
Namun, kecenderungannya bersikap dramatis itulah yang sangat aku rindukan dari Raisa saat dia pergi. Mereka terbang pada hari Minggu. Sekarang baru hari Rabu dan aku sudah sangat merindukan bacotan dan kekonyolannya.
Kami tidak bertukar pesan atau panggilan apa pun selain satu chat yang mengabarkan kalau mereka sudah mendarat dengan selamat di Bandara Adisutjipto. Ini yang paling penting dan paling aku tunggu. Lain daripada itu, aku bisa menunggu.
Aku tidak ingin mengganggunya karena aku paham dia dan Mas Johan kemungkinan besar sedang mengalami masa-masa terbaik dalam hidupnya saat ini. Dan aku tidak bisa untuk tidak ikut bahagia bersama Raisa. Dia dan Mas Johan benar-benar diciptakan untuk satu sama lain.
Seperti, Owen dan ... Ola?
Oh, my God! Aku tidak dapat menahan kikikanku setelah pikiran itu melintas di kepala.
Tipe pikiran anak sekolahan sekali.
Namun, tidak dipungkiri, aku menyukai bunyinya. Owen dan Ola.
Terdengar serasi, bukan?
Sambil melirik ke telepon di samping lenganku di atas meja, aku dengan bangga mengakui bahwa aku sedang menunggu chat dari Owen. Berbeda dengan Raisa, Owen dan aku telah berbalas chat sepanjang waktu sejak akhir pekan lalu. Dan isinya? Aduh, jangan tanya, deh. Aku tidak ingin asistenku menemukan bosnya duduk di meja kerja dengan pipi merona.
Ahem.
Suara getaran ponselku di atas kaca pelapis kayu jati itu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak bisa mengambilnya lebih cepat lagi daei itu.
Owen : Aku gak bisa menghapus rasa bibirmu dari dalam kepalaku
Membaca pesannya, suhu ruangan tiba-tiba naik beberapa puluh derajat. Kenapa tiba-tiba di sini terasa sangat panas, ya?
Owen : Aku ingin tahu apakah aku bisa segera bertemu dengan mereka lagi
Oke, tubuhku kini terbakar. Aku tidak sedang terserang demam, kan?
Owen : Mau hangout malam ini
Jantungku yang sudah berdetak terlalu cepat malah sempat-sempatnya merasa tersentak memikirkan malam-malam yang telah kuhabiskan bersama Owen. Oh, my God, aku kehilangan kendali atas pikiranku yang tiba-tiba penuh dengan adegan dewasa ketika memikirkan dengan apa pun yang berhubungan dengan Owen. Hal ini kusadari sering terjadi sejak kami berciuman.
Sial.
Eh, tidak, tidak, tidak. Maksudku bukan ciuman kami yang sial, akan tetapi pikiranku.
Jempolku yang gemetar kesulitan untuk mengetik balasan. Namun, aku meminta jari-jari itu untuk mengetuk layar secepat mungkin sebelum aku kehilangan keberanianku.
Olavia : eh, kebetulan banget
Aku mengirim balasan pertama sebelum mengetik yang lain.
__ADS_1
Olavia : bibirku bilang kalau mereka juga tidak sabar untuk bertemu sama kamu lagi
Aku meletakkan iPhone kembali ke atas meja.
Oh, my God! Apakah aku baru saja mengirimi Owen pesan nakal?
Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God.
Tenang, Ola. Tenang. Tarik napas dalam, keluarkan. It's okay. Kaian sudah berbagi saliva. Apa masalahnya dengan satu atau dua pesan genit?
Masalahnya, aku tidak pernah mengirimkan pesan seperti itu sebelumnya.
Well, sebaiknya aku mulai untuk membiasakan diri, ya, kalau begitu.
Telepon seluler itu berdengung sekali lagi saat aku tengah sibuk menganalisis pesan balasanku secara berlebihan.
Owen : jam 7
Owen : your place
Aku menjerit dengan mulut tertutup untuk menahan kegembiraan, akan tetapi pada akhirnya aku tidak bisa melakukan apa pun pada tubuhku yang terlalu bersemangat. Bokongku memantul ke atas dan ke bawah di kursi.
Look at me!
Siapa bilang aku tidak bisa bergenit-genit ria dan menjadi sedikit ... kotor?
Aku merencanakan setiap helai pakaian yang saya kenakan untuk malam ini dengan alasan bahwa aku hanya ingin menebus penampilan seperti gelandangan yang kukenakan akhir pekan lalu, akan tetapi ....
Shut it. Come on! Siapa yang ingin kubohongi?Tidak asa salahnya mengakui kalau aku ingin tampil dengan penampilan terbaikku di depan Owen, bukan?
Seorang wanita tentu boleh-boleh saja mencoba memenangkan hati lelaki pujaannya, bukan?
There. I said it.
Lelaki pujaan.
Aaaaak!
Aku benar-benar tidak ingin terlihat tidak siap untuk pertemuan ini, jadi aku sudah memesan makan malam terlebih dahulu. Jujur aku tidak tahu apa makanan favorit Owen, setidaknya belum, akan tetapi aku berharap dia menyukai steak.
Bukankah ada sebuah pepatah yang mengatakan kalau setiap pria pasti menyukai daging? Benar, kan?
