Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
48. Ola : Rekapitulasi Dua Minggu Ini


__ADS_3

Oh, God. Oh, God. F*ck.


F*ck. F*ck. F*ck. F*ck. F*ck. F*ck.


F*CK!


Aku ... hamil.


Sembilan buah tes kehamilan yang berjejer di wastafel menyatakan bahwa aku ... hamil. Yang terakhir, yang kesepuluh dari sepuluh buah testpack yang aku beli dengan tergesa-gesa pagi ini, yang kupegang di tanganku yang gemetar mengatakan hal yang sama.


Aku sedang ... hamil.


Bagaimana ini bisa terjadi?


****. Aku tidak sedang bertanya soal teknisnya. Aku tahu itu. Aku tahu alasannya.


Aku tahu persis siapa yang menjadi ayah dari calon bayi yang ada di dalam perutku.


Aku hanya ... tidak bisa memikirkan soal itu.


F*ck. F*ck. F*ck. F*ck. F*ck. F*ck.


Kusentuh perutku yang masih rata dengan tangan gemetar.


Aku hamil. Aku sekarang punya bayi dalam perut ini. Seorang bayi sedang tumbuh di dalam perutku.


Apa yang harus aku lakukan?


F*ck. F*ck. F*ck. F*ck. F*ck. F*ck.


Aku benar-benar harus berhenti mengumpat. Kata-kata kotor itu tentu berdampak tidak baik untuk bayinya, bukan?


Fu—fudge!


Aku punya bayi?


Kakiku terasa lemah. Aku benar-benar harus duduk. Aku butuh tempat duduk. Di mana aku akan duduk? Di sini, di lantai kamar mandi ini? Oh, okay but no. No, no, no. Aku tidak bisa memikirkan semua kuman yang ada di sana di saat seperti ini. Namun, aku benar-benar perlu duduk sebelum kakiku menyerah pada tubuhku sendiri.


Please, please, jangan. Aku tidak bisa menambahkan jatuh ke dalam hal-hal yang akan memberikan dampak buruk bagi bayi yang sekarang aku punya. Kepanikan yang kualami sekarang sudah cukup untuk ikut membuatnya stres.


Iya, kan? Benar, kan?


Oh, my God. Aku tengah mengandung bayi di dalam tubuhku.


Apa yang harus aku lakukan?


Mama. Aku membutuhkan Mama.


Namun, kami sedang berada di dalam situasi yang cukup baik. Kami tidak sedang saling berkomunikasi. Aku tidak berbicara dengannya. Aku masih tidak dapat berbicara dengannya. Meski aku sudah berjanji pada Raisa bahwa aku akan melakukannya, akan tetapi aku tetap tidak bisa menghubunginya terlebih dahulu.


Ff—


Shii—


Fuu—shiiit!


Apa yang harus aku lakukan, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Kurasa air mata mengalir di wajahku, lalu jatuh ke kulit lenganku yang kini sedang memeluk lututku. Suara isakanku memenuhi ruangan. Meskipun aku tidak sendirian, fakta bahwa stik-stik itu memberi tahu aku soal kehamilan yang tidak pernah direncanakan apalagi diharapkan, bahwa aku memiliki seseorang lagi di dalam perut ini, membuatku merasa lebih kesepian dan tidak berdaya daripada sebelumnya.


Ada bayi di dalam perutku.


Realitas, pada akhirnya, meresap. Aku punya bayi. Aku tengah mengandung seorang bayi. Bayi Owen.


Oh, my God.

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan?


Mengingat terakhir kali aku melihat Owen, dan bagaimana cara dia mengakhiri hubungan denganku, hatiku hancur lagi.


Aku sakit hati untuk bayinya.


Aku terluka untukku.


Bagaimana aku bisa melewati ini?


****


Aku memberi diriku kesempatan untuk bersedih. Selama sekitar tiga puluh menit aku duduk di lantai kamar mandi, menangisi patah hati dan kenyataan yang harus kuhadapi seorang diri.


Aku memberi diriku kesempatan untuk memproses apa yang sedang terjadi. Bagaimana situasi ini—jika stik-stik yang bertuliskan 99% akurat itu benar—pada dasarnya akan mengubah semua aspek. Hidupku. Kehidupan keluargaku. Bagaimana reaksi mereka jika mereka tahu bahwa aku tengah mengandung bayi yang ayahnya bahkan tidak peduli padaku.


Aku ....


Aku lalu memutuskan untuk mengesampingkan pikiran-pikiran menyedihkan itu. Aku lantas segera menyeka air mataku. Dengan kaki yang masih tidak stabil, aku ke luar dari kamar mandi dan mencari ponsel.


Aku menelepon ke tempat praktek dokter OBGYN-ku dan dia menjadwalkan kunjunganku pada Senin siang.


Aku ....


Tarik napas dalam-dalam, dan keluarkan.


Sekali lagi.


Dan lagi.


Oke.


Aku akan melihat apa yang terjadi dan mulai memikirkannya dari sana. Aku belum bisa membuat rencana jangka panjang. Aku tidak mau.


Bisa saja sepuluh buah stik testpack yang katanya mempunyai sembilan puluh sembilan persen akurasi itu salah, kan? Bisa saja aku termasuk ke dalam nol koma satu persen itu.


Kalaupun tidak, kita lihat saja nanti.


