Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
19. Angga : Johnny Hunny Bunny Sweetie


__ADS_3

Gue mengembuskan napas sebelum mengulangi kata-kata gue. Anjinglah cinta. Bikin gue lembek kayak plastisin. “Olavia, Oli nelepon gue minta tolong buat ngecek kalian berdua. Katanya dia gak akan balik sampai minggu depan. Gue pikir gue bisa bawa Toto pulang biar lo bisa balik ke apartemen lo. Dan ... melanjutkan bisnis lo.” Gue melambaikan tangan sembarangan ke arah si Berengsek yang tengah meraih tas gitarnya. Syukurlah dia sudah memakai bajunya kembali. Gue tidak membutuhkan pengingat lagi soal apa yang gue lihat tadi. Gue yakin ingatan itu akan tersimpan selamanya di otak gue ini.


Sebelum Bryanna dapat menanggapi, si Berengsek, gue tidak sudi menyebut namanya, berkata, “Cantik. Aku balik dulu.”


What the ....


Kepala Olavia berputar begitu cepat, gue khawatir lehernya akan terkilir. "Hah? Masa kamu udah mau pulang aja? Kan, pizzanya belum datang,” bantahnya. "Kamu belum makan malam, lho."


Sekali lagi, what the f*ck? Kenapa Olavia berlagak seperti ini? Seperti babysitter-nya si Berengsek ini? Emang dasar bajingan. Seharusnya dialah yang harus melayani dan menyembah Olavia, bukan sebaliknya!


"It's okay." Si Bajingan—yap, dia barusan naik kelas dari berengsek jadi bajingan di mata gue, mengangkat bahu tak acuh.


“Jangan gitu, dong, Owen.” Olavia melangkah terburu ke arah si Bajingan dan meletakkan kedua tangan kecilnya di dadanya. “Tunggu sebentar lagi aja, ya? Seharusnya udah sampai, sih,” bujuknya seperti sedang berbicara pada anak kecil.


Gue berdiri di sana menyaksikan wajah wanita pujaan gue penuh dengan kekhawatiran soal makan malam si Bajingan yang cuek tidak ada otak ini seperti obat nyamuk listrik yang tidak dicolokkan. Tidak berguna.


Olavia memberi si Bajingan tatapan yang membuatnya mendesah seolah-olah dia melakukan itu demi kepentingan Olavia. Padahal, mau menipu siapa, woy! Yang sedang diurus adalah perutnya. "Oke." Dia menurut dengan setengah hati.


Tailah! Cukup. Gue tidak butuh omong kosong ini lagi.


Bersiul, gue menuju lift. Seketika Toto sudah berada di samping gue. Dan sepertinya takdir sudah merencanakan semua ini dengan begitu matang. Pas di saat itu lift berbunyi dan terbuka. Pak Purnomo, penjaga pintu gedung, datang dengan dua buahkotak di tangannya. "Selamat malam, Tuan," katanya dengan sedikit membungkuk ke gue.


"Pak Purnomo." Gue balik menyapa sembari meraih tali Toto yang ternyata ada di atas meja di bawah foto kaki langit New York City kesayangan Oli.


Toto, yang selalu ramah kepada semua orang kecuali si Bajingan, dengan senang hati ikut menyapa pria paruh baya yang masih berseragam itu.


Pak Purnomo tertawa. "Duh, saya lupa. Selamat malam, Tuan Toto."

__ADS_1


"Pak Purnomo, apakah itu pesanan saya?" tanya Olavia, memotong basa-basi kami. Gue melihatnya berjalan mendekat ke arah kami.


"Benar, Nona."


“Thank God.” Gue dengar dia mendesah. “Benar, kan? Aku udah bilang pesanan kita bentar lagi sampai.”


Gue mendengar si Bajingan tergelak sekali.


Oke, oke, oke. Sekarang benar-benar cukup. Gue sudah kenyang dengan semua ini. Gelak itu isyarat bagi gue untuk betul-betul pergi dari sini.


