Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
47. Ola : Terlambat


__ADS_3

"Berengsek, susah banget, sih! Kenapa ini sulit banget, ha?"


"Well, good morning to you too." Aku mengikutinya masuk ke dalam apartemen yang sudah sepenuhnya menjadi milikku. Ini baru jam sembilan di hari Sabtu pagi. Seharusnya aku masih tidur, dengan nyenyak, di atas kasurku yang super duper empuk, dan dikelilingi oleh bantal-bantal kesayangan. Alih-alih, aku terbangun karena panggilan bertubi-tubi dari wanita ini yang memberi tahuku bahwa dia ingin aku membukakan pintu apartemen untuknya.


Padahal si Sableng ini masih memiliki kuncinya, lho. Kalian perlu tahu itu.


So, kalian mengerti, kan, kenapa aku SEDIKIT kesal pada sahabatku inj?


Sahabatku yang kini sedang meringkuk di sofa. Sahabatku, yang meskipun sudah mwnginjak kepala tiga, masih saja merengek. "Kenapa, kenapa, kenapa?"


Aku mendudukkan bokongku yang masih mengantuk di atas meja kopi. "Lo kenapa, sih? Apa yang terjadi?"


Dia merengek lagi.


Alisku perlahan naik ke dahi. Okaaaay, ini kejadian yang tidak biasa. "Raisa, apa yang terjadi? Lo kenapa, ha? Apanya yang kenapa? Apanya yang sulit?"


"Gak ada yang terjadi, Olaaaay. Gak ada yang terjadi dan itu masalahnya." Dia terisak dari balik telapak tangannya.


Menjangkau, aku menarik tangannya dengan tanganku. Warna merah membingkai matanya yang basah. Kekhawatiran mulai mewarnai wajahku. "Gue gak ngerti, Raisa. Lo mau jelasin apa masalahnya sama gue? Cerita daei mana kegajean ini bermula?"


Dia terengah-engah, menyeka matanya, dan duduk dengan tegak. Sambil menatap pangkuan, dia menjelaskan. "Gue baru aja datang bulan setelah seminggu telat. Padahal gue gak pernah telat, lo juga tahu itu. Jadi gue pikir gue lagi hamil. Awalnya gue gak terlalu mikirin. Gue gak tahu kalau nyatanya gue berharap sampai haid gue datang. Olaaaay."


Oh. Itu. Aku diam-diam mengembuskan napas. Aku pikir dia sedang menghadapi masalah yang serius. Ternyata ....


Ternyata, itu hanya hormonnya yang berbicara. "Apa lo sama Mas Johan udah nyoba? Maksud gue, kalian udah punya rencana soal ini sebelumnya?"


Dia menggeleng. "Kami belum ngomong apa-apa, sih, soal ini. Belum. Cuma, ya, orang-orang bilang kalau biasanya seorang istri bakal hamil dalam tahun pertama pernikahan mereka."


Aku melawan keinginan untuk memutar mataku. "Okaaay. Dan sekarang gue tanya sama lo. Usia pernikahan lo sekarang udah berapa emangnya Tiga bulan?"


"Di atas kertas? Iya, tiga bulan. Tapi, gue udah berhenti minum pil sejak dua atau tiga bulan sebelum nikah dan gue sama Mas Johan–"


Aku menutup kedua telingaku dan menginterupsi penjelasannya yang tidak perlu tentang kehidupan seksnya yang jelas tidak ingin kuketahui. "Tidak, tidak, lalalala. Nananana. Huhuhu. Terlalu banyak informasi. Gue gak perlu dengar dan tahu apa yang kalian lakukan di balik pintu. Gak untuk pagi ini, dan enggak untuk selamanya."


Dia terkekeh.


Sialan.


Aku akhirnya, akhirnya memutar bola mataku padanya. Ketika aku kembali memandang sahabatku, kesedihan di wajahnya ada lagi. "Hei." Aku memberikan dukungan. "Kalian bakal baik-baik aja. Lo bakalan baik-baik aja. Kehamilan bisa terjadi setiap saat, Raisa. Kalau gak bulan ini, pasti bulan depan. Nikmatin aja waktu yang lo punya sama suami lo. Puas-puasin jalan-jalan dulu, berdua dulu. Jangan terlalu stres mikir soal itu lah. Ntar yang ada malah nambah perkara. Lo bakalan hamil, kok. Walaupun gak ada urusannya sama gue, tapi gue jamin, deh!"

__ADS_1


"Yeeee, suka sembarangan lo kalau ngebacot!" Raisa menyemprotku. Lalu dia memelukku dengan pelukan beruangnya. "Thank you. Dan siapa yang bilang gak ada urusannya sama lo kalau nanti gue hamil? Terus yang nguruigue siapa? Yang nemenin gue shopping baby stuffs, siapa? Yang m9 gue muter-muter memenuhi food cravings gue, siapa? Ya, elo lah. Siapa lagi?"


"Sialan lo!" Aku balik menyemprot lalu menepuk punggungnya. "Kalau lo benar-benar pengen kehamilan itu segera terjadi, ngomong aja sama Mas Johan. Tanya pendapat dia, apa yang dia pengen. Karena gimanapun, punya anak adalah keputusan besar. Ini bukan hanya soal bikin bayi. Ini adalah tentang tanggung jawab seumur hidup kalian."


"Ya, sih. Elo benar juga." Dia setuju.


