Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
20. Angga : Sahabat Sialan


__ADS_3

Shiiiiiiit. Ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh. Cuma dia satu-satunya yang gue punya. Dia tidak bisa ikut-ikutan tidak menginginkan gue juga. “Whaaaat? Jangan gitu, dooong. Kenapa, sih, lo?” Gue mulai merengek. Gue harap dia bisa melihat keputusasaan di dalam diri gue dan tidak jadi meninggalkan gue sendiri di sini.


Dia menggelengkan kepalanya lagi.


“Please, Johnny Hunny Bunny, kasih tahu gue kenapa. Kenapa, ha? Kenapa?” Gue menggoyang-goyangkan botol itu sehingga ada beberapa tetes air yang tumpah ke tangan gue. "Ups!" Gue lantas menjilat bagian tangan gue yang basah. Si John ini tidak boleh terbuang percuma.


Gue melanjutkan aksi memelas gue lagi. "Please, Hunny Bunny Sweetie, pleaaaaaaase." Setelah mengucapkan kata-kata itu, gue sekonyong-konyongnya teringat akan panggilan kesayangan Tante Yuni pada anak perempuan semata wayangnya.


Mamanya selalu memanggil Olavia dengan kata itu. Sweetie. Benar, sih. Olavia memang orangnya sweet.


"Iya, kan, John?"


Namun, sebelum Johnny Hunny Bunny Sweetie bisa menjawab pertanyaan terpenting yang gue punya di antara semua pertanyaan penting yang ada di seluruh dunia, ponsel gue berdering. Awalnya gue merasa sedikit kesal. "Apa-apaan coba, kan? Katanya smartphone. Tapi, kalau memang dia se-smart itu, kenapa gak bisa jawab telepon sendiri? Kenapa harus gue yang angkat?"


Lamun, lama-kelamaan, gue malah dibuat terkekeh oleh nadanya. "Sialan. Ini nada dering ternyata enak juga buat joget."


Gue lalu mengayunkan pinggul gue ke kiri dan ke kanan, ke kiri dan ke kanan, beberapa kali lagi ke kiri dan ke kanan. "Wait, ada yang salah sama gerakan gue." Karena tiba-tiba saja gue merasa pantat gue mulai terbakar. Apa yang sedang terjadi? Gue melihat ke bawah, ke tempat kejadian peristiwa, dan menemukan jawabannya.


Sialan! "Gue gak pakai celana panjang." Jelas celana boxer yang ada tidak dibuat untuk menangani ke-hot-an goyangan gue. Daaaaamn. Gue terkekeh mendengar pemikiran gue sendiri.


Meskipun goyangan gue sangat bagus, dan hot, gue lebih harus menjaga pantat gue yang jauh lebih hot.


Pantat hot gue membikin gue mengeluarkan tawa dari dada bidang nan juga hot ini. Sialan. Ternyata gue orangnya lucu juga, ya. Yang barusan itu sangat lucu.


"Tapi, kenapa Olavia gak menganggap gue lucu?"


Sial, sial, siaaaal. Mood gue turun lagi.

__ADS_1


Seperti diberi aba-aba, telepon gue berdering kembali. "Damn it, Angga. Seharusnya lo gak sibuk nari," kata gue pada diri sendiri sembari melihat ke badan gue yang—alamak!, tidak memakai baju. Lagi-lagi gue dibuat cekikikan oleh keabsenan pakaian gue. Sialan.


Nada dering itu terus terdengar. "No! No, no, no. Gue gak boleh nari. Gak boleh. Enggak!" Gue menunjuk pinggul gue yang keras kepala itu dengan serius.


Ponsel gue terus saja berdering. Sebuah pikiran menghampiri gue. Ah! Gue benar-benar harus mengangkat telepon ini. Mungkin penelepon di seberang sana sedang menginginkan gue. Ya, itu sebabnya mereka menelepon. Mereka sangat menginginkan gue. Iya, iya, iya.


Akhirnya, dengan semangat yang membumbung tinggi ke angkasa, gue meraba-raba setiap permukaan sebelum menemukan benda penting itu dan dengan hati-hati menggesek layar untuk menjawab panggilan. “Hallooow? Is it me you're looking forrrrrr?” Senandung gue di speaker perangkat di tangan gue itu.


“Sial. Lo mabuk, ya?” Seseorang di seberang sambungan berkata.


Seketika saja gue merasa ofensif. "Gimana caranya lo tahu, ha? Siapa yang ngasih tahu? Bilang ke gue! Bilang! Siapa bilang kalau gue mabuk? Kenapa? Kenapa mereka bilang begitu? Jadi orang jangan sok tahu!”


Merasa sangat bingung, gue lalu berkata pada diri sendiri. “Gue gak ngerti kenapa orang-orang berpikir gak apa-apa membicarakan orang lain di belakang punggung mereka. Moral kita sudah sangat kacau hari ini sehingga membuat gue sangat sedih.”