Gue menyematkan tali ke kalung Toto dan menyentaknya dengan lembut sedikit. Toto paham artinya. Dia lantas mengikuti gue naik ke lift yang menunggu. Ketika menekan tombol yang akan membawa gue ke tempat parkir di basement, gue berharap kepada Tuhan di surga sana agar diberi kekuatan untuk bertemu dengan si Bajingan di Beniqno tanpa ingin mengubah dia menjadi samsak.


Gue berharap sekali gue bisa lulus ujian yang diberikan dunia ini. Meskipun gue tidak tahu pasti bagaimana caranya, gue harap gue tetap bisa ke luar dari sini dengan selamat.


Semoga saja.


Sooooo, beberapa dari kalian mungkin setuju dengan orang-orang yang menganggap gue bodoh. Tolol. Cemen. Menyedihkan. Bahlul. Dan segala sebutan-sebutan lain yang sejenis. Sebagian yang lain bahkan menganggap gue gila. Sinting. Gendeng. Edan. Meskipun demikian, kalian tahu apa?


Gue tidak peduli. Yang ada, gue malah setuju dengan mereka. Gue akui gue memang bodoh dan gila.


Gue bodoh karena telah jatuh cinta kepada seorang gadis yang tidak hanya tidak tahu bahwa gue mencintai dia, akan tetapi juga sedang dalam proses untuk mencintai orang lain. Dan gue gila karena terus merindukan, menginginkan, memimpikan dia, meski gue sadar dengan sepenuhnya bahwa perasaan ini kemungkinan besar tidak akan pernah terbalas.


Bencana banget memang.


Dalam lagu yang dia nyanyikan, Mokita mengatakan kalau dia perlu tahu bahwa dia tidak jatuh cinta sendirian kali ini. Dia takut, ketika dia jatuh cinta sama seseorang, ternyata orang itu tidak mencintainya balik. Nah, siapa pun kalian, kalau kalian datang ke konsernya dia, nih, ya, tolong kasih tahu dia kalau dia tidak perlu insecure, tidak perlu minder. Sebab, di sini, ada gue. Gue yang sudah tahu bahwa gue telah jatuh cinta sendirian, selama ini.


Walaupun gue tahu bahwa itu adalah kenyataan yang harus gue hadapi, gue tetap tidak bisa berhenti mencintai qanita pujaan gue.

__ADS_1


F*ck.


Gue tahu kenapa dan gue sudah bertekad untuk tidak akan pernah berhenti.


Itulah hal bodoh dan gila tentang cinta.


Cinta itu tidak seperti lampu yang punya saklar. Kita mencintai ketika kita mencintai. Kita tidak dapat menyalakan, atau mematikannya, kapan pun kita mau. Atau, dalam kasus gue, ketika gue mendengar bahwa tidak akan pernah ada cinta di antara kami, seperti yang dia katakan di depan gue tempo hari.


Kalian bertanya apakah gue sedih? Iya. Tentu saja.


Kalian bilang kalau situasi gue ini sangat menyedihkan? Iya. Gue juga tahu, kok.


Namun, apa yang bisa gue katakan? Apa yang dapat gue lakukan soal itu?


Tidak ada. Nothing. Nada. Zero. Zilch.


Selain ....


“Mau main truth or dare gak, To?” Gue bertanya kepada anjing yang sedang meringkuk di atas tempat tidur khusus buat dia di sudut ruangan dekat perapian. Telinganya berkedut sekali saat mendengar gue menyebut namanya, akan tetapi dia tetap saja menutup mata. Tidak mengacuhkan gue.


Damn. Bahkan anjing itu tidak mau berurusan dengan gue.


Gue menenggak minuman yang sisa setengah sebelum meletakkan botol di atas meja kopi di depan gue. Duduk berselonjoran di lantai, mata gue sejajar dengan label yang tertempel di botol. "Cuma elo yang gue punya sekarang, John," ungkap gue. Sambil menganjurkan bibir bawah ke arah botol, gue menambahkan. "Gak ada yang menginginkan gue. Gak ada yang sayang sama gue."


Buset! Gue baru saja melihat gambar di botol itu menggelengkan kepala. Dan, benar-benar, deh! Gue kemudian mendengar dia berkata, "Sorry, Bro, tapi jika gue adalah salah satu dari orang di circle lo, gue juga gak pengen disangkut-pautkan sama lo. Idih, ogah."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2