
Sekarang
Dia melesat melewati apartemen dan berada di kamarku dengan kecepatan cahaya. "Bilang sama gue kalau lo mau dengarin kata-kata gue." Raisa langsung menuntut begitu dia sampai di depanku.
Aku bersandar di kepala tempat tidur dengan bantal menopang punggung dan memperhatikan feed Instagram seperti tidak terjadi apa-apa.
I mean, tidak ada yang terjadi jika aku tidak menganggap apa yang kulakukan sebagai sesuatu, bukan? Benar, kan?
"La!" Dia tiba-tiba saja merenggut ponselku.
Dia mengalihkan perhatianku.
"Hei!" seruku dan segera bangkit. "Gue tahu lo kesal, ya, tapi gak usah pakai banting hape gue segala, kan?"
"Makanya lo bilang dulu sama gue kalau lo gak melakukan hal yang bodoh," desak Raisa. Matanya yang indah menembusku, mencari kebenaran dari dalam diriku. Dia, seperti ratusan kali sebelumnya, bisa melihat segalanya dengan mata itu. "You did it, didn't you?"
Kena, deh.
Namun, aku terus menatap matanya.
"Kenapa, La? Kenapa? Dia itu cowok berengsek! Ngapain juga harus peduli sama dia lagi, ha? Lo udah baik-baik saja selama beberapa bulan terakhir ini. Lo bahkan lebih baik. Lo mulai bisa bahagia lagi. Kenapa, ha? Kenapa?"
Aku hanya mengangkat bahu. Aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan nya.
Dia masih menunggu jawabanku.
Dia tidak mendapatkannya.
"Cuma itu?" Raisa melongo melihat tanggapanku. "Gue mengkhawatirkan sahabat gue sampai muntah-muntah muak dan lo cuma bisa mengangkat bahu?" Suaranya basah oleh ketidakpercayaan.
Nah, jika dia mengatakannya seperti itu ....
"Maafin gue." Aku meringis. "Gue cuma …." Aku, tanpa sengaja, mengangkat bahu lagi.
Dia memelototiku dengan matanya yang sudah besar itu. Dia terlihat kecewa dan penuh amarah.
Yeah, percayalah padaku. Raisa akan jadi cukup menakutkan ketika matanya melotot dan terbakar oleh amarah seperti sekarang ini.
Aku menghela napas, menyerah. "Cuma satu show, oke?"
"What the heck?" Dia lantas meledak. "Apa, sih, yang lo lakuin? Mau lo sebenarnya apa, ha?" Napasnya keluar dengan pendek-pendek, membuat bahunya naik-turun dengan intensitas yang semakin sering. Wajahnya menjadi merah. Dia benar-benar marah sekarang.
Aku sangat mencintai sahabatku.
Aku tahu dia tidak marah padaku, dia marah atas namaku. Dia marah karena Owen sudah mengatur tur mini untuk mempromosikan single pertamanya dan dengan berani-beraninya menjadikan Beniqno sebagai salah satu venue-nya. Dan, boleh percaya atau tidak, aku bisa mengerti kenapa dia memilih Beniqno.
Om Ben dan koneksinya serta Bar and Grill itu bisa dikatakan sebagai awal mula mimpinya terwujudkan.
__ADS_1
Namun, ya, mungkin saja ada sejumput kemarahan yang memang ditujukan Raisa kepadaku. Karena aku membeli satu tiket ke pertunjukan Owen tersebut.
Sebuah tiket. Ke konsernya. Untuk bertemu dengannya.
Tentu saja Raisa seperti kebakaran jenggot. Aku akan bersikap sama jika posisi kami dibalik.
Namun, aku adalah aku, dan aku tahu alasan kenapa aku harus melakukan ini.
Sahabatku itu hanya harus menerima dan berdamai dengan kenyataan bahwa aku tidak akan berubah pikiran.
****
"Bilang aja dan gue akan ada di sana," kata sahabat terbaik yang bisa diminta seorang wanita di seluruh dunia ini melalui sambungan telepon.
"Gue bakal baik-baik aja, Raisaa." Aku mencoba meyakinkannya dengan bercanda. "Dan please stop bersikap seolah-olah lo bisa menerobos masuk sendiri di acara seperti itu. Bakal ada banyak sekuriti, mereka gak akan ngizinin lo masuk tanpa tiket. Meski lo udah jereng kedip-kedipin mata ke mereka."
"Sial. Siapa yang bilang kalau gue gak punya tiket?" Dia membalas dengan acuh tak acuh. Tentu saja pernyataannya itu mengejutkanku.
"Serius lo?" Aku mencicit.
Akuntak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan nya.
