
Kami berada di sebuah kedai bakery tak jauh dari sana. Dua cangkir kopi dan dua potong croissant sudah ada di atas meja. Asap yang mengepul dari cangkir serta aroma mentega yang dipanggang menemani saat kami bertukar cerita.
Owen berusia dua puluh delapan, pindah ke sini setelah tamat sekolah menengah atas dengan hanya bermodal gitar dan uang saku untuk mengejar mimpi menjadi the next big name di industri musik Indonesia. Namun, sayang. Takdir belum menunjukkan jalan yang diinginkan. Di lima tahun pertama, dia harus bekerja serabutan hanya untuk bertahan hidup alih-alih mengerjakan musik.
Setelah mengerjakan semua pekerjaan halal yang dia bisa sembari menabung untuk membeli membeli gitar baru yang lebih bagus dan sebagai simpanan, dia kemudian mulai fokus untuk berburu panggung. Kafe, bar, bahkan pertunjukan jalanan pun dilakukannya.
“Aku selalu berusaha biar gak pernah kehilangan harapan,” kata Owen. “Karena, jujur aja, cuma itu yang aku punya sekarang. Tahu gak, yang aku butuhkan hanyalah satu hari yang tepat. Satu kesempatan yang akan membuka gerbang keberhasilan yang selama ini sudah aku tunggu dengan sabar.”
“Aku harap hari yang tepat buat kamu bakal segera datang, ya,” ungkapku dengan sepenuh hati. Aku bisa melihat dengan jelas tekad yang mengikat kata-kata yang diucapkan Owen. Oleh karena itu, aku juga berharap agar harapannya segera terwujud.
Aku tersenyum padanya dan dia mengembalikan senyum itu seratus kali lebih indah padaku. Hatiku tersandung lengkungan bibir itu.
Oh, my, God!
"Jadi bagaimana denganmu?" Dia bertanya setelah menelan seteguk kopi hitam miliknya. "Kamu asli Jakarta?"
"Yeah." Aku juga ikut-ikutan menyesap kopi yang tidak bisa dikatakan kopi dari cangkir milikku. Bagaimana itu bisa disebut kopi kalau ada lebih banyak gula, krim, dan perisa lain di dalamnya? "Lahir dan dibesarkan di sini. Keluarga juga semuanya masih di sini. Aku gak bisa membayangkan jika suatu saat aku harus meninggalkan mereka dan pindah dari kota ini.”
Aku menatap Owen dan menunggu sebuah reaksi darinya atas pengakuanku. Namun, aku tidak mendapatkan apa-apa. Setelah mengangkat bahu, aku berkata, "Membosankan, aku tahu."
Pemuda itu sekali lagi memberiku senyum andalannya. Dia menggeleng. “Enggak, ah. Bagus, dong, kalau kamu masih bisa bareng sama keluarga kamu. Dari gerak-gerik kamu, aku juga bisa lihat kalau kota ini memang cocok untuk kamu.”
"Masa?" tanyaku spontan. Penasaran akan penilaiannya terhadapku. Aku bukan orang yang "Kok kamu bisa bilang gitu? Emangnya style aku gimana?"
"Gak gimana-gimana, sih. Cuma cocok aja."
Aku menatapnya penuh selidik.
Gelak tawanya melompat. Suara nyaring derai kakah nan renyah itu menghiasi kedai roti yang semakin sibuk. "Serius, Cantik. Aku gak bohong!"
Bibirku berkedut menahan senyum yang hendak merekah. Dipanggil cantik oleh seorang pemuda tampan seperti dia benar-benar sudah membuat hati dan otakku meleleh. “Okaaaaay,” sahutku sambil menunduk tersipu.
__ADS_1
“Kamu tambah cantik kalau pipinya pink gitu."
Oh, no, Ola. Jangan bikin malu lagi kamu!
Kucoba untuk mengendalikan diri dengan menghitung mundur dari sepuluh dan menenangkan perasaan sebelum membalas tatapannya. Dan mengamati pemuda di seberangku itu.
Rambut kecokelatan lurus yang dibiarkan panjang hingga sedagu membingkai wajah oval dengan kulit bersih. Alisnya agak tipis dan menukik, mata berbola cokelat panas dipagari oleh bulu-bulu halus nan lurus. Hidungnya juga lurus dan tinggi. Sedikit ke bawah, ada bibir merah muda yang tidak terlalu tebal, namun juga tidak tipis.
Tubuhnya yang sedang—antara kurus dan berotot— dibungkus oleh kaos lengan pendek berlogo grup band legendaris Avenged Sevenfold. Di pergelangan tangan kanannya terpasang sebuah gelang kulit berwarna cokelat. Sementara guitar case disandarkan di sudut ruangan di samping kursinya.
