
F*ck! Yang barusan itu ... itu ... itu ....
F*uuuuuck.
Apa yang baru saja kami lakukan adalah sesuatu yang ... wow.
Gue ... gue punya banyak pengalaman—sudah gue bilang kalau gue bukan pembohong, juga bukan pengecut yang tidak bisa mengakui bahwa dia menyukai aktivitas seksi yang kasual—akan tetapi dalam skala dari satu sampai sepuluh, yang baru saja kami lakukan itu nilainya sembilan! Oh, man.
Crazy, I know.
Untuk seseorang yang pemalu dan terlihat sedikit canggung, cewek ini mainnya boleh juga.
Kami berdua masih berbaring di sofa, dada naik-turun karena sexercise—ya, itu merupakan sebuah kata, kata yang gue buat sendiri. Pakaian berserakan di lantai di sekitar sofa yang besar ini. Sekarang gue tahu kenapa orang kaya suka membeli barang mewah. Karena barang-barang itu nyaman. Juga luas. Dan sangat berguna.
Jika kalian semua mengerti maksud gue.
Oh, man. Gue harus beli satu yang seperti ini nanti setelah gue menandatangani kontrak.
F*ck, yes!
"Jadi ...."
Kami mengucapkannya secara bersamaan. Gue melihat ke kiri ghe, ke wanita yang memberi gue s–experience terbaik gue—apa? S-experience itu sebuah kata, lho. Kalian tidak tahu? Kan, gue udah bilang. Kata yang gue bikin sendiri. Bleh.
Kembali ke laptop, deh, ah!
Dia berusaha menyembunyikan tubuh polosnya dengan menggunakan lengan dan tangannya. Gue terkekeh pada usahanya untuk bersikap modest yang jelas-jelas gatot, gagal total.
Dia ikut-ikutan terkikik pada kekonyolannya sendiri. Dia kemudian menggunakan tangan itu untuk menyembunyikan wajahnya.
Gue tidak tahu apa yang dia coba lakukan, bersembunyi dari gue atau dunia, tetapi apa pun itu, itu tidak akan berhasil. Gue masih bisa melihat pipi yang memerah, bibir yang memar, mata yang berbinar, dan kepuasannya di benak gue.
Kerja yang bagus, Owen. Gue menepuk punggung gue secara internal.
__ADS_1
Gue memang bajingan sombong. So, whatever.
Suara cekikikan berubah menjadi tawa, membuat tubuhnya bergetar. Kedua busut betinanya bergoyang-goyang karena gerakan yang disebabkan oleh kakah. Berengsek, buncak-buncak daging nan ranum itu!
Mungkin dia harus menutupi mereka, atau gue tidak bisa berjanji tidak akan menyentuhnya dalam waktu dekat. Telapak tangan gue sudah kesemutan. Mereka ingin bertemu dan menyapa kelembutan yang kenyal itu lagi.
Namun, tidak, tidak, tidak. Gue tidak perlu melakukan apa pun untuk menyatakan ide gue. Perut gue yang keroncongan malah yang membantu gue untuk mengutarakan maksud.
Sial. Gue lupa kalau gue melewatkan makan siang hari ini.
Suara mengerikan daei perut gue membuat dia tertawa lebih keras. Dia duduk, kewaspadaannya tentang situasi berpakaian kami, hilang. Sambil tersenyum, dia memerintahkan, "Ayo, pakai baju dulu. Makan malam akan siap dalam tiga puluh menit."
Gue terkekeh dan melakukan apa yang disuruh oleh Yang Mulia seksi.
Empat puluh menit kemudian, kami berada di meja makan yang bisa dengan mudah menampung sepuluh orang. Steak bla bla bla — gue tidak menangkap nama ketika dia mengatakannya dan sebetulnya gue tidak terlalu peduli. Yang penting makan ini terlihat sangat sangat menggiurkan, apalagi fresh from the oven. Red wine—yang mahal tentunya, bukan merek yang murahan yang terasa seperti kencing kuda—disajikan untuk melengkapi menu.
Dia mengakui makanan-makanan itu berasal dari restoran favoritnya di pusat kota. Gue meyakinkan cewek ini bahwa tidak apa-apa kalau dia tidak bisa memasak. Siapa yang peduli, bukan?
Kemudian dia mulai bercerita tentang harinya.
No way, man. Kami hanya bermain-main bersama.
Kami pindah ke sofa setelah selesai makan.
"Jadi, katakan padaku. Bagaimana harimu?"
Gue meletakkan gelas anggur di dekat gelasnya di atas meja kopi, siap untuk berbagi cerita. "Pretty good." Gue memulai. "Ternyata pria yang aku ceritakan beberapa hari yang lalu, dia legit. Setelah mencari info di internet, aku akhirnya menemukan profil lelaki itu. Dia bekerja untuk Warner Music.
