
Ada sesuatu di suatu tempat yang mengejutkanki, membuatku terbangun. Awalnya, aku tidak tahu di mana aku berada. Aku tidak bisa mengingat hal terakhir yang kilakukan. Ada di mana aku?
Sampai akhirnya kulitku meregistrasi rasa permukaan yang keras dan dingin di bawahku. So, tebakan terbaik adalah aku tengah tergolek di lantai. Itu sebabnya, setelah aku dapat mengumpulkan lebih banyak kesadaran, aku merasa anggota tubuhku seperti terbuat dari kayu, menilai dari betapa kakunya mereka.
Aku duduk dengan sangat, sangat, sangat lambat dan grogi.
Dunia mulai berputar sedikit.
Berengsek. Sakit di kepalaku benar-benar seperti sesuatu yang ganas.
Sial. Semuanya terasa sakit. Semua terasa ngilu. Semua terasa pegal.
Kenapa?
Aku mencoba mengangkat kelopak mataku, membuka mataku, akan tetapi sepertinya seseorang telah merekatnya dengan lem Korea. Kedua bola mata itu terus bergulir di balik kelopak mataku. Aku dapat merasakan mereka gemetar. Namun, kelopak mata yang berat tidak akan mengalah dengan mudah. Hal ini tentu merupakan tugas yang sangat menantang untuk dilakukan.
Setelah beberapa kali mencoba, pada akhirnya, aku berhasil. Dari balik mataku yang setengah tertutup, aku bisa melihat ruangan tempatku berada. Cukup gelap, satu-satunya sumber cahaya adalah dari bohlam di koridor luar yang masuk dan memberi kesempatan pada kedua mnik cokelatku yang lelah untuk mengenali sekeliling.
Aku ada di apartemen Owen.
Kemudian setiap keping puzzle ingatan tersusun ke masing-masing tempat terhormat mereka.
Seperti halnya rasa sakit yang menusuk dada.
Rasa sakit yang kurasakan tiba-tiba meningkat. Jangan buat aku mulai menceritakan apa yang kurasakan di dalam sini. Aku tidak pernah mengira ruang kosong di bawah dadaku inj bisa menjadi penyebab rasa sakit yang sungguh luar biasa. Aku tidak tahu bahwa kekosongan bisa terasa begitu menyesakkan.
Rasa sakit itu meningkat tajam.
Isak tangis sekonyong-konyongnya ke luar dari bibirku. Ratapan itu ke luar dari tempat terdalam di dalam diriku. Aku merasakannya bergema di permukaan kulit dan merembes kembali ke sumsum tulang.
Oh, my God. Aku tidak bisa menghadapi semua ini.
Isakan lain bergabung dengan dunia yang sangat, sangat, sangat kejam.
Aku membekap mulutku menggunakan telapak sendiri, berharap rasa sakit itu tetap ada di dalam sini. Jujur aku tidak bisa menangani lebih banyak kesedihan, lebih banyak rasa sakit, saat ini. Atau opsi lainnya, aku terjebak dan tidak akan pernah keluar dari sini.
Namun, kadang aku sendiri tidak yakin apakah aku ingin ke luar dari sini?
****, ain't that the million dollars question. Dan aku cukup yakin jika aku memiliki satu juta itu di tanganku sekarang, aku masih belum bisa menjawabnya.
Mungkin aku tidak pernah bisa.
Suara melengking yang merupakan nada dering ponselku memberikan pengalihan perhatian yang sangat dibutuhkan. Aku meraih perangkat di dompet yang dengan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam masih ada di sampingku.
Wajah lucu Raisa memenuhi layar.
Aku ....
__ADS_1
Panggilan berakhir.
Rasa sakit itu masih ada.
Ponselkuberdering lagi.
Aku ... sejujurnya tidak ingin mengangkat telepon itu. Aku ... sejujurnya tidak ingin melakukan apa pun sekarang.
Deringannya berhenti.
Namun, heningnya segera diikuti oleh bunyi bip berturut-turut setelah itu.
Aku mengecek notifikasi. Serangkaian pesan dari sahabatku muncul di layar.
Raisa : kok lo gak angkat telepon gue?
Raisa : Olaaaay
Raisa : eh sorry
Raisa : gue lupa ini hari Jum'at
Raisa : lo pasti lagi sibuk banget sekarang
Raisa : ciyeee
Raisa : gue baru mau check in.
Raisa : Aaaand
Raisa : pamer ke lo
Emoji berkedip lainnya.
Raisa : Neng
Raisa : omg gue beruntung sumpah
Raisa : demi apa cona
Raisa : gue gak bakal percaya ini nyata kalau gak lihat sendiri pake mata kepala gue
Raisa : the real def of heaven on earth
Ada begitu banyak emoji bermata hati yang dikirimnya sampai-sampai aku tidak bisa menghitung. Lagipula aku juga tidak berniat untuk menghitung mereka.
