
...Prolog...
Di samping gedung sekolah SMAN Sebangsa Jakarta, terlihat seorang siswi menarik tangan seorang siswa menuju belakang gedung sekolah. Terlihat senyuman tersungging di bibir siswi itu, ia berjalan menuntun siswa itu agar mengikuti langkah kakinya. Di sepatu siswi itu terlihat bordiran kura-kura kecil pada sisi dalam samping sepatu.
Di depan kamar hotel, terlihat seseorang sedang mengetuk pintu. Kemudian saat pintu itu terbuka, dia terkejut melihat seseorang yang keluar dari kamar itu, air matanya seketika terkumpul dan tubuhnya terhuyung ke belakang.
Di belakang gedung, tiga orang polisi dan di temani dua orang lainnya. Sedang memeriksa sesuatu, mereka berjalan mendekat gundukan tanah. Betapa terkejutnya mereka begitu melihat mayat terkubur disana dengan kuburan yang dangkal sebatas lutut, wajah mayat itu rusak parah dan berlumuran darah.
...*****...
Namaku Arsyana Chalondra, cukup panggil aku Syana. Aku murid kelas tiga SMA, yah, murid yang sedang sibuk-sibuknya dengan berbagai persiapan, mulai dari persiapan untuk UN yang empat bulan lagi akan diadakan hingga persiapan untuk masuk perguruan tingi yang sudah menjadi tujuanku sejak kelas satu dulu akan segera dimulai.
2018, menjadi tahun terakhirku menjadi siswi SMA sekaligus tahun terakhir ku berada pada usia remaja. Masa-masa SMA memanglah menyenangkan, semuanya terasa sangat hangat dengan kebersamaan yang aku bentuk dengan sahabat-sahabatku di masa remaja kami.
Terlepas dari menyenangkannya di sekolah, aku akan menceritakan mengenai keluarga ku pada perkenalan kali ini.
...As Herlan (Papa Arsyana)
...
...As Sarah ( Mama Arsyana)...
Sc π·: Pinterest
Aku anak terakhir dari pasangan Sarah dan Herlan, dua orang yang begitu berarti di hidupku. Selayaknya anak terakhir, aku seringkali diejek manja oleh kedua saudaraku yang entah benar atau tidak, aku rasa mereka hanya ingin menjahiliku tapi aku tahu itu adalah caranya untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada ku, aku jadi ingat saat kecil dulu ketika aku pulang dengan lutut yang terluka cukup lebar karena saat itu aku terjatuh dari sepeda.
12 Tahun Lalu
__ADS_1
Di siang hari, saat matahari sedang memamerkan sinarnya, aku pulang dengan darah yang mengucur dari lututku, aku terjatuh dari sepeda saat hendak menyeberang jalanan, saat memarkirkan sepedaku di garasi rumah, Bang Aksa melihatku.
" Syana! Lutut kamu kenapa? " Bang Aksa bertanya, raut wajahnya terlihat panik saat melihat darah di lututku.
...As Aksa dan Arsa...
Sc π·: Pinterest
Bang Aksa adalah anak pertama di keluarga kami, dia adalah laki-laki yang lembut dalam memperlakukan perempuan. Aku yakin perempuan yang kelak bersamanya pasti akan merasa bahagia memiliki dia sebagai suaminya karena Bang Aksa tahu caranya menghargai dan menunjukkan rasa cintanya pada perempuan yang dia cintai, terlebih lagi padaku dan Mama.
β Lutut kamu kenapa, Syan?β tanya Bang Aksa sekali lagi, Bang Arsa berjalan mendekatiku.
Ia turun dari tangga yang ada di garasi, garasi rumah kami memang di buat agar langsung terhubung ke dalam rumah, makanya terdapat tangga yang langsung menuju dapur.
β Biasa Bang, jagoan abis kenalan sama jalan.β Aku menjawab dengan santai pertanyaan yang diajukan oleh Bang Aksa, sambil cengengesan.
β Jagoan... jagoan apaan yang sukanya jatoh?β Bang Arsa yang tiba-tiba menggerutu, entah sejak kapan Bang Arsa berdiri di tangga.
β Apaan sih? Sih nggak asyik! β ketusku, aku meliriknya sambil memajukan bibir bawah ku.
β Sa, tolong ambilin kotak obat dong.β Pinta Bang Aksa pada Bang Arsa.
β Ambil sendirilah, punya tangan kan?β sahut Bang Arsa, ia berbalik kemudian melangkah menaikki tangga dan berlalu meninggalkan kami.
β Arsa!β teriak Bang Aksa, kesal.
