
Entah berapa kali hati bisa patah hingga tak bisa diperbaiki lagi.
Gue mendapatkan pukulan pertama gue hari ini. Tadi, satu-satunya wanita yang pernah gue cintai memberi tahu gue bahwa gue tidak memiliki hak apa-apa dalam kehidupannya. Dia mengatakan kepada gue untuk menjauh dari hidupnya.
Dia menyuruh gue untuk menjauh dari dia.
Man. Percayalah. Gue udah mencobanya. Gue benar-benar sudah melakukannya.
Lagipula, saat itu gue jua tidak ingin melakukan pertemuan dengan bogem kanannya Oli. Dia punya tonjokan yang dahsyat, bahkan saat dia baru berumur dua puluh tahun. Apalagi sekarang. Setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu di gym dan berlatih kick-boxing.
Gue masih ingat hari ketika dia menangkap basah gue. Sampai sekarang gue masih suka tertawa kalau memikirkannya. Berengsek, apakah gue dulu benar-benar berpikir bahwa gue bisa menyembunyikan sesuatu sebesar ini darinya?
Malam itu, tahun pertama di Harvard, kami berada di sebuah frat house. Meskipun kami masih baru, kami selalu diundang ke pesta kakak kelas mana pun karena nama bokap kami. Oliver memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Nah, gue? Kebalikannya. Gue sibuk merindukan seorang berambut cokelat sepunggung yang jauh di rumah.
"Apaan, sih, lo, Bro?" protes Oli yang sudah tidak bisa membedakan mana kaki dan mana kepala.
“Oke, oke, cukup. Udah waktunya untuk tidur, Man. Lo sempoyongan.” Gue menopang tubuhnya yang goyah dan memapahnya kembali ke mobil.
Gue baru saja menutup pintu pengemudi ketika dia berbicara dengan menyeret perkataannya. “Lo pasti kangen sama Ola, kan?”
Saat Oli menyebut nama dia, seketika gerakan gue terhenti. Tidak mungkin dia tahu. Tidak mungkin. Dia tidak boleh tahu. Jadi, dalam upaya untuk menjaga rahasia gue, gue memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Lo ngelantur, Bro. Udah, tidur aja sono. Nanti gue bangunin pas sampai di apartemen.”
Si Playboy Tukang Mabuk malah terkekeh. “Gue tahu, Idiot. Jangan coba-coba lakuin pengalihan isu lo! Gue tahu kalau lo sayang sama dia."
Kabin Range Rover gue tiba-tiba terasa panas dan pengap. Gelisah dan gugup, gue mencoba untuk kembali mengalihkan perhatiannya. "Dapat siapa lo malam ini?"
Biasanya, cewek dan alkohol adalah obrolan favoritnya setelah pesta. Naamun, malam ini topik yang sama tidak muncul.
Oliver berani-beraninya tertawa terbahak-bahak. "Anjir. Lucu banget lo."
Sambil menggelengkan kepala karena tidak habis pikir, gue mengabaikan si Kampret dan mencoba menyalakan mobil. Namun, sebelum gue berhasil, dia sekonyong-konyongnya mengerang. "Apa yang akan gue perbuat kalau lo nikah sama dia dan jadi ipar gue?"
Dan, setelah itu, dia terlelap.
Fiuh.
Keesokan harinya, gue mengaku. Dan Oliver bilang dia mendukung gue. Sampai sekarang.
Gue telah mencintai Olavia Marie Arifin selama bertahun-tahun, dan kali ini, gue pikir dunia ingin gue tahu apa arti cinta yang sebenarnya. Apa artinya mencintai seseorang yang tidak mencintai lo balik.
Dia bilang ke gue kalau tidak akan ada cinta di antara kami.
Apakah kalian mendengar sesuatu yang retak? Yap. Itu hati gue.
****. Gue terdengar lemah banget. Sialan.
Gue membanting buku yang gue buka hingga tertutup. Gue mencoba mengalihkan pikiran gue dengan memeriksa faktur dan melakukan inventarisasi, tetapi siapa yang mau gue tipu? Gue dari dulu juga sudah hafal betul kalau tidak ada yang bisa mengalihkan pikiran gue dari dia.
Percayalah, gue sudah berkali-kali mencobanya. Dan gagal sebanyak itu pula.
