Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
16. Ola : Selow But Sure


__ADS_3

Owen : Hai cantik


Olavia : Hello to you too


Owen : kamu sibuk


Betapa perhatiannya Owen untuk bertanya apakah aku sedang sibuk ketika dia mengirimkan pesan. Sambil tersenyum, aku mengetik balasanku.


Olavia : Gak ah. Selow bahkan


Aku menambahkan emoji menyeringai di bagian akhir.


Owen : good


Owen : mau ketemu lagi gak


Owen : minum setelah aku manggung nanti


Aku menjerit seperti lumba-lumba setelah membaca pesan itu. Oh, my God. Oh, my God! Dia ingin bertemu lagi. Owen ingin bertemu denganku lagi. Oh,my God! Apakah dia juga ingin–


Hatiku melonjak sebab adanya kemungkinan untuk berciuman lagi dengan Owen. Oh. My. God!


Dengan jari gemetar, aku membalas pesannya.


Olavia : I'd love to!


Owen : jam 10


Olavia : Oke.


Owen : Sampai jumpa


Bolehkah aku membalasnya dengan 'tidak sabar untuk melihat kamu dan bertemu dengan bibirmu'?


Oh, my God. Aku sudah gila.


****


Aku sedang menuju tempat parkir di basement ketika ponselku bergetar dengan dengungan yang lebih lama. Aku mengeluarkan perangkat itu dari dalam tas Chanel putih yang tersampir di bahuku dan melihat wajah konyol Bang Oli memenuhi layar. "What's up, Bang?" Aku bertanya. Jarang-jarang hal seperti ini terjadi. Bang Oli tidak pernah meneleponku "sepagi" ini di akhir pekan.

__ADS_1


"Lala," jawabnya menggunakan nama panggilan sewaktu aku masih sebesar boneka di mesin capit. O-ow. Dari nama ini saja aku sudah bisa mencium aroma-aroma tidak sedap. Apalagi aku bisa mendengar keributan yang melatarbelakangi panggilannya. "Sorry. Gue lagi ada di bandara. Gue harus menyelesaikan urusan mendadak yang sangat penting ke Singapura. Gue bisa minta tolong, kan? Tolong jagain Tote sampai hari Minggu.”


"What?"


Aku tidak punya kesempatan untuk mempertimbangkan jawaban. Sebuah pengumuman penerbangan terdengar. “Nah, itu pesawat gue. Sorry banget kalau gue ngerepotin. Tapi, ah, gue rasa wnggak, deh. Lo, kan, juga sayang Tote."


Apa yang bisa kukatakan kalau memang begitu kenyataannya? "Enak aja lo. Tetap beliin gue oleh-oleh!"


“Gampil! Ya, udah, deh. Bye!"


Sambungan lantas terputus.


Aku menghela nafas. No thanks to kakak laki-lakiku satu-satunya, rencana yang aku susun untuk malam ini kemungkinan besar akan gagal. Aku harus menelepon Owen dan membatalkan janji kami. Aku–


Oh, hell no. Tidak bisa. Aku tidak akan melepaskan sesi ciumanku begitu saja!


Noooooo!


****


Gegas aku mencari kontak Owen yang sungguh sulit sekali ditemukan. Begitulah. Kalau sesuatu dikerjakan terburu-buru dan dengan hati yang tidak tenang, pasti terasa sulit. Padahal aku bisa membuka laman pesan kami dan tinggal menyentuh tanda telepon di layar. Namun, tentu saja tidak. Jariku harus tergelincir untuk menyentuh aplikasi tidak penting seperti Instagram, podcasts, bahkan kompas. Oh, my God!


Dan, yang paling penting, semoga saja aku tidak harus melepaskan ciuman yang sudah kutunggu sepanjang minggu.


"Please, please, please. Tolonglah, Owen, angkat teleponnya. Angkat," racauku saat panggilan tersambung.


Terdengar nada sambungan sekali.


Dua kali.


Ti– “Cantik?”


"Oh, my God. Owen! Iya, iya. Ini Cantik. Eh, maksudku Ola." Aku mengoceh. Kuembuskan napas lega. Siapa sangka menunggu panggilan teleponmu dijawab akan menjadi sesuatu hal yang menegangkan begini?


Dia terkekeh di seberang sana. "Ada apa, nih? Aku gak mengharapkan telepon dari kamu."