“Sial. Sial, sial,” gumam orang di telepon berulang kali. Beberapa detik kemudian, dia diam. Namun, gue masih bisa mendengar suara helaan napasnya. “Angga, Bro. Ini gue, Oliver." Lalu diam lagi. "Lo okay, Bro?"


Mendengar nama sahabat gue, gue kembali menjadi bersemangat. “Oliver? Oliver sahabat gue? Oli, my man! Sahabat gue yang saudara perempuannya gue cintai setengah mampus tetapi tidak membalas cinta gue? Oli yang punya adik perempuan yang kemarin ngasih tahu gue kalau dia gak akan pernah mencintai gue? Oli, kakak dari perempuan yang sukses besar bikin gue patah hati lagi malam ini?”


Namun, kemudian gue jadi ingat sesuatu. Gue tidak bisa menahan tawa. "Oliver, yang adiknya tadi lagi make out sama cowok di sofa apartemennya dia?" Gue tertawa lagi. "Anjing. Gue tadi lihat mereka lagi dry humping di sofanya dia." Gue terus tertawa. Dan tertawa lagi. Dan lagi. “Persetanlah. Gue ketawa keras banget sampai bikin perut gue sakit.” Gue memberi tahu seseorang yang mengaku sahabat gue itu. "Dia nyium cowok lain dan gue ketawa."


Tawa gue sekonyong-konyongnya berubah menjadi isakan.


"Shiiiit. Sial. Sial. Sial. Anjing. Tai. Sialan." Serangkaian kutukan nyaring terdengar melalui jaringan nirkabel yang sedang berlangsung.


"Woi! Siapa pun lo, lo pikir lo siapa mau ngata-ngatain gue seenaknya, ha? Jangan ngata-ngatain gue, please." Guee memohon di antara tangisan. “Gue lagi sedih, tahu gak lo? Gue sedang terluka. Tapi, ah! Gue seharusnya gak ngasih tahu lo. Cowok kayak gue seharusnya gak punya perasaan.” Gue menyeka hidung gue ke baju kemeja favorit yang tahu-tahu sudah ada di sebelah gue.


"Sorry, Bro."

__ADS_1


“Tapi, gak apa-apa sedih sebentar, kan? Gak apa-apa untuk jadi gak baik-baik aja, kan? Cowok, kan, juga tetap termasuk bagian dari manusia. Walau pujaan hati gue selalu bilang kalau gue ini beruang kutub, gue sebearnya manusia, kok." Gue membuang ingus lagi, lebih lama kali ini.


Orang di seberang ponsel gue tergelak. “Please, udahan lo buang ingusnya. Jijik gue."


"Gak bisa! Hidung gue meler," protes gue. "Masa gue biarin aja? Nanti kalau ingusnya meleleh ke mulut gue gimana? Masa gue minum?"


Penelepon itu mengeluarkan suara mual di tengah-tengah tawanya. "Stop it, *******!"


Aku juga tidak bisa menahan tawa karena hampir berhasil membuatnya muntah.


Namun, tiba-tiba saja gye merasa dia terlalu banyak tertawa sehingga tawa itu mulai menyinggung perasaan gue lagi. "Kenapa lo ketawa? Apa yang lo ketawain? Lo ngetawain gue, ya?"


"Iya lah, Idiot. Gue lagi ngetawain elo," jawabnya tanpa ragu dan tertawa lagi. “Lo kalau mabuk suka lucu. Sensitif lagi. Kalau tahu gue bakal ketemu sama versi konyol lo ini, gue udah rekam percakapan kita dari tadi. Sial. Kenapa gak kepikiran, sih?”


“Lo bukan orang yang baik. Lo tertawa di atas kesedihan gue,” ungkap gue sembari mencibir.


Dia tertawa lagi.


Dia membuat gue sedih lagi. “Gak ada yang peduli sama gue.” Gue akhirnya meletakkan telepon genggam itu di atas meja dan berbalik menghadap Johnny Hunny Bunny Sweetie.


"Gak ada yang peduli sama gue," ulang gue pada botol itu.


Dia hanya menatap gue.


Kesal karena dia hanya menatap terus tanpa memberi tanggapan, gue lalu mencengkeram lehernya dan mengangkat bibirnya ke bibir gue. Gue menelan satu tegukan besar dari perutnya. Sekali lagi. Dan lagi.


Kepala gue berputar. Semakin berat seiring dengan setiap detik yang berlalu. Gue mengencangkan cengkeraman gue pada botol, membawanya ke dalam pelukan, dan meletakkan kepala gue yang berputar dan berat di atas meja. Menutup mata, gue berkata kepada Johnny Hunny Bunny Sweetie dalam kegelapan penglihatan gue. "Yoklah, tidur bareng gue, Johnny Hunny Bunny Sweetie."

__ADS_1


Gelak tawa dari suatu tempat adalah hal terakhir yang gue dengar sebelum dunia gue menjadi ... sirna.


Bersambung...


__ADS_2