Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
52. Angga : Kesempatan Kedua Untuk Gue


__ADS_3

Apa yang baru saja dia katakan?


What. The. F*ck?


"What the f*ck, Ngga? Lo gak dengerin gue?" protes Oliver.


Yep, kalian melihat dengan benar. Sahabat terbaik yang membuatk gue takut selama beberapa bulan terakhir ini sekarang meminum minuman yang gue sediakan layaknya itu hanyalah air putih buasa dan dia sedang kehausan, terdampar di Sahara.


Seharusnya gue tahu ada yang tidak beres ketika gue melihat bokongnya masuk dari pintu. Gue seharusnya tahu kalau kemunculannya tidak akan membawa kabar baik. Seharusnya gue tahu ketika gue melihat Oliver dan dia hanya melambaikan tangannya untuk meminta whiskey neat. Gue seharusnya sudah tahu.


Ketika bajingan yang paling keras kepala di planet ini muncul di bar gue setelah meninju muka gue sampai babak belur, memberi gue the silent treatment selama berbulan-bulan, gue seharusnya tahu ada sesuatu yang salah.


Dan memang begitu. Sesuatu yang sangat, sangat, sangat salah.


"Woi, santai, Bro. Lo pengen bikin diri lo sendiri pingsan apa gimana, nih?" Gue memperingatkan, meraih botol yang dipegang Oliver begitu erat seperti tali penyelamat.


Dia mengibaskan telapak tangan gue. Dengan keras. Sial, itu menyakitkan.


"Iya, iya, iya. Gue pengen baaaanget pingsan dan gak sadar-sadar lagi," ungkapnya dengan pengucapan yang tidak jelas. Dia tiba-tiba saja terkekeh. "Lo sadar, kan, kalau yang barusan gue bilang itu lucu banget? Gue mencoba untuk knock down diri gue sendiri setelah tahu kalau adik perempuan gue di-knocked-up sama cowok berengsek itu." Dia tertawa lagi. "Bajingan itu!"


Gue secara refleks meraih tangan Oliver sebelum dia bisa melempar botol dalam genggamannya itu.


Oke. Sudah waktunya untuk pergi.


Gue mengangguk pada Bono yang telah memperhatikan kami dari tadi dan dia balas mengangguk.


Salah satu petugas keamanan lain muncul beberapa menit kemudian. Bono dan Bang Togar menopang, atau harus gue katakan membawa, tubuh teman gue yang teler ke luar dari pintu belakang Paradiso dan masuk ke dalam mobil gue. Gue memberikan kunci mobil kepada Bono agar dia bisa mengikuti gue dan membawa pulang mobil Oliver ke kondonya.


Gue melirik pria di kursi penumpang itu. Dia sudah benar-benar pingsan sekarang.


Dan Oliver tidak pernah semabuk ini sejak kami lulus kuliah. Fakta ini adalah cara sempurna untuk menggambarkan betapa kacau pikirannya karena berita itu.


Berita itu.


Gue ... gue menarik napas dan akhirnya punya waktu untuk memprosesnya sendiri.


Olavia sedang hamil.


Dan selama ini dia menyembunyikannya dari keluarganya.


Apakah Raisa sudah tahu?


Gue menggelengkan kepala. Kalau Raisa tahu, dan dia tahu bahwa keluarganya tidak tahu, dia tidak akan pergi ke luar negeri untuk berbulan madu (lagi) sekarang. Dia akan menempel di pinggul Ola dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu untuk memastikan Ola mendapatkan semua yang dia inginkan.


Namun, kenyataannya adalah ... dia tidak mendapatkan itu.


Keluarganya saja baru mengetahui hal ini. Dari seorang dokter yang tidak tahu bahwa dirinya baru saja membongkar rahasia besar pasiennya sendiri.


Gue ingin tahu apakah bajingan itu tahu?


Gue akan mempertaruhkan semua kekayaan yang gue punya dan memilih opsi tidak. Bajingan itu pasti tidak tahu. Atau, setidaknya, mari bertaruh untuk itu. Gue tidak ingin memikirkan pilihan lain. Jika dia tahu, akan tetapi memilih untuk tidak muncul ....

__ADS_1


Mobil tiba-tiba saja berbelok.


Gue tidak ingin memikirkannya.


Gue tidak ingin memikirkan betapa kesepiannya wanita pujaan gue selama ini. Ghe tidak ingin memikirkan tentang ....


