Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
40. Ola : Tolol


__ADS_3

"Kamu tahu," lanjutnya, masih sibuk melipat baju. Punggungnya masih mengarah padaku. "Aku suka sama kamu. Aku beneran suka kamu. Serius. Karena kamu selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita aku, atau saat aku hanya ingin menjadi diri sendiri. Aku suka karena kamu bisa jadi seseorang yang ngasih makan egoku."


Dia berbalik dan mengedipkan sebelah mata. "Dan ... aku sangat suka pertempuran kita. God, yang di kamar mandi itu benar-benar bagus. Dan enak." Dia kemudian meraih kemeja yang terlipat dan memasukkannya ke dalam tas ransel hitam itu. "Aku rasa aku akan merindukan itu saat aku pergi nanti."


Owen kemudian mulai melipat celana jinsnya. "Tapi–" Dia berhenti dan menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin juga, sih. Kalau dipikir-pikir, aku, kan, akan pindah ke Bandung, demi Tuhan. Sesusah apa, sih, nyari cewek? Eh. Sorry, sorry. Ya, sudahlah." Owen terkekeh, lagi, lalu menggelengkan kepalanya ... lagi. "Man." Dia mendesah. "Gak sabar untuk sampai di sana dan mulai menjalani mimpi sebagai kehidupan nyata."


Pemuda di depanku itu terus melakukan apa yang dia lakukan; mengumpulkan barang-barang dan memasukkannya ke dalam ransel lain—yang ini berwarna abu-abu biru tua pudar dengan lambang merek murahan di atasnya—karena tas yang tadi sudah penuh. Dan, dia terus berbicara.


"Tapi, seriusan, deh. Mungkin aku akan kangen sama kamu. Aku akan kangen sama pertemanan kamu. Aku rasa harus berterima kasih untuk itu. Makasih banyak, ya. Oleh karena itu, aku berharap kita masih bisa berteman. Aku tidak akan mengganti nomorku. Bjar kamu bisa meneleponku kapan saja kamu butuh aku, oke? Aku bakal nyari waktu juga buat nelepon kamu."


Aku mendengar suara langkah kakinya bergema di seluruh ruangan saat dia menyibukkan diri dengan mengumpulkan barang-barang. Aku mendengar suaranya mengatakan semua hal itu. Aku mendengar kata-katanya, semuanya, akan tetapi hanya ... itu. Aku hanya bisa mendengar mereka.


Karena aku sudah tidak bisa melihat lagi.


Aku tidak bisa melihat lebih dari air yang memenuhi mata dan mengaburkan pandanganku. Aku tidak bisa melihat melampaui rasa sakit yang disebabkan oleh kata-kata itu. Dia seperti mengambil pisau dan menusukku, lagi, dan lagi, dan lagi, berulang kali, setiap kali kata-kata itu ke luar dari mulutnya. Mungkin akan lebih baik jika dia benar-benar menusukku saja ....


"Cantik, menurut kamu giman?" Dia kalakian bertanya.


Apa yang aku pikirkan tentang apa, maksudnya, Owen?


Apa pendapatku tentang kepindahan kamu? Aku sangat menyukainya. Bagaimana pendapat aku soal kontrak yang kamu dapatkan dan kamu yang akan segera mewujudkan mimpi kamu? Aku juga sangat, sangat, sangat menyukainya.


Bagaimana pendapat aku soal kamu yang hanya menganggap aku sebagai teman? Hanya sebuah tubuh yang hangat untuk menemani malam kamu yang dingin dan teman yang baik untuk mendengarkan semua cerita-cerita kamu? Apa pendapat aku soal apa yang baru saja kamu katakan?


Jujur, aku tidak bisa memberi tahu kamu, Owen, karena kau tahu kenapa? AKU TIDAK BISA MEMIKIRKAN APA PUN SELAIN "BAGAIMANA BISA KAMU MELAKUKAN SEMUA INI SAMA AKU?"


Aku sudah bilang kalau aku CINTA SAMA KAMU!


"What the f*ck?" Aku mendengar dia berseru.


I guess kamu telah berbalik dan akhirnya melihat kondisiku, ya?


What the f*ck indeed, Owen, what the f*ck indeed.


"Persetan lah!" Dia mengutuk lagi. Lebih keras kali ini.


Persetan memang.

__ADS_1


Persetan denganku karena menangis, bukan? Peduli setan ke neraka soal aku yang berdarah-darah karena irisan yang kata-katamu sebabkan di hatiku, bukan? Persetan denganku karena mencoba menekan emosi dengan menggigit bibirku, atau mengepalkan tanganku yang gemetaran, atau hanya menahan diri ketika yang ingin kulakukan sebenarnya adalah meringkuk di atas lantai, bukan? IYA, KAN?


"Sial, aku tidak butuh semua drama ini."


Aku lalu mendengar kamu bergerak.


Kamu tidak perlu untuk ....


What? No! No, no, no, no, no!


Aku butuh kamu!


Aku menyeka darah bening yang mengalir deras dari mataku. "No! Please," pintaku sambil berlari ke arah pria yang kucintai untuk menghentikannya mengambil tas-tas itu. "No. Jangan pergi. Kita harus membicarakan ini. Kita bisa membicarakannya. Ya, ya, ya. Itulah yang akan kita lakukan. Bicara. Diskusi."


Dia menatapku seperti aku sudah kehilangan akal sehat. "Kamu lagi ngomong apa, sih?"


Aku menghirup udara yang sangat dibutuhkan untuk mengendalikan isak tangisku. "K-kamu pindah ke-ke Bandung?" Persetan lah. Get yourself together, Olavia! "A-aku ikut sama kamu."