"Ya, iya, laah. Gue gitu lho. Untuk jaga-jaga. Kali aja lo butuh tim penyelamat."
Kalau-kalau aku membutuhkan support darinya.
"Thank you," bisikku sembari dengan hati-hati mengusap sudut mata.
Dia pasti mendengar ketulusan di dalam suaraku karena dia menghela napas. Nadanya melunak. "Sama-sama, Neng. Lo tahu gue akan selalu support lo, apa pun keputusan lo. Selalu."
Selalu.
****
Mataku tidak pernah lepas dari panggung. Manik-manik ini terus membuntuti Owen, yang kini tengah memetik gitarnya—gitar yang baru, berkilau, dan mahal—memesona setiap orang di ruangan itu.
Termasuk aku.
Dia lalu mendongak, menyeringai, dan para wanita—dan beberapa pria, aku tahu ini—menjadi semakin gila. Mereka memekikkan kegembiraan mereka karena menjadi sasaran seringai mematikan itu. Aku bisa melihat gambar-gambar hati di mata mereka. Aku bisa memahami kegilaan mereka.
Aku adalah salah satu dari mereka. Setidaknya, aku dulu adalah salah satu dari mereka.
Dia mudah disembah.
Owen memang seseorang yang mudah untuk dipuja-puji.
Aku tersenyum pada pikiranku sendiri.
__ADS_1
Duduk di sini, di sudut gelap yang ironisnya sama dengan yang kutempati saat pertama kali diundang untuk melihat pertunjukan Owen, aku merasa ... bittersweet.
Manis dan pahit bercampur menjadi satu.
Aku merasa ingin menulis surat untuknya. Hm, boleh juga.
Aku hanya akan ... mengucapkan kata-kata itu di kepalaku.
Oke.
Here we go.
Dear, Owen Miller.
Sekarang, aku duduk di sini, di seberang ruangan, menonton kamu tampil untuk pertama kalinya semenjak kamu pergi dan perasaan yang aku pikir dan aku takutkan akan muncul kembali ternyata tidak ada. Aku tidak merasakan sakit lagi, Owen. Aku tidak lagi merasakan sakitnya.
Tak ada pisau yang biasanya mengiris hatiku saat aku memikirkanmu di waktu-waktu luang sesempit apa pun itu. Tidak ada keping-keping yang terus pecah setiap kali aku merindukanmu seperti minggu-minggu pertama penderitaan itu.
Tidak ada ... aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengatakan ini, tetapi inilah kebenarannya sekarang. Tidak ada ... tidak ada cinta lagi. Atau, apakah itu pernah ada sejak awal?
Mungkin itu sebabnya kau meninggalkanku. Karena kamu tahu soal ini? Atau, kamu meninggalkan aku karena kamu hanya ingin?
Entahlah, Owen, tapi satu hal yang pasti, aku bisa melepaskanmu sekarang.
Melihat kamu dari sini, melihat betapa nyamannya dirimu di duniamu, menyaksikan bahwa inilah tempat yang tepat untukmu, aku merasa bahagia, Owen. Aku senang karena pada akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpi kamu dari kecil. Bahwa anak laki-laki yang sebelumnya harus menghadapi dunia ini sendirian dan berjuang untuk dirinya sendiri sekarang tidak perlu berjuang lagi. Dia tidak perlu melakukannya lagi.
Mulai sekarang, aku harap kamu akan selalu bahagia. Serius.
Tapi, Owen, izinkan aku menyimpan satu rahasia dari kamu lebih lama lagi, ya? Sampai aku tahu apa yang terbaik untuk dilakukan. Aku masih menyesuaikan diri dengan perubahan baru pada situasiku—situasi kita—dan, sejujurnya, menyaksikan ini, aku ... entahlah, Owen.
Aku hanya ... tidak tahu.
Aku akan membutuhkan lebih banyak waktu lagi.
Apakah kamu akan menerimanya seperti yang aku lakukan? Atau, apakah kamu ingin .... Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan lain.
Jadi, mari fokuskan diri kita pada saat ini dan di sini, oke? Kamu dengan kehidupan kamu dan aku akan menangani hidupku dan hidup bayi kita.
Dan, inilah dia, Owen. Ini adalah saat di mana aku akan mengucapkan selamat tinggal pada perasaan yang aku pikir aku miliki untuk kamu. Inilah aku yangmemberi tahu kamu bahwa aku sudah melepaskan kamu.
Jalani hidupmu sepenuhnya, Owen. Raih setiap kesempatan yang kamu dapatkan. Kamu benar-benar pantas untuk mendapatkannya.
Aku harap kamu akan menemukan apa yang selama ini kamu cari.
Terima kasih, Owen.
Selamat tinggal.
__ADS_1
Bersambung...