
"Maksud lo apa, Angga?" Aku bertanya padanya. Rasa tidak enak yang ada di dalam kepala seakan ingin memberi tahu bahwa aku mungkin memiliki ide soal apa yang dia bicarakan, akan tetapi hatiku menolak untuk mengakuinya. Tidak. Tidak, tidak, tidak. Dia tidak sedang berbicara soal itu ....
Itu .... Itu ....
Dia tidak boleh berbicara soal yang satu itu!
Tidak, tidak, tidak. Tidak boleh. Tidak sekarang, tidak untuk selamanya.
Tidak! Dia tidak mungkin membicarakan tentang ... malam itu.
Bukan? Iya, kan?
Dadaku rasanya menyempit membuat aku susah untuk menghirup dan mengeluarkan udara.
F*ck.
Okay, okay. Aku memang pernah mengagumi dia, cowok yang ada di depanku saat ini, ketika aku masih muda, masih seorang remaja yang naif.
There, aku sudah mengatakannya.
Aku memuja Anggarasyah Emilio Addams di suatu waktu ketika yang kulihat hanyalah seorang remaja laki-laki kutu buku dan baik hati, yang diam-diam mencuri hatiku dengan tatapan gelapnya nan misterius, senyum rahasia, dan perhatian yang dia berikan kepadaku dari belakang punggung Bang Oli.
Perasaan kagum dan pemujaan yang kurasakan padanya cukup besar bagiku untuk menjadikan Angga sebagai satu-satunya cowok yang membuatku kehilangan keluguanku. Aku cukup memujanya untuk memberinya sesuatu yang sangat berharga sebagai hadiah kelulusannya.
Malam itu, dia membisikkan hal-hal manis di telingaku, dia menjanjikan apa pun padaku. Dan, yes, dia kemudian meninggalkanku sendiri di tempat tidur, menghilang ke dalam udara malam yang tipis, tidak pernah lagi terdengar, atau terlihat keberadaannya. Dia meninggalkanku sendirian, lusuh, dengan seprai berbercak darah dan—tidak terlalu mengejutkan—hati yang patah-patah.
Aku selalu menginginkan apa yang orang tuaku miliki; cinta yang tulus. Jenis cinta yang bertahan selamanya. Dan ketika aku bertemu dan mengenal Angga, versi remajanya berhasil membuatku percaya bahwa dialah orangnya. Bahwa Anggalah the one yang akan memberiku cinta tak lekang oleh waktu yang kucari. Dengan bodoh aku mempercayai harapanku kala itu. Bahwa kami bisa menjadi sesuatu yang sangat, sangat, sangat indah; yang akan bertahan seumur hidup kami.
Dan betapa bodoh, bodoh, bodohnya the teenage version of me.
Dan dari semenjak aku paham bahwa semua yang kupikirkan hanya ada di dalam kepalaku, semua yang kurasakan hanya sebatas perasaanku, aku bersumpah untuk tidak pernah membiarkan siapa pun mendekat lagi.
Tidak dengan cara seperti yang kami lalui sebelumnya.
Itulah kenapa aku sangat bersikeras untuk menemukan seseorang yang dapat menginisiasi reaksi instan yang cukup besar sejak pertemuan pertama kami. Seseorang yang memberi percikan di hatiku, membangunkan kupu-kupu di dalam perutku, mengirimkan sentruman ke sekujur tubuhku. Karena, dengan Angga, semua itu terjadi sebagai akibat dari perasaan yang dibangun, sedikit demi sedikit, hingga tumbuh subur dan pada akhirnya menghancurkanku menjadi keping-keping kecil tak berbentuk. Karena pada akhirnya, pada kenyataannya, usaha, waktu, perasaan, dan harapan semuanya akan menjadi sia-sia.
Lihat berapa banyak hal yang kami buang.
Tidak akan pernah lagi.
Angga menghilang malam itu dan muncul kembali dalam hidupku seperti sebuah trik sulap tidak lama setelah aku lulus kuliah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya dan aku benar-benar mencoba untuk tidak mencari tahu dan tidak peduli. Namun, ketika dia kembali, entah kenapa dia tampak lebih gelap, lebih pendiam, dan pemarah.
But, all in all, semua itu bagus. Karena itu membuat membenci Angga jauh lebih mudah.
Bukannya aku merasa sulit untuk melakukannya sebelum ini.
****. Oke, oke. Iya, iya, iya. Aku mencintai Angga.
__ADS_1
Sekali waktu, di masa lalu yang jauh, aku memberinya hatiku, akan tetapi dia lebih memilih untuk mengambil sebagian dari jiwaku dan membuangnya ke neraka.
Aku pernah mencintai Anggarasyah Emilio Addams. Namun, sekarang tidak lagi.
There, I said it. Happy now?
Angga berdiri di sana, di depanku, masih dalam aksi bungkam seribu bahasa. Matanya yang selalu penuh perhitungan mengkatalogkanku, tidak heran mencatat setiap perubahan yang ada pada ekspresi dan bahasa tubuhku. Namun, dia tidak akan menemukan apa-apa. Karena tidak ada yang bisa mengubah perasaan yang aku rasakan.
Untuk dia.
Tentang kami.
Pada saat ini.