****. Semua pembicaraan tentang perasaan ini membuat kepala gue sakit. Gue butuh minum.
Membuka pintu, gue menyambut hiruk pikuk tempat ini. Boleh saja gue mendapatkan Beniqno dari bokap, tetapi ini adalah impian gue. Gue ingin memiliki bisnis, mengembangkannya, dan melihatnya membawa banyak kegembiraan ke dalam kehidupan orang-orang.
Gue mengambil gelas dan menuangkan vodka lalu kembali ke dalam kantor gue tepat saat telepon gue bergetar di atas meja. Erik.
"What the hell, Bro? Ke mana aja lo? Lo gak pernah ke sini lagi.” Suaranya menembus speaker. Tidak ada halo. Tidak ada basa-basi. "Ke sini lo. Sekarang. Gue yang jamin kegembiraan lo malam ini.”
__ADS_1
Gue merenungkan undangannya.
****. Whatever. Mungkin inilah yang gue butuhkan.
"Oke." Akhirnya gue memutuskan. "Sampai ketemu di sana kalau gitu."
****
Gue menyerahkan tanggung jawab kepada manajer gue, Dimas. Dia akan menjaga Beniqno dengan baik sementara gue mencoba mengatasi nasib buruk gue di departemen percintaan. Anjay. Percintaan.
Sudahlah. Gue berencana untuk bersenang-senang malam ini, jadi gue pikir lebih baik untuk nge-Grab saja. Ribet pasti kalau bawa mobil.
Begitu Xander melihat gue, dia serta-merta mengangkat tali pembatas. “Selamat malam, Bos.”
Gue melambaikan tangan dengan sembarangan. Gue sudah berkali-kali bilang untuk tidak memanggil gue "Bks" hanya karena gue akan menjadi bosnya dalam waktu dekat. Namun, gue rasa si raksasa botak itu tidak mendengarkan.
Yeah, right. Sekarang kalian semua tahu. Gue akan memiliki setengah dari tempat ini. Mudah-mudahan urusannya sudah selesai di akhir bulan.
Gue langsung menuju lantai dua tempat di mana bagian VIP terletak. Mood gue langsung berubah saat melihat sahabat gue sudah bertengger di atas sofa beludru merah. Sudah dua minggu sejak terakhir kali gue melihat wajahnya yang jelek. "Lo gak nelepon gue, Setan," canda gue.
"Gue gak tahu harus sering-sering laporan sama babysitter." Oliver mengoceh kembali.
Gue senang gue memutuskan untuk datang ke sini.
"Di mana si Kampret?" Gue mencari cowok kurus blasteran Manado-Jerman yang telah berteman dengan kami semenjak kuliah itu.
"Lo tebak aja sendiri." Dia menganggukkan kepalanya ke ruangan dengan tirai beludru merah yang tergantung mengelilingi private section.
****, Erik. Elo pasti sedang bersenang-senang sekarang.
"Mau minum apa lo?" Oli bertanya setelah dia melambai ke pramusaji seksi yang praktis berlari ke meja kami setelah dia melihat siapa yang melambai.
Oli menggeleng.
"What?" tanya gue acuh tak acuh. Gue tidak peduli dengan basa-basi, tidak dengan orang yang tidak gue pedulikan. Dan gue tidak akan tersenyum ke seorang pramusaji hanya untuk membuatnya berpikir gue sedang menggodanya.
Dia hanya menggelengkan kepalanya lagi.
Si pramusaji kembali dengan pesanan gue. Gue mengangguk berterima kasih. Oli mengedipkan mata.
Ah, menjadi muda dan bisa menggoda siapa saja dengan bebas.
Oh, no, dammit. Enggak sekarang, Angga. Enggak. Sekarang.
"Come on," panggil sahabat gue, memecah huru-hara yang terjadi di dalam kepala yang sekarang tidak berguna ini. Dia mengajak gue ke pinggir, dekat pagar, di mana kami bisa melihat lantai dansa dari sini. "Mari kita lihat pilihan apa saja yang kita miliki malam ini ...."
Dia mengatakan ini seperti gue punya pilihan saja. Jelas gue tidak punya. "Gue gak butuh. Lo aja." Gue menolak.
Oliver mengarahkan pandangan yang tidak ingin gue artikan. "****, Bro, gue—"
"Kalau lo mau bilang maaf, thanks but no thanks. Gue gak butuh," potong gue. "Gue tahu apa yang gue kerjain." Gue menyesap minuman di dalam genggaman.