Ya, itu dia. Itu solusinya. Ini sama-sama menguntungkan. Yes!


Owen menepis tanganku yang mencengkram pergelangan tangannya. "What the f*ck are you talking about?"


Deg. Kenapa cara bicaranya jadi kasar seperti ini?


Aku melihat ke dalam mata cokelat panas itu. Kilatan nakal yang biasanya ditujukan padaku kini sudah tidak ada lagi. Yang ada, mereka sekarang terbakar oleh rasa ... terganggu.


Namun, aku tidak peduli. Aku harus memperjuangkan hubungan ini agar Owen dapat mengingat kembali bahwa kami adalah sepasang kekasih. Aku bukan cuma nama yang akan dicoretnya daei daftar nama perempuan yang sudah ditaklukkan seperti gadis-gadis lain. Aku mencintai dia, dan aku membutuhkannya. Oleh karena itu aku bersedia pergi bersamanya ke mana saja. Kita bisa membangun dan menyatakan mimpi bersama, seumur hidup, selamanya.


Aku tersenyum dan memberi tahunya sebanyak itu.


Dia menatapku yang tatapan yang mengatakan "kamu gila".


Aku tersenyum dan mengakui bahwa aku sangat mencintainya.


Dia kembali mengutuk mungkin untuk yang kelima puluh kali.


Keheningan akhirnya datang.

__ADS_1


Pria yang menjadi the love of my life itu kemudian mendesah tak sabar. "Dengarkan aku," katanya, menatap lurus ke mataku yang berair. Tangannya mencengkeram bahuku, erat. Namun, aku tidak merasakan sakitnya. "Lo gak bisa pergi sama gue. Lo punya kehidupan sendiri di sini, keluarga lo juga. Lo gak bisa ninggalin mereka. ****. Lo bahkan gak pernah ninggalin mereka, dammit."


Aku memberinya senyum basah yang meyakinkan. "Aku bisa kok. Sekarang aku punya kamu, aku tahu aku bisa ninggalin mereka. Kamu juga keluarga aku sekarang."


"F*cker." Dia menggelengkan kepalanya.


Aku tidak bisa menghitung sudah berapa kali dia menggelengkan kepalanya yang penuh dengan rambut lurus nan indah itu. "Ini mimpi gue yang udah lama jadi milik gue dan gue perjuangin sendiri. Gue gak tahu gimana cara membaginya. Gue gak mau membaginya dengan orang lain. Ngerti gak, sih? Gue gak pengen lo ada di dalamnya!"


"Gak, gak, gak. Kamu gak bermaksud gitu, kan? Pasti maksud kamu bukan gitu. Iya, pasti kamu salah. Maksud kamu bukan itu."


"Well, for your f*ucking info, maksud gue emang gitu." Owen membalas dengan cepat. "Persis kayak gitu."


"Owen." Aku mencoba membujuk dengan menangkup wajahnya. "Enggak, enggak gitu. Aku tahu maksud kamu gak gitu. Aku tahu karena aku sayang sama kamu, dan kamu juga sayang sama aku. Kita saling menyayangi, saling membutuhkan. Makanya aku bersedia pindah sama kamu ke Bandung. Gak apa-apa. Lagian Jakarta-Bandung dekat kok. Aku bisa ketemu keluarga aku kapan aja.


"Aku ngerti kalau kamu sulit untuk mengakui perasaan kamu sama aku. Aku ngerti kalau kamu masih binhung soal kita. Tapi, aku enggak, Owen. Aku enggak. Aku yakin soal hubungan ini. Aku yakin kita bisa bareng-bareng terus." Aku berjingkat, bermaksud untuk menuju bibirnya, akan tetapi sebelum aku bisa dia mengalungkan tanganku di lehernya, tiba-tiba saja Owen mendorongku agar menjauh darinya.


"Gila lo!"


Aku semakin bingung. Kenapa Owen berkata yang aneh-aneh, sih? "Gak. Aku gak gila." Aku membantah. "Stop ngomong pakai gue elo kayak gitu. Aku gak suka."


"Emang benar kalau lo tuh gila!" Dia bersikeras. "Lo harus menghapus ide-ide mengerikan sialan itu dari kepala lo. Lo gak akan ikut sama gue ke Bandung. In fact, lo gak akan pergi ke mana-mana. Diem di sini karena gue gak butuh lo lagi. Kalau tahu lo sama psycho-nya kayak cewek-cewek bangsat itu, gue gak bakal susah payah ngejar lo. Berengsek!" Dalam sekejap, dua tas yang ada di atas tempat tidur sudah berada di dalam genggamannya.


Aku serta-merta berpegangan pada lengannya dengan cepat. "No, no, no, no. No, Owen, no. Please jangan pergi. Aku butuh kamu, Owen. Aku butuh kamu. Aku cinta banget sama kamu!"


"Dan gue benar-benar gak punya rasa apa-apa sama lo. Lo dengar gue? Tanamkan itu di dalam otak lo yang bebal. Gue gak cinta sama lo, for f*ck's sake! Kita cuma nge*tot aja! Sialan! Argh!"


Pernyataan itu, tanpa diragukan lagi, membuatku tercengang. Kepalaku seketika menjadi menjadi kosong. Tanganku tiba-tiba saja terkulai lemas di samping tubuh. Bahkan aku merasa energiku mengering, tanpa sisa, meninggalkan tubuh ini.


Aku sebenarnya tidak tahu apa yang membuatku masih bisa berdiri.


Apa yang baru saja dia katakan?


Dia tidak mencintaiku?


Owen tidak ... mencintai ... aku?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2