Tidakkah dia tahu diamnya hanya akan memberiku kesempatan untuk berenang di dalam kemarahanku? Tidakkah dia mengerti bahwa semakin cepat kami menyelesaikan masalah ini akan menjadi semakin baik?
Seakan-akan dia bisa membaca apa yang ada di dalam pikiranku, dia berkata, "Gue ngaku ke Oli kalau kita pernah punya sejarah bareng."
Kata-katanya seperti guntur di hatiku.
Apa yang baru saja dia katakan?
Apa yang baru saja dia katakan?
APA YANG BARU SAJA DIA KATAKAN?
"Tadi malam. Dia datang ke bar dan terlihat sangat stres. Terus gue anterin dia balik ke apartemen. Kami ... kami minum. Lumayan banyak. Dan ...." Dia memijat tengkuknya. "Dan ...."
APA YANG BARU SAJA DIA KATAKAN?
Bang Oli sekarang sudah tahu? DIA SUDAH TAHU?
F*ck. F*CK!
Aku ... aku tidak bisa. Aku tidak bisa—aku TIDAK MAU—mendengar apa pun lagi, apa pun yang dia katakan. Aku tidak ingin mendengar apa pun darinya lagi. Ini semua sudah cukup. Semua ini sudah cukup.
Aku tidak percaya dia memberi tahu Bang Oli tentang ... itu. Kami telah berjanji untuk tidak ....
Yeah, right. Lihat apa yang telah terjadi. Janji, janji, janji. Percuma saja berjanji kalau orang yang berjanji tidak menghargai janji yang kalian buat dan kepercayaan yang kauberikan padanya.
F*ck. Thia is so messed up.
Apa yang akan kulakukan? Bagaimana aku bisa menghadapi Bang Oli setelah ini?
F*ck.
Kepalaku mendadak sakit, pusing, berputar. Detak jantungku meningkat drastis, membuat bahuku bergerak naik-turun seiring dengan engahan napas yang kuambil. Darah mendesir di telingaku. Telapak tanganku berkeringat. Mataku buram.
__ADS_1
Amarah. Kemarahan menyebabkan semua itu.
Aku pikir aku tidak bisa lebih marah daripada kemarin. Namun, entah bagaimana, bagaimanapun juga, aku bisa.
Kepalaku rasanya ingin meledak. Mungkin lebih baik jika benar-benar meledak, sehingga aku tidak perlu menghadapi ini lagi.
****. Gelap sekali pikiranku.
Aku menggelengkan kepala untuk menghapus pikiran-pikiran itu. Hal terpenting yang harus dilakukan saat ini adalah menghilangkan sumber masalah ini dari premis. "Keluar, Ngga."
Dia ikut-ikutan menggelengkan kepalanya. "Gak, gue gak mau pergi sebelum lo kasih gue kesempatan untuk menjelaskan. Please, Olavia, biarkan gue menjelaskan semuanya sama lo," pintanya. Penyesalan mewarnai wajah nan tampan itu. "Gue–"
"Gak ada lagi yang perlu lo jelasin. Urusan lo udah selesai di sini. Ke luar."
"Gak, gak, gak. Gue mohon, Olavia. Please. Please kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya," pintanya lagi. Tangannya menggapai tanganku dengan penuh harap.
Dasar bajingan paling keras kepala sedunia.
You know what, Ngga? Ghe ngasih lo kesempatan, tapi lo malah melemparkannya balik ke muka gue.
Jalur-jalur pemikiran seperti ini ... sial. Aku benar-benar akan menjadi gila.
Aku berkedip, berkedip, berkedip untuk menjernihkan pandanganku. Memberi diriku waktu untuk menguasai amarahku.
Angga berdiri lebih dekat padaku daripada yang kuharapkan. Tatapan penuh perhitungannya sudah tidak ada lagi, tergantikan oleh mata cokelat sedih seperti yang dulu ada; ketika dia masih muda dan merindukan ayahnya yang selalu bepergian dengan grup band mereka.
Manik-manik sendu itu mengingatkanku pada pria kutu buku yang aku–
Tidak. Jangan pernah berpikiran ke arah sana!
Dia mengambil langkah lain, membuat kami bahkan lebih dekat lagi sekarang.
Berani-beraninya bajingan ini!
"Jangan! Jangan berani mendekat!" Aku memperingatkan sambil mengulurkan jari telunjuk. Jari itu berakhir hanya beberapa senti dari dadanya.
****.
Panas tubuhnya memancar, mencapai kulitku. Aku menelan ludah. Aku membuat kesalahan saat melihat bola-bola cokelat gelap itu.
Angga menatapku.
Saat itulah dunia ini terasa perlahan memudar dan ... hilang. Yang ada hanya aku dan cowok remaja yang dulu aku cintai itu.
"Olavia, Baby, please. Aku–"
Dan, seperti biasa, dia merusaknya. Namun, sejujurnya, aku harus berterima kasih padanya untuk itu.
__ADS_1
"KELUAR! KELUAR SEKARANG JUGA! KELUAR LO, ANGGA, SEKARANG! JANGAN PANGGIL GUE BABY, GUE BUKAN BABY LO. JANGAN PERNAH PANGGIL GUE DENGAN SEBUTAN ITU LAGI. KELUAR. PERGI JAUH-JAUH DARI GUE!"
Bersambung...