"Of course. Gue gitu lho," candaku. "Eh, tapi serius, deh, Raisa. Kalau lo sama Mas Jo udah sepakat pengen cepat-cepat punya momongan, kalian bisa langsung ketemu dokter. Gampil lah itu."


Bantal sofa mendarat di sisi kepalaku.


"Aduh! Apaan, sih, lo?" Aku melolong padanya; wanita yang saat ini tertawa terbahak-bahak dan menyatakan dirinya sebagai sahabat terbaik yang pernah aku miliki sepanjang hidupku. Aku mulai melihat bahwa semua itu sepertinya hanya hanya omong kosong. Sahabat mana yang tega menampol sahabat baiknya yang cantik, suportif, dan rela diseret ke mana-mana seperti aku ini, ha?


"Sorry, sorry." Dia meminta maaf di antara gelaknya sambil terlihat tidak menyesal sama sekali. "Ya, lagian. Elo juga, sih, kenapa pakai bahasa gituan segala? Belajar dari mana lo? Gampal, gampil. Huu."


Aku mengelus kepalaku sembari cemberut. "Bodo, ah. Ingetin lagi apa alasan gue mau temenan baik sama cewek sadis kayak lo?"


"Heleeh. Udah, ah, Neng. Diam aja lo, gak sakit juga. Kayak yang paling menderita aja temenan sama gue."


What the heck? Tahu apa, sih, dia? Kepalaku yang dipukul. Dan, tidak terlalu sakit? Lihat siapa yang bicara sekarang. Dia perlu diingatkan siapa yang merengek tentang sesuatu yang begitu "sulit" beberapa saat yang lalu.


Mungkin aku juga harus memukul kepalanya biar dia tahu rasa.


Namun, aku senang aku membeli mesin ini. Benda itu betul-betul menghemat waktuku di saat-saat genting kala aku perlu menjaga kewarasanku seperti sekarang.


"Hm, enggak ah. Gak usah." Raisa menolak dan lantas berdiri. "Gye rasa gue mau pulang aja. Gue akan kembali ke pelukan suami gue dan bahas soal baby. So, biar kami bisa mulai mengeksekusi rencana kami secepat mungkin. Ya, lo tahu lah. Urusan bikin bayi dan *****-bengeknya, kan, rada-rada. Susah-susah gampang. Bye, Bestie." Dia mengedipkan mata ke arahku dan melenggek menuju ke pintu.


Aku menggelengkan kepalaku pada kecenderungannya untuk mendramatisasi situasi. Aku tidak bisa membayangkan dia, Raisa Putri Suryadiningrat; pecandu adrenaline rush, penggila pesta, cewek penganut paham YOLO (You Only Live Once) nomor satu yang pernah kukenal, menjadi sosok orang tua bagi anak-anak mereka.


Aku bahkan tidak tahu dia menginginkannya.


Aku kira itulah yang dilakukan pernikahan pada kalian? Atau apakah itu perbuatan yang dilakukan oleh pasangan yang tepat? Mereka membuatmu menginginkan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelum bertemu dengan mereka.


Hm.


Oke, lebih baik berhenti di situ. Aku tidak ingin melompat ke dalam lubang kelinci yang tak berujung itu lagi.


Namun, gambar-gambar itu terus berputar dengan liar. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak membayangkan Raisa mengajari gadis-gadis kecilnya berbelanja, menjadi penggemar mode sejak usia dini. Atau dia benar-benar akan mendesak anak laki-laki mereka untuk menjadi pecandu adrenaline rush seperti dia.


Tidak ada harapan untuk Mas Johan. Dia akan membiarkan Raisa melakukan apa saja yang dia suka. Mas Johan akan membiarkan Raisa mendapatkan apa yang dia mau.

__ADS_1


Aku tertawa melihat gambaran itu.


Terlepas dari semua itu, aku tahu mereka pasti akan menjadi orang tua yang sempurna bagi anak-anak mereka. Karena, apalagi kalau bukan karena, mereka memiliki ... cinta.


Aku benar-benar berharap pada Tuhan di langit ketujuh agar Mas Johan akan segera menghamili sahabatku itu.


Kuseruput kopi di cangkir. Kubiarkan cairan itu mengalir ke dalam sistemku, mengisi ulang baterai jiwa dan ragaku untuk menghadapi hari ini. Aku harus lebih siap jika apa yang terjadi pagi ini akan menjadi kebiasaan di masa yang akan datang. Dan firasatku mengatakan itu akan terjadi.


Haid Raisa sudah terlambat seminggu. Itu berarti jadwal haidku akan datang sekitar waktu ini juga. Kami biasanya mendapatkan periode menstruasi kami satu minggu sampai sepuluh hari terpisah. Sekarang kami akan memiliki waktu yang sama.


Aku terkekeh lagi.


Namun, aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang janggal di belakang kepalaku. Kira-kira, apa itu?


Ada yang hilang dari persamaan ini.


Apa, ya, kira-kira yang terjadi?


Aku mencoba, dan mencoba, dan terus mencoba memutar otak untuk mencari tahu. Apa, ya? Apa, ya? Apa, ya?


Dan, kemudian ....


Satu keping puzzle jatuh.


Oh. Oh! OH!


OH, ****.


****, I'm not! ****. F*ck. Tidak mungkin. Tidak. Tidak mungkin. No, no, no, no. F*ck no.


Kapan terakhir kali aku mengalami menstrusiku?


Aku tidak bisa mengingat tanggalnya.


Rutukan yang lembut dan bermasalah ke luar dari bibirku.


Sialan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2