Dia mengirimiku empat buah foto; sebuah foto landscape pantai indah tempat dia dan suaminya sekarang berjemur; fotonya sedang berbaring di bawah matahari dengan bikini dengan kulitnya yang menggelap, bersinar, dan cantik seperti biasa; sebuah selfie mereka dengan Tom memeluknya dari belakang, hidungnya terkubur di leher Raisa sementara sahabatku itu membentang senyum terlebar yang pernah kulihat di wajahnya. Terakhir, foto kamar tidur di cottage tempat mereka menginap dengan pesan T K P terdapat di bawah foto tersebut.
__ADS_1
Di lain waktu, aku akan sama—jika tidak lebih—bahagianya untuk wanita yang juga selalu bahagia untuk setiap kebahagiaanku itu. Namun, kali ini, tepat pada saat ini, bukan termasuk waktu yang lain. Aku baru saja membuat hatiku sendiri tidak hanya hancur, akan tetapi juga lebur. Direnggut dari dalam diriku. Jadi, maafkan diri yang egois ini jika yang kulakukan setelah melihat pesan Raisa adalah menonaktifkan ponsel
Aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa.
Aku tidak bisa melihat kebahagiaannya dan tidak merasa pahit karena hal itu. Aku tidak bisa merasa bahagia untuknya sedangkan aku tidak punya hati untuk merasakan apa-apa lagi. Aku tidak bisa membiarkan diriku menjadi sahabat terburuk bagi sahabat terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang wanita.
Karena sekarang aku adalah sahabat terburuk.
Foto-foto itu terus berlarian di belakang mataku. Mereka membawa pisau tajam, dan setiap kali mereka lewat, mereka memotongku sedikit lebih dalam.
Oh,my God. A-aku tidak bisa. P-please, buat semua rasa sakit ini pergi.
Biasanya, dalam keadaan seperti ini, yang kubutuhkan hanyalah sebuah distraksi. Namun, sekarang, distraksi itulah yang malah menjadi penyebab dari kehancuran.
Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang lain yang bisa mengalihkan perhatianku dari rasa-rasa ini.
Aku ragu. Karena yang kurasa kali ini adalah rasa sakit yang tidak bisa hilang begitu saja. Mereka akan tinggal, menetap bersamamu sampaai akhir masa.
****
Entah bagaimana caranya aku berhasil menenangkan diri secukup yang kuperlukan untuk kembali ke apartemen. Aku hanya tersenyum pada Pak Sopir ketika dia bertanya apakah saya baik-baik saja dan mengabaikan tatapan khawatirnya dari visor. Apa yang akan kukatakan? Tidak ada bagian di dalam diriku yang akan baik-baik saja, tidak akan pernah lagi.
Ah. Ada apa denganku dan supir taksi hari ini?
****
Syukurlah ini hari Jum'at sialan jadi aku bisa bersembunyi dan menenggelamkan diri ke dalam pesta mengasihani diri sendiri sepanjang akhir pekan.
Pakaianku, sepatu, dompet berserakan di lantai. Aku tidak memiliki sedikit pun hasrat di dalam diri untuk memedulikan soal kesemrawutan itu.
Aku melemparkan diriku yang lelah ke tas sofa dan meringkuk. Kuraih remote dan kunyalakan TV hanya agar apartemen ini mempunyai suara latar belakang. Aku rasa aku tidak sanggup menangani kesunyian dengan kepala penuh dengan pikiran yang merajalela ini.
Dan, gadis naif dalam diriku entah bagaimana yakin bahwa ini hanyalah mimpi. Mimpi buruk. Dan suatu saat nanti, aku akan bangun dan semuanya masih baik-baik saja. Itulah alasannya kenapa akuaaih saja mencengkeram ponselku, berharap telepon dari Owen entah bagaimana caranya berhasil melewati perangkat yang dimatikan itu.
Namun, rasa sakit yang kurasakan jauh, jauh, jauh lebih besar dari gadis naif san tolol itu. Pikiran-pikiran yang menguasai pikiranku ini nyatanya lebih kuat.
Aku akhirnya mengungkap fakta bahwa tidak ada yang dapat mengalihkan perhatianki dari perasaan ini.
Dan aku bertanya-tanya apakah ada yang bisa membantuku untuk menemukan jawaban.
Apakah aku benar-benar tidak cukup baik?
Meskipun begitu, pertanyaan yang paling penting sekarang adalah kenapa, kenapa, kenapa aku tidak cukup baik?
Pertanyaan "kenapa" yang sangat besar itulah, Ladies and Gentlemen, yang menghantui saat aku menangis sampai tertidur di atas sofa ruang tengah apartemenku.
Bersambung...
__ADS_1