Kesempatan Kedua Untuk Angga

Kesempatan Kedua Untuk Angga
11. Ola : Ada Apa Dengan Bang Oli?


__ADS_3

Tidak mengherankan jika nyatanya tidak ada yang bisa menenangkan kupu-kupu di perutku dan perasaan memabukkan yang ditinggalkan ciuman Owen semalam bahkan setelah pagi menjelang. Aku harus mengakui bahwa setelah naik ke tempat tidur, aku tidak dapat berhenti membayangkannya, sampai-sampai terbawa ke dalam mimpi.


Mungkin karena itu suasana hatiku sangat, sangat, sangat baik meskipun tidurku hanya sebentar.


Ciumannya, astaga, ciumannya begitu mengena karena sampai sekarang aku masih bisa merasakannya di bibirku. Bagaimana Owen menggugah perasaanku hanya dengan alat pengecapnya, aku tidak tahu.


Aku tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika kita melangkah lebih jauh dari itu.


Aaaah.


Walaupun jelas itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, tidak ada yang salah dalam membayangkannya, bukan?


Membayangkan hari-hari kami di depan; cerita-cerita yang akan kami bagi, kenangan-kenangan yang akan kami buat, mimpi-mimpi yang akan kami bangun.


Wow. Terdengar mirip dengan jatuh cinta.


Ah, jatuh cinta.


Aku tidak sabar untuk–


“La, bangun! Abang bawain kopi sama cupcake cokelat kesukaan lo, nih!”


Asyiik! Ada kopi! Dan ....


But, wait. What?


Bukankah itu suara Bang Oli? Dia ada di apartemenku? Kenapa dia ada di apartemenku? Apa yang baru saja dia katakan? Kopi? Cupcake cokelat?


Tunggu, tunggu, tunggu. Cupcake. Cupcake!


"Iya, iya. Bentar!" Aku berteriak dari balik pintu kamarku. "Gue udah bangun, Bang. Jangan abisin cupcake-nya!"


Setengah bingung tetapi diliputi kegembiraan karena, helo, ada cupcake, aku buru-buru mengenakan sweater almamater untuk menutupi tank top dan keluar dari kamar.


Bang Oli sudah channel berita sambil memarkir tubuhnya yang besar di atas sofa di seberang TV. Mendengar langkahku, dia menoleh ke belakang. “Ayo, duduk. Sarapan sini bareng gue.” Dia kemudian menepuk-nepuk tempat di sampingnya.


Kuturuti keinginan kakak laki-lakiku satu-satunya itu dan duduk di sampingnya hanya karena satu alasan. "Lo bilang cupcake tadi, Bang? Mana?"

__ADS_1


"Dasar lo. Tuh!"


Saat ini pukul sembilan pagi, di hari Minggu, dan Abangku yang perfeksionis biasanya menggunakan waktu ini untuk beristirahat sebelum pekan gilanya dimulai lagi. Namun, sekarang, di sinilah dia; di apartemenku, di atas sofa sambil menyeruput kopi dan menonton TV, selusin cupcake sudah siap di meja kopi. "Ada apa, Bang?" tanyaku padanya dengan alis berkerut, bingung dan curiga dengan kemunculannya yang tiba-tiba.


"Gak ada apa-apa," jawabnya, bertindak acuh tak acuh. “Kok lo nanyanya gitu? Emang gak boleh, ya, abang lo ini sesekali sarapan dengan adik perempuannya yang paling cantik?”


Aku tidak menjawab pertanyaan leluconnya. Masih kukuh dengan instingku.


Bang Oli tahu dia sudah kalah. Dia kesudahannya mengembuskan napas di mataku yang menyipit. “Makan aja dulu." Dia mengambilkan sebuah cupcake cokelat dengan cokelat chips dan cokelat krim.


"Oke." Aku setuju, hanya karena tidak tahan dengan godaan dari begitu banyak cokelat di dalam genggaman.


Kami duduk diam; Bang Oli menonton televisi sambil sesekali menyeruput iced Americano-nya sementara aku melahap cupcake nomor dua sambil memeriksa feed di twitter. "So ...."


Sudah kutebak! Pasti ada apa-apanya.


"Bilang aja, Bang. Jangan pake acara sok ikhlas bawain gue sarapan segala," tuntutku tanpa mendongak dari layar ponsel. Aku tahu kedatangannya ke sini bukan tanpa alasan. Aku tahu dia punya motif.


Bagi Bang Oli, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua pasti sudah direncanakan terlebih dahulu.


Pandanganku lantas terbang ke wajah Bang Oli yang terlihat tidak nyaman. "Lo tahu dari mana, Bang?" Aku punya firasat, akan tetapi aku ingin Bang Oli mengkonfirmasinya sendiri.


Tidak perlu dengan kata-kata, gelagatnya saja sudah menjawab pertanyaanku. "Bang Angga yang ngasih tahu Abang, kan?"


Merasakan, atau lebih seperti melihat, perubahan mood-ku, Bang Oli mencoba pendekatan lain. “So, ceritain soal date lo itu.”


Oh, hell, no!


