
Pekerjaan kembali mengalihkan duniaku. Proyek baru memberiku alasan untuk tidak memikirkan hal yang lain. Mereka cukup melelahkan sehingga ketika aku pulang kerja, satu-satunya hal yang sanggup aku lakukan adalah membersihkan diri dan tidur.
Tidak ada waktu untuk memikirkan pria yang sudah memporak-porandakan hatiku itu.
Tidak.
Aku tidak akan menyentuh topik ituagi.
Jika hari kerjaku diisi dengan pekerjaan, akhir pekanku dikapitalisasi oleh makhluk yang aku—dengan tidak begitu bahagia sekarang ini—aku sebgaysahabat. Raisa si Sableng memaksaku untuk bangun dari tempat tidur lebih awal—saat itu memang sudah tengah hari, akan tetapi ketika kalian bekerja keras hampir lima belas jam sehari pada hari kerja dengan mengenakan sepatu berhak tinggi, siang dianggap masih pagi—dan menyeret bokong lelahku ini berkeliling untuk berbelanja.
Dan, syukurlah, pada kesempatan kali ini dia mengajakku ke sebuah spa.
"Oh, my God." Aku melenguh setelah merasakan surga yang dibawa oleh tukang pijat itu saat tangannya bergerak untuk mengendurkan otot punggungku yang tegang.
"Jangan coba-coba bikin malu gue lo!" canda gadis yang menjadikan menyiksa sahabat sendiri sebagai hobi dari tempat tidur di sampingku.
Tukang pijat, aku melihat sekilas name tag-nya ketika kami tiba dan bernama Rosa, tertawa terbahak-bahak. Dia dengan cepat menguasai dirinya sendiri dan bergumam, "Maaf."
Raisa melambaikan tangannya. "Gak usah minta maaf, Mbak. In fact, jangan pedulikan cewek ini. Tangan mbak-mbak memang ajaib, seenak itu, Mbak. Lagian, Mbak mungkin harus tahu kalau sahabat gue ini udah terlalu lama gak dapat aksi." Dia mengedipkan mata. "Benar gak, Neng?"
Aku meringis. Ouch.
"Terlalu cepat?" Dia bertanya, ikut-ikutan meringis. "Gak sensitif banget, ya, gue?
Aku hanya mengangkat bahu.
Aku pribadi berpikir bahwa tidak ada yang namanya 'terlalu cepat' atau 'cukup lama' ketika berbicara tentang efek samping, rasa sakit, yang ditinggalkan oleh patah hati kita. Kita menghadapinya di waktu kita masing-masing, dengan cara kita sendiri-sendiri. Tidak ada cara untuk memastikan jawaban kapan dianggap terlalu cepat untuk rasa sakitnya agar hilang atau kapan dihitung cukup lama untuk rasa sakit yang terus bertahan.
Dan, sejujurnya, akankah mereka benar-benar 'pergi'? Atau, berapa lama mereka akan 'bertahan'?
Aku tidak tahu.
Sebulan terakhir ini, aku hanya mencoba melewati setiap hari dengan menghadapi apa yang ada di depan. Sudah kubilang aku tenggelam dalam pekerjaanku. Raisa membantu—dia masih melakukannya—dengan mengisi waktu 'bebas' yang kumiliki dengan kekacauannya. Namun, pada kenyataannya, rasa sakit itu masih ada.
Aku merasakannya saat melihat Raisa dan Mas Johan, atau pasangan bahagia lainnya. Aku merasakan perih di ulu hatiku ketika Reata bertanya soal lelaki rahasiaku dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman, yang lalu mengubah wajahnya menjadi sedih. Dia berkata, "Gak apa-apa kalau hubungan yang ini gak berhasil. Besok pasti bakal ada cowok baru dan kalian berdua akan berhasil kali ini."
Apakah terlalu dini untuk memikirkan sebuah "lain kali"? Apakah tujuh minggu sudah cukup lama?
Aku sudah bilang. Aku tidak tahu.
Kukira—hm, apa, ya, yang orang-orang itu katakan?
Oh, iya. Only time would tell.
Hanya waktu yang akan menjawabnya.
__ADS_1
Baiklah kalau begitu. Kita hanya perlu menunggu waktu untuk memainkan kartunya, bukan?
Kami ke luar dari spa baru yang sangat ingin dikunjungi Raisa—kata-katanya, bukan kata-kataku—ke jalanan kota Jakarta yang selalu sibuk dan penuh polusi.
Duh, muka dan kulitku yang habis perawatan.
Hari sudah sore. Tubuhku terasa segar, begitu pula dengan pikiranku. Aku bertanya-tanya mengapa pergi ke spa tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya.
Oh, iya. Sibuk. Aku terlalu sibuk.
Dan tiba-tiba saja aku merindukan semua makanan berminyak dari Beniqno. Kapan terakhir kali aku berkunjung ke sana?
Aku juga ... tidak ingat.
Aku sibuk, kalian tahu? Sibuk. S. I. B. U. K.
Perutku otomatis berbunyi, cukup keras sehingga pasangan yang baru saja berjalan melewati kami mengirim pandangan jijik ke arahku.
