Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
17. Ola : Tersesat


__ADS_3

Kami sedang sibuk memuja-muja penampilan Henry Cavill di serial TV The Witcher ketika ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk.


Owen : hai cantik


Owen : kamu di rumah kan


Owen : aku udah selesai


Owen : ini mau jalan


What?


Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God!


Jiwa dan ragaku lantas ketar-ketir.


Untung aku sempat membalas pesan itu.


Olavia : aku di rumah kok


Olavia : ok


Olavia : hati-hati ya


Olavia : aku tunggu


Barulah kucampakkan ponselku sembarangan sebelum melompat dari tempat dudukku.


Dengan asumsi dia datang langsung dari Beniqno, aku hanya memiliki waktu tiga puluh hingga empat puluh lima menit untuk membuat diriku lebih presentable a.k.a lebih cantik. Aku melompat dari tempat dudukku, mengejutkan Titot dalam prosesnya, dan berlari dengan tergesa-gesa untuk membersihkan kekacauan yang dari tadi kubuat.


Setelah membereskan karton, pembungkus, dan peralatan makan yang tersisa dari makanan Jepang yang jadi menu makan malam serta kaleng soda kosong, aku sepintas membersihkan debu di sofa dan permadani menggunakan vacuum. Lalu aku berlari ke kamarku lagi untuk berganti pakaian.


Saat membuka lemari pakaian, aku menyadari bahwa; aku tidak punya sesuatu yang bagus untuk dipakai di dalam lemari ini!


Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God. Ola, jangan panik!


Bagaimana aku tidak panik? Sudah kubilang AKU. TIDAK. PUNYA. BAJU. YANG. BAGUS. DI. SINI. Aaaargh!

__ADS_1


Aku menatap ngeri ke arah susunan tank top, t-shirt, dan celana yang kusimpan di sana entah dari berapa waktu yang lalu. Kapan terakhir kali aku meng-update koleksiku di sini?


Ya, Tuhan!


Apa yang akan aku pakai?


Mengaduk-aduk pilihan yang terbatas, aku akhirnya memilih tank top dengan pinggiran renda berwarna kuning terang dan celana jeans pendek putih tua.


"Huff. Semoga saja ini cukup," gumamku pada diri sendiri di cermin kamar mandi. Dalam waktu singkat, aku sudah menyikat gigi, menyisir rambut, dan memoles bibir dengan selapis lip tint. Syukurlah pipiku sudah sedikit memerah karena aksi terburu-buruku.


Seolah diberi aba-aba, intercom berbunyi. Aku segera menghampiri layar yang terpasang di dinding koridor lantai dua. Pihak resepsionis memberi tahu ada seseorang yang meminta akses masuk.


Well, ayo tebak siapa yang sudah sampai?


Tak lama setelah dikonfirmasi, lift terbuka dan di sanalah dia berdiri. Owen, dalam balutan jeans abu-abu belel, kaus putih longgar, dan sepatu boots-nya yang juga sudah dimakan musim, dengan tali tas gitar yang menyilang di dada. Dan dia terlihat sangat, sangat, sangat ... yummy.


Yummy, yummy, yummy in my tummy.


Aku berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan ******* penuh pemujaan yang sekonyong-konyongnya lepas dari dada.


Ya, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, terima kasih karena telah menuntunku untuk membuat pilihan yang tepat dan mau memberi aku kekuatan untuk melakukan aksi akrobatik saat membersihkan diri dan remah-remah makanku di ruang tengah.


Terima kasih banyak.


Namun, ... wait. Wait, wait, wait. Suara berisik apa itu?


Oh, ****.


Sepertinya Titot tidak berpikiran sama denganku.


Si anjing lucu, pintar, dan periang ini kini menjadi sangat gelisah. Dia mulai menggonggong dengan agresif setelah melihat sosok Owen. Owen yang kini telah turun dari lift, berdiri dengan kedua telapak tangan terangkat dan berusaha untuk tetap diam di tempat.


“Hei, Titot, it's okay. It's okay," ucapku lembut padanya sambil tetap waspada. "Gak apa-apa kok. Gak apa-apa. Itu Owen. Dia temanku." Kugosok-gosok kepalanya dengan lembut, berusaha untuk membuatnya tenang, yang mudah-mudahan saja terjadi dalam kurun waktu yang cepat.