"Jadi aku meneleponnya dan kami membuat janji. Hari ini, dia menyuruhku menyiapkan demo untuk para eksekutif. Kemudian, dia secara halus mengisyaratkan bahwa dia akan menyiapkan kontrakku selama aku di studio." Gue mengakhiri narasi ghe dengan mengangkat bahu.
"Oh, my God! Owen! Kamu serius?" Dia berteriak dalam kebahagiaan. Dia tidak memberi gue kesempatan untuk mengonfirmasi sebelum menyelimuti gue dengan kehangatannya. "Udah pasti lah kamu serius. Aku sangat, sangat, sangat bahagia buat kamu. Hari yang kamu tunggu-tunggu akhirnya datang!"
"Yeah?" tanya gue dengan hati-hati dari balik bahunya.
__ADS_1
"Of course!" Dia menjawab dengan sangat yakin saat dia membebaskanku dari pelukan, dengan tangan masih terkait di tengkuk gue. "Sudah waktunya bagi kamu untuk menuai apa yang kamu tabur. Kamu udah melalui banyak hal, Owen. Aku yakin, mulai sekarang, semuanya akan berjalan dengan lancar. Oh, my God, aku sangat, sangat, sangat bahagia!"
Gue menatap matanya. Gue menjelajahi wajahnya. Senyum cerah yang kini terlukis di mukanya membuat dia semakin cantik. Dia terdengar, terlihat, dan terasa begitu ... tulus.
Gue tidak pernah memiliki seseorang yang begitu peduli dengan gue ... sampai bertemu wanita ini.
Dia—bahkan tanpa menyadarinya—membuat gue merasakan hal-hal yang sudah lama tidak gue rasakan, jika pun pernah. Dia membuat gue merasa kalau gue itu penting. Kepositifannya, dukungannya, ketulusannya memberi makan jiwa gue yang kelaparan. Dia menyirami gue dengan banyak perhatian dan mengusir rasa haus yah selama ini gue tahan. Dia—hanya dalam hitungan bulan—menunjukkan kepada anak laki-laki kecil terlantar di dalam diri ghe bagaimana rasanya dikasihi.
Inilah kenapa gue rela berlama-lama menunggu untuk "mendapatkan" dia.
Di samping sensasi pengejaran yang timbul, gue diam-diam juga menikmati kehangatannya. Gue menghujani diri gue dengan kebaikannya sampai saatnya tiba. Dan akhirnya datang juga. Impian gue akhirnya muncul dari balik kehidupan gue yang kacau. Gue akhirnya melihat cahaya di ujung terowongan gelap yang bisa dibilang merupakan nasib buruk gue.
Dan, selamanya, gue akan berterima kasih pada cewek ini atas semua yang telah dia berikan buat gue.
Dia cantik. Dia baik hati. Dia—karena tidak ada kata yang lebih baik untuk mengatakan ini—kaya. Oleh uang dan kepribadian.
Sialan. Dia ... sempurna.
Ya, dia sangat sempurna.
Sejujurnya, gue sendiri pun mengira dia terlalu sempurna untuk berakhir hanya sebagai f*ck buddy. Mungkin nanti, gue bisa bertanya apakah kami bisa berteman. Akan sangat menyenangkan memiliki satu orang baik seperti dia dalam hidup gue.
Namun, secara keseluruhan, itulah dia. A friend. With benefits. Tetap saja, hanya sekadar teman. Sedikit hiburan di saat gue mencurahkan seratus persen dari diri gue untuk tugas yang harus gue kerjakan; musik gue.
Gue sungguh-sungguh telah berjuang untuk impian gue sepanjang hidup gue. Gue tidak hanya tidak ingin diganggu di saat genting seperti sekarang ini, akan tetapi juga tidak bisa. Tidak boleh. Gue tidak boleh membagi fokus gue, atau teralihkan saat sudah berada sedekat ini dengan kontrak. Begitu dekat, sampai-sampai gue sudah bisa merasakan manisnya menjadi bintang di industri musik.
Tidak peduli seberapa sempurnanya dia.
Sayang sekali gue sedang tidak mencari gadis yang sempurna atau wanita yang tepat untuk membangun rumah tangga bersama. Dia akan menjadi gadis yang baik, wanita yang tepat, yang laki-laki baik-baik bawa pulang untuk diperkenalkan kepada orang tua.
Pun sayang sekali, sungguh, gue tidak punya satu pun dari mereka.
Sungguh sangat disayangkan karena kesempurnaannya hanya tepat untuk saat ini.
__ADS_1
Bersambung...