Gue diam-diam mengulang kalimat itu di dalam hati. Karena, setelah pagi ini? Hati gue membutuhkan semua pengingat yang bisa didapatkannya.
Orang bilang, untuk melupakan seseorang kita harus menemukan orang baru.
Gue sudah coba ini dan itu, akan tetapi masih saja tidak berhasil. So, no thank you.
__ADS_1
"Oke." Dia menepuk pundak gue untuk mengkomunikasikan dukungannya dan untuk beberapa saat, kami hanya menonton orang-orang di bawah sanaenari. Oliver mengedarkan pandangan mencari mangsa sementara gue mengembara dalam kepala gue.
Sial, ini tidak berhasil sama sekali.
"Kayaknya gue bakal–"
Kalimat gue terhenti. Karena saat gue berbalik, udara seketika berubah, terisi oleh sesuatu yang menyentak hati. Gue punya firasat itu apa, atau tepatnya siapa, karena setiap kali dia berada di ruangan yang sama dengan gue, udara terasa lebih berat. Lebih penuh. Lebih berenergi.
Ketika gue mulai berbalik lagi ke posisi semula, Oliver mencengkeram lengan atas gue demi menghentikan gerakan gue. Mata gue lantas bertemu dengan matanya dan gue melihat tatapan yang sama yang tidak ingin gue jelaskan sebelumnya.
Kasihan.
Sahabat gue merasa kasihan sama gue.
Sialan memang.
Dan seperti setiap ngengat ke nyala api, gue tertarik untuk melakukan persis apa yang Oliber larang. Gue berbalik dan melihat ke bawah.
Dunia di sekitar gue langsung mengabur. Musik serta-merta memudar. Satu-satunya pusat perhatian gue adalah dia. Karena, dia ada di sana.
Di tengah lantai dansa klub gue. Terbungkus dalam pelukan pria lain. Mencium bibir pria lain. Dan pria itu tidak lain adalah Owen bajingan sialan itu.
Retakan lain bergemuruh di dada gue.
Sial, sial, sial!
Gue bertanya-tanya berapa kali hati bisa retak sebelum benar-benar hancur.
Kemarahan memenuhi pembuluh darah gue. Tubuh gue gemetar karena marah. Gue berusaha sangat keras untuk menahan diri agar tidak melompat dari atas sini sehingga gue bisa merenggut pujaan gue dari pelukan si Bajingan. Namun, tidak. Gue berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan apa pun yang akan membuat Ola marah seperti tadi pagi. Gue berusaha sangat keras untuk memberikan apa yang dia inginkan.
Dan dia ingin gue menjauh darinya.
Gue berusaha sangat keras untuk menahan diri karena Olavia terlihat sangat ... bahagia.
Jadi, dengan risiko terdengar sangat klise dan cemen, gue ingin dia bahagia. Meski itu terjadi bersama pria selain gue.
Selama ini gue mengaku jatuh cinta dengan wanita ini dan sekarang gue melihat dia mencium pria lain. Dunia seperti benar-benar ingin menguji gue
Bring it on, Dunia! Di dalam kepala, gue melemparkan jari tengah gue ke udara.
Gue tiba-tiba merasakan sedikit tekanan di lengan gue.
Oliver
Gue berputar, memunggungi bencana di bawah sana. Tatapannya yang menyedihkan masih ada. "**** this." Gue menghindari matanya dan menggelengkan kepala. Gue menghabiskan sisa minuman gue, mencengkeram gelas kosong itu dengan begitu erat. "Gue mau nambah minum. Lo?"
"Oke. Gue juga."
Seperti seorang teman yang baik, dia membuntuti gue yang jelas merengut di sepanjang perjalanan kembali ke ruang duduk kami. Si Kampret Erik sudah ada di sana menunggu kami dengan tiga gadis berpakaian minim. "Oi, Man! Akhirnya datang juga lo. Sekarang kita bisa mulai pestanya!" Dia berteriak.
Erik jelas sudah lebih dari separuh mabuk.
Sepertinya gue juga perlu melakukan itu.
Seluruh manusia yang ada di lantai dua bersorak bersama si Kampret.
Namun, sayang, gue bukan salah satu di antaranya.
__ADS_1
Bersambung...