Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
6. Ola : Secangkir Kopi Bersama Owen


__ADS_3

Dasar Beruang Kutub Raksasa Pemarah, Kurang Ajar, dan Suka Seenaknya! Lihat saja. Sekarang kita buktikan siapa di antara kita yang lebih keras kepala.


Aku menyilangkan tangan di dada, menatap lurus ke matanya, dan berdiri tegak setegak-tegaknya. Dia meng-copy ekspresi dan posisiku. Kami melakukan kontes saling tatap, tidak satu pun yang mau mengalah dan mengaku kalah.


Kembali kupusatkan perhatian dan kusibukkan diri dengan berhitung di dalam hati. Tepat pada detik ke dua puluh lima, Angga mengangkat sebelah alisnya.


Pada saat itu aku tahu kalau aku kalah dalam pertempuran kekanak-kanakan ini.


Kenapa? Karena Angga tahu persis bahwa alis hitam lebatnya adalah salah satu titik kelemahanku. Sial!


Aku terengah-engah seperti banteng dan menghentakkan kakiku sebelum menyerbu ke pintu penumpang. Tak lupa, kusenggol tubuhnya dengan sekuat tenaga.


Aduh!


Sialan tubuhnya yang keras.


Apakah aku tidak sadar bahwa aku baru saja bertingkah seperti balita yang ngambekan? Sadar, dong!


Namun, apakah aku peduli? Tentu saja tidak.


Tepat sebelum pintu mobil tertutup rapat, aku mendongak dan melihat bibir atas Anggarasyah Emilio Addams yang sedari tadi bersikap dingin, keras, dan tak acuh, tertarik ke samping. Dia sekilas lalu menggigit bibir bawah untuk menahan gerakannya agar tidak menyebar lebih jauh di bibir itu.


Pemandangan itu membuat aku ... terpana.


Apakah Si Beruang Kutub Raksasa Bertubuh Keras, Pemarah, Kurang Ajar dan Suka Seenaknya itu baru saja ... tersenyum?


Heh? Aku pasti salah lihat.


****


Bagaimanapun, ini hari Sabtu. Dan ini berarti waktunya aku melakukan ritual jogging di trek favoritku di Stadion Gelora Bung Karno. Bunyi buk, buk, buk dari tapak sepatu yang menghantam beton dengan mantap, selaras dengan detak jantungku.


Sinar matahari mengintip di antara pepohonan, burung-burung sibuk membangunkan satu sama lain dan berkicau memberi semangat untuk manusia-manusia pagi yang sudah tenggelam dengan kegiatan pilihan masing-masing. Ada yang baru melakukan pemanasan, ada yang sudah mengayuh sepeda, bahkan para penggemar yoga pun sudah melipat-lipat tubuh mereka dengan mudah.


Smartwatch di pergelangan tangan berbunyi, memberi tahu bahwa aku telah berhasil menaklukkan lima mil target yang kuset untuk hari ini. Aku memperlambat langkah dan berjalan ke arah area Parkir Selatan untuk kembali ke mobil. Terlalu fokus mengurusi headset, aku tidak memperhatikan arah ke mana aku berjalan sehingga tak sadar menabrak sesuatu, atau ... seseorang. Peraduan ini membikin aku mendarat di atas bokong dan mengirim ponsel beserta headset yang baru saja kutanggalkan melayang ke udara dan berakhir di jalan setapak tak jauh di depan.


"Aduh!" Sebuah umpatan yang tidak terlalu kecil ke luar dari bibir ini melalui gigi yang bertaut karena menahan sakit. Sementara menikmati kengiluan di sekitar daerah bawahku, aku berharap kepada Tuhan di surga sana tak ada seorang pun di sekitar yang dapat mendengar perkataan memalukan itu.


Atau, kalaupun ada, aku hanya akan pura-pura tidak bersalah.


Mengasumsikan dari cenat-cenut yang terasa di bokong bagian kanan, aku yakin delapan puluh persen akan meninggalkan taman ini dengan memar seukuran Pulau Kalimantan.

__ADS_1


Nice.


“Oh God, I'm so sorry." Seseorang mengulurkan tangannya ke arahku. "Anda baik-baik saja?"


Otakku butuh sedikit lebih banyak waktu untuk memproses kata-kata sebelum mencocokkan suara dengan data yang ada di dalamnya. Ya Tuhan, suara itu!


Aku mendongak dan menemukan sepasang mata cokelat yang familiar. Rasa khawatir menari-nari di sana.


Okay. Tidak hanya rasa khawatir. Matanya juga berkilat oleh humor.


Akankah aku berhenti menjadi hiburan bagi pemuda ini?


Dan ... siapa sangka aku terhanyut dengan sikap fangirling bodohku lagi. Sialan, otak. Ayo, kerja, kerja, kerja!


Kucoba menghilangkan ketercengangan konyol ini dari sistemku dengan berdeham. “Oh my God, eh! Maksudku. Hm. Ka-kamu baik. Eh, eh. Bukan, bukan, bukan. Bukan kamu yang baik. Aku. Aku baik. Aduh, eng, ehm .... Maksudku, aku baik-baik saja. Aduuh ....”


Dia tertawa.