Aku menyilangkan tangan di depan dada, merasa defensif sebab pertanyaan yang tidak tahu dari mana asalnya ini. "Gak ada yang perlu diceritain," jawabku singkat, jelas kesal. Aku tidak percaya Angga memberi tahu Bang Oli tentang kencanku dan Owen!


Dan tahu dari mana dia kalau kami sedang nge-date? Mengapa dia peduli? Dia pikir dia siapa, memata-matai masalah pribadiku dan menggosipkannya ke Bang Oli?


Aku tak ragu memuntahkan semua unek-unekku pada Bang Oli.


Namun, dia malah terkekeh. "Ayolah, La, cowok kayak kami tuh gak suka gosip."


“Bukan itu intinya, Bang,” balasku gusar. “Gue udah gede, ya, udah dua puluh tujuh tahun. Gue udah bisa ngurusin diri sendiri. Lagian apa urusannya sama dia? Bilangin ke Bang Angga kalau gue gak butuh apa-apa dari dia. Jangan ganggu hidup gue!”

__ADS_1


Bang Oli berdeham. “Ngg ... gini, La. Gue tahu kalau lo kesal, tapi percayalah, niat si Angga itu baik. Dia cuma pengen bantu gue ngejagain elo.” Dia mengubah posisi duduknya sehingga kini kami berhadap-hadapan. "Coba kita lihat dari perspektif dia, ya. Gue, kan, abang lo dan Angga itu sahabat gue. Jadi, secara gak langsung keadaan ini menjadikan dia sebagai kakak laki-laki lo juga, gitu. Dan, kemarin itu dia cuma melakukan tanggung jawabnya sebagai abang lo. Sekarang pun gue gitu, kan? Ngecekin keadaan lo.”


Ini Bang Oli lagi ngomong soal apa, sih?


“Enggak bisa gitu dong, Bang,” geramku dan menatap tajam padanya. "Bang Angga itu cuma sahabat lo, dia bukan Abang gue. Bagi gue, dia adalah orang asing dengan wajah yang familier. Dia emang sering main ke sini pas lo masih sekolah, tapi setelah lo tamat SMA, gue bisa dibilang gak pernah ketemu sama dia lagi. Gue bahkan gak tahu apa-apa tentang dia selain kecenderungannya jadi seorang bajingan ketika dia nyeret gue ke mobilnya beberapa malam yang lalu.


"Dia nyeret gue, Bang, cuma karena gue makan ke Beniqno jam sebelas malam. Tapi, itu bukan alasan. Kalau ke depannya dia bakal jadi tukang ngadu, so ….” Aku tidak menyelesaikan kalimatku dan mengangkat bahu. Aku ingin Bang Oli yang menyelesaikan kalimat itu berdasarkan ekspresiku.


Oliver Andreas Arifin menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Dia membungkuk, kedua lengan ditopangkan di atas lutut. Keningnya berkerut seakan sedang mempertimbangkan sesuatu. Setelah beberapa kala berlalu dalam diam, dia berkata, "La, lo gak ngerti."


Aku menggu penjelasannya.


Dia tidak memberiku apa-apa. “Apa, Bang?” tantangku. "Bilang sama gue apa yang gak gue mengerti biar gue bisa mengerti."


Bang Oli lagi-lagi terdiam. Dengan pipi yang menggembung, dia mengembuskan napas keras-keras, cukup untuk meniup tiga puluh buah lilin sekaligus.


Well ....


Aku menatap kakakku, diam-diam berharap aku punya gelar sarjana dalam budang studi membaca ekspresi manusia. Atau, aku bisa membaca pikiran seperti manusia super di film-film superhero. Jadi aku tahu apa yang ada di kepalanya.


Bang Oli menyisir rambut dengan jari-jarinya yang sedikit lebih terang dari milikku. Menarik helaian-helaian itu sedikit agak kuat, lalu mengembuskan napas lagi. Matanya kalakian bertemu dengan mataku.


Aku mengawasinya seperti elang. Aku tahu dia sedang mempertimbangkan sesuatu di kepalanya. Namun, aku tidak tahu itu soal apa. Dan aku benar-benar ingin tahu. Jadi dengan susah payah aku menekan semua emosi yang bergejolak dan menunggunya membuka suara.


Meskipun saat-saat pergi, kami hanya saling bertatapan. Ada begitu banyak emosi yang silih berganti menari-nari di dalam bola matanya. Rasa bersalah, malu, bangga dan ... geli?


Kenapa dia merasa terhibur? Apa yang menurutnya lucu?


Dia menggelengkan kepala saat senyum terbentuk di bibirnya. Aku merasakan alisku berkerut sedikit lebih dalam di dahiku. Melihat itu, Bang Oli terkekeh. "Kalau gitu gue cabut dulu." Dia mengumumkan. "Sampai jumpa saat makan malam nanti." Bang Oli mencium rambutku dan berdiri. Kakinya yang terbungkus sneakers Adidas diam-diam melintasi apartemenku ke pintu.


Ada apa sih, Bang?


Berulang kali aku mengutuknya di dalam kepala. Bagaimana tidak? Dia meninggalkanku dengan pikiran yang kacau-balau.


Ah, setidaknya ada sisa sepuluh cupcake dalam kotak di atas meja. Dan, oh, caramel macchiato juga!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2