Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
22. Ola : oh, my God, Raisa!


__ADS_3

Bang Oli memutus kalimatnya, menunggu tanggapanku. Dia pasti tahu bahwa alasan aku meneleponnya bukan hanya itu.


“Yeah, pagi ini gue bangun dengan bingung. Gue—”


"Bukannya lo nginap di kondo gue tadi malam?"


“Tadinya, sih, iya. Tapi, abis itu Angga datang pas gue lagi ada tamu dan dia agak kesal saat melihat Titot ada di kamar gue. Ngg ... gue tahu, gue tahu. Gue minta maaf,” kataku padanya sebelum Bang Oli sempat marah padaku. "Enggak tahu kenapa, Titot gak begitu senang sama teman gue itu. Tapi, bukan itu intinya, Bang. Pas mereka pergi, dan gak lama setelahnya teman gue juga balik, apartemen lo terasa kosong banget. So, gue mutusin untuk balik ke apartemen gue." Aku sengaja menghindari detail soal apartemeku yang juga tidak berpenghuni. “Lanjut, yaa. Terus pas gue bangun, entah kenapa gue merasa sedikit gelisah. Tiba-tiba aja ide untuk nyalahin lo muncul di dalam otak gue. Makanya gue nelepon lo. Ketika lo gak ngangkat, gue mulai tenang, saat itulah pencerahan datang ke gue. So ... that's it."


Beberapa detik telah berlalu dalam diam ketika pada akhirnya aku menangkap beberapa gumaman dari seberang sana. "Apa, Bang? Lo ngomong apa barusan?"


"Nothing," sahut Bang Oli dengan cepat.


"Ooookay."


Lebih banyak lagi kala terbuang dalam senyap sebelum Bang Oli dengan hati-hati bertanya, "La, gue boleh ngasih saran gak sama lo?"


Ooookay. Suhu ruangan sepertinya turun beberapa derajat seiring dengan nada yang Bang Oli pakai dalam kalimatnya. "Sure," jawabku tak kalah hati-hati.


"Gue pikir ada orang lain yang harus lo mintain maaf."


"Ooookay."


"Dan sebelum lo ngelakuin itu, gue rasa lo juga harus memikirkannya secara menyeluruh seperti yang lo lakuin pagi ini soal gue."


"Oookay."


"Dan gue pribadi berpikir bahwa sesuatu yang baik akan terjadi setelah lo melakukannya."


"Oke, Bang. Gue ngerti. Lo bilang aja siapa orangnya,” desakku. "Gue tahu. Maksud lo Mama, kan?"


"Hm. Mama juga. Pastiin lo juga minta maaf sama nyokap nanti, ya! Tapi, balik lagi. Yang gue maksud bukan Mama." Bang Oli menyangkal.


"Papa?" Aku memberinya tebakan lain.


"Enggak." Dia kembali menyangkal.


Sangkalannya tidak pelak memicu rasa penasaran sekaligus emosiku. "Terus siapa, dong?"

__ADS_1


Sekali lagi, dia terdiam untuk beberapa saat sebelum membuka mulut ngasalnya itu. "Angga."


****


No, no, no, no. Itu tidak akan pernah terjadi. No!


"Maksud lo apa, Bang? Kenapa gue harus minta maaf sama cowok nyebelin itu?" Aku membombardir Bang Oli dengan pertanyaan-pertanyaan.


Aku sangat tidak mengerti jalan pikirannya. Memangnya apa yang telah lakukan? Kapan aku melakukan kesalahan terhadap Angga? Angga? Angga? Hah! Yang ada dia yang–


No!


Bang Oli sudah semakin gila.


“Lakuin aja, La. Tanya dia,” jawabnya—yang tidak menjawab satu pun pertanyaanku—tanpa perincian, yang membuatku bingung dan menyulut emosi yang tak dipungkiri semakin tinggi. Dan aku benar-benar tidak ingin marah lagi padanya tidak lama setelah aku meminta pengampunannya dan bertobat.


Namun, bukankah aku sendiri yang bilang bahwa aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik? Seharusnya aku tidak marah-marah sekarang.


Oh, my God. Berubah menjadi lebih baik ternyata sangat sulit.


“Gue harap gue bisa kaaih tahu lo, tapi itu bukan cerita gue. Makanya. Tanya Angga langsung. Dia pasti mau jelasin,” lanjut Bang Oli tanpa mengetahui gejolak internal yang sedang terjadi di dalam diri ini. “Kadang kita menyakiti orang lain tanpa menyadari bahwa kita telah menyakiti mereka.”