Lagian, aku baru ingat kalau ini adalah telepon pertama kami. Seharusnya kami tidak membahas hal secanggung ini untuk panggilan sesakral telepon untuk pertama kali. "Ah, iya. Sorry." Aku mengutuk Oliver di dalam pikiranku. “Jadi gini. Engg ... Bang Oli, kakakku, baru aja telepon. Katanya dia harus pergi ke luar negeri dan minta tolong ke aku untuk jagain anjingnya. Jadi ....” Aku terdiam, tidak yakin bagaimana caranya mengatakan apa yang ingin kuutarakan.


“Jadi apa, Cantik?”

__ADS_1


“Hm, jadi … kalau kamu gak keberatan, mau gak kamu aja yang datang ke apartemennya Bang Oli selesai dari Beniqno? Soalnya kalau harus ke sana, kayaknya aku gak bisa. Lagian aku juga harus nginap di sana karena di gedungku gak mengizinkan hewan peliharaan.” Aku menggigit bibir bawahku. “Atau, kita bisa membatalkannya jika kamu gak bisa.” Oi, oi, sungguh berat hati ini menyarankan opsi terakhir. Walaupun demikian, apa boleh buat?


Namun, sepertinya keberuntungan sedang berada di pihakku sekarang. Owen tidak membuatku tenggelam dalam kegugupan terlalu lama ketika dia dengan cepat menjawab, "Kenapa harus dibatalin? Aku, kan, udah bilang pengen ketemu kamu."


"Well ... I don't know," sahutku dengan senyum dalam suaraku yang muncul bersamaan dengan jawabannya dan mengangkat bahu, meskipun sudah pasti Owen tidak bisa melihat itu. "Mungkin kamu terlalu capek buat ke sini."


"Yeah, gak akan," bantahnya cepat. "Ya udah. Kamu kirim aja alamatnya. Nanti aku bakal langsung ke sana setelah selesai di Beniqno."


"Kamu serius?" Dua kata yang dibungkus oleh rasa tak percaya dan bahagia itu terbang ke luar dari mulutku dengan sedikit terlalu antusias.


"Iyalah. Serius." Dia tergelak.


Jawaban tegasnya membuat kupu-kupu di perutku menjadi hiruk. "Oke, deh, kalau gitu." Aku tersenyum malu-malu ke ponselku. Aku tidak bisa berhenti tersenyum. “Sampai jumpa nanti, Owen.”


“Sampai jumpa, Cantik.”


****


Aku masuk menggunakan kartuku ke kondo milik Bang Oli. Gonggongan bersemangat menyambutku ketika pintu lift terbuka. Tote seketika saja berlari ke arahku. “Hei, you big baby,” kataku sembari berjongkok kepada Siberian Husky raksasa yang diadopsi Bang Oli beberapa tahun lalu. Aku menggosok-gosok lehernya. Dia merengek dan semakin mendorong tubuhnya ke tanganku. "You miss me, huh?"


Aku terkikik saat dia menjawabku dengan jilatan di pipi kiriki. "Eeew." Aku tertawa. Tote menari-nari di dekat kakiku dengan gembira. "Ayo, ayo. Aku mau bersih-bersih dulu, ya. Abis itu kita main."


Kudaki tangga menuju ke lantai dua penthouse dengan empat kamar tidur milik Bang Oli. Salah satu dari tiga kamar yang ada di lantai ini adalah kamar khusus untukku. Dia bersikeras aku menyimpan barang-barangku di sini untuk berjaga-jaga.


Kegigihan dan kewaspadaannya sangat berguna di saat seperti sekarang. Aku tidak perlu khawatir tentang apa pun ketika harus tiba-tiba menginap di sini


Eh, eh, eh, ketika dipikir-pikir lagi .... Dia pasti sudah tahu hari seperti ini akan datang. Jadi, aku tidak bisa menolak dengan alasan apa pun saat dimintai pertolongan. Hm.


Ah, sudahlah. Lagian, siapa aku? Aku tentu tidak ingin menantang abang perfeksionisku itu.


Titot — nama panggilan Tote yang kuberikan padanya yang membuat Bang Oli kesal — mengikutiku dan menjatuhkan diri ke atas kasir saat aku mandi. Setelah berganti pakaian dengan sweter butut yang nyaman, kami kembali ke bawah. Aku mengisi ulang tempat makannya, lalu mencari sesuatu untuk diriku sendiri dan mengerang ketika membuka kulkas. Aku memutar mataku pada bungkus makanan sehatnya di lemari es.


Aku harus ingat untuk memesan makan malam nanti.


Setelah mengambil yoghurt tawar dan sekotak blueberry, aku berjalan ke sofa. Titot dengan setia mengikutiku di belakang.


Lalu kami menghabiskan sisa hari dengan menonton televisi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2