Ya. One day at a time. One foot in front of another.


Mantra baruku.


One day at a time.


One foot in front of another.


****


Hari-hari datang dan pergi.


Pada hari Senin siang aku memberi tahu Renata bahwa aku mempunyai sebuah agenda darurat. Dia lantas saja memberiku pandangan yang menyeluruh, mengamatiku. Seolah-olah dia tahu aku berbohong. Mungkin saja dia memang sudah tahu. Aku tidak pernah menjadi pembohong yang baik.


Aku bertemu dengan Dokter Sheila yang mengkonfirmasi kehamilanku. Bayi di dalam perutku sudah berusia dua belas minggu.


Tiga belas minggu sekarang.


Rasa percaya tidak percaya yang kualami, rasa tidak ingin menerima ini sebagai kenyataan dihapuskan oleh suara detak jantung yang kuat dan teratur itu. Seakan bayi di dalam sana ingin membuktikan eksistensinya padaku dan berkata, "Hey, Mama. Masih gak percaya kalau aku ada?"


Yeah, well ....


Dokter Sheila memberi saran agar aku menggunakan sebuah aplikasi panduan kehamilan. Aplikasi ini dapat memberi tahu kita apa pun yang perlu kita ketahui tentang kehamilan. Dikatakan bahwa bayiku sekarang sudah sebesar buah lemon!


Wow.


Bayi lemonku.

__ADS_1


My baby.


Oh, my God.


Aku masih tidak percaya bahwa aku punya bayi. Ini sesuatu hal yang luar biasa dan menakutkan dalam satu waktu.


Bati ini berhasil membuatku kewalahan secara fisik dan mental. Setelah aku benar-benar percaya bahwa aku sedang mengandung, tanda-tanda kehamilan mulai muncul. Atau aku saja yang baru menyadari bahwa tubuhku mulai berubah. Dan aku ....


Sudah kubilang, kenyataan ini membuatku girang karena aku sedang mengandung seorang bayi Bayi!


Aku akan selalu ingat ketika pertama kali aku melihat benda kecil itu di layar. Dokter Sheila menunjukkan bagian-bagian tubuh yang sudah mulai terbentuk dan aku ....


Dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang begitu kuat, melebihi kuatnya perasaan yang kurasa pada bayiku sebelumnya.


Saat itu juga, aku membuat keputusan bahwa aku akan merawatnya, menjaganya, membesarkannya. Tidak peduli jika tidak ada yang mendampingi. Apa pun yang datang menghadangg, kami akan menghadapi hidup bersama; aku dan bayiku.


Pengambilan keputusan itu mudah, semudah bernapas. Aku melakukannya secara naluriah.


Apakah aku akan menjadi ibu yang baik? Aku tidak tahu. Apakah aku akan mencoba untuk menjadi yang terbaik? Tentu saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Dan itu akan cukup.


Aku harap aku akan cukup untuk bayiku.


****


Aku membeli setiap buku tentang kehamilan yang bisa kidapatkan. Aku menanyakan semua yang bisa kutanya kepada Dokter Sheila. Aku bahkan menanyainya kenapa aku tidak mengalami apa yang mereka sebut dengan morning sickness.


"Setiap kehamilan berbeda, Ola. Kehamilan memengaruhi setiap wanita dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa calon ibu memang mengalami morning sickness yang sangat parah, beberapa memilikinya pada tingkat yang lebih ringan, dan sebagiannya lagi, seperti kamu, tidak mengalaminya.


"Morning sickness, bagi yang lain, bahkan terjadi pada mereka di malam hari. Tergantung pada individu masing-masing. Apa yang saya katakan itu juga bukan hal-hal yang pasti. Yang jelas, kamu harus fokus pada hal-hal yang dikatakan oleh tubuh kamu.


"Jika kamu tiba-tiba menginginkan sesuatu yang manis, kadang-kadang itu adalah hasil dari penurunan gula darahmu. Itu berarti kamu boleh mengkonsumsinya, tapi jangan terlalu banyak. Jangan juga jadikan food craving sebagai alasan untuk mengkonsumsi makanan secara berlebihan." Dokter muda itu memperingatkan dan menatapku seolah mengatakan "kurangi konsumsi cupcake-mu, ya, Ola". "Oke?"


Oke, oke. Noted, Dok.


"Kamu akan baik-baik saja, Olavia. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu lebih kuat dari yang kamu tahu." Dia menepuk tanganku dengan lembut.


Aku ingat mataku berkaca-kaca mendengar kata-katanya.


Aku harap Anda benar, Dok.


****


Aku menggigit burger itu.


Aku menyuruh Renata untuk membelinya di Beniqno, lengkap dengan milkshake dan kentang goreng keriting khas mereka. Aku tengah berada di surga makanan ketika ponselku berdentang menandakan ada pesan masuk.


Pesan dari Raisa.


Raisa : Jangan buka situs gosip!


Raisa : jangan lakukan apa pun sebelum gue sampai di apartemen lo malam ini


Raisa : please


Raisa : sekali-kali nurut sama gue


Raisa : please Ola!


Hm. Okelah kalau begitu.


Nah, coba tebak apa yang kulakukan?


Yep. Seperti anak-anak lain dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, aku melakukan apa yang nyatanya sudah dilarang.

__ADS_1


And ... say what?


Bersambung...


__ADS_2