Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
43. Ola : Aku Harap Mereka Benar


__ADS_3

Sudah tiga minggu sejak terakhir kali aku melihat Owen.


Hm. Bagaimana kalau kita membicarakan jumlah yang lebih akurat?


Oke. Lebih tepatnya, sudah tiga minggu, dua hari, dan lima jam sejak hari dia ke luar dari apartemennya, ke luar dari hidupku. Sudah dua puluh empat kali aku mencoba bangun setiap pagi dan berlagak semuanya baik-baik saja alih-alih merasa seperti mayat berjalan. Zombie. Mati rasa.


Sudah tiga minggu, dua hari, dan lima jam aku berpura-pura tersenyum di depan dunia, memikat klien-klien itu dengan power suit dan keberanian hanya untuk menjadi seorang wanita yang berantakan, menyedihkan, dan patah hati di balik pintu apartemen.


Sudah selama tiga minggu, dua hari, dan lima jam aku terus menghubungi nomor Owen tanpa hasil.


Aku benar-benar tidak berarti apa-apa baginya.


Itu adalah kenyataan yang menyakitkan. Sungguh menyakitkan untuk, tidak hanya mengetahui akan tetapi juga mengakui fakta ini meskipun pikiranku telah mengulanginya lagi dan lagi di dalam kepala. Sakit untuk mengakui kepecundanganku. Dan untuk menerimanya? Ini cerita yang lain lagi.


Ini rasanya seperti sekarat dalam kematian yang menyakitkan. Seperti menggantung di langit-langit, kedua tangan diikat di pergelangan, dan seseorang mengiris kulitku cukup untuk membuat darah menetes sedikit demi sedikit ke bawah dan ke luar dari tubuh ini. Setelah mereka melakukan itu padaku, mereka meninggalkan aku di sana sendirian untuk mengering. Mati dengan sangat, sangat, sangat perlahan.


Gambaran yang sungguh memikat hati, bukan?


Aku menyeka air mata yang baru saja ke luar dari mataku.


Memikirkan kembali segala upaya yang aku lakukan untuk melindungi hati dari kekecewaan; cowok-cowok yang ingin pedekate tapi tidak kuhiraukan, mereka yang dengan cepat aku cap sebagai prospek buang-buang waktu bahkan sebelum aku mengenal mereka lebih jauh secara pribadi.


Hanya karena tidak adanya percikan saat pertemuan pertama kami.


Siapa tahu salah satu dari mereka sebenarnya pria yang baik dan memperlakukan wanita dengan baik. Siapa tahu salah satunya bukan hanya calon pacar, akan tetapi juga calon suami yang sempurna. Siapa yang tahu jika aku berkencan dengan mereka daripada menunggu percikan api sialan itu, atau kupu-kupu bodoh ini, aku tidak akan berada dalam situasi seperti sekarang.


Aku tidak akan hancur. Rasa sakit ini tidak akan terjadi.


Siapa yang tahu bla, bla, bla. Siapa tahu bla, bla, bla. Siapa yang tahu, kan? Siapa yang tahu? Yang jelas aku tidak tahu.


Oh, my God. Aku dulu benar-benar wanita ****** yang sombong. Sampai sekarang pun masih.


Mungkin ini adalah balasan atas apa yang telah kulakukan.


Aku ....


Isakan, dan kemudian hal-hal yang lain, meninggalkan dada hanya untuk ke luar dari mulut. Mereka memeras tubuhku, membuat luka itu semakin dalam dan semakin menonjol sampai tak ada lagi yang berarti. Karena tidak ada apa-apa yang berarti lagi.

__ADS_1


"Surprise!"


"Ola? Oh, my God! What the hell? Lo kenapa?"


Beberapa detik kemudian aku lantas diselimuti kehangatan dan aroma bunga yang begitu Raisa.


Aku menangis lebih keras.


Aku sangat merindukannya. Aku rindu merasakan lengan seseorang melingkari tubuhku. Aku merindukan kehangatan. Aku merindukan perasaan diperhatikan. Aku rindu ....


Aku rindu merasa dicintai.


Dia membuai tubuh kami, menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah punggungku dengan gerakan yang menenangkan, tak henti-hentinya membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja di telingaku, terus dan terus saat aku menumpahkan semua kesedihanku ke pakaiannya. "Hush, Ola, gue ada di sini. Gue di sini. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa. Lo akan baik-baik saja."


Aku harap dia benar.


"Come on." Dia akhirnya melepaskan pelukan setelah aku tidak tahu berapa lama. "Minum air dulu. Gue gak mau lo juga jadi dehidrasi."


Segelas air di gelas yang tinggi secara ajaib muncul di depan mata. Tentu saja bukan itu yanh terjadi. Aku mengikuti tangan yang memegang gelas dan bertemu dengan mata gelap Mas Johan dengan tatapan yang teduh dan penuh pengertian.


Aku menghela napas sebelum mengambil gelas itu. Tetesan uap air yang terkondensasi mulai ke luar ke permukaan kaca. Aku tidak ingin memikirkan apa yang baru saja disaksikan Mas Jo, betapa jeleknya tangisanku tadi, betapa merah dan bengkaknya wajahku saat ini.


Setelah meneguk setengah gelas, tangan Mas Johan kembali ada di sana untuk mengambil gelas sebelum aku sempat meletakkan benda itu di atas meja kopi. Aku berterima kasih padanya dengan tersenyum sambil menghindari kontak mata langsung.