Baiklah. Aku rasa aku tidak berhasil.


Karena, kalian lihat, kan, betapa kacaunya aku? Kata-kata yang ke luar dari mulutku saja begitu berantakan, apalagi keadaanku di dalam sini!


Sebuah seringai penuh kemenangan dan pesona tidak luntur dari bibirnya.


Tegak, aku mengusap telapak tangan pada running short yang kupakai. Rasa sakit menyengat, membuatku merintih.


Mendengar desisan yang lolos, Owen meraih tanganku tanpa berpikir. "Tangan kamu luka."


"Ah, gak apa-apa, kok," jawabku, mencoba menepis sentuhannya yang tak disangka terasa begitu ... enak? "Aku punya kotak P3K di dalam mobil."


"Oke. Bagus kalau gitu. Ayo." Dia memberi isyarat agar aku jalan duluan. "Biar nanti aku bantu membersihkan lukanya."


Well then.


Tempat parkir jauh lebih ramai karena sebagian orang selesai dengan olahraga mereka dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat jalan menuju mobilku menjadi penuh tantangan. Aku harus beberapa kali mengelak dari rombongan remaja kegirangan yang berjalan sesuka hati mereka sambil terus berusaha mengendalikan diri yang sudah dikuasai rasa gugup sebab jarak Owen yang begitu dekat dan tangannya yang terus menyentuh lenganku.


Calm down, Ola!


Kami bisa mencapai MINI Cooper hijauku kira-kira lima belas menit kemudian. Aku langsung saja mengeluarkan kotak itu dari bagasi.


“Wow! Lengkap banget peralatannya."

__ADS_1


Aku menunduk, mengamati kotak sebesar koper kecil yang baru saja kugeser mendekat. Kutanggapi kalimatnya dengan mengangkat bahu. "Privilege menjadi satu-satunya sepupu perempuan seorang dokter paraniod, kurasa," jawabku enteng. Aku tidak akan malu mengakui betapa aku menghargai keribetan yang Mario sediakan untukku.


Ah, melihat kotak berwarna putih pucat ini membuatku rindu pada si Yoyo Dodol itu.


Mungkin Owen menangkap sentimen yang dalam suaraku, aku tidak tahu, karena dia hanya mengangguk dan membuka kotak. Dia lantas mencoba mengalokasikan hal-hal yang dia butuhkan. "Kamu punya air, gak?"


Aku mengambil satu botol yang kubawa dari rumah tadi dari kursi depan.


Dia bekerja dalam diam. Membersihkan luka yang hanya goresan kecil di telapak tangan kananku dengan penuh kehati-hatian. Sementara itu, aku sibuk mencoba menenangkan jantungku yang melompat-lompat excited sebab kedekatan kami.


Aku berharap detak jantungku tidak terlalu keras sampai-sampai dia bisa merasakannya.


"Ngomong-ngomong," ucap Owen sembari menutup kotak. "Sepertinya kita harus berhenti bertemu dengan cara kayak gini." Mata cokelat panasnya berkilau oleh kilatan iseng.


"Kayak gini gimana?" Kata-kata itu ke luar tanpa koordinasi dari otakku.


Seringai itu kembali lagi. "Yaaa, kayak gini. Kebetulan yang berisiko. Sebelumnya aku buntutin kamu buat ngantar minuman kayak penguntit. Sekarang, aku malah nabrak kamu sampai luka-luka gini."


Elusan halus di atas luka yang sudah dibalut kain kasa membikin napasku tersengal. "Ah, iya," aku berseru dengan suara serak. Cepat-cepat aku membersihkan tenggorokan dan mengalihkan pandangan, berusaha keras agar tidak tersesat di mata itu. "Dan kayaknya aku juga harus berhenti membuat malu diri sendiri."


Gelaknya mengambang di udara. “Siapa bilang? Aku suka, tahu. Lucu soalnya.”


Argh! Lucu tidak masuk dalam daftar komentar yang disukai kebanyakan wanita dari pria, terutama pria yang menurut mereka menarik. Oleh sebab itu hidungku langsung mengerut demi menunjukkan kenyataan itu padanya. "Lucu dari mananya? Aku gak suka terlihat bodoh di depan kamu," balasku, lagi-lagi memuntahkan kata-kata yang tidak difilter terlebih dahulu.


Alisnya serta-merta meninggi, kaget mendengar pengakuanku. Lalu dia kembali menyeringai, puas.


Aku memutar bola mataku sebagai jawaban.


"Jadi–"


"Terima kasih–"


Kami mengucapkannya secara bersamaan. Lalu kita tertawa bersamaan menyadari hal tersebut. Setelah tawa meredup, keheningan menggantikan. Aku menatap kakiku yang masih terbungkus Nike ZoomX berwarna pink-ungu penuh antisipasi.


“Bagaimana kalau kita sarapan dulu?”


Aku mengangguk perlahan, merasa agak kelu pada pertanyaan tak terduga dan sensasi yang ditimbulkannya. Dadaku terasa sesak, tapi sesak yang menyenangkan, dan ada sedikit rasa geli yang terjadi di perutku.


Apakah ini yang mereka maksud ketika mereka mengatakan bahwa ada kupu-kupu di perut mereka?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2