
Aku terkejut dengan deringan di tanganku.
Yeah, pacar yang baik tidak bergantung pada pacarnya, mereka bergantung pada ponsel mereka. Hie about that?
Hatiku mengempis setelah melihat nama Bang Oli di layar untuk kesekian kalinya sejak hari Kamis. Dia menelepon, dia mengirimiku chat, terus-menerus, hanya untuk mengingatkan aku tentang makan malam hari Minggu keluarga kami yang pernah kulewatkan sekali. Satu kali! Demi Tuhan, sekali saja!
Argh!
Dan ini BUKAN manfaat dari memiliki saudara kandung yang perfeksionis dan gila kontrol.
Dan ini sangat menjengkelkan. Aku tidak bodoh, kalian tahu? Dan aku tidak berencana mengulangi kesalahanku lagi. Dia hanya harus mempercayaiku. Dasar Bang Oli menyebalkan.
Bang Oli : Gue lagi otw pulang
Bang Oli : Lo mau nebeng bareng gue gak?
Apakah aku ingin mengorbankan diri dan melompat ke kolam yang penuh dengan ikan piranha lapar pemangsa manusia? Apakah pengalaman pacaran pertamaku membahagiakan? Apakah aku dengan sukarela mau menjebak diriku di dalam mobil bersamanya?
Jawaban untuk semua pertanyaan itu adalah tidak, tidak, dan TIDAK! Persetan dengan dia. Aku tidak ingin berada di dalam satu mobil dengannya sekarang.
Olavia : gak
Bang Oli : Oke, then
Bang Oli : see you there
Bang Oli : nyetir yg bener
Bang Oli : miss you, Lala
Bang Oli : love you
Argh!
****
Bel pintu berbunyi ketika aku sedang mengoleskan lapisan terakhir lipstik di bibirku. Aku tidak begitu yakin saat mendengarnya pertama kali, jadi aku mengabaikannya saja sampai bel itu berdering lagi.
Uh-oh. Benaran bel apartemen sini ternyata. "Iya, tunggu. I'm coming!" Aku berteriak kepada siapa pun yang tidak sabar menunggu di luar. Aku mulai berjalan ke pintu setelah memastikan bahwa gigiku juga tidak ikut-ikutan menggunakan pewarna bibir merah muda itu.
__ADS_1
Bel berbunyi sekali lagi.
What is wrong with them? Gak sabar amat, sih!
“Iya, iya. Ini lagi jalan mau nyamperin pintu. Sabar dikit, napa? Lo gak perlu ….” Protes yang kulontarkan seketika menguap saat otakku menyadari siapa yang kini tengah berdiri di depan pintu apartemen yang baru saja kubuka.
“Apakah ada menyebutkan sesuatu tentang coming? Yeah, kamu menebaknya dengan benar. Aku yakin aku benar-benar bisa kamu soal itu," guraunya. Suaranya halus. Seringainya tepat sasaran. Kolam gemerlap berwarna cokelat itu berkilau dengan janji-janji penuh dosa.
Aku berdiri di sana; mata terbelalak,mulut ternganga, benar-benar terpana oleh kemunculannya yang tiba-tiba.
Owen, dengan segala keagungannya, kini berdiri di depanku.
"Hai, Cantik," sapanya sembari melangkah lebih dekat. Tangannya langsung saja melayang ke tengkukku, menahanku di tempat. "Aku rindu." Tanpa ragu, dia kemudian menyelam ke bibirku.
Membuatku semakin terdiam. Membuat tubuhku serta-merta menjadi liar. Menghapus segala hal-hal lain dari pikiranku. Begitu saja, dia menjadi satu-satunya yang ada. Di sini. Sekarang ini.
Dia menjadi seesensial udara yang saya hirup.
Rasa yang aku dambakan.
Satu-satunya yang aku butuhkan.
****
Menjangkau, telapak tanganku bertemu dengan alas kasur yang dingin. Aku menoleh hanya untuk menemukan sisi tempat tidur yang kosong, lagi. Tidak ada Owen. Dan, setelah pengamatan sekilas, tidak ada lobe note di atas bantal.
Jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Di mana dia?
Pintu apartemen menimbulkan suara berisik lagi. Apakah mungkin itu Owen, yang ke luar untuk membeli makan malam untuk kami? Aku tersenyum memikirkan itu. Kuakui, merupakan kejutan yang luar biasa untuk mendapati dia di depan pintu ketika aku tidak mengharapkan kedatangannya.
