
Aku menyetir pulang dalam keadaan linglung, pikiraku terus memutar ulang ingatan tentang mata sedih Angga. Dan setiap kali rasa aneh di perutku semakin menjadi-jadi.
Sekarang, setelah semua unek-unekku keluar, aku mulai bisa berpikir dengan agak jernih. Perasaan bahwa kemungkinan besar aku bereaksi berlebihan kini menghantui. Mungkin benar Bang Angga hanya menjagaku. Mungkin benar dia hanya menganggapku sebagai adik perempuannya yang harus dia lindungi. Mungkin Bang Oli benar.
Ya, Tuhan ....
Namun, tidak! Tidak, tidak, tidak. Dia tidak pantas menerima rasa bersalah dariku. Setelah ... setelah ... ITU, dia tidak pantas mendapatkan apa pun dariku.
Sial! Mengapa aku harus merasa seperti ini?
Kubenturkan kepalaku ke sandaran kepala, berharap rasa sakitnya akan mengalihkan fokusku dari perasaan yang menggerogoti hati. Aku tidak dapat menemukan kepuasan dalam bentuk apa pun yang aku kira akan kuperoleh setelah melepas semua amarah. Ketika semuanya sudah dikatakan dan dilakukan, yang tersisa hanyalah ....
Suara getaran mengganggu jalan pikiranku. Aku melirik layar yang menyala di kursi penumpang sekilas sebelum berbelok ke kiri dan mengarahkan mobil ke tempat parkir gedung yang sudah ditentukan.
Ketika MINI Cooper berwarna hijau yang kukendarai telah berhenti, barulah kuraih ponsel.
Owen : hangout yuk
Owen : malam ini
Rasa girang langsung menghilangkan kekhawatiran dari kepalaku dan memenuhi ruang di dalam mobil. Jantungku mulai berpacu dalam kegembiraan. Dengan senyuman yang terbentang begitu lebar di wajah, ibu jariku berseluncur untuk mengetik pesan balasan.
Olavia : yuk yuk yuk
Olavia : mau bangeeet
Tiga titik menari-nari di layar sebelum jawaban Owen terkirim.
Owen : Paradiso
Owen : jam 8
Paradiso? Kita mau ketemuan di klub? Kita mau nge-dance? “Eeeek,” jeritku. Hatiku berlari satu kilometer per menit memikirkan semua kemungkinan yang dapat terjadi malam ini.
Ponselku bergetar lagi.
Owen : Cantik
Owen : jadi gak nih
Oh, my God, aku belum membalas pesan Owen! Jempolku kini tak hanya berseluncur, tapi terbang di layar.
Olavia : yes!
Olavia : of course!
Olavia : see you there!
Owen membalasnya dengan mengirimkan emoji kepala bulat kuning yang sedang mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Oooooooh!
****
Aku sangat berhati-hati dalam memilih pakaian yang akan kukenakan. Tank top satin berwarna burgundy, jeans distressed abu-abu tua, ankle-boots dan jaket senada untuk menangkal udara malam yang dingin. Setelah selesai, aku menumpang Grab ke Paradiso pada pukul tujuh lewat tiga puluh.
Paradiso adalah klub malam yang dimiliki oleh salah seorang teman SMA Bang Oli, jadi kami sering mengunjunginya dari waktu ke waktu. Ketika aku melihat Xander, penjaga di pintu, aku tersenyum. Dia lalu menganggukkan kepalanya yang botak padaku dan membuka tali pembatas agar aku bisa lewat. Protes dari mereka yang sudah mengantre lama membayangi jalanku ke klub paling hype di Jakarta itu.
Aku berjalan di antara kerumunan orang yang tengah menikmati waktu mereka melarikan diri dari kenyataan. Kuamati ruangan, mencari pemuda dengan rambut yang dikuncir dan menemukannya tengah bersandar di bar, dikerumuni oleh tiga gadis. Dia mengatakan sesuatu dan gadis-gadis itu tertawa terbahak-bahak. Salah satunya malah dengan berani-beraninya menyentuh dada Owen dengan ujung kukunya yang runcing.
Dadaku lantas bergemuruh.
Aku tahu aku belum berhak merasakan kecemburuan ini—tolong digarisbawahi; belum. Namun, seperti yang kukatakan sebelum-sebelum ini, hatiku menginginkan apa yang diinginkannya. Dan sekarang, dia ingin aku menyerbu ke sana dan menunjukkan kepada tiga penyihir tersebut Owen itu milik siapa.
Meski begitu, sayangnya, aku tidak melakukan semua yang kubayangkan. Aku tidak bisa. Tidak dengan orang sebanyak ini.
Apalagi bertingkah seperti seorang cewek psiko posesif yang gila bukanlah gayaku.
Owen akhirnya melihatku berjalan dengan susah payah ke arahnya dan dia memberiku seringai khasnya. Menyadari pergeseran perhatian pemuda incaran mereka, gadis-gadis itu mengikuti pandangan Owen dan mulai meninggalkannya ketika mereka menangkap keberadaaanku. Sebelum menyingkir, mereka masih sempat-sempatnya memberiku lirikan tajam dan seolak mengutuk.
Beberapa langkah terlewat dan tahu-tahu kami sudah saling berhadapan. "Hai, Cantik," sapanya, masih menyeringai. Mata cokelat panasnya yang luar biasa bahkan lebih menawan di bawah cahaya remang-remang klub.
"Hai." Aku menjawab dengan napas yang memburu.