Mobil bergoyang lagi.


F*ck, tidak. Berhentilah berpikir dan fokuslah pada jalanan, Angga!


****


Gue terbangun dengan lidah basah di wajah gue. Toto menjilati muka gue dengan sangat gembira seolah dia mencoba untuk membantu gue bangun dan mencuci muka dengan air liurnya. Gue rasa dia senang akhirnya kami bertemu kembali.


Gue juga, Buddy. Gue juga.


Gue bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dengan benar kali ini.


Tidak ada suara yang datang dari sekitar apartemen. Gue mengintip ke kamar Oliver dan di sanalah dia. Masih berbaring telungkup dan telan jang bulat. Dia pasti kehilangan pakaiannya suatu waktu di malam hari. Gue setengah tak habis pikir setengah tertawa. Sepertinya beberapa hal seperti itu tidak akan pernah berubah.


Gue menutup pintu lagi dan berjalan ke dapur untuk mengisi ulang cawan makan Toto.


Si Siberian Husky langsung saja menyerbu makanannya.


"Oke, Buddy. Gue harus pergi dulu. Lo jaga benteng dan jaga teman kita, ya?" Gue memberi tahu Toto sambil mengusap kepalanya.


Dia tidak mendengarkan gue dan terus saja memakan makanannya.


Gue terkekeh lagi. "Gue bakal balik lagi nanti."


****


Gue pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu mampir di kedai kopi kecil di seberang kantor Ola untuk membeli selusin cupcake kesukaan wanita gue itu.


Ketika gue berbaring di tempat tidur tadi malam, melanjutkan kegiatan berpikir gue setelah hampir mati di jalan karena terdistraksi emosi, gue ingat bahwa asistennya Ola sering pergi ke Beniqno dan meminta menu yang sama setiap hari. Kalau tidak asistennya, akan ada saja orang-orang dari layanan pengantar makanan yang memesan menu itu untuk diantarkan ke kantor Ola. Gue ingat benar karena gue pernah beberapa kali menyiapkan pesanannya.


Gue pikir itu cuma obsesi wanita gue dengan makanan kami yang memang enak dan keengganannya untuk bertemu dengan gue sehingga dia merasa harus mengirim seorang kaki tangan.


Sekarang gue tahu yang sebenarnya. Dan, sialnya, gue sadar gue terdengar seperti bajingan yang egois.


Gue melirik kotak di kursi penumpang.


Gue sungguh berharap si bayi memiliki sweet tooth seperti mamanya yang manis.


****


Gue melihat Om Arif ke luar dari kamar Olavia saat gue ke luar dari lift. Senyumnya menyapa diri gue yang mendekat. "Bagaimana kabar kamu, Angga? Sudah lama kita tidak bertemu, ya." Dia mengulurkan tangannya untuk gue jabat.


"Ah, sehat, sehat, Om. Iya, nih," jawab gue saat kami berjabat tangan. "Agak sibuk dengan bar dan sekarang klub." Gue mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.


Om Arif menepuk pundak gue beberapa kali. "Ya, ya, ya. Om dengar soal itu dari Oliver. Bagus. Om senang dengar kamu bisa melebarkan sayap di dalam dunia bisnis."

__ADS_1


"Iya, Om. Saya juga senang bisa maksimalkan gelar sarjana saya," canda gue.


Dia tertawa.


Sudah menjadi lelucon dalam keluarga bahwa gue adalah satu-satunya putra dari legenda band rock yang tidak mewarisi bakat bokapnya dalam musik. Sebaliknya, gue malah memiliki kemampuan untuk bermain angka dan mengelola berbagai hal dari nyokap gue.


"Bagaimana kondisi Ola, Om?" tanya gue lagi, tanpa basa-basi sambil mengangguk ke pintu.


Bokap dari dua orang yang berarti di dalam kehidupan gue itu melihat ke belakang seolah-olah dia bisa melihat anak perempuannya yang berada di dalam melalui dinding sebelum menjawab pertanyaan gue. "Dia mengalami ... hm, Om lupa apa namanya. Yang jelas, itu akibat dari morning sickness yang lumayan buruk. Dokter bilang sama Ola kalau dia gak perlu khawatir. Tapi, setelah itu, dia menjelaskan kepada kami bahwa kondisi Ola sebenarnya bisa berdampak buruk untuk bagi si ibu dan janin. Syukurlah mereka baik-baik saja sekarang. Dokter bilang kita tetap harus jaga-jaga." Om Arif mengembuskan kekhawatirannya bersama dengan udara yang ke luar dari paru-parunya.