"So," kata Raisa saat suaminya yang pengertian membuat dirinya menghilang dari tempat kejadian perkara dengan pergi ke dapur. Permintaannya ditulis dengan sangat berani dalam satu kata itu.


Aku mendesah lagi. Apa yang dapat kulakukan selain itu? Raisa sudah ada di sini. Aku baru saja membuat kemeja Gucci-nya basah kuyup dengan air mataku—dan, eeew, apakah itu ingus?


Oh, my God.


Dia mengikuti pandanganku dan mengangkat alis kirinya, diam-diam menyampaikan pikirannya padaku. "Lo lihat bercak ingus di baju mahal gue itu, ha? Lebih baik lo mulai bicara sekarang atu gue bakal tuntut lo gantiin baju baru gue."


Jadilah, kubongkar semuanya. Aku menceritakan segalanya pada Raisa. Apa yang sudah terjadi dengan Owen dan apa yang sudah kuperbuat pada keluargaku. Aku memberi tahu Raisa soal pertengkaranku dengan Bang Oli. Aku .... Aku akhirnya bercerita padanya soal soal Angga.


Ya, dengan kepala tertunduk, aku bercerita tentang apa yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu.


Dia hanya duduk di sana, mencengkeram dan membelai punggung tanganku dengan ibu jarinya sepanjang waktu. Dia tidak menunjukkan emosi lain selain rasa mengerti.

__ADS_1


"Jadi ini alasan sebenarnya di balik tatapan dan ketegangan yang panas yang ditujukan Angga buat lo itu?" Dia bertanya, matanya menembus jiwaku.


"Itu adalah rasa benci, Raisa, bukan hal panas lain yang ada di pikiran lo itu." Aku mencoba untuk mengoreksi pendapatnya.


Tentu saja dia tidak ingin dibenarkan.


"Terserah apa kata lo, deh." Dia mengayunkan udara dengan tangannya yang terawat. "Pembicaraan ini belum selesai, Olay. Lo gak tahu betapa marahnya gue sama lo karena udah menyembunyikan semua ini dari gue. Terus sama si Berengsek Owen itu, sama Angga, sama semuanya. Tapi, malam ini, gue akan berusaha jadi sahabat yang terbaik dan ada di sini buat lo. Kita bisa minum–"


"No, no, no. Gue gak mau minum. Gak usah pakai alkohol. Kapok gue." Aku segera menolak. Aku benar-benar tidak ingin menambahkan penderitaan karena mabuk yang parah di atas semua sakit hati yang harus aku tanggung sampai hanya Tuhan yang tahu kapan.


Aku hanya tidak mau.


"Oke, gak pakai minum." Sahabatku membeo. "Es krim dan nonton film aja kalau begitu. Segalon es krim Ben & Jerry dan binge watching Netflix. Gimana? By the way, udah lama banget kita gak ngerjain ritual girl's night. Pas banget." Dia mengedikkan bahu dengan ringan.


Penawarannya terdengar sangat, sangat, sangat menggiurkan. Namun, keningku secara otomatis berkerut pada rencananya itu. "Tapi, gimana sama Mas Jo? Gue gak yakin doi mau tidur sendirian malam ini."


Raisa melambaikan tangannya lagi. "Laki gue gak bakal keberatan. Lagian, pengorbanannya gak bakal yerbuang percuma. Abis ini gue bakal kasih pelayanan ekstra buat doi." Dia mengedipkan mata.


Aku bergidik ngeri. Terlalu banyak informasi yang tidak kibutuhkan, dan inginkan.


Sahabatku si paling loyal yang baru saja menikah mencibir melihat ekspresiku. "Mas, Mas gak keberatan, kan, Sayang?" Dia berteriak.


Beberapa saat kemudian langkah Mas Johan yang berat mendekat. "Ya, pasti enggak lah. Apalagi kalau hadiahnya itu." Mereka kemudian berbagi senyum rahasia.


Aku .... Aku ingin merasakan bahagia untuk mereka. Namun, tidak dapat dipungkiri yang terjadi malah sebaliknya. Aku merasakan sesak di dadaku.


Aku mengalihkan perhatian ke benang imajiner yang ada di sofa.


Sialan. Akankah rasa sakit ini pergi?


"Mas udah periksa isi kulkas. Cuma ada es krim sisa kapan. Mas beliin lagi, ya? Plus makanan ringan sekalian nyetok groceries. Telepon aja kalau kalian butuh sesuatu yang lain, oke?" Pengumuman yang diberikan Mas Johan ini diikuti dengan suara ciuman.


Aku mengerahkan segala yang kupunya untuk mengabaikan mereka dan suara-suara itu.


Namun, itu sia-sia.


"Hey." Wajah ramah Mas Johan, senyumnya yang lembut, memenuhi periferalku. Dia berjongkok di dekatku. "Semuanya bakal baik-baik aja." Dia meyakinkan. Kemudian laki-laki yang sudah menganggapku seperti saudara sendiri itu memelukku dengan pelukan beruangnya sebelum mencium puncak kepalaku. "Lo bakal baik-baik aja."

__ADS_1


Aku harap dia benar. Aku sangat berharap mereka berdua benar.


Bersambung...


__ADS_2