas dari semua hal yang terjadi kemarin, aku mendapati diriku tidak ingin mengganggu Owen dengan masalah yang sedang kuhadapi. Dia benar. Dia benar. Dia harus fokus, seperti yang dia katakan. Dan masalahku tidak akan membantunya dengan perkara itu.
Selain itu, aku tidak ingin memikirkan tentang kemarin dan apa pun yang berhubungan dengan hari itu. Atau orang-orang yang terlibat di dalamnya. Aku hanya ingin melupakan hari ini.
__ADS_1
Kami makan. Kami mengobrol tentang rekamannya. Saat kami keluar dari kafe, dia mengajakku ke studio. "Undangan ini cuma bisa dipakai satu kali, kamu dengar aku?" Dia menunjuk hidungku sebelum mencoleknya lembut.
Well, I'm sure I can live with that.
****
Penampilan Owen di atas panggung memang luar biasa, akan tetapi melihatnya dari balik kaca ini adalah suatu pengalaman yang lain. Ada getaran yang sangat berbeda saat dia bernyanyi selagi dikelilingi oleh peralatan terbaik ini. Rasanya lebih nyata. Dia terlihat lebih ... ajaib.
Aku sangat mencintainya. Dan aku sangat kagum padanya.
Aku sangat bangga dengan pacarku.
Dia akan menjadi bintang paling terang yang pernah ada. Industri musik Indonesia tidak tahu apa yang akan datang menerjang.
Lagu berakhir. Ketika dia membuka matanya, mereka secara otomatis terkunci dengan manik milikku. Cokelat bersinar terang oleh api yang membakar, melelehkan isi perutku. Oh, no.
Owen lalu mengumumkan dia meminta waktu untuk istirahat kepada dua orang teknisi—atai apalah namanya—yang ada di ruangan itu. Dia melenggang keluar, meraih tanganku, dan menyeretku ke luar.
Beberapa detik kemudian, aku menemukan diriku terkunci di kamar mandi bersamanya.
Punggungku membentur tembok. Aku terjebak di antara dia dan permukaan yang dingin. "Inilah sebabnya kenapa aku gak bisa sering-sering bawa kamu ke sini, Cantik," geramnya di telingaku saat dia buru-buru membuka celana jinsnya, dan celana jinsku segera bergabung.
Oh, my God.
Setengah jam kemudian, kami keluar dari bilik kecil, kenyang dan puas. Saat kami masuk kembali ke studio, orang-orang itu menatap kami dengan seringai penuh rasa tahu. Owen hanya mengedipkan mata ke arah mereka.
Aku memutar mataku. Dasar pria.
Seharusnya aku malu, aku tahu itu, akan tetapi setelah mengecek dan mengecek kembali perasaanku, ternyata ... tidak. Aku menyukai uka apa yang baru saja kami lakukan. Aku sangat menyukai uka apa yang kami miliki. Itu memenuhi tujuanku datang ke mari. Hal ini memberikan apa yang aku cari.
Inilah kenapa aku datang dan mencarinya. Aku ingin melupakan dan kehilangan diriku di dalam dirinya. Bibirnya, tangannya, sentuhannya. Tubuhnya.
Dan, oh, my God, oh, my God ... apa yang bisa dilakukan oleh tubuhnya itu.
__ADS_1
Aku tidak akan pernah melihat toilet umum dengan cara yang sama lagi.
Bersambung...