Oh, Tuhan yang Maha Segalanya, bantu aku untuk menenangkan anjing manis ini. Please. Sebelum Owen berbalik dan lari dariku selamanya.


Kuulangi kalimat-kalimat meyakinkan di telinga Titot dan terus menggosok kepala, leher, punggung, dan badannya sembari terus memohon pertolongan kepada Tuhan yang Mahabaik.

__ADS_1


Pertolongan daei Tuhan memang benar-benar ada.


Titot akhirnya berhenti menyalak, walaupun masih merengek. "Tidak apa-apa," ulangku sambil mengusap lehernya lagi, berulang kali. “Good boy. Good boy. Tidak apa-apa. Semua aman, semua baik-baik saja.”


Saat Titot sudah lebih tenang, aku mengalihkan perhatian pada Owen. "Sorry." Aku meringis. “Aku gak tahu kenapa dia bersikap kayak gitu. Dia biasanya ramah bahkan ke orang asing.”


“Gak apa-apa, kok,” jawab Owen. Namun, matanya masih tertuju pada Titot. “Tapi, kalau boleh saran, nih, ya, sebaiknya kita menjauhkan anjing itu dari sini untuk sementara waktu. Dia pasti punya kandang atau semacamnya giru, kan? Buat jaga-jaga aja, sih." Dia mengangkat bahu. "You know, kalau nanti dia begitu lagi."


Titot menggeram seolah dia tahu bahwa kami sedang membicarakan dia. Mungkin saja memang begitu.


Aku terdiam. Usulan Owen terdengar rasional, akan tetapi tetap membikin hatiku merasa bersalah. Akhirnya, aku setuju. "Oke, deh. Kamu benar." Aku menghela nafas dan memanggil Titot. “Come on, Boy. Tunggu aku di kamarku, oke?”


Dia mengeluarkan gonggongan keras sebelum menurut.


****


"Sekali lagi sorry, ya." Aku mengumumkan sambil menuruni tangga beberapa menit kemudian.


Owen mengalihkan pandangannya dari gambar skyline New York City yang digantung Bang Oli di dinding foyer. "It's okay. No problem," katanya sambil menatap lurus padaku. "Gak heran, kok. Soalnya yang dijagain orangnyasecantik kamu, sih."


Jantungku melompat karena berbagai alasan. Kata-katanya. Juga dari caranya menatapku. Aku menundukkan kepala dan tersenyum malu-malu ke lantai.


“Apartemennya keren.” Owen membuka suara lagi.


“Punya Bang Oli, bukan punyaku. Tapi, thank you by the way,” jawabku pelan, masih malu. Apalagi sekarang ketika aku sudah berdiri di sampingnya. Tiba-tiba saja aku merasa sangat, sangat, sangat gugup.


Ini pertama kalinya kami berada dalam jarak dekat, berdua saja, dan di tempat yang tertutup dan penuh privasi.


Oh, my God.


“Kamu kelihatan cute.” Owen menyenggol bahuku dnegan bahunya tanda bercanda.


Aku memutar bola mata. Yang benar saja. Aku tahu dia sedang menggodaku, mengacu pada pertemuan kami di masa lalu, tetapi aku tidak bisa menahan mataku untuk tidak berputar ke belakang. Kegugupan yang kurasakan beberapa saat yang lalu hilang hanya karena komentarnya. Jengkel, aku cemberut. “Aku tahu, ya, kalau sekarang ini penampilan aku kayak gembel, tapi sudah kubilang kalau–”


Sisa kalimatku—dan protesku—hilang di antara bibir lembut Owen. Dengan setiap belaian indra pengecapnya, dia menjernihkan pikiranku dari hal-hal yang bukan berpusat pada dirinya. Ciumannya, sentuhannya, tubuhnya, aromanya, semua tentang Owen menguasai indraku.


Aku tersesat di tengah-tengah hutan bernama Owen Miller.

__ADS_1


Dan salahkah jika aku tidak ingin ditemukan lagi?


Bersambung...


__ADS_2