Lalu bagaimana dengan menyakiti orang lain dengan sengaja? Dengan sadar sesadar-sadarnya, ha?


F*ck! This is really hard.


Ketarik napas dalam-dalam, berupaya untuk memperlambat laju jantungku yang menggila. Ayolah, Ola, kamu tengah berusaha untuk berubah menjadi lebih baik, remember? Tarik napas dalam-dalam, tahan. Satu, dua, tiga. Lepaskan. Good. Rasakan ketenangan mengalir di dalam darah lo, membuatnya menjadi lebih dingin. Rasakan kemarahan lo pergi dengan setiap napas yang lo embuskan.


Lihat bagaimana aku mencoba mengendalikan diri.


Tidak lagi merasakan amarah yang memuncak, aku mencoba mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiranku. "Entahlah, Bang, gue–" Kalimatku terpotong oleh jeritan keras dari pintu depan.


"Olaaaaay. Laaaaaay! Di mana lo? Oh, my God, oh my God, oh, my God!"


"What the hell is that?" teriak Bang Oli dari seberang sambungan. Dia pasti juga tak kalah terkejutnya mendengar suara itu.


Seperti yang dialami seluruh penghuni gedung.

__ADS_1


Gue juga penasaran sama apa yang terjadi, Bang. Bukan cuma lo aja yang pengen tahu.


Lamun, sebuah pikiran melesat di dalam benak. Seperti ada sesuatu yang membisikkan padaku supaya sadar bahwa ini adalah kesempatan bagiku untuk menghindari omong kosong "beri tahu Angga kalau lo menyesal" yang dikampanyekan Bang Oli barusan. Hell, yes! Aku tidak mau membahas itu lagi. Sampai kapanpun.


"Biasalah, si Sableng." Aku memberitahunya. "Dia baru saja pulang. Dan kayaknya dia sedang dihadapkan pada keadaan yang super duper darurat. Ya, udah, Bang. Kalau gitu gue samperin dia dulu, ya. Takutnya ada apa-apa. Bye, Bang. Talk to you later!" tambahku dalam satu tarikan napas.


Dan ... that's it. Aku tidak menunggu jawaban dari Bang Oli. Segera saja kuakhiri panggilan yang nano-nano itu. Sekonyong-konyongnya kulempar ponsel sembarangan ke samping seperti benda tersebut akan memberiku penyakit menular.


Fiuh. Diselamatkan oleh teriakan banshee.


Banshee yang menjerit-jerit itu, tiba-tiba saja sudah melintasi apartemen dan sampai ke tempatku duduk. Dia berhasil menaklukkan jarak dua puluhan meter hanya dalam sekejap mata! Benar-benar banshee yang bersemangat.


“Oh, my God, Olaaay! Oh! My! God!" Dia kemudian melompat ke sofa, dan terima kasih, Tuhan, mendarat dengan selamat di sampingku seraya terus berseru dan memukul-mukul lenganku. "Olaay, Olay, Olay, oh, my God!"


Bayangkan saja berapa banyak tanda seru yang telah Raisa gunakan dalam waktu yang sesingkat ini.


Tercengang, di ambang menjadi tuli dan memar-memar, aku menatap wajahnya yang berseri-seri. Dia tersenyum sangat lebar, aku khawatir bibirnya akan meninggalkan kerutan permanen atau garis tawa di kulitnya. Matanya bersinar sangat cerah, aku pikir kita tidak akan membutuhkan cahaya matahari lagi. Kebahagiaannya bergetar darinya dengan sangat kuat sehingga aku juga bisa merasakannya masuk ke dalam diriku.


Wow. Dia pasti punya berita luar biasa.


"Olaay, Olay, gue punya berita bagus!"


Sudah kubilang, kaaaaan.


"Oh, ya?" Sekarang aku juga berseru. Kebahagiaannya tanpa disadari sangat menular. Mau tak mau aku ikut merasa excited bersama Raisa. Aku meraih tangan sahabatku itu dan menggenggamnya. "Apa? Apa? Apa?"


"Kami akan berangkat ke Jogja!" Dia mengangkat tangan dan merentangkannya begitu tinggi di udara. Artinya, lenganku juga ikutan terbentang di atas sana bersama lengannya karena kami masih saling berpegangan tangan. Dan omong-omong, yang dia maksud dengan kami adalah dia dan Mas Johan.


Uhuk!


Itu berarti ....


Itu berarti ....


Itu berarti ....


"Oh, my God! Lo serius? Raisa? Raisa? Oh, my God. Oh, my God! Raisa, oh, my God!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2