Aduh, Olavia payah!
"Aku pikir kamu gak jadi datang."
Aku mengabaikan kalimat Owen ketika mencium aroma buah dari nafasnya. "Kamu udah minum, ya?"
Dia terkekeh. “Iya, si Cewek Rambut Merah traktir aku cocktail. Gak sopan, kan, menolak pemberian seseorang?"
Okaaay, jika dia mengatakannya seperti itu ....
Dengan berat hati, aku setuju. "Well, I think so."
Owen kini terkekeh. "So." Dia berbalik, tidak tahu-menahu soal apa yang kurasakan saat ini. "Ayo minum dulu sebelum turun."
Mengesampingkan kecemburuan yang tidak berdasar, aku bersemangat saat Owen me-mention nge-dance. "Tequila, please."
Dia memanggil bartender. Shot dan tequila muncul di meja dalam sekejap. Owen mengambil saru gelas seloki lalu mengangkatnya untuk bersulang. “Untuk malam ini,” bisiknya di telingaku.
Damn. Embusan napasnya di kulitku membuatku bergidik.
Aku cepat-cepat meneguk liquid courage pilihanku itu. "Untuk malam ini."
Owen menahan tatapanku seakan menunggu jawaban dari pertanyaan yang tersirat di matanya. Saat aku mengangguk, sebuah senyuman muncul di bibirnya yang basah. Dia kalakian menarik tanganku dan menggiringku ke lantai dansa.
Dia membawa kami ke tengah-tengah gerombolan tubuh-tubuh yang berputar, bergerak mengikuti irama musik yang dimainkan oleh DJ. Owen mengangkat tangan kami yang bergenggaman dan memutarnya; membalikkan tubuhku sehingga kini kami menghadap ke arah yang sama; dengan punggungku menempel di dadanya.
__ADS_1
Posisi ini adalah resep utama sebuah masalah.
Namun, mau bagaimana lagi? Aku sudah kehilangan akal. Aku terlanjur menyukai semua hal yang Owen lakukan.
Owen meletakkan tangannya di pinggulku. Jempolnya menemukan jalan masuk dari ujung tank top-ku dan kontak kecil ini sontak membakar tubuhku. Dia membelai kulitku perlahan, dengan halus, bolak-balik, bolak-balik, bolak-balik.
Oh, my God, rasanya enak sekali. Geli-geli sedap. Aku tidak bisa menahan apa yang ke luar dari mulutku. "Owen," desahku.
Aku baru saja mendesah.
Oh. My. God!
Syukurnya tidak ada yang memperhatikan kami. Orang-orang di sekitar terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Aku mendengar Owen tergelak. Suara itu bergema di kulitku. Napasnya menggelitik leherku, mengubahku menjadi sekumpulan daging dan tulang yang siap melakukan apa pun yang dia perintahkan. "Dance, Cantik," bisiknya di telingaku.
Terhipnotis, aku bergerak.
Pinggulku bergoyang dengan sendirinya. Tanganku terangkat dan menjalar sampai mereka menemukan bagian belakang leher Owen dan bertaut di sana. Mataku menutup. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
Owen menyiramiku dengan kecupan-kecupan kecil yang basah di area terbuka antara leher dan bahuku.
Aku menggigil kesenangan.
Aku tenggelam dalam irama dan perasaan mabuk yang ditimbulkan oleh sentuhan dan kehadiran Owen. Aku tidak pernah merasa out of control seperti ini sebelumnya.
Namun, aku harus mengakui bahwa aku sungguh menyukai rasa ini.
Seluruh telapak tangan Owen sekarang berada di bawah tang top-ku, jari-jarinya yang panjang menyebar di kedua sisi tubuhku, sentuhan hangatnya menimbulkan kekacauan dalam diri. Aku tidak pernah menyangka aku bisa menjadi sebersemangat ini hanya dengan menari, tetapi memang begitulah.
Beberapa detik lagi dan aku akan meleleh dalam pelukan Owen.
Dia pikir apa yang dilakukannya belum cukup. Owen kini menggesekkan ujung hidungnya di sepanjang leherku dengan lembut. Seketika saja bulu-bulu halus di sekujur tubuhku berdiri. Dia lalu berhenti di satu tempat di bawah telingaku, dan tiba-tiba aku bisa.merasakan gigi-giginya di sana. Dia—aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan ini—seperti ingin menggigitku. Namun, alih-alih menyakitkan, yang kurasa malah sebaliknya. Hatiku melompat karena sentuhannya yang sederhana tapi penuh perhitungan pada kulitku yang sudah panas.
Aku tidak yakin aku bisa menangani godaan Owen lebih dari ini.
"Cantik."
Nama panggilan yang dibisikkan itulah yang mendorongku untuk mengambil lompatan terakhir.
Aku berputar di tumitku. Tanpa memberi diriku kesempatan untuk berpikir, aku menarik tengkuknya dan menghempaskan bibirku ke bibirnya. Owen langsung menyambut pertemuan itu seolah dia sudah tahu.
Tentu saja dia tahu.
Di sana, di tengah-tengah lantai dansa, aku mencium Owen dan dia balas menciumku. Aku memberikan segalanya untuk ciuman itu. Dengan harapan, mulai dari sekarang, ciumanku adalah satu-satunya ciuman yang dia inginkan.
Karena bagiku, bibir Owen adalah satu-satunya yang aku butuhkan.
Bersambung...
__ADS_1