
"Thank you, Neng." Sebuah ******* bahagia yang lain melewati bibirnya. "Dan gue harap lo juga bisa segera meresmikan hubungan lo sama si Owen." Raisa lalu mengedipkan mata.
Pikiranku melayang ke pria tertentu lain yang baru saja disebut namanya. “Yahh.” Kini giliranku yang menghela napas penuh impian dan tersipu memikirkan lelaki itu. “Gue merasa bahwa kami benar-benar akan berhasil, Sa. Soalnya ... belum lama ini gue sadar kalau gue mencintai dia. Gue jatuh cinta sama dia."
Mata sahabatku itu sekonyong-konyongnya melebar. “Oh, my God, Olay! Cepat banget."
"Menurut lo cepat banget, ya?" Aku menatapnya dengan hati yang ... kecewa.
“No! Ya, enggak lah, Olaaay. Bukan itu maksud gue.” Raisa segera menambahkan, “Lo yang tahu perasaan lo sendiri gimana. So, when you lnow, you know.” Dia kemudian meraih tanganku dan meremasnya lembut. "Ghe sangat bahagia buat lo, Neng. Serius."
"Gue juga," akuku sambil lagi-lagi mendesah. "Thank you."
Dia memelukku dan menggoyangkan badan kami ke kanan dan ke kiri dengan penuh kegirangan. "Akhirnya, akhirnya, Neng!" Dia bersorak. "Akhirnya, Olavia Marie Arifin jatuh cinta untuk yang pertama kalinya!"
Deg.
No.
Aku melingkari tubuh Raisa yang sintal dengan lengan-lenganku, membalas cinta yang diberikannya. “Sorry banget kalau gue kayaknya merusak kebahagiaan lo. Obrolan ini seharusnya jadi obrolan tentang lo, bukan gue. Kan, lo yang mau tunangan.”
"Ih, apaan, sih? Jangan basi gitu, deh, lo!" Raisa menepuk pahaku dan jelas-jelas menolak permintaan maafku. “please, deh. Gak apa-apa kali. Itu malah menggandakan kebahagiaan gue, Lay. Gue bahagia,lo juga bahagia. Jadi lengkap, deh. Serius. Gue jadi super, super, super duper happy right now."
Aku menertawakan sikapnya yang berlebihan. “Okaaay. Dan cerita lo barusan meyakinkan gue kalau lo bakal baik-baik aja, atau bisa gue bilang bakal lebih dari baik-baik aja.” Dia menggoyangkan alisnya. “You know, saat gue benar-benar pindah dari sini nanti.”
Keningku berkerut mendengar pernyataannya yang membingungkan. "Apa maksud lo dengan 'ketika gue benar-benar pindah', ha?"
__ADS_1
"Engg ...." Raisa kini menggigit bibir yang dilapisi Maybelline Superstay Matte Ink Color Blushed Edition Validator. "Mas Johan ngajakin gue nyari rumah bareng dari enam bulan yang lalu." Akhirnya Raisa mengakui setelah beberapa saat terdiam. "Tapi gue masih merasa gak enak ninggalin lo sendirian, so ... gue ngasih dia persyaratan."
"Sableng!" Aku berseru. "Gila lo! Persyaratan macam apa yang lo kasih ke calon laki lo, Sableng?"
Bahu mungilnya naik turun dalam upayanya untuk bertindak seolah itu bukan masalah besar. "Gue cuma ngundur waktunya aja. Gue bilang gue harus ngasih tahu lo dulu sebelum nyari rumah. Lagian, kan, kita udah bikin janji duluan kalau kita bakal jadi tetangga kalau udah berkeluarga nanti? So, pendapat lo juga penting, dong."
“Aduh, benar-benar Sableng lo, ya! Lo seharusnya ngasih tahu gue dari kemarin-kemarin, Dodol. Sekarang gue yang merasa gak enak karena bikin lo merasa gak enak soal gue dan membuat Mas Johan nunggu lama." Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak memarahi sahabat yang dua tahun lebih tua dariku dan yang sekarang tengah meringis itu.
“Heh, biasa aja keles. Gak apa-apa. Gak masalah, kok. Sambil nunggu, Mas Johan udah bikin portofolionya, kok. Jadi gue nanti tinggal pilih aja mana yang mau gue survey. Lo lihat, kan, in the end semuanya berhasil? Lo dapetin Owen dan gue bakal dapat rumah impian kita."