β Udah Bang, biarin... ntar juga sembuh.β Aku meminta Bang Aksa untuk tidak terlalu mencemaskan luka di lututku.
β Nggak bisa kalo di biarin kayak gini, Syan. Ntar lukanya jadi infeksi, kamu mau kaki kamu di potong karena busuk?β tutur Bang Aksa, yang kini aku sadari bahwa itu hanya caranya untuk membuatku mau di obati.
Aku menggelengkan kepalaku, saat itu aku takut kalau yang di katakan oleh Bang Aksa akan terjadi.
__ADS_1
β Yaudah makanya di obatin ya... biar kakinya nggak busuk.β
Aku hanya mengangguk, menurut.
Bang Aksa mengendong ku untuk menaiki tangga. Baru saja kami sampai di dapur, kami bertemu dengan Bi Ani, Bi Ani adalah orang yang saat itu membantu membersihkan rumah kami. Bi Ani menyodorkan kotak P3K kepada Bang Aksa.
β Ini Den, kotak P3K nya.β Kata Bi Ani, menyodorkan kotak P3K pada Bang Aksa.
β Makasih Bi.β Bang Aksa mengambil kotak P3K dari tangan Bi Ani.
β Sama-sama.β
Bang Aksa mengernyitkan dahinya sambil menatap kotak P3K yang di berikan oleh Bi Ani, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
βBibi kok bisa tahu kalo saya lagi butuh kotak ini?β tanya Bang Aksa, penasaran.
Bi Ani tersenyum.
βTadi Bibi di minta ngambilin kotak P3K sama Den Arsa... katanya tolong kasihin sama Bang Aksa, gitu katanya Den Arsa.β Bi Ani menjelaskan bagaimana dia bisa tahu kalau kami memerlukan kotak P3K.
Bang Arsa terdiam sembari memandangi kotak P3K itu, ia tersenyum.
β Kalau begitu Bibi ke dapur lagi ya, Den." lanjut Bi Ani, berlalu meninggalkan kami.
β Bang Arsa, Bang Arsa, padahal peduli tapi nggak mau nunjukin kepeduliannya, dasar!" aku bergumam di dalam hati sambil tersenyum, saat Bang Aksa mengobati lututku.
Begitulah gambaran singkat dari ku mengenai Bang Aksa dan Bang Arsa, yah... aku pikir kalian juga harus tahu fakta bahwa Bang Aksa dan Bang Arsa adalah kembar, mereka begitu mirip dari ujung kaki sampai ujung kepala yang membedakan mereka adalah lesung pipi dan tahi lalat di kening sebelah kanan tepat di atas alis yang dimiliki oleh Bang Arsa, tapi mari kita lupakan mengenai lesung pipi itu karena akan sangat jarang melihat Bang Arsa tersenyum. Dulu kata teman-teman SMP ku yang sering datang ke rumahku dengan modus kerja kelompok padahal mau bertemu dengan kedua Abangku, katanya... wajah Bang Aksa dan Bang Arsa itu mirip Chanyeol EXO, aku juga tidak tahu banyak mengenai hal itu karena aku bukanlah penggemar K-Pop idol.
Sekarang Bang Aksa menjadi seorang dokter di Rumah Sakit Cinta, dia menjadi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Bang Aksa menjadi dokter termuda di Rumah Sakit Cinta yang berhasil mendapat gelar dokter spesialis di usia 25 tahun, tak hanya berhasil mewujudkan cita-citanya sejak kecil tapi ia juga berhasil membuktikan bahwa dia layak mendapatkan gelar itu, aku merasa terharu dan bangga saat melihatnya memakai jas putih yang dia idam-idamkan sejak kecil, dia menjadi lebih tampan dengan seragam kedokteran yang dia milikki. Sedangkan Bang Arsa, dia mengelola bisnis restoran yang dia buka dengan hasil keringatnya sendiri, dia menjadi Chef yang handal.
Kedua Abangku, berhasil menggapai keinginan yang menjadi impian mereka sejak lama dengan kerja keras mereka dan tentunya berkat doa dari kedua orang tua kami.
By the way, perkenalan ini justru mengenai kedua Abangku padahal awalnya aku berniat memperkenalkan diri ku sendiri pada kalian. Tapi, terima kasih sudah membaca perkenalan yang tidak pendek ini, hehehe. Aku yakin seiring dengan berjalannya waktu kalian akan tahu dengan sendirinya bagaimana aku, Arsyana Chalondra.
__ADS_1
Mari kita mulai cerita ini, akan aku ceritakan setiap detail yang terjadi dalam kisah hidupku, kisah yang aku sebut dengan kisah yang tak berirama.