Aku bangkit dan duduk. Rasa sakit yang nikmat yang kurasa di sekujur tubuh mengingatkan tentang apa yang baru saja kami lakukan. Sebuah senyum lagi-lagi menguasai wajah ketika kenangan itu menyelimuti pikiranku.
Aaah.
"Olavia, ke luar dari kamar lo!"
Pada awalnya, otakku yang berkabut tidak bisa mengenali suara itu.
"Olavia! Lo mau ke luar sendiri atau gue yang masuk? Ke luar, cepat!"
__ADS_1
Bang Oli?
Kenapa dia ada di sini? Kenapa … ?
Kemudian semuanya menjadi jelas.
Oh. My. God. ****. F*ck.
Aku lantas terbang ke luar dari selimut yang menutupi tubuh polosku dan memakai apa saja yang bisa dijangkau dengan tergesa-gesa. Aku tidak sengaja menabrak pinggir tempat tidur dengan ujung jari kakiku dalam perjalanan ke pintu. Sialan!
Aku bertemu dengan wajah merah, cuping hidung yang kembang-kempis-nya Bang Oli. Dia jelas sekali marah besar. “Bang …,” ucapku parau, mencoba mengatakan … apa?
Apa yang akan kukatakan? Aku bahkan tidak tahu. Kata-kata seakan mati di ujung lidahku. Tidak ada apa pun—dan aku bersungguh-sungguh, tidak ada apa pun—terlintas dalam pikiran, yang akan menyelamatkanku dari kubur yang sudah kugali sendiri ini. “Gue, g-gue ….” Aku mencoba sekali lagi, akan tetapi tetap saja tidak berhasil.
Bang Oli berdiri di sana dengan lengan bersilangan di dada, tangannya terkepal, kaki berjarak selebar babu. Dia mengatupkan giginya begitu keras sehingga membuat rahangnya berdetak dan urat lehernya ikut menegang. Begitu pula dengan bahunya yang lebar, bergetar karena amarah. Dia terlihat begitu ... mengancam.
Tatapan yang belum pernah aku lihat darinya sebelum hari ini.
Aku merasa diriku mengerut di bawah tatapan tajamnya. "B-Bang, maafin gue," bisikku. Meski suaraku telah kembali, akan tetapi kata-kataku tidak. Kekacauan di dalam diriku tidak membiarkan mereka untuk lepas dari kungkungan rasa yang sedang berkecamuk. Mereka memadati hatiku dan mengikat perutku dengan simpul mati yang sangat erat.
"Lo seharusnya gak minta maaf sama gue, Olavia," geramnya. Suaranya sangat rendah.
Aku menggigil di dalam piyama yang kupakai.
Bang Oli jarang sekali menggunakan namaku, bahkan ketika dia marah pada sesuatu yang kulakukan di masa lalu. Dia selalu memanggilku dengan Lala. Atau Ola. Kadang dia juga mengikuti kebiasaan Raisa dengan memanggi Olay, Lay. "Jangan lakuin itu, Lala" atau "apa-apaan, sih, lo, Lay?"
Hal ini sangat jarang, aku tidak ingat kapan terakhir kali Bang Oli memanggilku dengan Olavia.
Sampai sekarang.
Aku menundukkan kepala dan fokus pada kakiku yang telanjang. Thank God aku masih sempat dan ingat untuk meraih celana tidur. Meski hanya celana pendek, aku tetap memakai celana. Aku tidak ….
Setetes air mata mengalir di pipiku dan mendarat di lantai kayu apartemen yang keras dan dingin.
Aku rasa aku harus menjadwalkan mani-pedi di Beauty Me secepatnya. Warna apa yang akan kupilih, ya? Minty green? Atau soft purple? Hm, mungkin aku akan memilih warna ungu.
Tetesan air mata lainnya jatuh. Kali ini menelusuri sepanjang wajahku, dari bawah mata hingga ke rahang, lalu jatuh bebas. Aku tidak tahu di mana air itu berakhir. Aku tidak dapat melihat apa pun di balik lapisan rasa bersalah, malu, dan kecewa yang kirasakan pada diriku sendiri.
Gelombang kemarahan yang terpancar dari tubuh raksasa beberapa kaki di depanku tidak membantu apa pun, dia hanya memperburuknya. Jika Bang Oli saja semarah ini, bagaimana dengan Mama?
__ADS_1
Oh, my God.
****