“Aku juga bisa membayangkannya,” ungkapku seraya mengangguk.
Sebelah alisnya tertarik ke atas. "Bayangin apa?"
"Kamu."
"Maksudnya?"
"Aku bisa bayangin kamu ada di atas panggung besar dengan ribuan penonton yang histeris di bawah manggil-manggil nama kamu."
"He-eh. Serius!"
Hening.
Dia mengamatiku dalam diam.
"Hm. Oke. Gini aja, gimana?" Owen kalakian mencondongkan tubuhnya sehingga kami menjadi lebih dekat. Tetiba saja sebuah ponsel menjelma di atas meja. "Kamu save nomor kontak kamu di hape aku. Nanti aku bakal hubungi kamu biar kita bisa cerita-cerita lebih banyak lagi."
Dan, selamat datang kembali senyum Owen yang penuh pikatan.
Dan juga mata cokelat panas yang sangat, sangat, sangat berbahaya.
__ADS_1
Aku tahu aku akan menyerah kalah pada kombinasi senyum dan mata yang mematikan miliknya.
Tidak ada pilihan lain selain setuju.
"Oke."
Tak lama setelah itu, nomor ponselku tersimpan di ponselnya.
****
Landon baru saja bertanya pada Jamie apakah dia ingin pergi bersamanya ketika Raisa datang dari pintu depan dengan beberapa paper bag berlogo brand ternama di tangannya. Aku bangkit dari rebah dan menekan tombol pause. Shane West dan Mandy Moore membeku di layar televisi.
"Tebak siapa yang baru balik dari acara belanja-belinji dengan calon ibu mertuanya?" seru si Sableng sok berteka-teki. Dia meletakkan tas-tas itu ke lantai dengan penuh kehati-hatian sebelum menghempaskan diri ke atas sofa. ******* yang pekat dengan rasa bahagia lolos dari bibirnya yang berlipstik ivory.
Aku yakin dengan seribu persen kepastian bahwa ini bukan pertama kalinya dia berbelanja dengan ibunya Johan. Namun, dia selalu pulang dengan keadaan seperti ini; puas dan bahagia.
Dan itu tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah yang berhasil dia hanyutkan ke dalam pundi-pundi uang kaum kapitalis.
"How was your day?" Dia bertanya. Ketika aku tidak langsung menjawab, Raisa segera saja memusatkan perhatiannya padaku, pakaianku, dan adegan yang diam di layar. "Jangan bilang kalau dari tadi lo cuma rebahan di sofa." Wajah semringahnya berubah cemberut.
Aku berpura-pura tersinggung atas penilaiannya terhadapku. Kutangkupkan tangan di dada. "Betapa kejamnya dirimu, wahai Nona Raisa Putri Suryadiningrat, nge-judge gue rebahan di hari libur kayak begini!"
Dia memutar matanya. Bantal bermotif bunga sekonyong-konyongnya terbang ke arahku. Untungnya refleksku lumayan bagus. Aku bisa menangkapnya sebelum benda itu menempel di wajahku. “Jangan sok dramatis gitu, deh, lo. Jawab pertanyaan gue, Olay. Apa yang lo lakuin di rumah jam seginiiii?”
"Yeeee, maksud lo apaan jam segini? Ini masih jam sebelas pagi, Neng Sableng," balasku sambil menunjuk jam yang tergantung di atas televisi. "Sadar lo siapa yang dramatis sekarang? Mentang-mentang sibuk jalan sama camer dari kemarin sampai lupa jalan pulang."
Matanya mengikuti tunjukku. Raisa memiliki keberanian untuk terlihat malu-malu setelah dia menyadari kesalahannya. Dia cekikikan. "Sorry, sorry. Ngambekan banget, sih, lo kayak bini muda."
Aku mencibir. Bantal bermotif bunga kini berbalik terbang ke arahnya.
Sahabatku itu menggeser duduknya sehingga menjadi lebih nyaman, meniru posisiku dengan kaki lurus di atas meja. Aku menekan tombol play untuk melanjutkan film favoritku di layar. "Gue gak nyangka gue akan mengikuti jejak lo nonton A Walk to Remember sepagian ini. Awas lo kalau nanti mata gue bengkak karena nangis kejer."
__ADS_1
"Diam, deh. Jangan berisik. Gue mau menikmati kegantengan Shane West, nih! Lagian gue yakin gak cuma mata lo yang bengkak nantinya. Jadi, stop being so dramatic."
Bersambung...