Oh, ****.


"Ya, sudah. Ayo, masuk," ajaknya kalakian sambil kembali menuju ke kamar. "Karena kamu ada di sini, Om rasa kami membutuhkan bantuan kamu. Om pikir tantemu dan Om bisa pulang sebentar untuk berganti pakaian. Om sudah coba menelepon Oliver, tapi dia tidak menjawab."


"Tentu saja tidak, Om. Dia sedang tidak bisa menjawab telepon sekarang." Gue memberi tahu. "Oli masih tidur untuk menghilangkan efek alkohol dari dalam sistemnya."


Kepala keluarga Arifin itu menghentikan langkah. Dia menghela napas panjang lagi. "Yeah." Dia mengangguk, sepertinya melakukan percakapan internal dengan dirinya sendiri. "Om bisa mengerti soal itu. Oli, dia ...."


Kalimat Om Arif berhenti di sana.


Gue kembali mengekor di belakangnya. Sebelum membuka pintu, Om Arif melihat ke belakang dan berkata, "Om harap itu akan berhasil." Dia mengangguk ke kotak yang sedang gue bawa.


What ...?


Tawa kecilnya masuk ke kamar saat pintu terbuka dan memperlihatkan wanita pujaan gue yang terbaring di ranjang rumah sakit, terlihat agak pucat dan kurus menurut selera gue.


"Lihat siapa yang datang," kata Om Arif.


"Hei, Angga," sapa Tante Yuni dari kursi di samping tempat tidur. Dia lantas berdiri dan berjalan ke arah gue. "Senang sekali melihat kamu di sini. Udah lama banget kamu gak mampir ke rumah."


Gue menerima pelukan hangat wanita itu. "Hai juga, Tante. Iya, nih. Kapan-kapan Angga mampir lagi, deh."


Senyum lebar mewarnai wajahnya yang mulai keriput namun tak kehilangan kecantikannya itu. "Tante tunggu, ya."


"Siap, Tante."


Namun, sebelum gue bisa berkata-kata lebih banyak lagi, wanita pujaan gue, cinta dalam hidup gue nyeletuk, "Ngga, lo bawain gue cupcake?"


Gue melihat ke kotak di tangan gue lalu ke arah Olavia. Meski wajahnya masih sedikit kuyu, akan tetapi gue suka sinar yang ada di matanya saat melihat kotak berlogo kedai kopi dan bakery favoritnya itu. "Hm-mm. Nih." Gue meletakkan kotak itu di pangkuannya.


Olavia terlihat tidak sabar untuk membuka dan segera menikmati cupcake-cupcake itu. Gue hanya bisa terpana melihat dia. Sibuk menyimpan setiap guratan kebahagiaan, kepuasan, yang ada di wajahnya saat dia memasukkan kue mungil cokelat dengan topping krim cokelat dan taburan cokelat chips ke dalam mulutnya. Sibuk menyimpan suara lenguhan yang gue yakin secara gak sadar dia keluarkan saat bakery good itu menyentuh aetiap sensor pengecap di lidahnya.


Saat ini juga, gue bersumpah pada diri gue sendiri untuk selalu ada buat dia. Memenuhi semua kebutuhan dan keinginan dia. Menjadi tempat dia bersandar. Mulai sekarang.


Saat ini juga, gue bersumpah pada diri gue sendiri untuk berusaha sekuat tenaga demi menebus semua kesalahan yang pernah gue lakukan ke dia. Untuk memperbaiki hubungan kami, mengembalikan kepercayaan dan cinta dia untuk gue.


Saat ini juga, gue bersumpah pada diri gue sendiri untuk tidak hanya ada untuk Olavia, akan tetapi juga untuk janin yang ada di dalam perutnya. Gue tidak peduli dari benih siapa dia berasal.


Gue bersumpah pada diri gue sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan ini. Jarang banget seseorang bertemu dengan cinta sejatinya semuda umur gue dan Olavia. Lebih jarang lagi Tuhan memberikan kesempatan untuk pasangan yang sama dua kali.


Kesempatan kedua untuk gue.

__ADS_1


****


__ADS_2