Nah, ketika dia mengatakannya seperti itu, aku tidak dapat berkata-kata lagi. Namun, tetap saja ....
Aku menghela napas. “Yeah, yeah, right. Tapi, ke depannya jangan diulang lagi, okay? Bilang aja apa yang mau lo kasih tahu ke gue, gak usah sok-sokan gak enak. Gue yang jadinya gak enak sama Mas Johan. All in all, thank you karena udah mikirin gue, ya. Bilang thanks dari gue buat Mas Johan juga.”
Kurasa aku berhutang banyak pada laki-laki yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri itu. Apa yang akan aku berikan untuk seseorang yang sudah memiliki segalanya dan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan?
Bingo.
“Heh, Neng Olay. Gue, kan, sahabat lo, ya. Gue juga udah nganggap lo kayak adik sendiri. Kita menjaga satu sama lain, okay."
"Thank youuuu." Aku memeluknya lagi. Menikmati rasa lengannya di sekitar tubuhku dan menyerap kehangatannya, kebaikan hatinya, segalanya, aku mempererat pelukanku. "Thank you so much," kataku serak di bahunya serak. "Dan congratulations. Buat rumah baru dan pertunangan lo."
Tidak ada yang bisa menghentikan air mata yang membanjiri mataku.
"Sialan lo, Neng."
__ADS_1
"Lho, gue kenapa?"
"Karena udah bikin gue termehek-mehek."
"Yeee, gue juga kaliiii."
Setelah menyeka air mata di pipi, kami kembali mengemasi barang bawaan Raisa. Kali ini diselingi lelucon-lelucon kecil soal pekerjaan dan membahas gosip yang ada di internet.
Melihat sekumpulan koper bermerek, empat yang berukuran besar dan dua yang kecil, di depan kami, aku ternganga. "Menurut lo apa gak terlalu berlebihan bawa segini banyak barang cuma buat kunjungan dua minggu? Ntar yang ada keluarganya Mas Johan malah kaget lagi, ngira lo udah mau pindahan aja ke sana."
"Sialan lo." Lagi-lagi dia memaki pendapatku. Raisa terus saja menatap koper-koper itu tanpa ragu. “Gak, ah. Malahan sekarang gue lagi mikir, apa persiapan gue udah cukup untuk misi 'dua minggu menaklukkan hati keluarga calon mertua' gue? Hm.”
Buset. Kapan dia memberi nama perjalanan mereka ke Jogja dengan misi ... misi apa tadi? Misi "dua minggu menaklukkan hati keluarga calon mertua"? Benar-benar sableng emang sahaabaatku ini.
Aku, sekali lagi, memutar bola mataku karena tingkahnya. Masih menjadi misteri, setelah bertahun-tahun berkawan dengan Raisa, seharusnya bola mataku sudah menempel di belakang kepala meninjau banyaknya aku melakukan hal ini di sekitar dirinya yang dramatis.
“Lagian juga gak bakal jadi masalah gue mau bawa koper sebanyak apa pun. Kayak kita yang mau terbang pakai pesawat komersil aja.” Si Sableng "mengingatkan"ku seraya melambaikan tangannya sembarangan di udara.
Benar-benar, deh.
Aku tidak bisa, benar-benar tidak bisa menahan mataku dan mencegahnya dari berputar. Hal itu sudah seperti gerakan otomatis setelah mendengar kata-kata songong dari Raisa. Namun, pada akhirnya, usahaku tetap terbuang sia-sia. Aku kalah. Bola mata ini tetap berputar sebagai tanggapan dari kesongongan pewaris tunggal harta kekayaan orang tuanya yang bejibun dan calon istri seorang konglomerat korporasi multinasional di depanku.
Lagipula, mau berkata apa? Dia mampu. Kalau mau bersikap sombong pun, dia bisa. So? Aku tidak akan bersikap sok suci dan menasehati tingkah lakunya.
Please. Don't judge her. Jika kalian ada di posisi Raisa, pasti kalian juga mau pulang-pergi naik jet pribadi, bukan?
__ADS_1
Yep. That's what I thought.
Bersambung...