Aku terkikik sebab dialog internal yang sedang berlangsung di dalam kepalaku.
__ADS_1
Namun, please. Jangan biarkan pikiran-pikiran itu membodohi kalian. Atau kikikanku. Atau gaun merah marun agak terbuka yang melekat di tubuh. Atau makan malam yang sedang kuhangatkan di oven. Atau lilin beraroma lavender yang aku nyalakan beberapa waktu lalu dan sekarang terparkir di sekitar apartemen. Karena, di dalam sini, I am a mess.
Aku mondar-mandir di ruang tengah, mengatur dan mengatur ulang barang-barang, suara klik, klik, klik heels mengetuk lantai marmer memenuhi ruangan. Jika bukan karena aroma lavender menenangkan yang menyebar di udara, aku tidak dapat membayangkan berapa harga dari penantian ini. Dan ketegangan yang menyertainya.
Itu akan lebih besar dari sekadar gaun Les Demoiselle yang basah kuyup oleh keringat dan sepasang sepatu hak tinggi bersol merah.
Bel pintu berbunyi saat aku memindahkan vas berisi lilac ungu yang kubeli khusus untuk malam jni dalam perjalanan pulang. Pemilik toko bunga merekomendasikan bunga jenis ini ketika aku, secara "agak" tidak sengaja, menyebutkan tentang makan malam dengan seseorang yang spesial malam ini. Wanita paruh baya berwajah baik itu mengatakan bahwa lilac ungu mewakili awal dari cinta atau cinta pertama dan hadiah yang sempurna untuk pasangan baru.
Well, bukankah menurut kalian itu sangat, sangat, sangat pas?
Aku berlari ke pintu, secepat yang kubisa saat menggunakan sepatu hak setinggi lima belas sentimeter, dan berhenti sejenak untuk memeriksa rambutku, rias wajahku, pakaianku serta mengatur napas sebelum membuka pintu.
Dan di sanalah dia.
Dalam semua kemuliaannya; kemeja kotak-kotak biru tua dan putih, kedua lengannya digulung sampai ke siku, celana jeans gelap dan sepatu boots-nya yang sering dipakai, tali gitarnya menyilang di atas dada seperti biasa.
Dan, seperti biasa, senyum mautnya terpampang di wajah tampan itu. "Hei, Cantik," katanya pelan, membangunkan setiap helai rambut yang ada di lenganku, mengirimkan sensasi yang menjalar hingga ke tulang punggungku, menghangatkanku dari dalam ke luar.
Owen mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki dan setelah itu kembali ke kepalaku lagi. Matanya dengan santai menyantap setiap senti tubuhku, membuat diriku yang sudah terbakar semakin membara oleh keinginan. Napasku semakin berat seiring detik yang berlalu. Kalakian, ketika tatapan apresiatifnya bertemu denganku?
Aku nyaris meledak.
Dia menyukai apa yang dia lakukan pada aku dan tubuhku karena dia menyeringai penuh kemenangan.
Oh, my God. Please.
"Hai." Jika Owen belum menyadari pengaruhnya terhadapku sebelum ini, suaraku yang serak akan menjadi tanda yang tak bisa dipungkiri.
"Boleh masuk gak, nih?" tanyanya dengan seringai yang masih membentang di wajah tampan itu. Meskipun aku tidak yakin apa yang dia tanyakan, aku menganggukkan kepalaku ke atas dan ke bawah serta sekonyong-konyongnya menjawab dengan, “Tentu.”
Aku bermaksud untuk memutar badan agar dia bisa masuk ke dalam saat tiba-tiba saja Owen menangkap tangan dan menarikku. Tubuhku beradu dengan tubuhnya yang kokoh. Dia menggunakan kontak tanpa celah dari tubuh kami untuk melingkarkan lengan kirinya di pinggangku dan menggerakkan lengan kanannya ke atas sehingga jari-jarinya mencengkeram rambutku. Owen mencondongkan tubuh semakin dekat hingga bibir kami hanya berjarak sehelai rambut dari satu sama lain.
Tepat di atas bibirku, Owen berkata, "Sekarang aku mau menyapa kamu dengan benar."
Bibirnya lantas mendarat di bibirku dan tanpa banyak berpikir, dia melahapku di sana, di depan pintu apartemenku, di mana semua orang bisa melihat kami. Kecerobohannya benar-benar menaikkan level panas dari tindakan kami dan itu sungguh-sungguh membuatku gila.
Kami terus saja saling memagut. Dengan indra pengecap yang tak henti mematut. Dengan bibir yang tak jemu bertaut.
Kecemasanku soal bagaimana malam ini akan berjalan seketika mengabur. Kegugupanku terlupakan dalam sekejap mata. Semua persiapan yang kulakukan tak lagi terpikirkan. Satu-satunya yang ada dalam pikiran adalah Owen.
Aku tidak tahu apakah yang kami lakukan masih bisa dikatakan berciuman. Terserah. Karena faktanya, aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah dia; bibirnya, sentuhannya, rasanya.
Dan aku merasa berada di surga, lagi.
__ADS_1
Dan please, please, Tuhan, aku tidak ingin turun ke bumi lagi.
Bersambung...