Memalukan!
Raisa, ever the true best friend, tertawa. "Sialan, Neng. Bunyi apaan barusan? Ada apaan, sih, di dalam perut lo? Segitu banget buntinya kalau ngamuk." Dia menunjuk ke perutku.
"Seorang bayi," balasku, kesal. "Bayi dinosaurus yang pengen makan lo karena lo udah bikin gue melewatkan sarapan dan makan siang!"
Giliranku untuk memutar mata pada komentarnya. Dia tidak akan pernah melepaskan itu, aku cukup yakin. "Ya, ya, ya. Terserah lo, deh, ah. Gue lapar mampus. Ayo, makan di Beniqno."
Saat menyebut tempat itu, tawanya sedikit memudar. Alisnya berkerut karena khawatir. "Beniqno? Lo yakin emangnya?"
Memangnya aku harus tidak yakin soal apa? Dasar aneh. "Ya, iya lah." Aku menegaskan, menambahkan anggukan dalam di akhir kalimatku. "Udah lama banget semenjak terakhir kali gue makan greasy burger dan milkshake cokelatnya Om Ben."
Bayi dinosaurus di dalam perutku mengaum lagi mendengar menu-menu itu.
"Oh, my God. Stop doing that!" seru Raisa yang kepalanya kini bolak-balik, menoleh ke segala arah untuk memeriksa apakah ada orang lain yang mendengar suara itu selain dia.
Aku memutar bola mataku lagi. Dia mengatakannya seperti aku memiliki kendali penuh atas makhluk-makhluk di dalam diriku.
"Come on." Dia meraih tanganku saat dia mengeluarkan ponselnya. "Uda cukup lo nakut-nakutin warga sipil Kota Jakarta yang gak bersalah. Gue gak pengen mereka nanti ngelaporin lo ke polisi dan bikin lo jadi tahanan cuma karena kena pasal menyebabkan gangguan di tempat umum."
What?
What the heck?
Come on. Coba kalian pilih dan katakan padaku. Siapa yang lebih dramatis dari kami berdua sekarang?
****
__ADS_1
Aku lupa alasan kenapa aku berhenti pergi ke Beniqno sampai alasan tersebut muncul dan berdiri di samping meja kami.
"Hi, Ladies."
Suara baritonnya mencapai telingaku, dan menarik hatiku dengan cara yang berbeda. Tarikan itu menimbulkan sentakan dan secara otomatis menyalakan sumbu kemarahanku.
Aku tidak memberikan sedikit pun perhatian padanya. Aku berusaha cukup keras karena aku tidak mau. Menjaga fokus pada hidangan-hidangan lezat di depanku, di atas meja, aku sengaja menggigit burger pesananku dalam gigitan yang agak besar.
Aku lapar. Dan, burger ini bertindak sebagai pengganti yang cukup bagus.
Ketebalan dan rasanya berhasil meredakan amarahku, sedikit, menurunkannya dari kategori lima amarah yang membara menjadi kategori dua dengan kemungkinan hanya menyebabkan kerusakan ringan jika diprovokasi.
Namun, tetap saja. Dia harus melangkah dengan sangat hati-hati jika ingin bertahan hidup di dunia ini lebih lama lagi.
"Hai, Ngga." Raisa menyapanya setelah diam-diam melirikku. "Apa kabar?"
"Good, good." Aku mendengar pemuda itu menjawab. "Lo sendiri gimana? Kita gak sempat ngobrol banyak pas party lo waktu itu. Eh, by the way, congratulations, ya."
Raisa terkikik. "Thanks, Ngga. Kabar kami pasti baik-baik aja, dong. Kalau gue tahu rasanya nikah enak banget kayak gini, udah gue paksa laki gue dari dulu."
Aku menyeruput milkshake-ku.
Aku mendengar mereka tertawa.
"Oke, deh,m. Gue gak pengen mengganggu makan kalian lebih dari yang udah gue lakuin. Awalnya gue cuma pengen kasih mengucapkan selamat yang satu ini juga."
"Ola?" Aku mendengar Mo berkata dengan bingung. "Kenpa emangnya? Selamat buat apa?"
"Karena gue dengar dari bokap kalau cowoknya udah jadi sukses jadi artis besar sekarang. Gue dengar itu cowok sedang menjadwalkan tur pertama sebagai seorang bintang. Iyakah?" Dia berhenti.
Milkshake-ku juga ikut-ikutan tergantung di udara. Aku membeku setelah dia menyebut 'cowoknya'.
Cowokku.
Raisa tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya.
"What? Kalian belum tahu soal ini?" Pemuda itu bertanya lagi dengan bingung. "Aduh. ****. Jangan bilang kalau gue udah bikin surprise buat lo gagal, deh. Sialan."
Tidak, kami tidak tahu itu.
Dan, tidak. Tentu saja tidak. Jangan takut gitu, dong, Ngga. Lo udah berhasil bikin gue terkejut dengan pengumuman gak penting lo.
Congratulations, ya!
Bersambung...
__ADS_1